Home / Romansa / Telanjur Khilaf / Bonus Shift Malam

Share

Bonus Shift Malam

Author: Zee Jofany
last update publish date: 2021-06-10 16:40:57

Ini di tahun yang sama, kejadian 2017 lalu. Ketika aku masih bersama Ayu, santri asal pondok pesantren ternama yang dianggap alim nan lugu itu sudah dilepas segelnya oleh Dyo Kusuma. Bangga? Jelas, dong! Usia 28 tahun masih laku pada gadis.

Sebenarnya malas sekali untuk dinas malam, tetapi daripada di rumah dan terlibat adu pendapat dengan Angela atau diabaikan olehnya hanya karena dia selalu curiga pada setiap alasanku betah di Puskesmas. Heran, dia selalu merasakan hal-hal yang menyudutkan, bisa enggak tak usah mempermasalahkan kesenanganku?

Aku tak melakukan hal busuk, Ayu menyerahkan kehormatannya tanpa paksaan. Dia mau, kenapa justru menganggap para pria brengsek? Tingkat kebejatan seseorang selalu dinilai secara sepihak, apa akan terjadi sebuah dosa jika tak diberi celah?

Jika memang aku satu-satunya pelaku kejahatan, dianggap tukang celup sana-sini. Apa si pemilik celupan terbebas dari kesalahan? Kenapa setiap perempuan selalu memaafkan khilafnya sesama, tetapi susah menerima alasan logis para pria ketika mengatakan kejujuran?

“Lembur terus, uang gaji enggak ada. Sekalian kasur sama lemari dibawa.” Angela mengatakan hal tersebut saat aku akan berangkat, bukan didoakan yang terbaik malah membahas tentang gaji. Kenapa dia matre? Padahal dagangannya laris manis?

Buat apa jualan kalau masih meminta uang pada laki-laki? Lebih baik dia tidur saja, tak usah bekerja. Salah sendiri, siapa suruh memiliki usaha lain di saat aku mendapat pekerjaan lebih baik? Emansipasi wanita, ‘kan? Berarti Angela tak butuh bantuanku kalau hanya buat beli beras dan lain-lain.

Lagi pula, pengeluaran tak seberapa. Beras ada, lauk pauk lengkap, dia enggak pakai make up, dan kebutuhannya sudah terpenuhi dengan hasil penjualan kerudung di toko. Semua modal dari aku, Angela hanya mengembangkan. Cukuplah untuk biaya hidup, buat apa masih memalak gaji di Puskesmas? Serakah!

Perempuan harus pintar mengelola keuangan, memilah keperluan penting dan yang sama sekali tak perlu dibeli. Kalau semua dibebankan padaku, sama saja percuma dia punya toko. Aku sudah memodali, catat ini! Jadi, untuk gaji Puskesmas, milikku.

Dasar Angela! Apa-apa harus diberikan padanya, terus aku kalau mau sesuatu harus menunggu belas kasihnya, begitu? Oh, tidak! Wanita tetap harus berada di bawah kendali suami, bukan sebaliknya.

“Dinas malam, Mas?” Seseorang duduk di sampingku, perawat baru yang tak begitu kukenal akrab. Dia bertugas di bagian UGD, tampak tersenyum sembari mengeluarkan ponsel.

“Iya, kamu juga?” balasku ramah, namanya Shiva. Dia anak baru yang sering dibicarakan teman-teman pria saat jam makan siang, aku tak tertarik karena ada Ayu yang bisa dimanfaatkan. Namun, di kala malam begini, anak santri itu pasti belajar agama dengan manis di pondoknya.

“Dari tadi di UGD?” Aku harus terlihat perhatian sebagai senior, tetapi melirik penampilannya. Memastikan pembicaraan para perawat pria, ternyata benar. Dia cukup menonjol dari berbagai sudut, pantas jadi buah bibir.

“Iya, Mas. Boleh aku di sini?” Pertanyaan tanpa perlu jawaban, jelas boleh. Aku yang memang hanya bertugas sendiri di bagian obat merasa memiliki kesempatan bagus, lumayan buat pengusir jenuh. Lagi pula di loket begini hanya berdua, dukungan semesta memang selalu yang terbaik.

“Bukannya kamu tugas sama Mas Ferdy, kenapa pindah ke sini?” tanyaku mencoba terlibat obrolan akrab, tetapi perubahan raut wajah membuat jiwa detektif dalam diri menemukan gelagat mencurigakan. Ada yang ganjil, dia gelisah.

Pasti ada hal tak beres, terlihat dari cara dia memainkan kuku-kukunya. Melirik takut-takut padaku, lalu menyapu ruangan. Seolah mencari telinga di setiap dinding, pasti ada informasi bagus ini.

“Apa terjadi sesuatu di UGD?” Aku yakin, tebakanku tak akan meleset. Gadis ini mendapat kejutan luar biasa, kuperiksa lebih teliti. Tampak pakaiannya sedikit berantakan, rambutnya juga agak merekat di beberapa helai. Basah!

Shiva hanya menggeleng, berusaha tersenyum. Namun, dia terlihat gelisah. Aku tahu, ada hal tak beres yang baru saja terjadi. Langsung saja, aku memegang pundaknya, dia mengangkat wajah.

“Jangan takut, cerita saja. Kamu diapakan oleh Ferdy?” Aku memberikan tatapan lembut, sukses! Dia langsung menangis, terisak cukup kencang. Gila! Kalau terdengar yang lain, bisa disangka aku pelakunya.

“Jangan di sini, Mas. Di sana saja, aku takut dia ke sini.” Shiva menunjuk ruang penyimpanan obat, aku berpikir sejenak. Kulihat jam dinding, sudah tengah malam. Tak akan ada pasien atau karyawan datang. Semua sudah mengambil obat, aman.

“Ayo.” Aku membimbingnya, membawa dia ke tempat yang diminta. Catat, Shiva yang mengajak ke ruang tertutup, bukan Dyo!

“Tutup, Mas.” Shiva menyuruhku, bukan inisiatif laki-laki ini.

Tak ada kursi di ruangan ini, kami hanya berdiri. Menunggu dia berkisah, pasti hal serius terjadi dan bukan adegan main-main. Jika dilihat dari sikap Shiva, dia dilecehkan.

“Ferdy melakukan hal buruk padamu?” tanyaku hati-hati, dia menangis lagi. Kemudian, menceritakan semuanya dengan gamblang. Sialan!

Pria sok alim itu melalukan aksi peras memeras hanya karena video murahan di HP, dasar amatir. Melecehkan Shiva ketika tidur pulas. Hal yang ternyata mendatangkan kesedihan. Aku hanya perlu menyikapi dengan dewasa, menjadi bijak di situasi ini.

“Apa perlu aku tegur?” tanyaku dengan serius, menjaga jarak agar dia tak takut. Namun, di luar dugaan, Shiva memegang lenganku. Menggeleng.

“Jangan, Mas. Kalau sampai yang lain tahu, aku akan malu seumur hidup.” Dia menolak, hanya tertunduk.

“Kalau aku tahu, enggak masalah?”

“Mas Dyo pasti bisa jaga rahasiaku.”

“Yakin?”

Dia mengangguk, lalu mendekat. Tanpa terduga memelukku, tanpa aku minta. Ini serius terjadi, bukan karangan fantasi. Shiva mendekap dari arah depan, tak ada alasan. Hanya memintaku tutup mulut.

Sekarang, kalian bisa menyimpulkan bukan? Apa aku sebejat yang dipikirkan? Hanya membantu seorang gadis, tak bermaksud jahat. Namun, ketika sudah begini? Bonus!

Ibarat kucing diberi ikan, mana mungkin menolak! Entah ikan asin atau kakap, bukan doyan. Sebab, kesempatan begini tentu merupakan hadiah untuk laki-laki beruntung sepertiku. Ketika semua orang mengutuk, Angela mengatakan sialan, atau setiap pembaca kisah ini beranggapan diri ini sebagai sosok biadab. Nyatanya, semesta masih berpihak padaku.

“Apa kamu yakin dengan sikap ini?” tanyaku memastikan dia tak akan mengatakan apa pun tentang kejadian malam ini, dia baru saja terlepas dari mulut harimau. Jangan sampai kalian beranggapan masuk mulut buaya. Dibaca ulang dari awal, aku tak menggoda. Dia datang sendiri, secara suka rela.

“Aku yakin karena Mas Dyo lebih bisa dipercaya dan ....” Dia mempererat pelukannya tanpa terduga, lagi-lagi bukan aku yang memulai. Ingat ini baik-baik, jangan menilaiku gampangan. Dyo Kusuma sudah diam tanpa perlawanan, pasrah.

“Dan?” Aku ingin tahu lanjutannya, dia hanya berjinjit. Menutup mulutku dengan miliknya, memberikan bonus tambahan. Ini di luar rencana, memang kalau rezeki tak mungkin tertukar. Tuhan masih menyayangiku, hanya kalian saja yang menuduh dengan penilaian suka-suka.

Maaf, Angela! Aku tak bermaksud mengkhianatimu, tetapi kalau dibiarkan ... ah! Bukankah kita diajarkan untuk tidak melakukan hal mubazir? Sayang jika kulewatkan momen gratis ini, anggap saja sedang mendapat jackpot. Bonus tambahan di akhir bulan.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Telanjur Khilaf   Usai Berpisah

    Tidak ada satu pasangan pun yang menginginkan perceraian, apalagi aku yang belum pernah membayangkan mengenai fase tersebut. Namun, jika kondisi tak memungkinkan lagi, mau tidak mau semuanya harus dihadapi. Setidaknya hubungan sehat yang harus didapatkan olehku.Sebelum memutuskan untuk menjalani perceraian, aku sudah mengetahui risiko yang bisa didapat. Bukan hanya rasa sedih dan sakit, ternyata juga memicu terjadinya gangguan mental. Jadi, jangan sampai meremehkan mengenai situasi ini.Kadang aku pun sulit menerima kenyataan mengenai situasi kami, aku dan Dyo tak lagi bersama. Oleh karena itu, sering lupa tentang status diri. Hanya saja, tak sampai merasa sangat tertekan oleh masa-masa sulit ini.Gangguan kesehatan mental pasca perceraian jelas terasa, pergumulan psikologis pun menggangguku. Terkadang aku merasa terisolasi dari diri sendiri, bahkan keluarga, dan teman-teman. Mengalami rasa tidak aman dalam bertindak, bahkan apa pun yang dilakukan terasa tidak biasa.Akibatnya, pikir

  • Telanjur Khilaf   Memaafkan

    Aku merasa sedikit lebih lega setelah bertemu Aira, setidaknya beban yang begitu berat tak dirasakan seorang diri. Namun, ketika berada di rumah seorang diri justru menjadikan suasana hati semakin memburuk. Perasaan sedih begitu mendominasi.Aku menghela napas dengan berat, mengingat setiap detail kejadian yang terjadi beberapa bulan terakhir. Semua terangkai begitu sempurna, seolah memang sudah direncanakan dengan matang. Hera memang bukan lawan yang bisa dianggap enteng, setidaknya wanita itu memiliki sisi tak tahu malu yang sangat besar.Keasyikannya dalam merenungi nasib terganggu oleh getar ponsel genggam yang diletakkan di saku celana, “Iya, ini aku.”Rupanya Edho menghubungi kembali melalui panggilan pribadi, aku berdiri untuk mencari tempat paling aman dalam mengobrol. Memasuki kamar yang tak terpakai, tetapi sering kugunakan saat mengerjakan tulisan. Ruang kerja rahasia yang berada di bagian belakang bangunan.“Katakan saja, aku akan mendengarkan.” Aku berkata sambil mengunci

  • Telanjur Khilaf   Berhak Bahagia

    “Angela!” seru seorang perempuan berusia sekitar 36 tahun, salah seorang sahabat terbaik yang kumiliki menghampiri.Aira yang sudah membaca pesan dari teman terbaiknya menyambut dengan dekap hangat, penguat di kala masalah membelit sempurna. Aku memang tidak setuju saat wanita tersebut memutuskan menikah dengan lelaki asing, tetapi posisiku kala itu memang bukan sosok yang bisa memilih hal terbaik. Apalagi musibah yang menimpa, tak bisa dibayangkan betapa mengerikan situasi hidupnya saat itu.“Mereka berkolaborasi dengan sempurna, aku sampai terkecoh dibuatnya.” Aku melaporkan temuan yang sangat mengejutkan, dibanding kembali pulang. Lebih memilih mengutarakan semua kebejatan keluarga suaminya pada sang sahabat.Seharusnya aku mendengarkan apa yang dikatakan oleh Aira, tidak menyimpan kepercayaan pada Dyo. Semua orang yang semula begitu jahat mendadak baik, tentu ada niat terselubung. Aku terlalu naïf untuk kehidupan nyata, padahal sangat ahli menciptakan kisah super halu yang mengeju

  • Telanjur Khilaf   Mencari Kesalahan

    “Angela, temui aku. Ada yang harus kamu lihat sendiri, ini tentang suamimu.” Kalimat dari Edho inilah yang membuatku menunda pergi ke rumah orang tua Dyo, mengubah rute menuju taman kota.Di sana, seorang pria tampan tengah melambaikan tangan sebagai isyarat keberadaannya, dan aku tersenyum sembari mendekat. Langsung kusambar tablet di tangan Edho, memeriksa semua hasil temuan teman terbaik. Beberapa poin cukup dipahami, tetapi sisanya hanya dilewati karena tak mengerti.“Jelaskan saja garis besarnya,” ujarku pada rekan yang hanya mengangguk patuh, “kirim gambar-gambar yang berhasil kamu ambil dari media sosial.”Edho kembali mengangguk sebelum membuka mulut, “Suamimu sedang dalam pengawasan serius, sepertinya pimpinan pabrik sudah menemukan hal-hal mencurigakan terkait penggelapan dana. Hanya menunggu semua bukti terkumpul, apa informasi ini berguna?”Aku hanya terdiam, akan lebih nyaman jika segera mengetahui mengenai kebenaran tentang perselingkuhan Dyo bersama Hera. Akan tetapi, m

  • Telanjur Khilaf   Tak Pernah Jera

    Jika bukan karena ingin memberikan pembalasan setimpal, aku sudah menggugat cerai. Sebab, apa lagi yang bisa dipertahankan dari rumah tangga menjjikkan ini? Dyo bahkan sudah menodai pernikahan kami sejak lama tanpa otak.Aku jelas merasa jijik setiap kali melihat wajah Dyo, tetapi untuk sementara memang harus menahan hingga waktu balas dendam tiba. Sekuat apa pun mencoba terlihat baik-baik saja, tetap perasaan kesal mendominasi sehingga tak mampu menyingkirkan jarak yang sengaja dibuat sejak pagi. Bagaimana bisa tersenyum mesra ketika kenyataan buruk menampar kesadaran?‘Jangan pikir aku bodoh, apa pun bisa kulakukan demi sakit hati yang kalian buat. Lihat saja!’ Aku bergumam dalam batin sembari meluruskan tatap pada pria yang sedang menikmati sarapan, benar-benar tak punya otak sampai masih bisa tetap santai di depanku.Akting paripurna yang begitu bagus, aku memuji kemahiran Dyo dalam menyembunyikan semua perbuatan busuknya. Bahkan, sampai memiliki anak kecil bersama gundik yang ter

  • Telanjur Khilaf   Masih Dipantau

    Semua tak hanya sampai di sana, sekalipun pelabrakan menuai hasil maksimal. Tetap saja dua manusia menjijikkan itu justru menjadi sangat mengerikan, menjelma iblis tanpa mau peduli pada perasaanku. Bahkan, Hera sengaja meneror agar aku mengetahui aksi mereka.“Halo …?” Aku sengaja mengeluarkan suara meskipun curiga, “Mas, ada apa?”Fokus pecah begitu saja ketika menyadari masih tentang panggilan dari nomor ponsel Dyo, tanpa obrolan. Hanya grasak-grusuk suara benda bergesekan, kulirik jam yang tertempel di dinding. Pukul satu malam, tetapi desau napas tak teratur jelas menunjukkan aktivitas mencurigakan di seberang sana.Ini bukan sekali, aku sudah menerima panggilan demikian setiap kali suami tercinta pamit dalam perjalanan bisnis. Bahkan, ini yang terparah. Apa Dyo sedang menonton film dewasa untuk menggodanya?Biasanya memang lelaki tampan tersebut memiliki cara konyol dalam mengutarakan kerinduan, sekalipun pernikahan telah berusia 7 tahun. Akan tetapi, pria yang kunilai baik selal

  • Telanjur Khilaf   Kisah dari 2017

    Masih dari tahun 2017, saat aku sudah bekerja di salah satu Puskesmas. Memang ada seorang gadis cantik yang dekat denganku, tetapi kami hanya sebatas saling menggenggam tangan. Sebab, dia anak pondok yang menjaga sikap untuk jauh dari khilaf.Kami membahas hal seru di setiap tulisan yang k

  • Telanjur Khilaf   Kisahku Bersama Ayu Samira

    Membahas Angela tak akan ada habisnya, dia bagai rumus matematika. Sulit dipecahkan isi pikirannya, kenapa selalu mengetahui setiap kesalahan yang kuperbuat di luar rumah? Berbohong pun percuma, akan tetap ketahuan. Apa kepalanya berisi metal detektor?“Dari mana?” tanya ini selalu menyambu

  • Telanjur Khilaf   Antara Istri dan Selingkuhan

    Aku hanya bisa memukul kemudi, menoleh cepat pada Hera yang semakin menciptakan suasana mencekam. Ini bahkan bukan adegan horor, kenapa dia menjadi payah begini? Saat mendekatiku saja, bertingkah badai tanpa takut risiko apa pun. Sekarang?Hanya dipergoki oleh Angela, langsung menjadi perci

  • Telanjur Khilaf   Berselingkuh dengan Sahabat Istriku

    “Jadi, kalian menikamku dengan cara ini?” tanya ini datar, tetapi tatap nyalang itu mengisyaratkan amarah paling sadis. Tak ada air mata di sana, benar-benar ekspresi yang sulit diterima akal sehatku. Masih saja mampu terlihat elegan, di saat berada di titik rendah sekalipun.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status