LOGINSuasana di dalam kamar itu kian memanas, membawa keduanya hanyut dalam pusaran kenikmatan murni yang belum pernah mereka rasakan seumur hidup. Fira mendambakan sentuhan yang lebih dalam, sementara Devan, dengan segala gairah barunya, juga terbakar keinginan untuk menjelajahi sang calon istri seutuhnya."Uhh... Mas..." rintih Fira tertahan, giginya perlahan menggigit bibir bawahnya, menahan gelombang sensasi asing yang kian menghantam rongga dadanya.Melihat ekspresi Fira yang begitu rapuh sekaligus memabukkan di bawah kungkungannya, pertahanan terakhir Devan nyaris runtuh. Hasratnya membuncah hebat, melesat cepat tanpa bisa dikendalikan. Di balik celananya, bagian bawah tubuhnya kini telah menegang sempurna, menuntut pelepasan.Tanpa pikir panjang, tangan Devan yang tadinya berada di atas mulai merayap turun, menyusuri perut rata Fira, lalu mendarat tepat di bagian inti kewanitaan wanita itu.Seketika, mata Fira terbelalak lebar. Napasnya terengah, dan kakinya secara spontan terbu
"Jangan bertanya aku belajar dari mana. Sekarang, nikmati saja," bisik Devan dengan suara serak yang sukses membuat bulu kuduk Fira meremang. Perubahan drastis Devan yang kini jauh lebih berani, tegas, dan mendominasi membuat Fira merasa terpana. Di matanya, pria itu terlihat berkali-kali lipat jauh lebih keren dibandingkan sosok kaku dan dingin yang dikenalnya dulu. "Boleh... aku buka?" tanya Devan tiba-tiba dengan tatapan menuntut yang penuh gairah. Fira terbelalak kaget. Nyalinya yang tadinya membuncah kini mendadak ciut seketika. "Buka...?" ulangnya terbata. Lalu Fira tertawa kecil salah tingkah, mencoba mencairkan suasana. "Nggak perlu, Mas..." Devan menyunggingkan senyum miring, lalu mendekatkan wajahnya dengan tatapan menggoda. "Bukankah tadi kamu sendiri yang bilang suka pria yang agresif dan sat-set? Kenapa sekarang malah tidak boleh?" Melihat Devan yang semakin mendominasi dan berniat maju, Fira buru-buru mendorong dada calon suaminya dengan kedua tangan. "Eh—jan
Keesokan harinya, Fira sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Tentu setelah drama antara Dokter, dirinya dan Dewa. "Gara-gara sandiwara ini aku harus bayar puluhan juta." Gumam Dewa. "Lah kan ini rencana Mas Dewa sendiri, ngapain protes sekarang." Sahut Fira tertawa. "Demi siapa coba, ingatlah kebaikan kakakmu ini." Ujar Dewa. Sore itu juga Fira bersiap, Devan yang baru saja ambil obat mengajak Fira untuk pulang. Namun, alih-alih kembali ke kediaman keluarga Erlangga, ia justru meminta langsung ke apartemen Devan. "Sayang kamu serius mau langsung ke apartemen aku?" "Serius Mas." Akhirnya Dewa, Alya dan Fira ke apartemen Devan. Sesampainya disana, Devan meninggalkan tamunya karena dia ingin ke kamar mandi. Kebetulan, saat Devan tengah membersihkan diri di kamar mandi, Dewa dan Alya mengajak ngobrol Fira. "Kamu ini ya, ada-ada saja... Nekat betul langsung minta tinggal di apartemen Devan," tegur Dewa dengan sebelah alis te
"Kamu sudah bangun?" tanya Devan, napasnya sedikit tercekat karena kelegaan yang luar biasa. "Ini di rumah sakit, Sayang. Kamu tadi mendadak sakit dan pingsan."Fira mengangguk pelan, lalu menatap manik mata Devan. Dari sorot mata pria itu, terlihat jelas betapa besar rasa lega dan ketakutan yang baru saja ia lalui."Minum dulu ya, sedikit," kata Devan lembut sambil meraih gelas di nakas, membantu Fira meneguk air putih hangat.Setelah minum, Fira kembali berbaring di atas bangsal. Ia sengaja memasang wajah pucat dan berakting selemas mungkin, padahal di dalam hatinya ia merasa sangat bugar setelah tidur cukup.Dosa aku pasti banyak sekali karena sudah membohongi pria sebaik ini, batin Fira geli sekaligus merasa bersalah. Tapi aktingku memang luar biasa. Kalau ada ajang penghargaan, aku pasti sudah pantas mendapatkan piala Oscar untuk kategori akting terbaik!Sambil menahan senyum kemenangan yang ingin meledak, Fira kembali menatap Devan dengan tatapan sayu yang dibuat-buat. "Kam
Mendengar rentetan kalimat penuh kepedulian yang terlontar dari mulut Devan, Fira sebenarnya nyaris tidak kuasa menahan diri untuk tidak tersenyum atau tertawa kecil. Namun, ia harus mengerahkan seluruh sisa tenaga aktingnya untuk tetap bergeming, mengingat akibat fatal yang akan terjadi jika pria itu tahu dirinya sedang dibohongi. Melihat Fira yang tetap mematung dengan mata terpejam, kepanikan Devan semakin menjadi-jadi. Pria yang biasanya kaku dan irit bicara itu kini tampak begitu rapuh, erat menggenggam jemari calon istrinya seolah takut kehilangan untuk selamanya. "Maafkan aku, Fir... Aku sadar, semua ini pasti terjadi karena sikap dinginku yang membuatmu stres hingga jatuh sakit seperti ini. Tapi kumohon, bangunlah..." bisik Devan dengan suara parau bergetar, menciumi punggung tangan Fira penuh permohonan. "Jujur... aku sangat menyayangimu. Aku tidak ingin kamu membatalkan pernikahan kita. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku hanya bersamamu." Devan menarik napas panjang,
Malam itu, di dalam kamar yang hangat, Dewa dan Alya kembali memperbincangkan nasib hubungan Fira dan Devan yang belakangan ini merenggang. Fira seolah kehilangan seluruh cerianya, dan perubahan drastis itu membuat Dewa maupun Alya merasa tidak tenang. "Bagaimana menurutmu, Mas, agar Fira bisa kembali ceria seperti sedia kala?" tanya Alya cemas sambil merapikan bantal di sofa. "Kuncinya ada pada Devan, Sayang," jawab Dewa mantap. Dewa terdiam sejenak, memutar otak mencari jalan keluar. Tak berselang lama, sebuah ide cemerlang sekaligus nekat melintas di kepala CEO muda itu. "Aku punya rencana, Sayang," bisik Dewa dengan senyuman penuh strategi. "Rencana apa, Mas?" tanya Alya penasaran. "Bagaimana kalau kita pura-pura membuat Fira sakit, lalu kita kabari Devan agar dia datang dan merawat Fira seharian penuh?" Alya mengerutkan keningnya, meragukan ide suaminya. "Kamu yakin cara seperti ini akan berhasil? Devan itu bukan orang bodoh, dia pasti tahu kalau Fira hanya pura-pur







