LOGINNayla terangah-engah berjalan cepat di belakang Adyan sambil menarik kopernya. Mereka baru saja mendarat di Palembang tapi mereka harus naik perjalanan darat lagi kira-kira bebrapa jam mereka akan sampai.
Suasana bandara begitu ramai, beberapa kali Nayla akan menabrak orang karena berusaha mengejar suaminya yang berjalan begitu cepat. Ia juga tentu saja harus ikut cepat kalau tidak maka ia akan tertinggal.
Adyan benar-benar tak begitu memperhatikannya, pria itu sep
“kamu kenapa?” tanya Adyan, sambil melihat depan kearah mana Nayla menatap.Nayla tetap melihat kedepan ekormatanya bergerak melihat orang yang berjala masuk kedalam restauran. Seorang yang tak asing dimatanya bergandengan mesra dengan pria lain “nggak, nggak mungkin” gumamnya lirih seperti syok tak menyangka dengan apa yang ia liat.“kamu lihat apa? jangan membuatku khawatir?’ tegas Adyan, mengoyang pundak Nayla. “sebenarnya apa yang kamu liat?” tanya Adyan memalingkan paksa wajah Nayla agar menghadap kearahnya.“Ta..tadi, tadi aku..aku liat bunda mas” jawab Nayla terbata, sambil menunjuk-nunjuk kedepan wajahnya pucat dengan sorot mata tak percaya.Adyan dibuat semakin bingung, “bunda? Bunda kamu?” tanyanya.Nayla mengangguk pelan mengiyakan, “Bu..bunda sama pria lain, bunda nggak sama ayah” gagapnya, masih syok dengan apa yang ia lihat. “Aku harus turun, aku..aku harus ketemu b
Nayla terlihat gelisah menghindari tatapan tajam nan mau Adyan, yang sedari tadi terus menatap tajam menusuk. Mungkin kalau tidak sedang bicara dengan orang lain, pria itu akan menghampiri mengeluarkan kalimat mautnya. Nayla terus menunduk hanya sesekali memperhatikan Adyan.Irgi yang duduk di sebelah Nayla, sesekali memperhatikan sang sepupu yang terlihat gelisah. Tak fokus pada oborlan mereka, tatapan sesekali melihat kearah Adyan.Perlahan Irgi menyenggol pelan pundak Nayla “kenapa? Takut sama suamimu, sudah cuekin saja fokus ngobrol sama teman-temanku” ucap Isrgi sedikit berbisik di telinga Nayla, ia sesekali juga melihat dimana Adyan melihat mereka saat ini, sebuah senyum diperlihatkan, senyum ramah yang semakin membuat Adyan lebih dingin lagi.“Da..daritadi mas Adyan ngeliatin kita. Aku jadi nggak enak”“sudah biarin saja, kamu perhatikan saja gelagat suamimu. Gelagat itu menunj
“ARKKKK Hantu..” teriak istri Toni saat keluar dari kamar mendapati seorang berbaring di sofa sambil berselimut putih.Dari dalam kamar keluar Toni yang menbarak istrinya masih berteria. “Ada apa sih bun, kenapa?” ucapnya menyalakan lampu ruang tengah tersebut.Dari arah sofa terlihat orang itu bergerak membuka selimut, mendengar kgaduan – Adyan. Dialah pelakunya, membuka selimut tanpa rasa bersalah melihat kearah dua orang yang menatap heran.Toni terlihat menghela nafas, berjalan mendekati suami keponakannya. Sedangkan istrinya terlihat sedikit kesal berjalan cepat mendekat, berkacak pinggang di depan Adyan.“Yaampun Adyan, bude kira kamu hantu!. Kenapa tidur di luar” bude Nayla menatap heran.“kenapa kamu disini, kenapa nggak dalam kamar?” tanya Toni menatap Adyan, rasa penasaran muncul.Perlahan Adyan mendudukkan diri, melihat du
“terus tadi kamu bil..arhkkk” ucap Nayla terhenti, perempuan itu tiba-tiba memegangi perutnya sambil merintih kesakitan. Melihat istrinya kesakitan sambil memegangi perut jelas membuat Adyan langsung khawatir, ia mendekat memegang perut istrinya juga.“kenapa sayang? Perut kamu kenapa?” panik Adyan, sambil melihat wajah Nayla yang terus merintih sakit.Nayla diam merasakan sakit diperutnya, ia tak menjawab pertanyaan-pertanyaan Adyan yang panik. Malah Nayla seperti orang kebingungan mengerjap-ngerjapkan matanya seperti merasakan kenapa perutnya sakit. “Aku laper mas” ucapnya kemudian setelah sempat loading sesaat.Mulut Adyan seketika mengenganga mendengar itu, “kamu laper?” tanyanya tak percaya.“Sshhh, iya arkh aku..aku laper” desis Nayla, memeluk perutnya sambil merintih. Merasakan perih. Dia memang sedari tadi belum makan, ia tadi yang i
Nayla baru keluar kamar setelah lama didalam sejak Adyan pergi tadi. Bahkan ia melewatkan makan malam bersama keluarga pakdenya, perasaan tak enak merambah. Perlahan kakinya berjalan pelan keluar kamar, mencari keberadaan pemilik rumah. Terdengar suara yang mengobrol di ruang tamu, membuat Nayla merasa penasaran. Kakinya itu membawanya mendekat, belum sampai di ruang tamu sebuah ucapan menghentikannya untuk mendekat.“Ayah boleh percaya dengan Adyan saat tugas, tapi ini menyangkut kehidupan pribadi. Bagaimana bisa dia masih membantu mantan kekasihnya disaat dia punya istri” protes istri Toni melihat sikap suaminya itu yang terlalu percaya dengan Adyan. “Ayah nggak lihat rumah tangganya sama Nayla saja masih gantung, ayah nggak kasihan sama Nayla? Ayah nggak ada rasa bersalah dengannya” lanjut istri Toni dengan emosi yang menggebu, bicaranya tak henti.Toni menunduk mendengar omelan istrinya, mengusap wajah kasar kemud
Adyan berjalan keluar, menatap lurus kedepan dengan rasa penasaran. Ia mendengar suara seseorang yang tengah bicara di luar, rasa penasarannya semakin terasa tak kalau suara sesegukan diringi ucapan memohon perempuan terdengar jelas di telinganya. “Siapa pakde?” tanya Adyan saat sudah berada dekat mereka. Pakde Nayla yang berdiri di tengah pintu berbicara denan seorang perempuan yang ada di luar, pria paruh baya itu menoleh melihat Adyan. Wajah pria pakde terlihat merah padam, dengan tangan terkepal. Adyan jelas menyadari kalau ada yang tak beres dari pakdenya.Ia melihat kedepan dan ia kaget saat melihat seorang perempuan paruh baya berdiri sambil menangis di depan pakde Nayla itu. Seorang yang amat sangat ia kenal menangis dengan tatapan memohon. “Adyan," panggil perempuan itu sedikit maju "tolong ibu nak. Tolong bujuk Amel agar mau dibawa kerumah sakit jiwa. Dia..dia mengamuk tadi. Dan ibu butuh bantuan kamu” itu ibu Ame
Hari yang cerah pagi ini seperti menggambarkan suasana hati Nayla yang juga penuh cerah dan bahagia. Pagi ini hatinya sudah berbunga karena kepedulian Adyan padanya, pria itu baru saja selesai memijatnya. Saat bangun ia merasa kakinya terasa sakit, Adyan yang melihat itu langsung memijatnya penuh
“Nggak usah teriak, Mbak, yang salah mbak sendiri” ucapnya datar, nadanya tenang tapi menusuk.Tatapan itu membuat Anya sedikit tertegun, meski rasa kesalnya belum juga surut. Dadanya naik turun, emosinya masih bergejolak.Sementara pria satunya berjongkok, mulai memungu
"Halo Nay, kau tega denganku..?" ucap seorang pria di seberang sana. Mata Nayla melebar, tangannya spontan menutup mulutnya saat ini, ia terlihat kaget mendengar suara tak asing itu di seberang sana. Tangan Nayla yang menutup mulutnya itu gemetar, ia masih terlihat terkejut mendengar suara orang d
Di kamar Nayla tak bisa tidur, ia yang tadinya sudah siap tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya mendadak gelisah saat mengingat wajah dingin Adyan padanya. Pria itu seperti marah dengannya, tapi ia sendiri tidak tahu kenapa pria itu sampai memberikan tatapan tajam penuh kemarahan padanya.Ses







