Share

Ciuman Pagi

Author: CitraAurora
last update publish date: 2026-10-22 20:21:30

"Fir, kamu jangan ngaco! Mana bisa kita mandi bersama!" seru Devan dengan wajah yang seketika merona merah padam hingga ke telinganya.

​Pria itu bergegas masuk ke kamar mandi untuk menghindari godaan lebih lanjut dari kekasihnya. Melihat reaksi Devan yang panik dan salah tingkah, tawa Fira pun pecah menyelimuti ruangan. Sungguh, calon tunangannya ini terlampau polos dan menggemaskan. Padahal jika di lingkungan kantor, Devan terkenal sebagai sosok pria yang sangat tegas, disiplin, dan berwibaw
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terapi Gila Atasanku   Rencana Sakit

    Malam itu, di dalam kamar yang hangat, Dewa dan Alya kembali memperbincangkan nasib hubungan Fira dan Devan yang belakangan ini merenggang. Fira seolah kehilangan seluruh cerianya, dan perubahan drastis itu membuat Dewa maupun Alya merasa tidak tenang. ​"Bagaimana menurutmu, Mas, agar Fira bisa kembali ceria seperti sedia kala?" tanya Alya cemas sambil merapikan bantal di sofa. ​"Kuncinya ada pada Devan, Sayang," jawab Dewa mantap. ​Dewa terdiam sejenak, memutar otak mencari jalan keluar. Tak berselang lama, sebuah ide cemerlang sekaligus nekat melintas di kepala CEO muda itu. ​"Aku punya rencana, Sayang," bisik Dewa dengan senyuman penuh strategi. ​"Rencana apa, Mas?" tanya Alya penasaran. ​"Bagaimana kalau kita pura-pura membuat Fira sakit, lalu kita kabari Devan agar dia datang dan merawat Fira seharian penuh?" ​Alya mengerutkan keningnya, meragukan ide suaminya. "Kamu yakin cara seperti ini akan berhasil? Devan itu bukan orang bodoh, dia pasti tahu kalau Fira hanya pura-pur

  • Terapi Gila Atasanku   Wanita Busuk Yang Membuatmu Sakit Hati

    "Tidak rumit, Sayang. Itu hanya karena perbedaan karakter saja. Devan orangnya terlalu kaku dan lurus, sementara Fira menginginkan calon suami yang sepertiku," jawab Dewa santai sembari membukakan pintu mobil untuk istrinya.​Alya langsung mengerjap takjub. "Kamu kok tahu isi kepala Fira?"​"Iya, tadi Fira sempat bilang sendiri padaku saat dia menangis di ruanganku," jelas Dewa.​Alya menghela napas panjang seraya ikut masuk ke dalam mobil. "Lalu bagaimana, Mas, kalau situasi mereka terus seperti ini? Mereka tidak akan pernah bahagia. Pasti akan terus terjadi perselisihan kecil yang lama-lama jadi besar." Ujar Alya. ​"Entahlah, Sayang... Tadi Fira bahkan sempat bilang ingin membatalkan pernikahannya," tambah Dewa seraya melajukan mobil meninggalkan halaman kantor.​Mendengar kalimat itu, mata Alya sontak terbelalak kaget. "Apa?! Dibatalkan?! Padahal Mama dan Papa sekarang sedang dalam perjalanan menjemput Om dan Tante untuk persiapan pernikahan! Bagaimana mungkin dibatalkan begitu sa

  • Terapi Gila Atasanku   Masalah Yang Rumit

    Melihat ekspresi Devan yang tampak begitu pasrah dan kebingungan, amarah di dada Fira perlahan-lahan mencair, menyisakan rasa sesak yang melelahkan. Gadis itu mengepalkan kedua tangannya, lalu menghela napas panjang-panjang untuk meredakan emosinya. ​"Semua pria memang terlahir kaku... Tapi setidaknya, ada banyak pria di luar sana yang mau belajar untuk mencairkan diri demi menyenangkan pasangannya," sindir Fira pelan namun tajam. ​Devan menatapnya lurus. "Aku tahu, Fir... Aku sadar kekuranganku. Aku akan mencobanya, aku janji. Tapi kumohon, jangan batalkan pernikahan kita, ya? Kasihan Pak Dewa dan keluarganya..." ​Mendengar itu, mata Fira langsung membelalak tak percaya. "Kamu itu ya! Kamu kasihan sama mereka, tapi nggak kasihan sama aku?!" ​"Loh, kenapa harus kasihan sama kamu? Bukankah justru kamu sendiri yang tadi mengancam ingin membatalkan pernikahan ini?" bela Devan polos tanpa dosa. ​Fira menggigit bibirnya sendiri lalu menatap sang calon suami dengan tatapan sebal tingka

  • Terapi Gila Atasanku   Kamu Salah Paham Fir!

    "Gimana, Devan? Ngobrolnya sudah selesai?" tanya Dewa langsung to the point begitu panggilannya diangkat oleh Devan.​"Sudah, Pak Dewa. Nona Rena baru saja pergi dari ruangan saya. Memangnya ada keperluan apa, Pak?" tanya Devan balik dengan nada penasaran.​Dewa terdiam sejenak, lalu memerintahkan asistennya itu untuk segera menghadap ke ruangannya. Tak berselang lama, Devan sudah berdiri di depan pintu ruang kerja CEO, lalu melangkah masuk dan mendapati Dewa tengah duduk bersidekap di sofa, menunggunya dengan ekspresi serius.​"Maaf, Pak Dewa. Apa ada pekerjaan mendadak yang harus saya urus?" tanya Devan sopan.​Dewa menunjuk ke arah sofa di depannya. "Duduklah. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu," kata Dewa tegas.​Devan mengerjap, merasa sedikit ragu. Biasanya, nada bicara Dewa yang seperti ini menandakan ada masalah besar, padahal ia merasa tidak pernah melakukan kesalahan fatal apa pun dalam pekerjaannya.​"Begini... ini mengenai pernikahanmu dengan Fira," lanjut D

  • Terapi Gila Atasanku   Tak Sanggup Mengartikan

    Tanpa mengetuk pintu dan tanpa mengucapkan salam, Fira langsung melangkah masuk menerobos ruangan kerja Dewa. Wanita itu meletakkan tumpukan laporan keuangan di atas meja sang kakak sepupu dengan agak kasar.​"Mas Dewa, aku pinjam sofanya sebentar ya," kata Fira dengan suara bergetar, lalu langsung menjatuhkan diri duduk di sofa panjang.​Dewa, yang tengah fokus membaca berkas, sontak mengangkat kepala. Ia terkejut melihat tingkah Fira yang sama sekali tidak seperti biasanya. Pria itu bangkit dari kursi kebesarannya, lalu melangkah mendekati sofa dan duduk di sisi sang adik sepupu.​"Kamu kenapa, Fir? Ada apa?" tanya Dewa dengan nada menyelidik.​Fira menunduk, meremas jarinya sendiri sebelum menatap Dewa dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Mas... boleh nggak sih kalau pernikahannya dibatalkan saja?"​Dewa terperanjat mendengar permintaan yang begitu mendadak itu. "Kamu ini ngomong apa, sih? Kenapa tiba-tiba minta dibatalkan?"​"Aku sudah nggak mau menikah lagi, Mas," jawab Fira lir

  • Terapi Gila Atasanku   Tertawa Lepas Dengan Wanita Lain

    Saat hasrat Dewa kian membuncah dan permainan tangan Alya semakin menghanyutkan, tiba-tiba—Tok! Tok! Tok!—suara ketukan pintu kamar terdengar nyaring dari luar.​"Mbak Alya! Mbak Alya!" panggil Fira dari balik pintu dengan suara menggelegar.​Alya langsung terkesiap. Ia buru-buru menghentikan gerakannya, lalu menyambar handuk untuk menutupi tubuh Dewa. "Fira manggil, Mas. Aku keluar dulu ya," bisik Alya panik.​Dewa mendengus kesal, napasnya masih memburu dengan wajah memerah menahan gemas. "Anak itu benar-benar hobi banget mengganggu waktu kita! Apa dia tidak tahu kalau di dalam kamar ini sedang ada aktivitas rahasia yang sangat penting?" protes Dewa setengah berbisik.​"Sudah-sudah, cepat pakai bajumu. Sekalian kita turun sarapan," balas Alya terkekeh geli, lalu berjalan cepat menuju pintu.​Ceklek. Saat pintu kamar terbuka. Wajah Fira langsung menyembul di baliknya. "Ada apa sih, Fir? Kok teriak-teriak begitu?" tanya Alya.​"Itu, Mbak Alya... Aku disuruh Tante untuk memanggil Mba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status