Mag-log inSore itu Rehan dan Shinta pulang dari kantor. Di tengah perjalanan, Shinta memiringkan tubuhnya, menatap Rehan dari kursi samping."Mas, kita makan di luar dulu, ya? Aku lapar banget," ajak Shinta lembut.Rehan menggeleng pelan, fokusnya tetap pada jalanan di depan. "Makan di rumah saja, Shin. Kasihan Mama, jam segini pasti sudah selesai masak buat kita."Shinta akhirnya mengangguk mengalah. Ia menyandarkan punggungnya, membayangkan meja makan yang sudah terhidang berbagai masakan hangat buatan ibu mertuanya.Namun, sesampainya di rumah, senyum Shinta seketika sirnah. Ia melangkah cepat menuju dapur dan membuka tudung saji di meja makan. Kosong. Tak ada satu pun piring masakan di sana. Tangan Shinta mengepal erat. Perutnya yang sedang mengandung terasa makin melilit. Seharian lelah bekerja, ia hanya ingin menyantap makanan hangat di rumah.Tak selang lama, Mama Rehan keluar dari kamarnya sambil mengurut pinggang. Melihat anak dan menantunya baru datang, wanita paruh baya itu meng
Keesokan harinya, Dewa meminta Devan untuk menemui Rehan. Ia menugaskan asisten pribadinya itu untuk mengambil seluruh aset peninggalan orang tua Alya yang masih tertahan di pihak Rehan. Dewa sengaja tidak membiarkan Alya menemui mantan suaminya itu lagi. Ia tidak mau ambil resiko, terlebih rasa cemburu masih menyelimutinya setelah melihat Rehan memeluk calon istrinya kemarin."Mas apa tidak aku saja yang menemui Mas Rehan, sekalian mengecek." Kata Alya. "Apa kamu masih ingin membuat calon suami kamu ini dimakan rasa cemburu hah?" Sahut Dewa. Alya hanya tersenyum, dia menurut saja dengan Dewa. “Baiklah Pak Dewaku Sayang.” Alya pun pasrah, daripada atasannya itu cemburu. Setibanya di kantor Rehan, Devan melangkah mantap menuju meja resepsionis. "Selamat pagi, saya Devan, asisten Pak Dewa Erlangga. Saya ingin bertemu dengan Pak Rehan," ujar Devan ramah namun penuh penekanan. Resepsionis segera menghubungi saluran telepon internal ke ruangan Rehan. Mengetahui siapa yang datang, R
Di sisi lain, Rehan pulang ke rumah dengan langkah gulai dan hati yang begitu hancur. Rasa menyesal yang teramat sangat terus menghujam dadanya bak belati, menusuk hingga ke bagian terdalam jiwanya. Ia sama sekali mengabaikan Shinta dan ibunya yang justru sibuk bersorak kegirangan merayakan perpisahan Rehan dan Alya di ruang tamu."Syukurlah Rehan dan Alya sudah cerai, dia benar-benar jalang, bahkan di sidang membawa lelaki selingkuhannya." "Benar Ma." Sahut Shinta. "Dia pasti menyesal, lihat saja tadi dia mengemis pelukan pada Mas Rehan.' Mendengar obrolan mereka, Rehan memutuskan bangkit. "Aku ke kamar dulu," gumam Rehan datar tanpa menoleh sedikit pun.Pria itu melangkah lesu menaiki tangga dan memutar gagang pintu kamar utama. Begitu pintu tertutup rapat, kenangan masa lalu tentang Alya mendadak berhamburan menyerang otaknya.Di dalam kamar inilah semua penderitaan Alya bermula. Di kamar ini, entah sudah berapa kali Rehan membentak dan menghempaskan Alya saat wanita itu memo
Alya perlahan melepaskan cengkeraman tangan Rehan dari tubuhnya. Ia mundur satu langkah, menatap wajah Rehan yang basah oleh air mata dengan ekspresi dingin. "Semuanya sudah terlambat, kita sudah punya jalan masing-masing, Mas. Selamat tinggal," ucap Alya datar, lalu berbalik tanpa menoleh lagi. Alya melangkah menuju mobil mewah Dewa yang terparkir di seberang. Pintu mobil langsung terbuka otomatis. Begitu Alya duduk di kursi samping pengemudi, Dewa langsung menarik napas dalam-dalam. Aura di dalam mobil terasa begitu pekat dan hangat secara bersamaan. Dewa tidak langsung menjalankan mobil. Pria itu memutar tubuhnya, menatap Alya dengan mata menyipit tajam. "Tiga puluh detik," cetus Dewa tiba-tiba. Alya menoleh bingung sambil memasang sabuk pengaman. "Maksudnya apa, Mas?" "Kamu membiarkan mantan suamimu memelukmu selama tiga puluh detik penuh," ujar Dewa dengan nada ketus yang dibuat-buat, meski rahangnya tampak mengeras. "Aku menghitungnya dari sini, Alya." Alya tertegu
Seminggu berlalu dengan cepat. Setelah proses penolakan mediasi di sidang pertama, persidangan lanjutan berjalan sangat lancar tanpa hambatan berarti. Hari ini, ketukan palu hakim secara resmi memutuskan perceraian antara Alya dan Rehan.Di halaman depan gedung Pengadilan Agama yang dinaungi cuaca cerah, Alya berdiri mematung. Jarinya mengusap permukaan kertas akta cerai yang masih beraroma tinta segar. Tanpa sadar, setitik air mata menetes membasahi pipinya. Itu bukan air mata duka, melainkan lelehan rasa bahagia dan lega yang teramat sangat. Akhirnya, penderitaan dan siksaan batin yang membelenggunya selama dua tahun penuh resmi berakhir. Waktunya telah tiba untuk menyongsong masa depan yang cerah bersama pria yang tak pernah lelah melindunginya.Dewa yang berdiri di sampingnya menyunggingkan senyum hangat, menyapu lembut sisa air mata di pipi Alya."Selamat, Alya..." bisik Dewa dengan nada suara yang begitu lembut dan penuh kebanggaan. "Akhirnya sebentar lagi status Nyonya Dewa
"Kalian dipanggil masuk ke ruang sidang sekarang," ucap salah seorang petugas pengadilan dari balik pintu yang terbuka. Rehan menelan ludah yang terasa sangat ganjil di tenggorokannya. Ia melangkah lesu masuk ke dalam ruang sidang diikuti oleh Dewa. Di dalam ruang sidang, Alya sudah duduk anggun di sebelah tim kuasa hukumnya, dia tampak begitu tenang dan berwibawa. Dewa duduk di barisan kursi pengunjung paling depan, mengawasi setiap pergerakan Rehan dengan pandangan tajam yang siap menghancurkan kapan saja. Hakim Ketua mengetukkan palu kecilnya. Tok! "Sidang perkara perceraian antara Saudari Alya dan Saudara Rehan resmi dibuka," ujar Hakim Ketua tegas. Ia kemudian membuka berkas di depannya dan mulai membaca ringkasan isi gugatan. "Berdasarkan gugatan yang diajukan oleh Saudari Alya, pokok perkara perceraian ini didasari oleh dugaan perselingkuhan dan tindakan penelantaran nafkah yang dilakukan oleh Saudara Rehan..." "Saya keberatan, Yang Mulia Hakim!" Belum sempat Hak







