Compartilhar

Berakhir

Autor: Rita Aria
last update Data de publicação: 2022-12-16 13:55:19

Shela sudah berada di depan counter pembelian tiket. Dua tiket sudah dipegangnya tinggal menunggu Desi datang menemuinya.

Ada sedikit perasaan kecewa dalam hati Shela. Mungkin karena Arthur mendadak tak bisa menepati janjinya. Namun ia harus kembali mengingat pada status yang mereka jalani. Jika mereka hanyalah teman. Ya, hanya teman.

"Shel!" seru Desi dari kejauhan, dia nampak setengah berlari menuju tempat Shela berdiri.

"Sorry, aku telat. Tadi kehabisan bensin motornya."

"Oh ya udah nggak ap
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Temanku Menusukku Dari Belakang   Benteng Pertahanan

    Suasana koridor kampus pagi itu terasa berbeda. Udara November yang dingin tak mampu mengusir hawa panas dari bisik-bisik mahasiswa yang berpapasan dengan Shela. Kabar tentang jadiannya Arthur dan Neva menyebar secepat angin. Neva yang memang dikenal sebagai anak penyumbang dana terbesar kampus, tak segan-segan memamerkan "kemenangannya" di media sosial.​Shela berjalan dengan pandangan lurus ke depan, berusaha menutupi matanya yang sembap dengan riasan tipis. Langkahnya terhenti tepat di depan papan pengumuman jurusan saat sebuah mobil sedan mewah warna putih berhenti di lobi.​Pintu mobil terbuka. Neva turun dengan senyum mengembang, disusul Arthur yang keluar dari pintu pengemudi. Pria itu tampak canggung dengan kemeja rapi yang dibelikan Neva kemarin. Begitu mata Arthur beradu dengan mata Shela, langkah pria itu mendadak terhenti. Ada sorot keputusasaan dan rasa bersalah yang sangat dalam di matanya.​"Shel!" panggil Neva melambaikan tangan dengan suara riang yang dibuat-buat. Tan

  • Temanku Menusukku Dari Belakang   Luka Yang Tak Berdarah

    ​Keheningan yang menyergap setelah kalimat Arthur terasa lebih menyakitkan daripada tamparan keras di pipi. Shela masih bisa merasakan sisa hangat bibir Arthur di bibirnya, namun kata-kata pria itu barusan terasa seperti es yang membekukan aliran darahnya. Dunia seolah berhenti berputar di depan gerbang kost yang remang-remang itu.​"Kamu... apa?" suara Shela keluar begitu kecil, nyaris tercekik oleh udara malam yang tiba-tiba terasa menyesakkan.​Arthur tidak berani menatap matanya. Pria itu menunduk, memandangi ujung sepatunya dengan bahu yang merosot. "Aku jadian sama Neva, Shel. Tadi sore."​Shela melepaskan tangannya dari pipi Arthur seolah-olah kulit pria itu baru saja berubah menjadi bara api yang menghanguskannya. Dia melangkah mundur, satu langkah, dua langkah, hingga punggungnya menabrak pagar besi kost yang dingin. Tawa hambar keluar dari bibir Shela—sebuah tawa yang lebih terdengar seperti rintihan luka.​"Tadi sore?" ulang Shela dengan nada yang bergetar. "Jadi, alasan ka

  • Temanku Menusukku Dari Belakang   Berakhir

    Shela sudah berada di depan counter pembelian tiket. Dua tiket sudah dipegangnya tinggal menunggu Desi datang menemuinya.Ada sedikit perasaan kecewa dalam hati Shela. Mungkin karena Arthur mendadak tak bisa menepati janjinya. Namun ia harus kembali mengingat pada status yang mereka jalani. Jika mereka hanyalah teman. Ya, hanya teman."Shel!" seru Desi dari kejauhan, dia nampak setengah berlari menuju tempat Shela berdiri."Sorry, aku telat. Tadi kehabisan bensin motornya.""Oh ya udah nggak apa-apa." Shela tampak memaklumi, dia mengedarkan matanya untuk mencari tempat duduk sebelum film dimulai."Shel..." ucap Desi pelan. Dia tampak ragu melanjutkan kalimatnya."Kenapa Des?!""Emang bener ya, Arthur sama Neva pacaran?"Pertanyaan yang cukup membuat ekspresi Shela berubah 180 derajat. Bagaimana Desi bisa berpikir seperti itu?"Setahuku, enggak Des.""Oh, tadi aku salah lihat kali ya. Soalnya tadi nggak sengaja ketemu sama orang yang wajahnya mirip banget Arthur sama Neva di toko baju

  • Temanku Menusukku Dari Belakang   Sebuah Rahasia

    Arthur memandangi ponsel yang terus-terusan berdering, bingung mau menjawab atau mengabaikan. Akan tetapi mengingat ancaman Neva, mau tidak mau dia tetap menjawab telepon itu."Halo, Arthur." Suara dari seberang sana terdengar sangat antusias."Iya Nev, kenapa?""Besok aku mau ngajak kamu nemenin belanja, bisa nggak?"Arthur mengurut keningnya, kembali merasa pusing dengan permintaan Neva. Dia sudah memiliki janji dengan Shela, tidak mungkin jika dia membatalkannya bukan? Apalagi kemarin dia sempat membatalkan janjinya juga gara-gara dia menolong Neva.Jika sekarang dia membatalkan pertemuannya besok pasti Shela akan kembali marah, tapi bagaimana dengan Neva? Dia sudah banyak mendengar tentang Neva yang seringkali serius dengan ucapannya."Aku sudah ada janji sama Shela besok." Arthur menjawab dengan hati-hati. Dia takut menyinggung Neva atau membuatnya marah."Janji ke mana? Kamu masih ingat 'kan apa yang aku bilang?"Arthur mengembuskan napasnya dengan kasar. "Oke, besok kita pergi.

  • Temanku Menusukku Dari Belakang   Sakit

    Shela tersenyum manis sambil menatap Arthur. "Ya, aku tahu."Itu adalah kebenaran. Arthur menyukainya dan dia tahu hal itu dengan cukup jelas. Tapi dia masih belum bisa membuat mereka bersama. Ada saja hal-hal yang membuatnya menggantungkan hubungan mereka. Lebih dari teman tapi bukan kekasih.Apa dia terlalu kejam?"Makasih," ucap Arthur lalu dia memberanikan diri untuk mencium kening Shela. "Jangan lupa minum obat lagi ya kalau panasnya belum turun."Shela mengangguk mengerti. Lalu dia melihat kepergian Arthur dengan senyum yang tersungging. Seandainya matahari akan tetap bersinar atau jika bumi masih terus berputar, bisakah dia tetap menyimpannya?Sebelumnya dia tidak pernah merasakannya. Jantung yang berdetak tidak normal atau pipi yang memerah hangat. Ini seperti cinta yang orang-orang katakan. Menjadi bahagia.Namun semuanya memiliki resiko. Lalu apa yang terjadi jika dia tetap seperti ini?***Arthur keluar dari tempat kost Shela dan menjalankan sepeda motornya. Hari ini dia bo

  • Temanku Menusukku Dari Belakang   Harapan

    Manis.Itulah yang dirasakan oleh Arthur. Setelah menyimpan perasaan selama hampir empat tahun, akhirnya dia memberanikan diri untuk mencoba lebih dekat. Dia ingin melebihi batas pertemanan mereka.Arthur ingat bagaimana dia pertama kali bertemu dengan Shela. Melihatnya duduk di kursi pinggiran lapangan dengan pakaian putih khas milik pengibar bendera di upacara kemerdekaan.Wajahnya yang manis memiliki butiran keringat di dahinya. Secara mandiri dia menyekanya dengan tissu kecil. Dia akan tertawa ketika temannya melontarkan lelucon, lalu akan bergidik ketika orang lain menakutinya.Entahlah. Sejak pertama melihat, Arthur sudah menyukai karakter riangnya. Semakin hari berjalan, ternyata dia memiliki kesempatan untuk mengenalnya lebih dekat. Tidak mau membuang peluang, akhirnya mereka dipertemukan dalam kegiatan rutin sekolah.Dia tidak ingat lagi bagaimana dia bisa menjadi dekat dengan Shela. Menyaksikannya tumbuh, dari gadis polos sampai menjadi perempuan yang cukup dewasa. Dan sekar

  • Temanku Menusukku Dari Belakang   Terkena Jebakan

    Dalam ruangan yang cukup terang, Arthur duduk terdiam dengan kepala yang menunduk. Berkali-kali dia memeriksa ponselnya untuk melihat apakah Shela mau membalas pesan darinya. Sayangnya sampai saat ini perempuan itu tidak memberinya pesan apa pun.Perasaannya menjadi tidak nyaman. Dia takut Shela ben

  • Temanku Menusukku Dari Belakang   Prinsip

    "Bodoh! Udah lah kamu nggak usah nemuin aku lagi. Buat apa? Apa kamu mau ngasih luka lagi?"Shela berbalik untuk meninggalkan Brian. Dia masih ingat bagaimana dia dulu sangat mencintainya. Sempat dia merasa jatuh setelah mengetahui siapa Brian yang sebenarnya. Untungnya saat itu dia memiliki Arthur

  • Temanku Menusukku Dari Belakang   Teman Dekat

    Setelah selesai membeli buku, Shela dan Arthur kembali ke motor. Mereka tidak langsung pulang melainkan mampir terlebih dahulu ke warung bakso kesukaan mereka.Arthur mengendarai motornya dengan santai. Bukan karena dia tidak berani bermain dengan kecepatan, namun karena dia sedang menikmati momen

  • Temanku Menusukku Dari Belakang   Masa Lalu

    Kembali pada tahun-tahun kuliah, Shela adalah pribadi yang rajin menyapa teman-temannya. Seringkali senyum riangnya membuat wajahnya yang cantik semakin terlihat memesona. Meskipun begitu tetap saja ada orang-orang yang tidak menyukainya.Seperti apa yang terjadi siang ini ketika dia tanpa sengaja

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status