공유

Teman Adikku yang Maskulin
Teman Adikku yang Maskulin
작가: Muriaz

Bab 1

작가: Muriaz
"Punyamu terlalu besar, nanti bisa koyak ...." Telanjang dan kepanasan, aku berbaring di tempat tidur dan membiarkan teman adikku menekan kedua kakiku. Wajahnya dipenuhi nafsu ....

Dia bilang mau memijatku, tetapi posisi pijat seperti apa ini? Ini sangat memalukan, tetapi sangat merangsang!

Namaku Leah. Aku hidup saling bergantung dengan adikku, Jayden. Setelah orang tuaku meninggal, demi merawat adikku, aku tidak pernah punya pacar atau kehidupan seks. Di malam hari, hanya mainan dingin yang menemaniku.

Namun, jauh di lubuk hati, aku selalu mendambakan kehidupan seks yang penuh gairah dan keringat. Aku menginginkan seorang pria menjelajahi tubuhku yang lembut dan penuh, lalu merusaknya sepenuhnya.

Saat merasa haus akan sentuhan, aku diam-diam menonton film porno setiap malam, lalu berfantasi tentang didominasi secara liar oleh pria berotot. Aku bahkan sengaja berganti pakaian menjadi tank top agak transparan dan rok super pendek, lalu berjalan-jalan di taman yang sepi.

Aku berharap seseorang diam-diam mengikutiku, lalu menindihku dengan kuat dan ....

Aku pernah berpikir untuk mencari pacar sungguhan dan merasakan kenikmatan menjadi wanita sesungguhnya. Akan tetapi, aku agak takut ....

Suatu hari, universitas adikku mengadakan acara sosial. Dia pun mengundangku untuk hadir.

Aku duduk di kelas seperti biasa, tetapi terus merasa seperti ada yang menatapku. Aku menoleh dan melihat seorang pria tinggi dan berotot sedang menatapku.

Tingginya mencapai 1,9 meter. Dia memiliki otot-otot yang kekar, juga memancarkan maskulinitas dan kekuatan. Tatapannya lebih membara daripada serigala lapar, sedangkan bibirnya terkatup rapat saat matanya menyapu tubuhku dengan penuh hasrat. Tatapannya yang berapi-api membuat tubuhku memanas.

Dalam sekejap, aku pun tersipu. Aku tidak pernah menyangka adikku memiliki teman sekelas setinggi dan sekuat orang Barat.

Saat kesepian, aku paling suka diam-diam menonton film dewasa Barat di bawah selimut. Area intim mereka sangatlah besar dan mengintimidasi. Sudah ada banyak wanita yang dibuat terengah-engah dan merasakan kenikmatan luar biasa.

Gelombang panas menjalar di tulang punggungku, lalu dengan cepat menyebar ke seluruh tubuhku. Tanpa sadar, aku merapatkan kakiku. Aku merasa celana dalamku sepertinya menjadi agak basah.

Membayangkan adegan-adegan dari film, aku tiba-tiba memiliki keinginan aneh untuk didominasinya dan ditindasnya dengan kasar ....

Ketika mendengar dosen wali memanggil nama, aku baru mengetahui pria itu bernama Theo. Dia ternyata adalah seorang mahasiswa internasional.

Duduk di bangku, aku merasa seperti boneka tanpa jiwa dan tidak dapat mendengar apa pun. Pikiranku dipenuhi dengan wajah Theo yang tegas.

Tiba-tiba, aku mendongak dan melihat adikku mengobrol riang dengan Theo. Mereka bahkan saling merangkul bahu. Apa adikku dekat dengannya?

Di hutan kecil dekat gerbang sekolah, Theo menghentikanku sambil tersenyum hangat. Aroma hormon maskulinnya yang luar biasa menyerang hatiku yang rapuh.

Setelah mengamati dari lebih dekat, aku menyadari bahwa pemuda jangkung ini sama persis dengan tipeku. Lengannya lebih tebal dari pinggangku, bagaikan sebuah menara besi hitam. Di sampingnya, aku merasa seperti anak ayam kecil.

Aku tanpa sadar melirik celana pendeknya, lalu samar-samar merasakan ada sesuatu yang menonjol di balik celana pendek longgar itu. Hal ini membuat seluruh kulitku memerah dan terasa panas.

Setelah melihatku, Theo menunggu sampai adikku pergi sebelum perlahan-lahan mendekatiku. Dia mengembuskan napas panas ke telingaku. "Kak, aku teman baik Jayden. Ini hadiah kecil untuk pertemuan pertama kita."

Theo menyerahkan sebuah kantong hitam kepadaku. Jari-jarinya yang tebal menelusuri punggung tanganku. Hatiku pun terasa gatal dan aku langsung terangsang.

Kemudian, dia mengulurkan tangan satunya lagi dan melingkarkannya ke pinggangku dari belakang. Tangannya itu perlahan merayap ke atas seperti ulat dan hampir menyentuh area sensitifku.

"Ja ... jangan begini!" Wajahku memerah, sedangkan dadaku naik turun dengan cepat karena terengah-engah.

Apakah dia ... sedang menggodaku? Aku menikmati rangsangan dan kenikmatan dari gesekan itu. Terbungkus dalam otot-ototnya yang kuat membuatku gemetar, seolah tersengat listrik.

Tubuhku menjadi lemas dan aku ambruk ke pelukan Theo. Dadanya yang panas hampir melelehkanku. Perasaan dipeluk seseorang begitu nyaman. Tanpa sadar, aku makin mendekatkan diri ke Theo.

"Kakak menginginkannya?"

Theo menatapku dengan hasrat yang kuat, keintiman di antara kami makin kuat. Aku bukan hanya dipeluk oleh lengannya yang kekar, tetapi bokongku yang montok juga sesekali menyentuh pahanya.
이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Teman Adikku yang Maskulin   Bab 9 

    Seorang wanita berpakaian mewah berdiri di samping tempat tidur dalam kamar rawat inap. Melihatku, dia menunjukku sambil memakiku. Dia pasti adalah ibu Theo.Aku pada dasarnya merasa bersalah. Jadi, aku menunduk dan menerima makian itu tanpa bersuara. Aku diam-diam melirik Theo. Kepalanya dibalut perban dan bibirnya terlihat pucat. Dadaku terasa sakit tak terkendali.Wanita itu hendak lanjut memakiku, tetapi Theo menghentikannya dengan tajam, "Ibu, kamu keluar dulu. Ada yang mau kukatakan padanya!" Atas perintah tegas Theo, wanita itu memelototiku, tetapi memilih untuk pergi.Theo merentangkan lengannya yang kuat dan memelukku. Aroma familier itu masih terasa begitu hangat."Maaf, Theo ...." Dia menutup bibirku dengan tangannya, lalu dengan lembut mencium keningku. Wajahnya dipenuhi kasih sayang, "Kak, kamu nggak salah ...." Sikapnya membuatku merasa makin bersalah. Aku terlalu malu untuk mengucapkan isi hatiku.Theo sangat cerdas. Dia berinisiatif mengungkit masalah ini dan beruja

  • Teman Adikku yang Maskulin   Bab 8

    Darah menodai seprai dan kulitku. "Cepat lapor polisi! Cepat! Jangan sampai terjadi apa-apa padanya!" Adikku menjatuhkan bangku itu dan memelukku sambil menangis. "Kak, sudah nggak apa-apa. Theo begitu kekar. Dia nggak akan mati. Aku akan panggilkan ambulans untuk bawa dia ke rumah sakit."Tak lama kemudian, ambulans tiba. Aku juga menjelaskan seluruh kejadiannya kepada adikku. Theo seperti salah minum obat dan tiba-tiba mencoba memerkosaku!Raut wajahku terlihat muram. Dia menyuruhku beristirahat di rumah, sedangkan dia akan membantuku meminta pertanggungjawaban dari Theo.Aku ingin pergi ke rumah sakit bersamanya. Bagaimanapun juga, Theo terluka parah. Jika terjadi sesuatu yang serius, adikku akan masuk penjara!Namun, saudaraku menggeleng dengan tegas dan menolak. Aku tidak bisa membujuknya dan mau tak mau menurut. Duduk di sofa, pikiranku melayang ke mana-mana. Aku mengambil jaket Theo dan menghirup aroma lemon yang familier. Berbagai macam emosi bergejolak dalam hatiku.Malam it

  • Teman Adikku yang Maskulin   Bab 7 

    Pria dan wanita yang ditinggal berdua bagaikan kayu kering yang bertemu dengan api. Aku merasa canggung dan malu. Tatapan agresif Theo membuatku gemetar hebat. Untuk menenangkan jantungku yang berdebar kencang, aku menyesap sedikit jus lemon.Suasana ambigu terasa di udara ....Theo perlahan mendekatiku. Dia menarikku ke dalam pelukannya dengan lengan kuatnya. Kemudian, dia menggigit cuping telingaku dengan pelan. "Kak, kamu takut?" Wajahnya makin dekat dan aroma harum tubuhnya benar-benar memabukkan.Tubuhku sangat sensitif. Aku sangat ingin menyerah pada Theo saat ini juga, tetapi takut adikku tiba-tiba pulang. Apa yang akan kulakukan pada saat itu?Aku menggigit ujung lidahku dan memaksa diriku untuk tenang. "Theo, tunggu dulu. Kalau Jayden pulang ...." Theo tersenyum nakal. "Kak, jadi maksudmu, kita boleh bermesraan selama Jayden nggak ada?" Bisikannya di telingaku membuat hatiku meleleh. Aku segera menyeret tubuhku yang lemas menuju kamar. Jika aku tinggal bersama Theo lebih l

  • Teman Adikku yang Maskulin   Bab 6 

    Mungkin inilah takdirku!Aku tidak bermaksud untuk menyalahkan Michelle. Berhubung Theo adalah pemuda yang unggul dan menyukai Michelle, kenapa mereka tidak boleh bersama? Memangnya dia harus bersamaku, seorang wanita yang sudah sekarat?Aku memang berpikir begitu, tetapi air mataku tak berhenti mengalir, seperti bendungan yang jebol.Entah sejak kapan, adikku sudah berdiri di depanku. Dia dengan lembut menyeka air mata dari sudut mataku dengan tisu. "Kak, jangan menangis. Kalau nggak, kamu nggak akan cantik lagi, lho." Dia bahkan dengan lembut mengelus kepalaku dan bertingkah seperti orang dewasa kecil. Hal itu langsung menghangatkan hatiku.Aku menoleh untuk melihat adikku. Aku menemukan emosi yang tak bisa dideskripsikan dengan kata-kata di matanya. Ada kekhawatiran, tekad, dan sesuatu yang lain.Pada larut malam, aku tiba-tiba menerima panggilan dari Theo. Suara musik yang keras terdengar di ujung telepon sehingga aku tidak bisa mendengar jelas suaranya. Theo sepertinya juga sudah

  • Teman Adikku yang Maskulin   Bab 5

    Namun, para pengusaha kaya juga tidak bodoh. Mereka bisa memilih wanita yang sehat, kenapa mereka harus memilihku? Lagi pula, bahkan menghabiskan uang juga tidak menjamin kesembuhanku.Aku menggeleng kuat dan mengusir pikiran-pikiran sedih itu dari benakku. Kemudian, aku menceritakan kepada Michelle tentang hubunganku yang ambigu dengan Theo."Leah, sudah kutahu kamu pasti nggak bisa menahan diri. Gimanapun, kata orang, usia 30 dan 40 itu adalah masa orang paling bergairah," katanya sambil menarik tali baju tank topku. Dia bahkan mengedipkan mata padaku.Michelle menggoda, "Kamu belum pernah rasakan sentuhan pria sebelumnya, kenapa kamu nggak bercinta sama Theo saja? Anggap saja itu cuma hubungan satu malam. Itu nggak perlu tanggung jawab kok." Hari itu, aku dan Theo hampir melewati batas. Ketika akal sehatku kembali, aku merasakan penyesalan yang tak terlukiskan. Aku tidak boleh menghancurkan masa depan Theo ....Sekarang, kata-kata Michelle seperti sudah membuka kotak Pandora. Gelom

  • Teman Adikku yang Maskulin   Bab 4

    Ledakan nafsu sudah membuatku linglung. Pada saat ini, yang kuinginkan hanyalah merasakan kenikmatan sejati dengan Theo.Namun, pada detik berikutnya, suara adikku terdengar dari ruang tamu. "Profesor tiba-tiba ada urusan dan menyuruhku pulang! Dia lagi permainkan aku, ya!"Mendengar suara itu, aku langsung membuka mata. Ya Tuhan, kenapa adikku tiba-tiba pulang? Bisa gawat jika dia tahu!Namun, Theo bersikap seperti tidak mendengar suara adikku. Dia masih menatapku dengan penuh hasrat dan ingin melanjutkan ....Dasar mesum! Memangnya ini waktu yang tepat? Aku tak tahan lagi dan menendangnya. Dia pun akhirnya tersadar.Pipiku memerah. Ada api yang membara di hatiku. "Dasar mesum, kamu masih nggak mau pergi? Gimana kalau ketahuan Jayden?"Sambil berbicara, aku cepat-cepat menarik selimut untuk menutupi tubuhku yang lembut.Pada saat ini, adikku memutar gagang pintu dan hendak masuk. Sementara itu, Theo duduk di samping ranjangku dengan wajah memerah!Gawat!Tatapan adikku menyapu wajah k

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status