Beranda / Romansa / Terapi Gila Atasanku / Penthouse Ini Milikmu

Share

Penthouse Ini Milikmu

Penulis: CitraAurora
last update Tanggal publikasi: 2026-09-11 22:05:21

Saat Dewa baru tiba, Alya dan Devan melangkah keluar dari lift.

Memang penthouse mewah Dewa langsung terhubung dengan lift khusus, sehingga sangat aman.

Devan membantu Alya membawa kopernya, dia berjalan mendekat ke Dewa yang duduk di sofa.

"Selamat pagi Pak." Sapa Devan.

"Pagi Devan." Balas Dewa.

​Dewa menatap Devan singkat. "Devan, kamu kembali ke kantor sekarang. Hari ini aku dan Alya kerja dari rumah saja."

​Devan tertegun sejenak. 'Kerja dari rumah atau pacaran?' batin Devan heran meli
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terapi Gila Atasanku   Cewek Agresif

    "Galak sekali," gerutu Dewa setengah berbisik begitu punggung sang mama dan tantenya benar-benar hilang di balik pintu dapur. Pria itu lantas menarik tangan Alya dengan lembut, membuka pintu kulkas, dan mengeluarkan sekotak susu segar untuk meracik minuman yang diinginkan istrinya.​Sambil menunggu susu itu siap, Alya menatap suaminya dengan ragu. "Kira-kira Mama marah nggak ya, Mas, kalau tahu kita sering... itu?" tanyanya pelan, sedikit khawatir.​Dewa terkekeh renyah, lalu merangkul pinggang Alya dan mencubit hidung istrinya gemas. "Ya nggaklah, Sayang, ngapain marah? Lagi pula kan wajar saja, kita kan suami istri sah." Jelas Dewa.Alya mengangguk pelan, "Iya." Meski mengangguk tapi nyatanya Alya seperti masih memikirkan ancaman mama mertuanya tadi. "Sudah, nggak usah memikirkan Mama terus. Yang penting kita senang, kamu sehat, anak kita juga sehat di dalam," hibur Dewa penuh percaya diri.​Setelah keduanya menikmati susu dingin penghilang penat itu, mereka kembali ke kamar dan t

  • Terapi Gila Atasanku   Sampai Pipis

    Puas menikmati keindahan dada sang istri, Dewa tak membuang waktu. Dengan napas yang kian memburu, ia menurunkan ciumannya perlahan, menelusuri garis perut rata Alya yang kini tampak semakin memesona dengan bentuk kehamilannya, hingga berhenti tepat di pusar wanita itu.​Alya meremajakan jemarinya di rambut tebal Dewa, meremasnya pelan sembari menggigit bibir bawahnya saat kehangatan napas suaminya menerpa kulit sensitif di perut bagian bawahnya.​"Mas..." desah Alya tertahan, tubuhnya bergetar hebat kala lidah Dewa mulai bermain semakin turun, mengeksplorasi setiap jengkal area pribadinya dengan sentuhan yang begitu telaten dan penuh pengalaman.​Dewa benar-benar tahu bagaimana cara memperlakukan istrinya agar merasa menjadi wanita paling berharga sekaligus paling liar di atas ranjang. Sentuhan tangannya yang kokoh menahan pinggul Alya, sementara lidahnya bekerja tanpa kenal lelah, menciptakan gelombang nikmat yang merambat naik dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun kepala Alya.​"Ahhh

  • Terapi Gila Atasanku   Pengen Jenguk Si Kecil

    Akhirnya, hari-hari di mana Fira harus tinggal diam-diam di apartemen Devan resmi berakhir. Tekanan dari keluarga besar membuat Fira dengan terpaksa harus mengemas barang-barangnya dan kembali menetap di rumah utama keluarga Erlangga. Menariknya, kali ini Devan justru menjadi orang pertama yang sangat setuju dan mendukung keputusan tersebut. Bukan karena ia ingin berjauhan, melainkan karena ia merasa memang belum waktunya tinggal bersama. ​Malam harinya, suasana kamar pribadi Dewa dan Alya terasa jauh lebih tenang setelah hiruk-pikuk kepulangan Fira sore tadi. Dewa yang baru saja selesai mandi merebahkan diri di sisi ranjang sambil memijit pelipisnya perlahan, tampak masih memikirkan rentetan omelan sang mama.​"Lama-lama aku bisa benar-benar stres memikirkan urusan Fira dan Devan itu," keluh Dewa lirih, menatap langit-langit kamar.​Alya yang sedang bersandar di kepala ranjang menaikkan sebelah alisnya. "Stres kenapa sih, Mas? Perasaan semuanya sudah beres, kan?"​"Gimana nggak stre

  • Terapi Gila Atasanku   Gak Boleh!

    Sore itu, suasana kediaman keluarga Erlangga yang biasanya tenang mendadak berubah riuh. Begitu Dewa dan Alya melangkah masuk usai pulang dari kantor, mereka dibuat terkejut bukan kepalang saat mendapati kedua orang tua Fira—Om dan Tante mereka—sudah duduk di ruang tamu. ​"Om, Tante... Kok sudah sampai di sini?" tanya Dewa kaget, melirik jam tangannya. ​Pasangan paruh baya itu tersenyum ramah. "Iya, jadwalnya dipercepat, Dewa, " jawab sang om. ​Dari arah dapur, Mama Dewa menyusul keluar sambil membawa nampan berisi teh. "Kemarin itu rencananya memang masih tiga hari lagi, Dewa. Tapi karena urusan ommu di luar kota selesai lebih cepat dari perkiraan, akhirnya jadwal kepulangan kesini dimajukan," jelas Mama Dewa. ​Dewa mengangguk-angguk paham. Namun sedetik kemudian, kernyitan di dahinya muncul. "Mana Fira?" tanya sang mama, mengedar pandangan ke segala penjuru rumah. ​Dewa terdiam, spontan melirik ke arah Alya di sampingnya. Setelah sang istri memberikan anggukan kecil seolah mem

  • Terapi Gila Atasanku   Tahap Isap Menghisap

    "Kalau tidak keras, bagaimana caranya kamu terpuaskan, Sayang?" bisik Devan dengan suara berat yang menggelitik telinga Fira.​Fira menelan salivanya susah payah. Matanya masih takjub menatap ke arah kejantanan Devan yang berdiri perkasa. Di dalam kepalanya, ia membayangkan bagaimana mungkin "benda" sebesar dan sekeras itu nantinya bisa masuk ke dalam rongga intim miliknya.​"Ih, Mas... Pasti milikku bakal sakit banget kalau benda sebesar itu masuk ke dalam sana," cicit Fira ngeri-ngeri sedap.​Devan tersenyum miring, menatap calon istrinya penuh arti. "Nggak bakal sakit, Sayang. Malah enak... bikin ketagihan."​"Hih, dasar!" Fira memukul pelan dada bidang Devan dengan wajah bersemu merah padam karena malu. "Sudah, sana cepat pakai pakaianmu lagi, sebelum benda itu bangun dan nggak bisa diajak kompromi!"​Setelah sama-sama mengenakan pakaian mereka kembali dengan rapi, suasana canggung yang sempat membara perlahan mereda. Keduanya kini duduk berdampingan di kursi balkon apartemen, men

  • Terapi Gila Atasanku   Kenapa Keras Sekali

    Suasana di dalam kamar itu kian memanas, membawa keduanya hanyut dalam pusaran kenikmatan murni yang belum pernah mereka rasakan seumur hidup. Fira mendambakan sentuhan yang lebih dalam, sementara Devan, dengan segala gairah barunya, juga terbakar keinginan untuk menjelajahi sang calon istri seutuhnya.​"Uhh... Mas..." rintih Fira tertahan, giginya perlahan menggigit bibir bawahnya, menahan gelombang sensasi asing yang kian menghantam rongga dadanya.​Melihat ekspresi Fira yang begitu rapuh sekaligus memabukkan di bawah kungkungannya, pertahanan terakhir Devan nyaris runtuh. Hasratnya membuncah hebat, melesat cepat tanpa bisa dikendalikan. Di balik celananya, bagian bawah tubuhnya kini telah menegang sempurna, menuntut pelepasan.​Tanpa pikir panjang, tangan Devan yang tadinya berada di atas mulai merayap turun, menyusuri perut rata Fira, lalu mendarat tepat di bagian inti kewanitaan wanita itu.​Seketika, mata Fira terbelalak lebar. Napasnya terengah, dan kakinya secara spontan terbu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status