Share

Teman Tidur Pak Direktur
Teman Tidur Pak Direktur
Penulis: Jong Dame

Direktur Utama Baru

“Kapan nikah? Usia kamu sudah nggak muda lagi. Nggak usah tunda-tunda terus.”

Mayleen hampir lupa bagaimana rasanya menikmati sarapan dengan tenang di rumah ini.

Setiap hari, orang tuanya terus mendesaknya untuk menikah karena usianya yang sudah matang.

Tapi bagi Mayleen, dia masih merasa perlu mengeksplor dunia ini lebih jauh sebelum bisa memutuskan untuk menikahi seseorang.

“Kamu tuh ya, kalau diajak ngobrol pasti nggak pernah perhatiin baik-baik. Kalau orang tua ngomong itu ya ditanggapi! Jangan diam saja kayak patung tak bernyawa gitu!” David, papa Mayleen, mulai merasa kesal karena sedari tadi putrinya itu tidak mengindahkan ucapannya, dan malah fokus pada potongan roti panggan di hadapannya.

“Buat apa ditanggapi kalau respon papa akan sama saja? Papa cuma butuh satu jawaban kan? Tapi Alen nggak bisa kasih jawaban itu sekarang. Jadi, untuk apa?” Alen menjadi nama panggilan Mayleen di rumah.

Pada akhirnya, Mayleen jengah dengan sikap orang tuanya yang seakan menyudutkannya untuk segera menikah.

Tahun ini, Mayleen akan merayakan ulang tahunnya yang ke-29. Dia belum terlalu peyot untuk terus mendapat desakan agar mau menikah seperti itu.

Meskipun terkesan acuh soal pernikahan, diam-diam Mayleen memiliki impian pernikahannya sendiri. Dia ingin menikahi pria yang dicintainya nanti, dan akan menikah karena memang sudah siap. Bukan karena alasan terburu-buru seperti desakan orang tuanya itu.

David menghela napas panjang, sebelum akhirnya mendeklarasikan niatnya untuk menjodohkan putrinya dengan kenalan bisnisnya. “Papa ingin kamu temui seseorang nanti malam.”

“Untuk apa?” Mayleen sama sekali tidak memiliki clue atas rencana papanya itu.

“Temui saja dia, jangan banyak tanya!”

“Kalau gitu, Alen nggak mau temuin orang itu. Orang tujuannya aja nggak jelas kok! Lebih baik Alen lembur di kantor atau ngerjain hal lain yang lebih produktif.” tolak Mayleen. Malam ini, dia berencana untuk mengerjakan proposal bisnis barunya untuk bisa dapat promosi di kantor.

“Temui saja! Apa menemui seseorang adalah permintaan yang sangat sulit untuk dikabulkan?” berbicara dengan Mayleen rasanya hanya akan membuat tekanan darah David terus meninggi.

Mayleen adalah putri satu-satunya di keluarga ini. Sifatnya yang cukup keras terkadang membuat orang tuanya kesal. Namun biar bagaimanapun, mereka sangat menyayangi putrinya itu.

“Alen nggak mau ya dipaksa temuin orang yang nggak Alen kenal, apalagi tanpa alasan yang jelas!” Mayleen jelas menolak permintaan papanya itu.

“Alen, tolong temui saja ya?” Ariana, mama Mayleen menengahi perdebatan antara Mayleen dan papanya.

“Ihh! Mama kok ikut-ikutan papa sih?!”

“Teman-teman kamu sudah pada menikah loh! Kamu, kalau terlalu acuh kayak gini, kapan mau nikahnya? Mama sama papa itu sudah nggak muda lagi, sudah nggak sekuat dulu. Mama kan juga pengen lihat kamu bertemu dan menikah dengan orang lain.”

“Kalau mereka sudah menikah, terus Alen harus apa?” dalam perdebatan apapun, Mayleen bukanlah tandingan yang mudah untuk dikalahkan.

Sejak dulu, Mayleen dikenal orang sebagai sosok yang pandai berdebat. Saking lihainya, dia bahkan memenangkan lomba debat tingkat nasional untuk perwakilan dari sekolahnya.

“Alen….” mamanya melemahkan nada bicaranya. Untuk bisa menghadapi sikap Mayleen yang keras, Ariana selalu menggunakan cara yang lebih lembut untuk meluluhkan hati putrinya itu.

"Temui pria itu, ya? Nggak harus jadi kok! Yang penting kamu mau ketemu dulu, oke?" Papanya masih berusaha keras untuk meyakinkan putrinya itu.

Mayleen memutar bola matanya jengah.

"Alen... Ya?" Pinta David setengah memohon.

"Oh, baiklah!" Mayleen akhirnya setuju untuk menemui pria itu, "tapi Alen nggak janji. Kalau nanti pun gagal, papa sama mama harus janji untuk nggak bikin pertemuan-pertemuan kaya gini lagi. Pokoknya ini yang terakhir!" Mayleen menyertakan syarat atas persetujuannya itu.

"Okay, deal!"

"Alen berangkat kerja dulu, ada meeting penting di kantor." Pamit Mayleen kemudian.

Pada tahap ini, Mayleen memang setuju untuk menemui pilihan papanya, tapi dia tidak bersungguh-sungguh untuk menerima pria itu.

"Lihat saja, aku akan pastikan pertemuan ini kacau. Dan papa sama mama nggak bakal paksa aku datang ke pertemuan kayak gini lagi!" Batin Mayleen dalam hatinya.

***

Mayleen mengerjakan tugasnya sebagai asisten manajer dengan sangat baik. Di bawah arahan dari Marissa, manajer pemasaran yang adalah atasannya langsung, Mayleen banyak mendapat kesempatan untuk membuat proposal dengan skala yang besar. Mungkin karena alasan itu juga lah, Mayleen sangat menyayangi atasannya itu dan sudah menganggapnya seperti kakak perempuannya sendiri.

"May, proposal yang kemarin aku kirim sudah beres?" Marissa menagih pekerjaan yang diserahkannya pada Mayleen tempo hari.

"Oh, sudah kok! Tadi aku taruh di meja Kaksa,"

Kaksa adalah panggilan akrab dari Mayleen untuk Marrisa.

Selain dekat karena urusan pekerjaan, keduanya sudah saling mengenal sejak masih berkuliah. Marissa adalah kakak tingkat Mayleen yang tergabung dalam klub dance.

"Okay, thanks ya!"

"No worries."

Di tengah hecticnya suasana kerja khas kantoran, muncul segerombol orang yang akan membuat pengumuman penting.

Kabarnya, hari ini akan ada pegawai baru yang menggantikan posisi direktur utama.

"Okay, semuanya! Minta perhatiannya sebentar!" Kata seseorang dalam gerombolan itu dengan lantang, "mulai hari ini, posisi Direktur Utama akan dijabat oleh Devin Magistra, putra sulung pimpinan kita."

Sudah 5 tahun berlalu sejak Mayleen bekerja di perusahaan ini, tapi dia bahkan tidak pernah bertemu dengan pimpinan kantor ini. Dan sekarang, sudah ada yang menggantikan posisinya.

"Mohon kerjasamanya." Kata pria yang ditunjuk dengan nama Devin itu sedikit kaku.

Semua orang yang ada di ruangan ini pun langsung bertepuk tangan menyambut kehadiran Direktur Utama yang muda nan tampan.

Beberapa diantaranya sampai ada yang terpesona atas ketampanan pria itu.

Memang, perawakannya tinggi, berbadan atletis, memiliki potongan sambut yang rapi, wajah tambah, pun dengan brewok tipis yang makin menambah kesan maskulin.

Hampir mustahil untuk tidak jatuh cinta pada pria semacam itu.

"Wahhhh..." Marissa langsung mengagumi ketampanan pria itu dalam sekejap mata. Kalau kata orang, Marissa sudah jatuh cinta pada pandangan pertama.

"Sadar Kaksa! Masih banyak pekerjaan!" Mayleen berusaha menghentikan tingkah konyol Marissa.

"Ganteng banget ya, May. Kayaknya aku jatuh cinta deh!"

"Heh! Jangan aneh-aneh! 2 minggu lagi Kaksa nikah loh! Jangan bertingkah konyol, nanti Kak Bima kabur lagi!" Peringat Mayleen.

Dalam kurun waktu 2 minggu lagi, Marissa akan menikah dengan pujaan hatinya. Bagaimana dia bisa bertingkah seperti sekarang padahal sudah menjadi milik pria lain?

"Yaampun! Cuma kagum ini!" Kata Marissa berkelik.

Mayleen menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Mayleen mengakuinya. Calon pimpinan baru perusahaan ini memang cukup tampan, tapi tidak cukup tampan untuk bisa membuat hatinya bergetar.

"Heh, May! Jadiin gebetan aja! Cocok tahu sama kamu!"

"Kaksa! Jangan aneh-aneh deh!" Kesal Mayleen.

Kenapa semua orang terlalu ikut campur dalam urusan percintaannya? Setidaknya, biarkan Mayleen menjalani kehidupan pekerjaannya dengan nyaman tanpa desakan seperti itu.

"Iya, iya. Maaf deh!" Marissa buru-buru meminta maaf.

Perkenalan itu berakhir cepat. Segera setelah mengucapkan "mohon kerjasamanya," pimpinan baru beserta rombongannya pergi meninggalkan ruang departemen pemasaran.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status