ANMELDENPagi itu di kantornya, Rehan sengaja memesan sebuah kue ulang tahun dan hadiah khusus. Semalam saat mencari dokumen, Rehan tak sengaja melihat tanggal lahir Alya pada berkas peninggalan aset mantan istrinya itu. Tanpa berpikir panjang, ia langsung memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan kejutan singkat.Melihat kue dan kado mewah bertengger di atas meja kerja Rehan, Shinta yang baru masuk langsung salah paham.‘Mas Rehan... perasaan ulang tahunku masih bulan depan? Tapi dia sudah menyiapkannya dari semalam. Apa dia mau minta maaf soal pertengkaran kami semalam?’ batin Shinta sambil tersenyum-senyum sendiri, merasa sangat diperhatikan.Namun, begitu Shinta mulai fokus bekerja, Rehan diam-diam menyelinap keluar kantor membawa kue, kado, serta berkas penting menuju kantor Dewa. Alasannya sederhana: ia ingin menyerahkan langsung berkas aset peninggalan almarhum orang tua Alya.Saat Rehan melangkah masuk ke ruangan kerja Dewa, matanya menangkap sosok Alya yang kebetulan sedang bera
"Lihatlah Mas, Rehan memberiku uang. Dia juga mengirim pesan kalau uang itu adalah uang nafkah selama masa iddah," lapor Alya sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Dewa.Dewa tersenyum geli sambil menatap notifikasi transferan yang ditunjukkan oleh calon istrinya itu."Mantan suami kamu itu memang aneh. Dulu sewaktu masih menjadi suami kamu, dia tak pernah memberimu uang dengan alasan semua keperluan rumah tangga diatur mamanya. Dan sekarang setelah kamu jadi mantan, dia malah memberikan nafkah," ujar Dewa heran."Pikirannya sedang enggak waras kali!" sahut Alya sambil tertawa lepas.Sore harinya, setelah menyelesaikan beberapa agenda meeting, Dewa memilih untuk tidak langsung pulang ke penthouse. Pria itu menyempatkan diri pulang ke rumah utama keluarga Erlangga. Ia ingin memberitahu orang tuanya secara langsung bahwa dalam beberapa bulan lagi, ia akan segera menikahi Alya.Mama Dewa yang mendengar kabar bahagia itu seketika tersenyum lebar. Akhirnya, putra tunggalnya itu m
Sore itu Rehan dan Shinta pulang dari kantor. Di tengah perjalanan, Shinta memiringkan tubuhnya, menatap Rehan dari kursi samping."Mas, kita makan di luar dulu, ya? Aku lapar banget," ajak Shinta lembut.Rehan menggeleng pelan, fokusnya tetap pada jalanan di depan. "Makan di rumah saja, Shin. Kasihan Mama, jam segini pasti sudah selesai masak buat kita."Shinta akhirnya mengangguk mengalah. Ia menyandarkan punggungnya, membayangkan meja makan yang sudah terhidang berbagai masakan hangat buatan ibu mertuanya.Namun, sesampainya di rumah, senyum Shinta seketika sirnah. Ia melangkah cepat menuju dapur dan membuka tudung saji di meja makan. Kosong. Tak ada satu pun piring masakan di sana. Tangan Shinta mengepal erat. Perutnya yang sedang mengandung terasa makin melilit. Seharian lelah bekerja, ia hanya ingin menyantap makanan hangat di rumah.Tak selang lama, Mama Rehan keluar dari kamarnya sambil mengurut pinggang. Melihat anak dan menantunya baru datang, wanita paruh baya itu meng
Keesokan harinya, Dewa meminta Devan untuk menemui Rehan. Ia menugaskan asisten pribadinya itu untuk mengambil seluruh aset peninggalan orang tua Alya yang masih tertahan di pihak Rehan. Dewa sengaja tidak membiarkan Alya menemui mantan suaminya itu lagi. Ia tidak mau ambil resiko, terlebih rasa cemburu masih menyelimutinya setelah melihat Rehan memeluk calon istrinya kemarin."Mas apa tidak aku saja yang menemui Mas Rehan, sekalian mengecek." Kata Alya. "Apa kamu masih ingin membuat calon suami kamu ini dimakan rasa cemburu hah?" Sahut Dewa. Alya hanya tersenyum, dia menurut saja dengan Dewa. “Baiklah Pak Dewaku Sayang.” Alya pun pasrah, daripada atasannya itu cemburu. Setibanya di kantor Rehan, Devan melangkah mantap menuju meja resepsionis. "Selamat pagi, saya Devan, asisten Pak Dewa Erlangga. Saya ingin bertemu dengan Pak Rehan," ujar Devan ramah namun penuh penekanan. Resepsionis segera menghubungi saluran telepon internal ke ruangan Rehan. Mengetahui siapa yang datang, R
Di sisi lain, Rehan pulang ke rumah dengan langkah gulai dan hati yang begitu hancur. Rasa menyesal yang teramat sangat terus menghujam dadanya bak belati, menusuk hingga ke bagian terdalam jiwanya. Ia sama sekali mengabaikan Shinta dan ibunya yang justru sibuk bersorak kegirangan merayakan perpisahan Rehan dan Alya di ruang tamu."Syukurlah Rehan dan Alya sudah cerai, dia benar-benar jalang, bahkan di sidang membawa lelaki selingkuhannya." "Benar Ma." Sahut Shinta. "Dia pasti menyesal, lihat saja tadi dia mengemis pelukan pada Mas Rehan.' Mendengar obrolan mereka, Rehan memutuskan bangkit. "Aku ke kamar dulu," gumam Rehan datar tanpa menoleh sedikit pun.Pria itu melangkah lesu menaiki tangga dan memutar gagang pintu kamar utama. Begitu pintu tertutup rapat, kenangan masa lalu tentang Alya mendadak berhamburan menyerang otaknya.Di dalam kamar inilah semua penderitaan Alya bermula. Di kamar ini, entah sudah berapa kali Rehan membentak dan menghempaskan Alya saat wanita itu memo
Alya perlahan melepaskan cengkeraman tangan Rehan dari tubuhnya. Ia mundur satu langkah, menatap wajah Rehan yang basah oleh air mata dengan ekspresi dingin. "Semuanya sudah terlambat, kita sudah punya jalan masing-masing, Mas. Selamat tinggal," ucap Alya datar, lalu berbalik tanpa menoleh lagi. Alya melangkah menuju mobil mewah Dewa yang terparkir di seberang. Pintu mobil langsung terbuka otomatis. Begitu Alya duduk di kursi samping pengemudi, Dewa langsung menarik napas dalam-dalam. Aura di dalam mobil terasa begitu pekat dan hangat secara bersamaan. Dewa tidak langsung menjalankan mobil. Pria itu memutar tubuhnya, menatap Alya dengan mata menyipit tajam. "Tiga puluh detik," cetus Dewa tiba-tiba. Alya menoleh bingung sambil memasang sabuk pengaman. "Maksudnya apa, Mas?" "Kamu membiarkan mantan suamimu memelukmu selama tiga puluh detik penuh," ujar Dewa dengan nada ketus yang dibuat-buat, meski rahangnya tampak mengeras. "Aku menghitungnya dari sini, Alya." Alya tertegu







