Share

Bab 6 

Penulis: Muriaz
Mungkin inilah takdirku!

Aku tidak bermaksud untuk menyalahkan Michelle. Berhubung Theo adalah pemuda yang unggul dan menyukai Michelle, kenapa mereka tidak boleh bersama? Memangnya dia harus bersamaku, seorang wanita yang sudah sekarat?

Aku memang berpikir begitu, tetapi air mataku tak berhenti mengalir, seperti bendungan yang jebol.

Entah sejak kapan, adikku sudah berdiri di depanku. Dia dengan lembut menyeka air mata dari sudut mataku dengan tisu. "Kak, jangan menangis. Kalau nggak, kamu nggak akan cantik lagi, lho."

Dia bahkan dengan lembut mengelus kepalaku dan bertingkah seperti orang dewasa kecil. Hal itu langsung menghangatkan hatiku.

Aku menoleh untuk melihat adikku. Aku menemukan emosi yang tak bisa dideskripsikan dengan kata-kata di matanya. Ada kekhawatiran, tekad, dan sesuatu yang lain.

Pada larut malam, aku tiba-tiba menerima panggilan dari Theo. Suara musik yang keras terdengar di ujung telepon sehingga aku tidak bisa mendengar jelas suaranya. Theo sepertinya juga sudah
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Teman Adikku yang Maskulin   Bab 9 

    Seorang wanita berpakaian mewah berdiri di samping tempat tidur dalam kamar rawat inap. Melihatku, dia menunjukku sambil memakiku. Dia pasti adalah ibu Theo.Aku pada dasarnya merasa bersalah. Jadi, aku menunduk dan menerima makian itu tanpa bersuara. Aku diam-diam melirik Theo. Kepalanya dibalut perban dan bibirnya terlihat pucat. Dadaku terasa sakit tak terkendali.Wanita itu hendak lanjut memakiku, tetapi Theo menghentikannya dengan tajam, "Ibu, kamu keluar dulu. Ada yang mau kukatakan padanya!" Atas perintah tegas Theo, wanita itu memelototiku, tetapi memilih untuk pergi.Theo merentangkan lengannya yang kuat dan memelukku. Aroma familier itu masih terasa begitu hangat."Maaf, Theo ...." Dia menutup bibirku dengan tangannya, lalu dengan lembut mencium keningku. Wajahnya dipenuhi kasih sayang, "Kak, kamu nggak salah ...." Sikapnya membuatku merasa makin bersalah. Aku terlalu malu untuk mengucapkan isi hatiku.Theo sangat cerdas. Dia berinisiatif mengungkit masalah ini dan beruja

  • Teman Adikku yang Maskulin   Bab 8

    Darah menodai seprai dan kulitku. "Cepat lapor polisi! Cepat! Jangan sampai terjadi apa-apa padanya!" Adikku menjatuhkan bangku itu dan memelukku sambil menangis. "Kak, sudah nggak apa-apa. Theo begitu kekar. Dia nggak akan mati. Aku akan panggilkan ambulans untuk bawa dia ke rumah sakit."Tak lama kemudian, ambulans tiba. Aku juga menjelaskan seluruh kejadiannya kepada adikku. Theo seperti salah minum obat dan tiba-tiba mencoba memerkosaku!Raut wajahku terlihat muram. Dia menyuruhku beristirahat di rumah, sedangkan dia akan membantuku meminta pertanggungjawaban dari Theo.Aku ingin pergi ke rumah sakit bersamanya. Bagaimanapun juga, Theo terluka parah. Jika terjadi sesuatu yang serius, adikku akan masuk penjara!Namun, saudaraku menggeleng dengan tegas dan menolak. Aku tidak bisa membujuknya dan mau tak mau menurut. Duduk di sofa, pikiranku melayang ke mana-mana. Aku mengambil jaket Theo dan menghirup aroma lemon yang familier. Berbagai macam emosi bergejolak dalam hatiku.Malam it

  • Teman Adikku yang Maskulin   Bab 7 

    Pria dan wanita yang ditinggal berdua bagaikan kayu kering yang bertemu dengan api. Aku merasa canggung dan malu. Tatapan agresif Theo membuatku gemetar hebat. Untuk menenangkan jantungku yang berdebar kencang, aku menyesap sedikit jus lemon.Suasana ambigu terasa di udara ....Theo perlahan mendekatiku. Dia menarikku ke dalam pelukannya dengan lengan kuatnya. Kemudian, dia menggigit cuping telingaku dengan pelan. "Kak, kamu takut?" Wajahnya makin dekat dan aroma harum tubuhnya benar-benar memabukkan.Tubuhku sangat sensitif. Aku sangat ingin menyerah pada Theo saat ini juga, tetapi takut adikku tiba-tiba pulang. Apa yang akan kulakukan pada saat itu?Aku menggigit ujung lidahku dan memaksa diriku untuk tenang. "Theo, tunggu dulu. Kalau Jayden pulang ...." Theo tersenyum nakal. "Kak, jadi maksudmu, kita boleh bermesraan selama Jayden nggak ada?" Bisikannya di telingaku membuat hatiku meleleh. Aku segera menyeret tubuhku yang lemas menuju kamar. Jika aku tinggal bersama Theo lebih l

  • Teman Adikku yang Maskulin   Bab 6 

    Mungkin inilah takdirku!Aku tidak bermaksud untuk menyalahkan Michelle. Berhubung Theo adalah pemuda yang unggul dan menyukai Michelle, kenapa mereka tidak boleh bersama? Memangnya dia harus bersamaku, seorang wanita yang sudah sekarat?Aku memang berpikir begitu, tetapi air mataku tak berhenti mengalir, seperti bendungan yang jebol.Entah sejak kapan, adikku sudah berdiri di depanku. Dia dengan lembut menyeka air mata dari sudut mataku dengan tisu. "Kak, jangan menangis. Kalau nggak, kamu nggak akan cantik lagi, lho." Dia bahkan dengan lembut mengelus kepalaku dan bertingkah seperti orang dewasa kecil. Hal itu langsung menghangatkan hatiku.Aku menoleh untuk melihat adikku. Aku menemukan emosi yang tak bisa dideskripsikan dengan kata-kata di matanya. Ada kekhawatiran, tekad, dan sesuatu yang lain.Pada larut malam, aku tiba-tiba menerima panggilan dari Theo. Suara musik yang keras terdengar di ujung telepon sehingga aku tidak bisa mendengar jelas suaranya. Theo sepertinya juga sudah

  • Teman Adikku yang Maskulin   Bab 5

    Namun, para pengusaha kaya juga tidak bodoh. Mereka bisa memilih wanita yang sehat, kenapa mereka harus memilihku? Lagi pula, bahkan menghabiskan uang juga tidak menjamin kesembuhanku.Aku menggeleng kuat dan mengusir pikiran-pikiran sedih itu dari benakku. Kemudian, aku menceritakan kepada Michelle tentang hubunganku yang ambigu dengan Theo."Leah, sudah kutahu kamu pasti nggak bisa menahan diri. Gimanapun, kata orang, usia 30 dan 40 itu adalah masa orang paling bergairah," katanya sambil menarik tali baju tank topku. Dia bahkan mengedipkan mata padaku.Michelle menggoda, "Kamu belum pernah rasakan sentuhan pria sebelumnya, kenapa kamu nggak bercinta sama Theo saja? Anggap saja itu cuma hubungan satu malam. Itu nggak perlu tanggung jawab kok." Hari itu, aku dan Theo hampir melewati batas. Ketika akal sehatku kembali, aku merasakan penyesalan yang tak terlukiskan. Aku tidak boleh menghancurkan masa depan Theo ....Sekarang, kata-kata Michelle seperti sudah membuka kotak Pandora. Gelom

  • Teman Adikku yang Maskulin   Bab 4

    Ledakan nafsu sudah membuatku linglung. Pada saat ini, yang kuinginkan hanyalah merasakan kenikmatan sejati dengan Theo.Namun, pada detik berikutnya, suara adikku terdengar dari ruang tamu. "Profesor tiba-tiba ada urusan dan menyuruhku pulang! Dia lagi permainkan aku, ya!"Mendengar suara itu, aku langsung membuka mata. Ya Tuhan, kenapa adikku tiba-tiba pulang? Bisa gawat jika dia tahu!Namun, Theo bersikap seperti tidak mendengar suara adikku. Dia masih menatapku dengan penuh hasrat dan ingin melanjutkan ....Dasar mesum! Memangnya ini waktu yang tepat? Aku tak tahan lagi dan menendangnya. Dia pun akhirnya tersadar.Pipiku memerah. Ada api yang membara di hatiku. "Dasar mesum, kamu masih nggak mau pergi? Gimana kalau ketahuan Jayden?"Sambil berbicara, aku cepat-cepat menarik selimut untuk menutupi tubuhku yang lembut.Pada saat ini, adikku memutar gagang pintu dan hendak masuk. Sementara itu, Theo duduk di samping ranjangku dengan wajah memerah!Gawat!Tatapan adikku menyapu wajah k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status