Home / Romansa / Terapi Gila Atasanku / Kita Akhiri Semua

Share

Kita Akhiri Semua

Author: CitraAurora
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-18 16:29:32

Malam itu di kamar utama, suasana terasa hening dan dingin. Shinta yang merasa diabaikan melangkah mendekati Rehan yang sedang bersandar di sisi tempat tidur, lalu memeluk pria itu erat dari belakang.

​"Mas... kita sudah lama tidak melakukannya," bisik Shinta menempelkan pipinya di punggung Rehan.

​Rehan menghela napas dalam-dalam, mengusap wajahnya yang tampak lelah. "Kamu itu sedang hamil, Shin. Mana boleh melakukannya?"

​Shinta mensejajarkan posisinya, menatap Rehan dengan raut memohon. "Ken
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Terapi Gila Atasanku   Ugh...

    Kedua bola mata Alya terbelalak sempurna. Ia langsung menyikut pinggang suaminya. "Mas, kamu ini apa-apaan sih? Malu-maluin banget ngomong begitu di depan mereka!" protesnya setengah berbisik dengan pipi memerah padam.​Fira yang mendengar samar-samar perdebatan di antara kakak sepupu dan iparnya itu langsung memberengut sebal. "Kalian ini apa-apaan sih?! Kenapa pada ikutan mau malam pertama juga?!" protes Fira dengan nada protes yang kentara.​Dewa menoleh santai dari undakan tangga pertama. "Memangnya kenapa? Kalau kamu mau malam pertama, ya tinggal malam pertama saja sana. Kenapa malah sewot melarang aku sama istriku?" balas Dewa dengan senyum penuh kemenangan.​Tanpa memedulikan Fira yang mendengus kesal, Dewa dan Alya berlalu meninggalkan pasangan pengantin baru itu di ruang tamu.​"Kenapa malah kita yang paling terakhir naik ke kamar, padahal kan kita pengantin barunya?!" keluh Fira kesal menatap punggung Dewa dan Alya. "Mas Dewa sama Mbak Alya itu aneh banget, statusnya kan sud

  • Terapi Gila Atasanku   Saling Serang

    "Seperti dulu kamu tidak begitu saja, Mas!" sahut Fira kesal, mengerucutkan bibirnya lebar-lebar karena jalannya menuju kamar terhalang.​Dewa terkekeh geli melihat wajah cemberut adik sepupunya. "Nanti dulu dong, kita kan masih mau mengobrol dengan pengantin baru. Kalian ini kok buru-buru amat sih mau ke kamar? Ini baru jam berapa?" tawa Dewa menggoda. "Malam pertama itu ya dilakukannya malam hari, bukan siang-siang bolong begini. Memangnya kalian tidak pernah dengar?"​Godaan Dewa yang frontal itu membuat Devan mendadak salah tingkah hingga ke telinga. Wajahnya memerah padam.​Devan melempar senyum canggung, lalu mengelus pelan pundak istrinya. "Iya, Sayang... Kita di sini dulu sebentar ya, mengobrol dengan keluarga," bujuk Devan lembut.​"Padahal aku penginnya cepat-cepat ke kamar..." gerutu Fira tanpa dosa, lalu menghentakkan kakinya dan duduk kembali di sofa dengan wajah cemberut.​Melihat tingkah polos dan blak-blakan Fira, tawa semua orang di ruang tamu seketika pecah.​"Astaga

  • Terapi Gila Atasanku   Akhirnya Menikah Juga

    Hari pernikahan Fira dan Devan akhirnya tiba. Mengingat konsep yang diusung adalah acara sederhana yang sakral, mereka tidak menggelar pesta besar-besaran. Fira tampak anggun dalam balutan gaun pengantin sederhana namun elegan, sementara Devan berdiri gagah mengenakan jas senada. Sederet seserahan dan cincin pernikahan sederhana menjadi lambang keseriusan cinta Devan untuk meminang wanita pujaan hatinya.​"Kamu sudah siap, Devan?" tanya Dewa sambil menepuk pelan bahu asisten setianya itu. ​Devan menarik napas dalam-dalam, berusaha menepis debaran di dadanya. "Siap, Pak Dewa," sahutnya dengan nada setegas mungkin.​"Bagus. Nanti di depan penghulu, jangan sampai gemetar. Rileks saja supaya kamu nggak salah sebut saat ijab kabul," pesan Dewa menyemangati.​"Baik, Pak Dewa, saya akan rileks," jawab Devan, meski keringat dingin mulai merayap di pelipisnya.​Dewa tersenyum tipis. "Suasana ini beda, Devan. Menghadapi klien jutaan dolar untuk memenangkan proyek itu gampang. Tapi ini murni ja

  • Terapi Gila Atasanku   Cewek Agresif

    "Galak sekali," gerutu Dewa setengah berbisik begitu punggung sang mama dan tantenya benar-benar hilang di balik pintu dapur. Pria itu lantas menarik tangan Alya dengan lembut, membuka pintu kulkas, dan mengeluarkan sekotak susu segar untuk meracik minuman yang diinginkan istrinya.​Sambil menunggu susu itu siap, Alya menatap suaminya dengan ragu. "Kira-kira Mama marah nggak ya, Mas, kalau tahu kita sering... itu?" tanyanya pelan, sedikit khawatir.​Dewa terkekeh renyah, lalu merangkul pinggang Alya dan mencubit hidung istrinya gemas. "Ya nggaklah, Sayang, ngapain marah? Lagi pula kan wajar saja, kita kan suami istri sah." Jelas Dewa.Alya mengangguk pelan, "Iya." Meski mengangguk tapi nyatanya Alya seperti masih memikirkan ancaman mama mertuanya tadi. "Sudah, nggak usah memikirkan Mama terus. Yang penting kita senang, kamu sehat, anak kita juga sehat di dalam," hibur Dewa penuh percaya diri.​Setelah keduanya menikmati susu dingin penghilang penat itu, mereka kembali ke kamar dan t

  • Terapi Gila Atasanku   Sampai Pipis

    Puas menikmati keindahan dada sang istri, Dewa tak membuang waktu. Dengan napas yang kian memburu, ia menurunkan ciumannya perlahan, menelusuri garis perut rata Alya yang kini tampak semakin memesona dengan bentuk kehamilannya, hingga berhenti tepat di pusar wanita itu.​Alya meremajakan jemarinya di rambut tebal Dewa, meremasnya pelan sembari menggigit bibir bawahnya saat kehangatan napas suaminya menerpa kulit sensitif di perut bagian bawahnya.​"Mas..." desah Alya tertahan, tubuhnya bergetar hebat kala lidah Dewa mulai bermain semakin turun, mengeksplorasi setiap jengkal area pribadinya dengan sentuhan yang begitu telaten dan penuh pengalaman.​Dewa benar-benar tahu bagaimana cara memperlakukan istrinya agar merasa menjadi wanita paling berharga sekaligus paling liar di atas ranjang. Sentuhan tangannya yang kokoh menahan pinggul Alya, sementara lidahnya bekerja tanpa kenal lelah, menciptakan gelombang nikmat yang merambat naik dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun kepala Alya.​"Ahhh

  • Terapi Gila Atasanku   Pengen Jenguk Si Kecil

    Akhirnya, hari-hari di mana Fira harus tinggal diam-diam di apartemen Devan resmi berakhir. Tekanan dari keluarga besar membuat Fira dengan terpaksa harus mengemas barang-barangnya dan kembali menetap di rumah utama keluarga Erlangga. Menariknya, kali ini Devan justru menjadi orang pertama yang sangat setuju dan mendukung keputusan tersebut. Bukan karena ia ingin berjauhan, melainkan karena ia merasa memang belum waktunya tinggal bersama. ​Malam harinya, suasana kamar pribadi Dewa dan Alya terasa jauh lebih tenang setelah hiruk-pikuk kepulangan Fira sore tadi. Dewa yang baru saja selesai mandi merebahkan diri di sisi ranjang sambil memijit pelipisnya perlahan, tampak masih memikirkan rentetan omelan sang mama.​"Lama-lama aku bisa benar-benar stres memikirkan urusan Fira dan Devan itu," keluh Dewa lirih, menatap langit-langit kamar.​Alya yang sedang bersandar di kepala ranjang menaikkan sebelah alisnya. "Stres kenapa sih, Mas? Perasaan semuanya sudah beres, kan?"​"Gimana nggak stre

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status