Partager

Terkena Jebakan

Auteur: Rita Aria
last update Date de publication: 2022-11-10 10:24:32

Dalam ruangan yang cukup terang, Arthur duduk terdiam dengan kepala yang menunduk. Berkali-kali dia memeriksa ponselnya untuk melihat apakah Shela mau membalas pesan darinya. Sayangnya sampai saat ini perempuan itu tidak memberinya pesan apa pun.

Perasaannya menjadi tidak nyaman. Dia takut Shela benar-benar marah padanya. Dia sangat paham bagaimana sikap Shela jika sedang marah. Mungkin perempuan itu akan mendiamkannya selama berhari-hari sampai dia merasa jengah sendiri.

Selain merasa cemas, Arthur juga merasa tidak enak jika harus meninggalkan Neva seorang diri. Meskipun kondisinya tidak terlalu parah, namun tidak ada siapa pun yang menemaninya. Dia sudah bertanya tentang keluarganya, namun Neva hanya mengatakan jika orang tuanya sedang dalam perjalanan bisnis ke luar negeri.

Entah itu kebenaran atau kebohongan Arthur tidak bisa melakukan banyak hal. Sebenarnya dia berharap jika Shela akan datang ke sana untuk melihat kondisi Neva. Sekalian untuk menemaninya di sini agar dia tidak hanya berdua dengan Neva. Tapi itu sepertinya tidak mungkin terjadi mengingat bagaimana sikap Shela dalam telepon.

"Kenapa kamu diem aja, Arthur? Lagi mikirin Shela, yah?" tanya Neva untuk memecah kesunyian. Dia sudah memperhatikan Arthur sejak lama, namun Arthur sama sekali tidak terganggu. Lelaki itu sepertinya sedang memiliki sesuatu yang mengganggu pikirannya.

"Nggak tau kenapa kayaknya Shela marah sama aku," jawab Arthur dengan nada yang sedikit khawatir.

"Kamu mau ketemu dia? Kalo mau pergi ya pergi aja, aku nggak papa kok. Soalnya nanti Sarah mau kesini juga katanya, sih." Neva tersenyum pada Arthur. Namun ketika Arthur melihat senyum itu, entah kenapa dia merasakan jika Neva tidak baik-baik saja. Sepertinya dia menyimpan beban yang tidak bisa dikatakan.

Arthur merasa bimbang. Setelah berpikir beberapa saat akhirnya dia memutuskan untuk menunggu sampai Sarah datang. "Kamu temenan sama Sarah?"

Neva mengangguk. "Ya, aku cukup deket sama dia. Sebenernya dia nggak jutek banget, tapi kalo sama orang yang nggak deket dia emng suka ya ... gitu deh. Kamu tau sendiri, 'kan?"

Arthur hanya mengangguk menanggapi ucapan Neva. Dia tidak terlalu peduli dengan urusan para wanita lain yang tidak memiliki hubungan apa pun dengannya. Paling-paling dia hanya menanggapi seadanya saja.

Neva mencoba bergerak untuk duduk, tapi sepertinya dia mengalami sedikit kesulitan. Akhirnya Arthur mendekatinya dan membantunya untuk duduk. "Nggak usah banyak gerak dulu."

"Nggak papa kok. Soalnya aku pengen ke kamar mandi," jawan Neva dengan senyum yang menempel di bibir merahnya.

Setelah itu dia sedikit meraba kepalanya yang diperban karena luka benturan. Wajahnya sedikit pucat sehingga membuat Arthur merasa tidak tenang.

"Kamu beneran baik-baik aja? Pucat gitu, loh," ucap Arthur.

"Nggak papa. Masa iya kamu mau temenin cewek ke kamar mandi." Neva sedikit terkekeh.

"Aku anterin aja sampe depan pintu," ucap Arthur sambil memegang tangan Neva untuk menuntunnya. Dia tidak mau jika nanti sesuatu yang merepotkan terjadi pada perempuan itu.

"Makasih." Neva tersenyum pada Arthur, lalu dia mulai berjalan dengan tangan yang digandeng oleh Arthur. Tapi tiba-tiba dia memegang kepalanya dengan tangan yang bergetar. Wajahnya yang pucat menjadi semakin tidak berwarna.

Arthur menyadari perubahan Neva. Dia langsung menatapnya dengan hati-hati. Tiba-tiba tubuh Neva melemas dan hampir terjatuh begitu saja. Untungnya dia sudah menyadari terlebih dahulu sehingga dia bisa menangkapnya dengan sigap.

***

Shela berjalan dengan langkah yang cepat. Saat ini dia berjalan di koridor rumah sakit untuk menjenguk Neva. Awalnya dia enggan melakukannya, namun pikirannya berubah ketika mengingat Arthur ada di sana.

Setelah dia memikirkan dengan hati-hati, akhirnya dia memutuskan untuk datang ke rumah sakit. Bukan hanya karena khawatir dengan kondisi Neva, namun dia juga memiliki pikiran lain yang cukup egois.

Dia tidak mau membiarkan Neva tinggal berdua di ruangan yang sama dengan Arthur dalam waktu yang lama. Dia benar-benar tidak ingin hal seperti ini terjadi.

Ceklek!

Shela membuka pintu yang bertuliskan nomor 16F di pintunya, namun apa yang dia lihat pertama kali membuat hatinya tenggelam. Langkahnya yang cepat langsung berhenti begitu saja.

"Shela, kenapa kamu datang ke sini? Oh, tunggu sebentar ya, aku mau manggil dokter dulu. Kamu tunggu aja dulu di sini." Arthur berkata dengan cepat sambil berjalan keluar dari ruangan. Dia sama sekali tidak menyadari ekspresi Shela yang berubah menjadi kekecewaan.

**

"Arthur," panggil Shela dengan lirih. Dia membalikkan badannya dan melihat punggung Arthur menghilang di ujung koridor rumah sakit.

Shela masih terpaku di tempatnya. Menatap gamang pada Neva yang kini tegeletak yang memang seakan benar-benar sakit.

Mengapa dia tak memanggil keluarganya? Jika tidak, bukankah setidaknya dia memiliki seorang kerabat di Jogja?!

Shela tak ingin berlama-lama di sana. Dia melangkahkan kaki dan segera pergi dari kamar Neva. Bahkan dia tak ingin menatap wajah temannya itu terlalu lama.

Di koridor dia sempat berpapasan dengan Sarah yang juga teman Neva. Namun dia menghiraukannya karena sedang dalam suasana hati yang buruk.

Shela: Aku pulang. Sepertinya kamu sibuk sama Neva.

Pesan itu terkirim untuk Arthur. Shela memasukkan ponselnya ke dalam tasnya lagi setelah seorang ojek online tiba di depan lobi rumah sakit.

**

Setengah jam kemudian Shela sudah tiba di kost-nya. Dia menjatuhkan tubuhnya di kasur empuknya. Memejamkan mata sambil memutar kembali kejadian tadi yang berlalu begitu cepat.

Suara napasnya yang seakan ingin meluapkan emosinya ia tahan begitu melihat ponselnya bergetar. Nama Arthur memanggilnya. Tapi sayangnya, Shela sudah agak kecewa pada Arthur.

Apakah Arthur harus sebegitu perhatiannya pada Neva?

Shela langsung menggelengkan kepalanya. Membuang jauh pikiran anehnya. Arthur bukan laki-laki seperti itu. Lagipula Arthur tak mungkin menyukai Neva. Bahkan dia sudah mengatakannya sendiri dengan blak-blakan kemarin.

Ponsel Shela bergetar lagi. Tapi kali ini bukan dari Arthur melainkan dari grup chat mereka.

Sarah nampak mengambil foto Neva dan Arthur yang sedang berdua secara diam-diam. Dan mengirimkannya ke grup chat.

Sarah: Lihat dong, pasangan baru kampus kita. Cocok banget 'kan?!

Roni: Lho bukannya harusnya Arthur lagi sama Shela sekarang? Tadi dia nanyain Arthur si Shela.

SFarah: Arthur lagi sama Neva tuh!

Desi: Wah pasangan baru. Selamat ya!!!

Agus: Cie ... Neva mangsa baru?!

Shela langsung mematikan ponselnya, dia seakan malas membaca pesan dari grup chat yang ia rasa sangat berlebihan tersebut.

**

Pagi hari.

Shela membuka matanya yang nampak berat. Dia mengingat-ingat jika semalam dia tidak menangis. Namun mengapa matanya sangat berat?

Bahkan kepalanya pun terasa pusing saat dia terbangun pagi itu. Setelah mengurut keningnya sebentar, ia meraih ponsel di atas nakas yang terletak di samping tempat tidurnya.

Dan benar saja. Banyak chat dari grup yang rame sejak semalam, juga ada pesan Arthur.

Arthur: Shel? Kamu pulang?

Arthur: Shel, udah sampai rumah belum?

Arthur: Maaf ya, tadi keadaan Neva lagi nggak bagus.

Arthur: Marah ya? Besok pagi aku jemput ya. Tapi jangan marah lagi sama aku.

Arthur: Besok aku jemput jam tujuh ya.

Arthur: Met malem aja deh buat kamu Shel.

Shela langsung melirik jam di ponselnya. Sekarang sudah menunjukkan pukul enam lewat tujuh menit. Ini berarti masih ada kesempatan untuknya menghindar dari Arthur.

Dia turun dari tempat tidurnya dan meraih handuk. Shel tidak menyadari jika dirinya saat ini sedang demam karena semalam kehujanan saat naik ojek online.

"Pokoknya aku nggak mau ketemu sama kamu!!" gumamnya sambil mengguyur tubuhnya dengan air yang pagi itu masih terasa dingin.

Itu sudah menjadi kebiasaan Shela, untuk menghindar dari Arthur jika dia sedang bertengkar dengannya. Bukan karena apa, melainkan ia tak ingin beradu mulut dan argumen dengan Arthur yang ujung-ujungnya dia akan menangis.

Natalie mengetuk pintu dengan keras. Dan mengatakan jika sudah ada Arthur di ruang tamu.

Sepertinya Shela salah memprediksikannya. Jika Arthur mengatakan jam tujuh itu berarti waktunya lebih cepat setengah jam dari yang ia janjikan.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Temanku Menusukku Dari Belakang   Rumah Yang Sesungguhnya

    Pagi di awal bulan Mei itu terasa luar biasa cerah. Lapangan utama universitas dipenuhi oleh warna-warni bunga, gema musik musik seremonial, dan wajah-wajah berseri para wisudawan yang dibalut toga hitam. Suasana penuh haru dan suka cita membuncah di setiap sudut kampus.Di antara kerumunan lulusan terbaik fakultas, Shela berdiri membenarkan letak topi toganya di depan cermin kecil. Balutan kebaya berwarna abu-abu lembut tampak menyatu sempurna dengan senyum bahagianya. Di kakinya, sepatu kets biru langit pemberian Arthur terpasang rapi—menjadi saksi bisu perjalanan panjang yang membawanya berdiri tegak hingga detik ini."Shel," dipanggil sebuah suara yang paling ia hafal di dunia.Shela memutar badannya dan mendapati Arthur melangkah mendekat. Pria itu tampak begitu tampan dengan setelan kemeja rapi yang dibalut jubah toga. Tidak ada lagi raut cemas, tidak ada lagi jejak ketakutan di matanya. Hanya ada ketenangan, kebanggaan, dan cinta murni yang memancar penuh.Arthur membawa sebuke

  • Temanku Menusukku Dari Belakang   Kertas Dan Cita-Cita

    Bulan-bulan berikutnya di lingkungan kampus terasa jauh lebih tenang dan produktif. Setelah semua badai skandal dan intimidasi berakhir, Shela dan Arthur memfokuskan seluruh energi mereka untuk menuntaskan tahap akhir masa studi. Koridor fakultas yang dulu dipenuhi bisik-bisik miring kini berganti menjadi ruang perjuangan akademis bagi mereka berdua.Sebagai penerima Beasiswa Unggulan sekaligus asisten riset di rektorat, jadwal Shela terbilang padat. Di sela-sela mengolah data penelitiannya tentang analisis literatur digital, ia harus bolak-balik memenuhi panggilan dosen pembimbing. Namun, Shela tidak pernah merasa sendirian lagi.Setiap sore, bangku panjang kayu di lorong lantai dua perpustakaan menjadi saksi bisu kebersamaan mereka. Tempat yang dulu menyimpan memori pahit saat Neva mengancam Arthur kini bertransformasi menjadi markas kecil tempat mereka menyusun masa depan."Ar, variabel di bab empat kamu masih ada yang spill over nih," celetuk Shela tanpa mengalihkan pandangan dari

  • Temanku Menusukku Dari Belakang   Hadiah Yang Tertunda

    Pagi itu, udara Yogyakarta berembus hangat dengan langit yang bersih tanpa gumpalan awan mendung. Shela terbangun dengan senyum yang mendadak terkembang di bibirnya. Hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke-22.Tidak ada perayaan besar yang ia harapkan, apalagi setelah semua gelombang drama yang baru saja mereka lalui bersama di kampus. Bagi Shela, bisa melangkah tenang tanpa ancaman Neva, memiliki Beasiswa Unggulan yang menjamin masa depannya, dan menggenggam jemari Arthur secara terbuka adalah hadiah terbaik yang pernah ia dapatkan.Namun, Arthur jelas punya gagasan yang berbeda.Pukul sepuluh pagi, sebuah ketukan teratur terdengar di pintu kamar kost Shela. Saat wanita itu membukanya, Arthur sudah berdiri di sana dengan kemeja putih kasual dan celana bahan yang membuatnya tampak sangat tampan. Di tangannya, pria itu memegang sebuah kotak kado berukuran sedang yang dibungkus rapi dengan kertas sampul warna biru langit—warna favorit Shela."Selamat ulang tahun, Shela Maria," ucap

  • Temanku Menusukku Dari Belakang   Hubungan Baru

    Sabtu sore itu, langit Yogyakarta dinaungi warna jingga yang hangat, berpadu lembut dengan sisa-sisa angin musim hujan yang menyegarkan. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Shela berdiri di depan cermin kamar kostnya tanpa ada perasaan cemas yang menggelayut di dada. Tidak ada beban bayangan ancaman Neva, tidak ada rasa bersalah yang menghimpit, dan yang paling penting, tidak ada lagi kebohongan yang membatasi langkahnya.Shela mengenakan gaun kasual berwarna krem sederhana, memoleskan sedikit bedak dan lipstik bergaris natural. Rambut cokelatnya dibiarkan terurai lembut. Saat melangkah turun ke ruang tamu kost, ia disambut oleh suara klakson sepeda motor yang sangat familier.Arthur berdiri di samping sepeda motornya. Pria itu memakai jaket denim kesayangannya—jaket yang dulu sering Shela pinjam saat mereka masih terjebak dalam status sahabat yang canggung. Tatapan Arthur terkunci pada Shela yang berjalan mendekat. Senyum gummy yang sudah lama hilang dari bibirnya kini kembal

  • Temanku Menusukku Dari Belakang   Putus Asa

    Kabar tentang dipanggilnya Neva oleh pihak Dekanat menyebar bagai api menyambar jerami kering di area kampus. Foto-foto yang sempat ditempel di papan pengumuman beserta barang bukti ancaman pencemaran nama baik telah masuk ke meja Bagian Kemahasiswaan. Ayah Neva, yang biasanya dipandang sebagai sosok sakti pembawa dana hibah yayasan, tak lagi bisa menutupi ulah putrinya setelah surat peringatan keras resmi diterbitkan oleh pihak rektorat.Kehormatan, gengsi, dan obsesi yang selama ini dipupuk Neva hancur berkeping-keping hanya dalam hitungan jam. Di mata teman-temannya, Neva bukan lagi ratu kampus yang dipuja, melainkan sosok licik yang tega memfitnah teman sendiri demi memaksakan cinta.Malam itu, gerimis tipis kembali membasahi jalanan di depan rumah kost tempat Arthur tinggal. Pukul sembilan malam, suasana gang yang biasanya tenang mendadak pecah oleh suara deru mesin mobil yang berhenti asal di bahu jalan.Pintu mobil sedan putih itu terbuka dengan kasar. Neva turun dengan pakaian

  • Temanku Menusukku Dari Belakang   Melawan Badai

    Bisik-bisik miring di sepanjang koridor fakultas semakin menjadi-jadi. Tatapan menghakimi dari mahasiswa yang melintas bertubi-tubi mengarah pada Shela. Namun, alih-alih menunduk malu atau berlari menutupi wajahnya seperti yang diharapkan Neva, Shela melangkah dengan punggung yang dipaksa tegak lurus. Dagu wanita itu terangkat, matanya memancarkan ketenangan yang dingin meski di dalam dadanya bergemuruh menahan amarah yang membakar.Shela berjalan mendekati papan pengumuman. Dengan gerakan tenang dan tegas, tangannya terulur melepas satu per satu kertas foto yang menempel di sana. Ia melipat lembaran beracun itu dengan rapi, lalu membalikkan badan tepat menghadap Neva yang berdiri bersedekap bersama dua temannya beberapa meter di belakangnya.Neva menyunggingkan senyum kemenangan yang tipis, melangkah mendekat dengan gaya angkuhnya yang biasa."Gimana, Shel? Suka sama kejutan pagi ini?" bisik Neva pelan saat mereka berhadapan, suaranya manis namun sarat akan racun. "Aku cuma mau bantu

  • Temanku Menusukku Dari Belakang   Prinsip

    "Bodoh! Udah lah kamu nggak usah nemuin aku lagi. Buat apa? Apa kamu mau ngasih luka lagi?"Shela berbalik untuk meninggalkan Brian. Dia masih ingat bagaimana dia dulu sangat mencintainya. Sempat dia merasa jatuh setelah mengetahui siapa Brian yang sebenarnya. Untungnya saat itu dia memiliki Arthur

  • Temanku Menusukku Dari Belakang   Teman Dekat

    Setelah selesai membeli buku, Shela dan Arthur kembali ke motor. Mereka tidak langsung pulang melainkan mampir terlebih dahulu ke warung bakso kesukaan mereka.Arthur mengendarai motornya dengan santai. Bukan karena dia tidak berani bermain dengan kecepatan, namun karena dia sedang menikmati momen

  • Temanku Menusukku Dari Belakang   Masa Lalu

    Kembali pada tahun-tahun kuliah, Shela adalah pribadi yang rajin menyapa teman-temannya. Seringkali senyum riangnya membuat wajahnya yang cantik semakin terlihat memesona. Meskipun begitu tetap saja ada orang-orang yang tidak menyukainya.Seperti apa yang terjadi siang ini ketika dia tanpa sengaja

  • Temanku Menusukku Dari Belakang   Selamat Tinggal Cinta Pertama

    Seorang wanita tampak menunggu temannya di depan sebuah gedung pernikahan. Sudah setengah jam dia menunggunya untuk mengurus gedung yang akan dipakainya nanti. Sebulan lagi temannya akan menikah.Namun ada sedikit yang mengganjal di hati wanita yang bernama Shela tersebut. Karena temannya akan meni

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status