LOGINTiga hari menjelang hari pernikahan, suasana sibuk namun penuh kebahagiaan menyelimuti Dewa dan Alya. Segalanya sudah tertata rapi, dan kini tiba waktunya bagi mereka untuk berangkat ke Pulau Dewata."Mas, kalau aku baru berangkat H-1 sebelum pernikahan kalian, enggak apa-apa kan?" tanya Fira via telepon."Enggak apa-apa," sahut Dewa santai. "Nanti kamu berangkat ke sana bareng Devan saja. Kebetulan H-1 aku juga menyuruh Devan standby penuh di Bali.""Lalu bagaimana dengan urusan kantor, Mas?" tanya Fira lagi."Biar di-handle sama direksi yang lain dulu. Kamu tenang saja," jawab Dewa mantap.Entah mengapa, saat mendengar nama Devan disebut dan tahu pria itu akan menemaninya sepanjang perjalanan, ada desiran hangat dan rasa senang yang membuncah di dada Fira. Setidaknya, penerbangan menuju Pulau Dewata nanti tak akan terasa sepi karena ada seseorang yang istimewa di sisinya.Singkat cerita, sore itu rombongan utama telah tiba di bandara privat. Dewa dan Alya berjalan berdampingan
Dewa malah terkekeh pelan melihat ekspresi Alya yang cemburu setengah mati. Pria itu menyandarkan kedua tangannya di atas meja kerja Alya, memangkas jarak di antara wajah mereka."Kamu tuh seharusnya senang, Sayang. Itu tandanya calon suamimu ini banyak dikagumi wanita," goda Dewa seraya mengedipkan sebelah matanya."Senang apanya?!" sahut Alya kesal seraya memalingkan wajahnya. "Yang ada itu sebel tahu, Mas! Karyawan-karyawan itu centil banget!"Dewa tersenyum makin lebar. Ia meraih dagu Alya dengan lembut, memaksa mata bening wanita itu menatap lurus ke dalam matanya."Dengar ya, Sayang... Mau sebanyak apa pun wanita yang kagum di luar sana, hatiku cuma ada kamu seorang," bisik Dewa dengan suara berat dan tulus.Seketika kekesalan di wajah Alya meluluh. Sorot matanya berubah menjadi nanar menatap Dewa. "Kamu enggak akan berubah kan, Mas? Kamu bakal selalu bersamaku sampai maut memisahkan kita, kan?"Dewa menggenggam erat kedua tangan Alya, mencium punggung tangannya berulang k
Pagi itu, suasana di ruang rapat utama perusahaan Rehan terasa begitu tegang. Seluruh jajaran dewan direksi dan para petinggi perusahaan sudah duduk melingkar di meja rapat yang panjang, menunggu kedatangan sosok pemilik baru perusahaan mereka.Pintu ruang rapat akhirnya terbuka lebar. Dewa melangkah masuk dengan wibawa yang memancar kuat, didampingi Devan yang sigap membawa tumpukan dokumen legalitas di tangannya."Selamat sore, Pak Dewa," sambut beberapa direktur yang refleks bangkit berdiri dari kursi mereka dengan raut wajah penuh hormat.Dewa mengangguk pelan tanpa mengikis kesan dinginnya. "Selamat sore. Silakan duduk kembali."Setelah semua orang kembali duduk, Rehan yang berdiri di ujung meja dengan wajah pucat pasi mulai membuka suara. Suaranya bergetar menahan kepedihan yang luar biasa."Selamat sore, semuanya," ujar Rehan pelan, membasahi bibirnya yang kering. "Hari ini... saya ingin mengumumkan keputusan penting terkait kelangsungan perusahaan kita. Mulai hari perusah
"Pak Dewa, perusahaan Rehan benar-benar sudah dinyatakan pailit. Apa langkah kita selanjutnya?" tanya Devan sopan saat memberikan berkas dokumen keuangan terkini kepada atasannya.Dewa yang sedang menatap layar laptopnya hanya mengulas senyum sinis. Tanpa ragu, ia menutup laptop mewahnya dengan gerakan tenang namun tegas."Batalkan seluruh kontrak kerja samanya," ujar Dewa singkat."Baik, Pak. Saya urus surat pembatalannya sekarang," sahut Devan membungkuk hormat, lalu pamit keluar dari ruang CEO tersebut.Sementara itu, di ruang kerjanga Rehan duduk termangu dengan kepala tertunduk dalam. Pikirannya benar-benar kalut dan pusing luar biasa. Satu per satu penanam modal menarik dananya secara mendadak. Banyak kontrak kerja sama dengan mitra bisnis utama yang dibatalkan secara sepihak. Kas perusahaannya kini benar-benar kosong melompong.Di tengah keputusasaan yang mencekik leher itu, layar ponsel Rehan menyala menampilkan panggilan masuk dari Devan. Dengan napas memburu dan secer
Setelah keluar dari restoran mewah itu, Randy memboyong Sinta menuju sebuah kompleks apartemen eksklusif di pusat kota. Begitu pintu unit penthouse terbuka, mata Sinta membelalak terpana melihat interiornya yang teramat megah dan modern—suasananya sebelas dua belas dengan penthouse milik Dewa yang pernah ia lihat."Kamu boleh tinggal di sini," ujar Randy santai seraya menaruh kartu akses di atas meja. "Serius, Mas? Aku boleh tinggal di sini?" tanya Sinta memastikan, matanya berbinar tak percaya."Seriuslah. Apa sih yang enggak buat kamu?" sahut Randy dengan senyum manisnya.Tanpa ragu, Sinta langsung berhambur memeluk leher Randy. "Terima kasih banyak, Mas! Kamu baik banget!"Tak berhenti di situ, Randy merogoh dompet kulitnya dan mengeluarkan sebuah kartu kredit tanpa batas. "Nih. Gunakan kartu ini untuk berbelanja semua kebutuhanmu.""Serius, Mas, kamu memberikan kartu ini padaku?""Seriuslah. Apa aku kelihatan sedang berbohong?" kata Randy terkekeh.Sinta benar-benar dibua
"Tidak! Sampai kapan pun aku tidak akan menceraikanmu!" teriak Rehan gemetar, dadanya naik turun meluapkan amarah yang membuncah.Sinta justru terkekeh sumbang. Ia menoleh, menatap Rehan dengan sorot mata dingin penuh penghinaan. "Terserah kamu mau ngomong apa, Mas. Yang jelas, aku mau pergi dari hidupmu sekarang juga!"Sinta berbalik, menyambar tas belanjaan dan menyeret kopernya menuju pintu. Rehan yang panik langsung berlari mengejar dan menahan lengan istrinya."Sinta! Kamu tidak boleh pergi!" cengkeram Rehan makin erat, matanya memerah penuh keputusasaan. "Kita selesaikan masalah ini baik-baik!""Lepasin aku, Mas! Sakit tahu enggak?!" bentak Sinta keras. Ia berontak sekuat tenaga, menghentakkan tangannya hingga genggaman Rehan terlepas, lalu melangkah lebar keluar kamar.Keributan hebat itu memancing sang mama keluar dari kamarnya. Melihat Sinta yang menggeret koper terburu-buru menuju pintu depan, sang mama tak sedikit pun berniat mencegah."Biarkan saja dia pergi, Rehan!"







