공유

Berantakan

작가: CitraAurora
last update 게시일: 2026-09-22 19:41:51

Shinta menghendaki sebuah pernikahan yang mewah dan megah. Namun, Rehan enggan mengabulkannya karena pernikahan semacam itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

​"Kita sudah hidup bersama. Ngapain sih nikah harus megah-megah? Mending uangnya kita tabung buat biaya kelahiran anak kita nanti," sanggah Rehan mencoba rasional.

​"Kamu kenapa sih, Mas? Pelit sekali!" protes Shinta tak terima. "Uang dp investasi dari Pak Dewa kan masih banyak. Kita ambil sedikit buat biaya pernikahan saja, Mas. Mas
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Terapi Gila Atasanku   Ah Perutku...

    Rehan pulang ke rumah malam itu dengan kepala yang serasa mau pecah. Tanpa menunda waktu, ia langsung menghubungi seluruh pihak terkait dan petinggi perusahaannya. Ia memerintahkan agar proyek bersama Dewa segera diaktifkan kembali. Semua dana cadangan yang tersisa ia kucurkan habis-habisan demi menyelamatkan proyek tersebut.​"Pak, kalau semua dana dicurahkan ke sini, arus kas perusahaan kita akan macet total. Kita bahkan bakal kesulitan membayar gaji karyawan bulan depan," peringat salah satu petinggi perusahaan melalui telepon.​"Tenang saja, aku masih punya dana darurat. Yang penting proyek ini jalan dulu!" tegas Rehan nekat.​Ketika Rehan menyudahi rapat daringnya, Shinta rupanya masih belum tidur. Wanita itu menghampirinya tanpa rasa bersalah, lalu meminta sejumlah uang.​"Mas, aku minta uang dong buat belanja. Aku sudah lama enggak belanja, bosan di rumah terus. Aku juga ingin pergi liburan," ujar Shinta santai.​Rehan menatap Shinta dengan rahang mengeras. Di saat kepalanya ma

  • Terapi Gila Atasanku   Berantakan

    Shinta menghendaki sebuah pernikahan yang mewah dan megah. Namun, Rehan enggan mengabulkannya karena pernikahan semacam itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. ​"Kita sudah hidup bersama. Ngapain sih nikah harus megah-megah? Mending uangnya kita tabung buat biaya kelahiran anak kita nanti," sanggah Rehan mencoba rasional. ​"Kamu kenapa sih, Mas? Pelit sekali!" protes Shinta tak terima. "Uang dp investasi dari Pak Dewa kan masih banyak. Kita ambil sedikit buat biaya pernikahan saja, Mas. Masa kamu enggak mau?" ​"Enggak! Enggak bisa!" tegas Rehan menguatkan suara. "Kalau sampai ketahuan Pak Dewa, dia bisa membatalkan kerja samanya! Lebih baik kita nikah di KUA saja. Yang penting sah secara hukum dan anak ini pas lahir punya status yang jelas." ​Shinta pun menghentak-hentakkan kakinya di lantai dengan gusar. Di matanya, Rehan kini sangat berbeda dan tak lagi royal seperti dulu. ​Awalnya Shinta beranggapan hidupnya akan bergelimang kemewahan setelah berhasil menggeser posisi Alya,

  • Terapi Gila Atasanku   Bagiku Kamu Yang Pertama

    Dewa menatap kue dan hadiah di atas meja dengan pandangan muak. Ia menoleh ke arah Devan yang masih berdiri lemas.​"Devan, bawa keluar kue dan kado dari mantan itu. Terserah mau kamu buang atau berikan ke orang lain," perintah Dewa dingin. "Lalu, bawa masuk kue dan hadiah yang sudah kamu siapkan."​Devan sigap mengangguk. Ia segera membawa keluar kue dari Rehan, lalu tak lama kemudian kembali ke ruangan kerja dengan membawa kotak kue baru serta bingkisan kado yang jauh lebih elegan.​Melihat Devan kembali membawa kue, Alya mengerutkan dahi heran. "Ini kue siapa lagi? Bukankah tadi kuenya sudah dibawa keluar?"​"Ini dari Pak Dewa, Aya," jawab Devan tersenyum tipis sebelum pamit keluar ruangan.​Dewa melangkah mendekat, menatap Alya dengan pandangan hangat namun masih tersisa sedikit kekesalan. Ia menyerahkan kue tersebut ke hadapan wanita yang dicintainya itu.​"Selamat ulang tahun, Alya," ucap Dewa lembut. Senyumnya mengembang, meski rahangnya kembali mengeras saat mengingat kejadian

  • Terapi Gila Atasanku   Aku Lagi

    Pagi itu di kantornya, Rehan sengaja memesan sebuah kue ulang tahun dan hadiah khusus. Semalam saat mencari dokumen, Rehan tak sengaja melihat tanggal lahir Alya pada berkas peninggalan aset mantan istrinya itu. Tanpa berpikir panjang, ia langsung memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan kejutan singkat.​Melihat kue dan kado mewah bertengger di atas meja kerja Rehan, Shinta yang baru masuk langsung salah paham.​‘Mas Rehan... perasaan ulang tahunku masih bulan depan? Tapi dia sudah menyiapkannya dari semalam. Apa dia mau minta maaf soal pertengkaran kami semalam?’ batin Shinta sambil tersenyum-senyum sendiri, merasa sangat diperhatikan.​Namun, begitu Shinta mulai fokus bekerja, Rehan diam-diam menyelinap keluar kantor membawa kue, kado, serta berkas penting menuju kantor Dewa. Alasannya sederhana: ia ingin menyerahkan langsung berkas aset peninggalan almarhum orang tua Alya.​Saat Rehan melangkah masuk ke ruangan kerja Dewa, matanya menangkap sosok Alya yang kebetulan sedang bera

  • Terapi Gila Atasanku   Pria Aneh

    ​"Lihatlah Mas, Rehan memberiku uang. Dia juga mengirim pesan kalau uang itu adalah uang nafkah selama masa iddah," lapor Alya sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Dewa.​Dewa tersenyum geli sambil menatap notifikasi transferan yang ditunjukkan oleh calon istrinya itu.​"Mantan suami kamu itu memang aneh. Dulu sewaktu masih menjadi suami kamu, dia tak pernah memberimu uang dengan alasan semua keperluan rumah tangga diatur mamanya. Dan sekarang setelah kamu jadi mantan, dia malah memberikan nafkah," ujar Dewa heran.​"Pikirannya sedang enggak waras kali!" sahut Alya sambil tertawa lepas.​Sore harinya, setelah menyelesaikan beberapa agenda meeting, Dewa memilih untuk tidak langsung pulang ke penthouse. Pria itu menyempatkan diri pulang ke rumah utama keluarga Erlangga. Ia ingin memberitahu orang tuanya secara langsung bahwa dalam beberapa bulan lagi, ia akan segera menikahi Alya.​Mama Dewa yang mendengar kabar bahagia itu seketika tersenyum lebar. Akhirnya, putra tunggalnya itu m

  • Terapi Gila Atasanku   Mulai Membandingkan

    Sore itu Rehan dan Shinta pulang dari kantor. Di tengah perjalanan, Shinta memiringkan tubuhnya, menatap Rehan dari kursi samping.​"Mas, kita makan di luar dulu, ya? Aku lapar banget," ajak Shinta lembut.​Rehan menggeleng pelan, fokusnya tetap pada jalanan di depan. "Makan di rumah saja, Shin. Kasihan Mama, jam segini pasti sudah selesai masak buat kita."​Shinta akhirnya mengangguk mengalah. Ia menyandarkan punggungnya, membayangkan meja makan yang sudah terhidang berbagai masakan hangat buatan ibu mertuanya.​Namun, sesampainya di rumah, senyum Shinta seketika sirnah. Ia melangkah cepat menuju dapur dan membuka tudung saji di meja makan. Kosong. Tak ada satu pun piring masakan di sana. Tangan Shinta mengepal erat. Perutnya yang sedang mengandung terasa makin melilit. Seharian lelah bekerja, ia hanya ingin menyantap makanan hangat di rumah.​Tak selang lama, Mama Rehan keluar dari kamarnya sambil mengurut pinggang. Melihat anak dan menantunya baru datang, wanita paruh baya itu meng

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status