MasukPagi di awal bulan Mei itu terasa luar biasa cerah. Lapangan utama universitas dipenuhi oleh warna-warni bunga, gema musik musik seremonial, dan wajah-wajah berseri para wisudawan yang dibalut toga hitam. Suasana penuh haru dan suka cita membuncah di setiap sudut kampus.Di antara kerumunan lulusan terbaik fakultas, Shela berdiri membenarkan letak topi toganya di depan cermin kecil. Balutan kebaya berwarna abu-abu lembut tampak menyatu sempurna dengan senyum bahagianya. Di kakinya, sepatu kets biru langit pemberian Arthur terpasang rapi—menjadi saksi bisu perjalanan panjang yang membawanya berdiri tegak hingga detik ini."Shel," dipanggil sebuah suara yang paling ia hafal di dunia.Shela memutar badannya dan mendapati Arthur melangkah mendekat. Pria itu tampak begitu tampan dengan setelan kemeja rapi yang dibalut jubah toga. Tidak ada lagi raut cemas, tidak ada lagi jejak ketakutan di matanya. Hanya ada ketenangan, kebanggaan, dan cinta murni yang memancar penuh.Arthur membawa sebuke
Bulan-bulan berikutnya di lingkungan kampus terasa jauh lebih tenang dan produktif. Setelah semua badai skandal dan intimidasi berakhir, Shela dan Arthur memfokuskan seluruh energi mereka untuk menuntaskan tahap akhir masa studi. Koridor fakultas yang dulu dipenuhi bisik-bisik miring kini berganti menjadi ruang perjuangan akademis bagi mereka berdua.Sebagai penerima Beasiswa Unggulan sekaligus asisten riset di rektorat, jadwal Shela terbilang padat. Di sela-sela mengolah data penelitiannya tentang analisis literatur digital, ia harus bolak-balik memenuhi panggilan dosen pembimbing. Namun, Shela tidak pernah merasa sendirian lagi.Setiap sore, bangku panjang kayu di lorong lantai dua perpustakaan menjadi saksi bisu kebersamaan mereka. Tempat yang dulu menyimpan memori pahit saat Neva mengancam Arthur kini bertransformasi menjadi markas kecil tempat mereka menyusun masa depan."Ar, variabel di bab empat kamu masih ada yang spill over nih," celetuk Shela tanpa mengalihkan pandangan dari
Pagi itu, udara Yogyakarta berembus hangat dengan langit yang bersih tanpa gumpalan awan mendung. Shela terbangun dengan senyum yang mendadak terkembang di bibirnya. Hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke-22.Tidak ada perayaan besar yang ia harapkan, apalagi setelah semua gelombang drama yang baru saja mereka lalui bersama di kampus. Bagi Shela, bisa melangkah tenang tanpa ancaman Neva, memiliki Beasiswa Unggulan yang menjamin masa depannya, dan menggenggam jemari Arthur secara terbuka adalah hadiah terbaik yang pernah ia dapatkan.Namun, Arthur jelas punya gagasan yang berbeda.Pukul sepuluh pagi, sebuah ketukan teratur terdengar di pintu kamar kost Shela. Saat wanita itu membukanya, Arthur sudah berdiri di sana dengan kemeja putih kasual dan celana bahan yang membuatnya tampak sangat tampan. Di tangannya, pria itu memegang sebuah kotak kado berukuran sedang yang dibungkus rapi dengan kertas sampul warna biru langit—warna favorit Shela."Selamat ulang tahun, Shela Maria," ucap
Sabtu sore itu, langit Yogyakarta dinaungi warna jingga yang hangat, berpadu lembut dengan sisa-sisa angin musim hujan yang menyegarkan. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Shela berdiri di depan cermin kamar kostnya tanpa ada perasaan cemas yang menggelayut di dada. Tidak ada beban bayangan ancaman Neva, tidak ada rasa bersalah yang menghimpit, dan yang paling penting, tidak ada lagi kebohongan yang membatasi langkahnya.Shela mengenakan gaun kasual berwarna krem sederhana, memoleskan sedikit bedak dan lipstik bergaris natural. Rambut cokelatnya dibiarkan terurai lembut. Saat melangkah turun ke ruang tamu kost, ia disambut oleh suara klakson sepeda motor yang sangat familier.Arthur berdiri di samping sepeda motornya. Pria itu memakai jaket denim kesayangannya—jaket yang dulu sering Shela pinjam saat mereka masih terjebak dalam status sahabat yang canggung. Tatapan Arthur terkunci pada Shela yang berjalan mendekat. Senyum gummy yang sudah lama hilang dari bibirnya kini kembal
Kabar tentang dipanggilnya Neva oleh pihak Dekanat menyebar bagai api menyambar jerami kering di area kampus. Foto-foto yang sempat ditempel di papan pengumuman beserta barang bukti ancaman pencemaran nama baik telah masuk ke meja Bagian Kemahasiswaan. Ayah Neva, yang biasanya dipandang sebagai sosok sakti pembawa dana hibah yayasan, tak lagi bisa menutupi ulah putrinya setelah surat peringatan keras resmi diterbitkan oleh pihak rektorat.Kehormatan, gengsi, dan obsesi yang selama ini dipupuk Neva hancur berkeping-keping hanya dalam hitungan jam. Di mata teman-temannya, Neva bukan lagi ratu kampus yang dipuja, melainkan sosok licik yang tega memfitnah teman sendiri demi memaksakan cinta.Malam itu, gerimis tipis kembali membasahi jalanan di depan rumah kost tempat Arthur tinggal. Pukul sembilan malam, suasana gang yang biasanya tenang mendadak pecah oleh suara deru mesin mobil yang berhenti asal di bahu jalan.Pintu mobil sedan putih itu terbuka dengan kasar. Neva turun dengan pakaian
Bisik-bisik miring di sepanjang koridor fakultas semakin menjadi-jadi. Tatapan menghakimi dari mahasiswa yang melintas bertubi-tubi mengarah pada Shela. Namun, alih-alih menunduk malu atau berlari menutupi wajahnya seperti yang diharapkan Neva, Shela melangkah dengan punggung yang dipaksa tegak lurus. Dagu wanita itu terangkat, matanya memancarkan ketenangan yang dingin meski di dalam dadanya bergemuruh menahan amarah yang membakar.Shela berjalan mendekati papan pengumuman. Dengan gerakan tenang dan tegas, tangannya terulur melepas satu per satu kertas foto yang menempel di sana. Ia melipat lembaran beracun itu dengan rapi, lalu membalikkan badan tepat menghadap Neva yang berdiri bersedekap bersama dua temannya beberapa meter di belakangnya.Neva menyunggingkan senyum kemenangan yang tipis, melangkah mendekat dengan gaya angkuhnya yang biasa."Gimana, Shel? Suka sama kejutan pagi ini?" bisik Neva pelan saat mereka berhadapan, suaranya manis namun sarat akan racun. "Aku cuma mau bantu
Dalam ruangan yang cukup terang, Arthur duduk terdiam dengan kepala yang menunduk. Berkali-kali dia memeriksa ponselnya untuk melihat apakah Shela mau membalas pesan darinya. Sayangnya sampai saat ini perempuan itu tidak memberinya pesan apa pun.Perasaannya menjadi tidak nyaman. Dia takut Shela ben
"Bodoh! Udah lah kamu nggak usah nemuin aku lagi. Buat apa? Apa kamu mau ngasih luka lagi?"Shela berbalik untuk meninggalkan Brian. Dia masih ingat bagaimana dia dulu sangat mencintainya. Sempat dia merasa jatuh setelah mengetahui siapa Brian yang sebenarnya. Untungnya saat itu dia memiliki Arthur
Setelah selesai membeli buku, Shela dan Arthur kembali ke motor. Mereka tidak langsung pulang melainkan mampir terlebih dahulu ke warung bakso kesukaan mereka.Arthur mengendarai motornya dengan santai. Bukan karena dia tidak berani bermain dengan kecepatan, namun karena dia sedang menikmati momen
Kembali pada tahun-tahun kuliah, Shela adalah pribadi yang rajin menyapa teman-temannya. Seringkali senyum riangnya membuat wajahnya yang cantik semakin terlihat memesona. Meskipun begitu tetap saja ada orang-orang yang tidak menyukainya.Seperti apa yang terjadi siang ini ketika dia tanpa sengaja







