Share

Bab 202

Author: Hisa NK
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-13 08:25:50

Netrakwaskitan milik Satria—mata batin tingkat tertinggi—mendadak mendobrak dinding pembatas dimensi! Penglihatannya menembus jarak beribu-ribu mil.

​Pemandangan gaib melintas secepat kilat di depan kesadaran matanya: menyusuri pegunungan gelap, menembus lapisan kabut racun, hingga melesat masuk ke dalam sebuah kastil batu kuno yang megah namun mencekam di dasar lembah terlarang.

​Di sana, di dalam sebuah aula luas berukir relief ular naga raksasa, Satria melihatnya.

​Nagendra terbaring telenta
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 221

    "Lepas, Nagendra!" Bibir gadis itu masih basah, sedikit bengkak, napasnya pendek.“Besok pagi?” Aurelia mengangguk.Nagendra menarik napas dalam. Tangannya yang menahan pergelangan Aurelia akhirnya longgar. Ia melepaskan gadis itu, tapi tubuhnya tidak mundur. Lututnya masih terselip di antara paha Aurelia, menahannya di dinding. Ia bisa merasakan getaran halus di tubuh gadis itu.“Lo mau pergi tanpa gue tahu lebih jauh,” ujarnya. Suaranya rendah, hampir tenggelam di bass musik. "Bukan gitu, Nagendra... aku jelasin semuanya."Nagendra mengangkat tangan, menyentuh rahang Aurelia. Ibu jarinya mengusap bibir bawah gadis itu yang masih basah. “Gue hampir mati semalam. Pagi-paginya lo bilang mau pergi. Gue kira lo butuh ruang. Ternyata...”Dari belakang, Raka masih menghalangi pria yang tadi bersama Aurelia. Pria itu gelisah, tapi tidak berani melangkah. Raka menoleh. “Nagendra. Orang mulai perhatiin.”Nagendra tidak menoleh. Matanya tetap pada Aurelia. “Malam ini, lo di sini. Temenin gue

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 220

    Raka tidak langsung menjawab. Ia hanya mengamati sahabatnya, lalu mengangguk pelan. “Gue ngerti.”“Lo ngerti?”“Lo hampir mati semalam. Lo baru aja tarik diri dari Naga Merah. Terus pagi-paginya cewek yang lo suka bilang mau pergi. Kalau lo gak butuh napas sebentar, baru aneh.” Raka menegakkan tubuhnya meski meringis. “Gue ikut.”Nagendra langsung menggeleng. “Jangan. Badan lo masih lemah. Adik lo masih di sini.”“Adik gue udah stabil. Dokter bilang dia bisa ditinggal beberapa jam.” Raka menatap Nagendra serius. “Lo bilang gue sodara. Sodara gak ninggalin sodaranya keluar sendirian pas lagi berantakan. Gue ikut. Titik.”Nagendra masih mau menolak, tapi Raka sudah mengambil jaket yang tergantung di kursi. “Gue gak tanya. Gue paksa. Kalau lo ninggalin gue di sini, gue sendiri yang nyusul ke club itu.”Akhirnya Nagendra mengalah.***Mereka keluar diam-diam lewat pintu samping mansion, tanpa bilang siapa pun. Raka masih berjalan pelan, tapi tekadnya jelas. Nagendra menyetir sendiri, meni

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 219

    Nagendra mengetuk pintu ruang kerja ayahnya, lalu masuk setelah diizinkan.Satria menutup dokumen di mejanya dan menunjuk kursi di depan. “Duduk.”Nagendra duduk. Bahunya masih kaku, tapi wajahnya sudah tidak seganas tadi pagi.Satria mengamati putranya cukup lama. “Kamu tidak pergi ke kamar.”“Tidak bisa tidur,” jawab Nagendra singkat.Satria mengangguk pelan. Ia berdiri, mengambil dua gelas, menuangkan air, lalu meletakkan satu di depan Nagendra. “Minum. Aura kamu masih berisik.”Nagendra menerima gelas itu, tapi tidak langsung meminumnya. Ia menatap permukaan air yang bergetar tipis. “Ayah, kalau suatu hari kekuatan ini berubah jadi sesuatu yang aku sendiri tidak kenali, apa yang harus kulakukan?”Satria duduk kembali. “Kamu sudah merasakannya?”Nagendra mengangguk. “Bukan seperti semalam. Sekarang kayak ada yang nunggu di balik setiap napas.”Satria terdiam sejenak. “Itu wajar. Darah yang baru saja kamu taklukkan tidak akan diam begitu saja. Dia akan mencari celah—marah, sedih, le

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 218

    "Kita sudah menang!” tegas Satria. “Naga Merah terlempar. Kekuasaan Faksi Himawan jadi lebih kuat. Tapi kemenangan kita belum selesai. Sangkala sedang mengubah medan perang.”Ratu menatap sang penguasa. “Jadi keputusanmu apa, Satria?”Satria mengangkat pandangan. “Kita tidak akan memaksa Aurelia. Tapi kita juga tidak akan membiarkan keluarganya digertak tanpa balasan. Ratu, siapkan tekanan balik lewat jalur ekonomi dan hukum. Temukan perusahaan-perusahaan yang diam-diam masih berhubungan dengan Sangkala. Kita kerahkan pengaruh kita di sana.”“Dan Nagendra?” tanya Liana pelan.Satria menghela napas. “Aku akan bicara, tenang saja, Li. Dia harus mengerti kalau kekuatan yang baru saja dia rebut dari Ratih tidak hanya untuk melindungi satu orang. Tapi untuk menjaga seluruh tatanan.”Liana mengangguk pelan, meski matanya masih menyimpan kekhawatiran. Ia tahu, percakapan antara Satria dan Nagendra tidak akan mudah. Anak itu keras kepala sangat jauh berbeda dengan ayahnya. Tapi ia juga tahu,

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 217

    Nagendra berdiri kaku di tengah ruangan. Tangannya gemetar. Suaranya serak. “Lo janji. Tadi malam lo janji gak akan ninggalin gue. Pagi ini lo cium gue. Terus sekarang lo bilang mau pergi.”Aurelia menunduk dalam. Air matanya menetes ke lantai. “Maaf… Nagendra.”Kata “maaf” itu terasa lebih perih daripada ancaman apa pun.Nagendra memalingkan wajah. Rahangnya mengeras sampai ototnya menonjol. “Pergi kalau lo mau. Tapi jangan harap gue anterin. Jangan harap gue bilang ‘hati-hati’.”Ia berjalan keluar ruangan tanpa menoleh lagi. Pintu ditutup cukup keras, meninggalkan getaran di udara.Aurelia terisak pelan di tempatnya berdiri. Tangannya masih gemetar memegang tas kecil.Satria menghela napas panjang. Wajahnya tegang, tapi suaranya tetap tenang. “Liana, temani dia bersiap. Aku akan bicara dengan Nagendra.”Liana mengangguk, lalu memegang bahu Aurelia dengan lembut. “Kamu tidak salah ingin melindungi keluargamu. Tapi ingat, kamu selalu punya tempat di sini. Kapan pun.”Aurelia hanya bis

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 216

    “Maaf. Gue kasar. Tubuh lo indah… dada lo juga. Tapi gue gak bisa pelan tadi.”Aurelia mengusap rambut basah Nagendra. Kaki masih gemetar, rahimnya terasa penuh sampai cairan merembes ke seprai setiap kali ia bergerak. Di dalam dirinya saluran yin masih hangat, dipenuhi energi naga yang perlahan mereda. Dadanya masih sensitif di bawah sentuhan jari Nagendra.“Lebih baik kasar daripada kamu hancur, Nagendra,” bisiknya. “Tapi lain kali kasih aku peringatan dulu. Biar aku siap nerima energi sebanyak ini… dan biar kamu sempat eksplor tubuhku dengan lebih tenang.”Nagendra mengangguk lemah di lekuk dadanya. Tangannya masih memegang sisi dada Aurelia, ibu jari mengusap kulit yang memerah dengan gerakan yang jauh lebih lembut. Tanda cakar di dadanya kini hanya berdenyut sangat lemah—seolah akhirnya kenyang, setidaknya untuk sementara. "Ini kado terindah, Rell. Makasih!"***Pagi itu seharusnya menjadi pagi yang berbeda.Cahaya matahari masuk lembut melalui tirai kamar, menyapu lantai kayu de

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status