LOGINLayar ponsel di genggaman Lea meredup perlahan. Lima panggilan berturut-turut ke nomor 'Om Tampan' sama sekali tak diangkat. Jangankan dijawab, dioper ke nada panggil saja langsung dialihkan ke pesan suara."Dasar polisi kaku! Benar-benar sengaja menutup akses!" umpat Lea, menghentakkan kakinya kesal saat melangkah masuk ke rumahnya.Di dinding ruang tamu, kalender gantung menatapnya dengan angka-angka yang seolah menjulurkan lidah. Lea mendekat, jemarinya mengusap lingkaran spidol merah di tanggal akhir bulan. Tinggal hitungan hari! Biaya wisuda, sewa toga, hingga kelangsungan hidupnya sebelum dapat kerja tetap harus segera dilunasi. Tanpa uang tunai, rencana berdirinya di panggung wisuda cuma akan jadi ilusi."Gengsi nggak bakal bisa bayar sewa toga..." gumam Lea. "Kalau Alexander nutup pintu depan, aku harus cari pintu belakang."Saat larut malam Lea akhirnya memilih keluar dengan Mengenakan jaket hoodie hitam dan celana jins, ia berjalan menyusuri kawasan ruko pertokoan tua di pu
Brak. Sebuah nampan makan dari besi dihempaskan kasar di samping Brian yang tengah menikmati makan siang. "Yo, Brian... Sudah lama banget ya kita nggak jumpa?" seru pria itu dengan suara serak yang berat. Seorang pria bertubuh kekar dengan tato ular melilit di lehernya dengan wajah yang penuh parut luka. Brian hanya menatap pria di sebelahnya sekilas lewat sudut matanya yang tajam, tak menunjukkan guncangan sedikit pun, lalu kembali memfokuskan pandangannya pada makanan di hadapannya. Pria itu—mantan rekan seperjuangannya di dunia hitam belasan tahun lalu—menyandarkan punggungnya, lalu berbisik-"Organisasi kita hancur total lima tahun setelah kepergianmu," bisik pria itu, menatap Brian dari samping. "Dan Bos... dia lenyap begitu saja bagai ditelan bumi. Semua kekuasaan, wilayah, dan bisnis kita runtuh... cuma gara-gara kamu memilih kabur dan berpura-pura jadi orang suci." Brian menghentikan pergerakan sendoknya. "Aku sudah memotong semua hubungan dengan masa lalu," ujar Brian t
"Paman... Paman bercanda, kan?" suara Lea bergetar, menggelengkan kepala tak percaya. "Selama ini Ayah nggak pernah... nggak mungkin Ayah—""Mana mungkin pria itu berani ungkap masa lalu busuknya sendiri di depan anak gadisnya?!" bentak Heri tajam, tertawa getir menyuarakan kepedihan yang terpendam belasan tahun. "Kamu kira bagaimana cara pria sialan itu ngerebut ibumu dari laki-laki terhormat pilihan Paman dulu, hah?! Cuma bermodal mulut manis dan kepura-puraan! Ah, Brian sialan itu... Andai saja dulu Lia tetap sama laki-laki pilihanku, aku yakin adikku masih hidup dan bahagia sampai detik ini!"Dada Heri naik turun menahan emosi yang membakar. Ia menyapu kasar air mata yang menggenang di sudut matanya yang memerah, lalu berbalik melangkah cepat meninggalkan gang."Paman! Tunggu! Kita belum selesai bicara!" teriak Lea hendak melangkah mengejar."Cari tahu sendiri!" seru Heri tanpa membalikkan badan sedikit pun. "Itu pun kalau 'Ayah kesayanganmu' itu mau jujur dan buka suara sama kamu
"Jadi... beneran bukan karena Lea?""Apa yang sebenarnya kamu takutkan, Joshua? Bukannya selama ini kamu sendiri yang paling sibuk mendesak Papa buat move on? Kamu bahkan yang sibuk mendaftarkan Papa ke kencan buta dengan wanita mana pun yang kamu temui.""Tapi jangan Lea, Pa!" seru Joshua refleks, memajukan tubuhnya dengan raut wajah horor. "Aku nggak mau! Masa mantan cewek yang ngejar-ngejar aku di kampus mendadak jadi ibu tiri aku sendiri?! Mau ditaruh di mana muka aku, Pa?!"Alexander menghela napas, menggeleng pelan melihat kepanikan putranya yang berlebihan. "Nggak. Papa nggak akan menaruh hati padanya," ujar Alex dengan nada yakin dan tenang.Joshua menatap ayahnya lurus-lurus, mencari celah kebohongan di garis wajah tegap itu. "Beneran...?"Alexander terdiam sejenak. Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk senyum samar. "...Untuk sekarang," gumam Alex santai."Sekarang?!" Joshua terbelalak kaget, matanya melotot hampir keluar. "Maksud Papa 'untuk sekarang' itu apa?! Berarti
"Apaan sih lo? Nggak usah teriak-teriak, malu-maluin tau. Lo tuh sebenarnya anak detektif atau tukang sayur di pasar sih?" Semprot Lea. "Gimana gue nggak teriak?! Lo sadar nggak sama apa yang baru aja lo omongin?! Dengar ya, Pa! Aku nggak bakal pernah sudi kalau cewek ini ada di sekitar Papa. Dan detik ini juga aku tanya sama Papa... kalau aku nggak ngerestui Papa sama dia, apa Papa bakal tetap dekat-dekat sama dia?!" "Lo mau apa sih, Jo—" "Gue nggak minta pendapat lo, sundel! Diem!" bentak Joshua. "Joshua! Jaga ucapan kamu!" Ujar Alex menatap putranya yang terbakar emosi. "Papa sudah berkali-kali bilang ke kamu, Jo. Papa nggak akan pernah memulai hubungan serius dengan siapa pun lagi. Apalagi sama bocah seumuran kamu begini. Papa dekat dan bantu dia murni karena tugas kemanusiaan... Papa iba, seorang gadis tanpa—" "Tanpa apa, Om?" potong Lea cepat. "Tanpa orang tua? Tanpa perlindungan? Tanpa tempat bersandar, iya? Jadi selama ini Om pasang badan di TKP, taruhan jabatan di depa
Ruang Sidang Utama Pengadilan Negeri hari itu sesak oleh kilatan lampu kamera wartawan dan bisik-bisik tegang para pengunjung. Di kursi terdakwa, Brian Aditama duduk tenang dengan kemeja putih polos dan rompi tahanan.Lihat saja, Lea... Hari ini bokap lo resmi bakal mendekam seumur hidup di penjara, batin Joshua puas, menunggu Lea hancur sepenuhnya. Tak jauh dari Joshua, Lea duduk dengan posisi tegap, mengenakan kemeja formal dan blazer hitam sederhana. Wajahnya begitu tenang tanpa raut cemas sedikit pun. Mata Lea sekilas menatap punggung tegap Alexander yang berdiri di dekat pintu masuk ruang sidang. Pria itu siap dipanggil sebagai saksi kunci. Ingatan Lea seketika melayang pada kejadian dua malam sebelum persidangan ini digelar...Dua malam sebelum sidang perdana.Mobil Alexander berhenti beberapa meter dari pelataran rumah masa kecil Lea,sebelum Alex dan Lea sempat melangkah keluar, sebuah mobil dinas kepolisian mendadak memotong jalan dan berhenti tepat di belakang mereka.Seora







