“Jadi, kalian menikamku dengan cara ini?”tanya ini datar, tetapi tatap nyalang itu mengisyaratkan amarah paling sadis.Tak ada air mata di sana, benar-benar ekspresi yang sulit diterima akalsehatku. Masih saja mampu terlihat elegan, di saat berada di titik rendahsekalipun. “Maaf, Angela. Kami khilaf.” Berbedadengan Angela, perempuan yang menutupi tubuh dengan selimut itu menunduk.Menyembunyikan wajah dari rasa malu, ada isak mulai tertangkap indra pendengar.Merasa bersalah mungkin. Aku tak mau memihak, hanya mampumeraih boxer bermotif kulit harimau di lantai. Melenggang santai, takperlu terburu-buru. Sudah ketahuan pula. Jadi, buat apa panik? Hanya tinggal mengukirpraduga di ruang tunggu, tetapi masih melangitkan harapan. Semoga Angela hanyadatang seorang diri. Namun, jika mengingat karaktertegasnya, istriku ini tak mungkin melibatkan orang lain. Dia selalu menuntaskansetiap permasalahan kami dengan cerdas, seorang diri. Enggan menyeret siapapun, termasuk orang tua kami. Bukan karen
Read More