Share

Bab 13

Penulis: Pipin
last update Tanggal publikasi: 2026-09-28 09:24:43

"Paman... Paman bercanda, kan?" suara Lea bergetar, menggelengkan kepala tak percaya. "Selama ini Ayah nggak pernah... nggak mungkin Ayah—"

"Mana mungkin pria itu berani ungkap masa lalu busuknya sendiri di depan anak gadisnya?!" bentak Heri tajam, tertawa getir menyuarakan kepedihan yang terpendam belasan tahun. "Kamu kira bagaimana cara pria sialan itu ngerebut ibumu dari laki-laki terhormat pilihan Paman dulu, hah?! Cuma bermodal mulut manis dan kepura-puraan! Ah, Brian sialan itu... Andai s
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 24 - Dalang

    Angin malam Pelabuhan Priok berembus kencang. Di antara jajaran peti kemas yang menjulang tinggi bagai labirin raksasa, Lea berdiri dalam balutan jaket kulit hitam, membiarkan rambutnya terurai diterpa angin malam. Layar ponsel pintar di tangannya menyala terang. Nama "Komandan Alex" berkedip-kedip di sana."Di mana kamu, Lea?!" suara Alexander terdengar begitu tegang dari seberang telepon. Lea menyunggingkan senyum tipis, menatap lurus ke arah deretan dermaga yang sepi. "Apa Om sengaja memasang pelacak di ponselku... sampai-sampai Om bisa tahu kalau aku lagi nggak ada di mess?"Pesan singkat dari nomor tak dikenal yang diterimanya satu jam lalu telah membawanya ke tempat terisolasi ini. Pesan yang berisi kode rahasia organisasi masa lalu ayahnya—sebuah umpan yang sengaja dilempar oleh pria yang membantai ibunya."Jangan konyol, Lea!" bentak Alex, suara deru mesin mobil yang terpacu kencang terdengar jelas di latar belakang panggilan itu. "Kembali ke mess sekarang juga! Jangan terli

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 23 - Ancaman

    "Jangan berani-beraninya kamu mengusik anakku, Sades!" bentak Brian dengan suara gemetar penuh dendam. Tangannya yang terborgol menghantam kaca pembatas tebal hingga memicu bunyi Brak!Sades sama sekali tidak terkejut atau terganggu oleh gertakan itu. Pria bermata satu itu hanya mengusap kepala tongkat peraknya dengan gerakan santai. Di kepala Brian, kilatan masa lalu mendadak berputar hebat. Sejak dulu, Sades bukanlah sekadar bos mafia jalanan yang mengandalkan otot. Pria paruh baya ini adalah seorang arsitek kejahatan berotak dingin—seorang dalang genius yang selalu berada sepuluh langkah di depan lawan-lawannya. Sekeras apa pun Brian mencoba melampaui taktik pria ini, pada akhirnya Brian selalu sadar bahwa dirinya hanyalah bidak catur yang gerakannya sudah diantisipasi Sades sejak awal."Ah, Lea Aditama..." gumam Sades dengan intonasi rendah, seolah sedang mengeja nama sebuah mahakarya. "Gadis yang manis. Dia baru saja dilantik jadi perwira kepolisian, bukan? Sungguh ironi yang lu

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 22 - Kedatangan "masa lalu. "

    "Lea..." panggil Alexander lirih, suaranya tercekat di tenggorokan. Langkah kakinya hendak mendekat, namun tertahan oleh tatapan mata Lea yang begitu hancur dan penuh keputusasaan."Aku nggak peduli sama keselamatanku sendiri, Om! Sama sekali nggak peduli!" potong Lea. "Tapi mana mungkin aku biarkan sesuatu yang buruk terjadi sama Om?!"Air mata menetes deras menelusuri pipi halus perwira muda itu. Ia menyapu air matanya kasar dengan punggung tangan, menatap Alexander dengan kejujuran paling telanjang yang tak lagi bisa ia tutupi."Aku tahu ini gila... jatuh cinta setengah mati sama pria yang seumuran sama Ayahku sendiri," bisik Lea sengau. "Tapi aku nggak bisa ngontrol perasaan ini, Om. Sekalipun perasaan ini nggak pernah Om balas... aku nggak mau hubungan ini berakhir dengan kematian Om!"Alexander membeku total. Kata-kata Lea menghantam dadanya begitu telak, menyisakan sesak yang amat membakar."Sekarang aku mohon... kalaupun bukan demi aku, lakukan ini demi Joshua!" desak Lea deng

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 21 - Rasa sayang dan Ancaman

    "Pa! Pa, coba lihat ini! Ada bangkai kucing di depan pintu!" teriak Joshua panik. Napas polisi muda itu memburu pendek. Sejak beberapa hari terakhir, firasat buruk terus membayangi pikirannya, dan penemuan mengerikan di ambang pintu rumah mereka hari ini seolah mengonfirmasi ketakutannya.Alexander melangkah keluar dari dalam rumah, masih mengenakan kemeja polos dengan lengan tergulung di siku. Matanya memicing menatap bangkai kucing berdarah yang tergeletak tepat di atas keset. "Tenang, Jo... Ini mungkin cuma ulah anjing liar kawasan ruko," ujar Alex dengan suara tenang yang dibuat-buat, berusaha meredam kepanikan putranya."Anjing liar apanya, Pa?!" potong Joshua dengan suara naik satu nada. Tangan kanannya gemetar di samping paha. "Aku yakin tadi ada orang yang sengaja meletakkannya! Firasatku nggak salah, Pa... Seminggu terakhir ini ada yang terus mengintai aku!""Jo, kamu itu polisi sekarang," tegur Alex. "Kamu baru saja lulus pendidikan. Kenapa bisa jadi sepenakut ini hanya ka

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 20 - Om, Nikah Yuk

    Suasana kafe remang-remang di sudut kota malam itu cukup tenang untuk mengobrol santai. Pria paruh baya itu masih tidak habis pikir, bagaimana bisa seorang detektif paling disiplin dan kaku di Markas Kepolisian seperti dirinya mengiyakan ajakan makan malam di luar jam dinas bersama bawahannya sendiri—yang baru tadi pagi ia sambut secara resmi."Nggak nyangka ya, Om... kita akhirnya berdiri di tempat yang sama," ujar Lea memecah keheningan, mengaduk tehnya pelan. "Padahal sejujurnya, aku nggak pernah mau ada di sini."Alexander menaikkan sebelah alisnya. "Nggak mau di sini? Maksud kamu, di kepolisian?""Ayah melarang keras aku jadi polisi," sahut Lea renyah, menyunggingkan senyum tipis. "Kata Ayah dulu, polisi itu terlalu terikat hukum resmi. Gerakannya terbatas, kaku, dan yang paling penting... gajinya dikit banget! Gagal total deh impianku buat beli rumah mewah."Soal rumah, dada Lea mendadak berdesir getir. Demi membiayai seluruh operasional, sekolah kilat perwira, hingga taktisnya

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 19 - Tetap konsisten Ya Om?

    "Pa, kok Papa bisa berdiri santai di depan sana sebagai Komandan yang disegani, sementara aku cuma dijadiin polisi baru yang serba canggung begini sih? Nggak adil banget!" rengek Joshua setengah berbisik, merapikan kerah seragamnya dengan raut wajah kesal.Melihat sosok Alexander yang begitu dihormati dan selalu diberi jalan oleh para perwira senior, ego Joshua terbakar. Ia ingin dipandang seperti ayahnya. Namun kenyataannya, di sudut ruangan ini, ia hanyalah penyidik muda yang keberadaannya bagai angin lalu, meski semua orang tahu darah Alexander mengalir di tubuhnya."Fokus, Joshua," tegur Alexander tanpa menoleh sedikit pun. "Kamu di sini buat belajar disiplin, bukan buat pamer status sebagai anak Komandan."Belum sempat Joshua mendengus membalas ucapan ayahnya, mikrofon di podium utama mendadak berumpan balik dengan suara mencicit nyaring, memotong seluruh perdebatan mereka.Kapolres mengetuk podium dua kali, membuat puluhan pasang mata penyidik dan perwira di dalam ruangan seketi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status