MasukDengan langkah tergesa, Honey menutup telepon terakhir setelah memastikan pesanan makan siang untuk bosnya akan segera tiba. Ia sudah menghubungi tiga restoran berbeda demi menebak selera bos barunya, Rei Harristian. Untungnya, manajer Mills berbaik hati memberi petunjuk mengenai menu favorit The Midas Rei, sehingga Honey bisa memilih dengan lebih percaya diri.
Waktu yang tersisa hanya lima belas menit ketika ia menerima beberapa paper bag dari resepsionis lobi bawah. Petugas pengantar makanan tidak diizinkan naik ke lantai eksekutif, jadi Honey yang sedang berperan sebagai Axel harus gesit membawa semuanya sendiri. Dengan napas terengah, ia hampir berlari ke atas.
Sesampainya di ruang makan kecil yang menempel dengan studio pribadi The Midas, Honey mulai bekerja cepat. Kotak-kotak makanan dibuka, ditata di piring porselen, lalu ia menambahkan serbet dan sendok garpu dengan rapi. Meski terburu-buru, jemarinya terampil. Honey bersyukur ia memiliki kebiasaan yang ia dapat dari sering membantu pekerjaan rumah. Ketika selesai, ia menoleh ke jam tangan. Tepat enam puluh menit.
Honey menghela napas lega. “Yes, aku berhasil,” celetuknya riang.
Honey kemudian berjalan pelan ke dalam studio. Di balik deretan layar monitor dan peralatan mixing, Rei duduk dengan headphone tergantung di leher. Kepalanya bersandar, mata terpejam.
Kening Honey sempat mengernyit, mengira Rei sedang sibuk dengan pekerjaannya di studio mixing.
“Pak, makan siang sudah siap,” ujar Honey memberatkan suaranya dengan hati-hati.
Tak ada respons, Honey makin mengernyit. Ia pun mencondongkan tubuh sedikit, mencoba memastikan apakah bosnya hanya berkonsentrasi atau sesungguhnya tengah tertidur. Begitu melihat dada Rei bergerak teratur, Honey baru sadar jika bosnya sedang tidur siang.
Honey—di balik samaran Axel—sempat terpaku. Wajah Rei yang biasanya dingin terlihat jauh lebih tenang dalam keadaan tidur. Ia cepat-cepat menggeleng cepat.
“Apa yang kamu lakukan? Kamu di sini untuk bekerja, bukan malah mengagumi laki-laki jahat ini?”
Honey menghardik pikirannya sendiri. Perlahan ia menyentuh bahu Rei. “Pak?”
Rei membuka mata. Ia menoleh dan tatapannya langsung bertemu dengan Honey, membuat udara seakan berhenti sesaat. Ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Keduanya saling memandang seakan mengenal satu sama lain.
Honey buru-buru menarik diri, berdiri tegak, dan mendehem. “Makan siang sudah tersedia, Pak.”
Rei berdiam sejenak, lalu bangkit dan berjalan ke meja makan kecil. “Hm. Terima kasih,” ucapnya singkat. Honey sejenak terperangah meski kemudian mengulum senyuman karena respons manis itu.
Honey lalu mengekori Rei yang duduk di kursi hendak mulai makan siang. Ia ikut menuangkan air minum. Karena gugup, Honey menuangkannya terlalu penuh sehingga sedikit tumpah di meja. “Ah, maaf, Pak!” ucapnya panik sambil mengelap cepat dengan serbet.
Rei mendengus kesal. “Kamu tahu berapa harga meja ini?”
Honey menelan ludah lalu menggeleng.
“Dua puluh delapan ribu dolar,” jawab Rei datar lalu mengambil gelas dan meneguk setengah isinya.
Honey terperangah lalu dengan cepat kembali mengelap meja mahal itu lagi. Rei tampak membuang muka ke samping dan Honey menangkapnya sebagai sebuah kekesalan.
Rei lantas mengalihkan pandangan ke piring yang ditata rapi. Menu favoritnya memang ada di sana. Entah kebetulan atau insting kali ini asistennya berhasil melakukan tugasnya.
“Hhm, lumayan,” gumam Rei sebelum mulai makan. “Kamu bisa istirahat. Kembalilah setelah jam makan siang. Jangan terlambat.”
Honey mengangguk. “Terima kasih, Pak. Selamat makan.” Ia berbalik meninggalkan ruangan dengan langkah hati-hati.
Rei berhenti mengunyah. Kata-kata terakhir itu, nada suaranya lembut. Terlalu lembut untuk seorang pria. Alisnya berkerut, namun ia memilih mengabaikannya.
Honey keluar dengan napas panjang dan lega. Kali ini ia sudah bisa tersenyum melepaskan ketegangan. Honey terus berjalan ke ruang teknisi di lantai lain, tempat satu-satunya orang yang ia kenali yaitu teman barunya, Scott Durwin.
Scott sedang memeriksa kabel dan peralatan audio saat Honey mengetuk pintu kaca. “Hai, boleh aku masuk?”
“Oh, Axel. Masuk saja.” Scott tersenyum ramah.
“Aku belum kenal siapa pun selain kamu di sini. Mau makan siang denganku? Aku juga belum tahu tempat makan di sekitar kantor.” Honey masih tersenyum manis meminta bantuan pada Scott.
Scott mengangguk. “Tentu saja. Tunggu sebentar ya. Aku hampir selesai.”
Sepuluh menit kemudian, mereka berjalan keluar bersama menuju sebuah food truck di sudut jalan. Honey memilih burrito dan duduk bersama Scott di kursi besi sederhana.
“Bagaimana hari pertamamu?” tanya Scott sambil menggigit makanannya.
Honey meringis lalu menggeleng. “Berat. Aku tidak tahu ternyata pekerjaanku adalah menjadi asisten The Midas.”
Scott terkekeh sedikit menggeleng. “Aku ikut sedih, Axel. Kuberitahu ya, tak ada yang bertahan lama dengannya. Asistennya sebelumnya juga berhenti.”
“Aku tidak heran,” sahut Honey sambil menyeruput minumannya. “Bayangkan, dia menyuruhku menebak menu makan siang, seolah aku adalah cenayang.”
Scott membalas dengan tertawa kecil. “Percayalah, itu baru permulaan. Banyak hal tentang dia yang … aneh.”
“Aneh bagaimana?” Honey makin mendekat penasaran.
“Contohnya, dia pernah menyuruhku membersihkan studio padahal sudah ada petugas cleaning service. Katanya ada barang penting yang jatuh. Ternyata cuma sebuah anting.”
“Anting?” Honey mengulang dengan kernyit kebingungan di dahinya.
Scott mengangguk lebih serius. “Ada banyak gosip di Skylar. Sebagian mungkin dilebih-lebihkan, tapi yang jelas … The Midas Rei adalah orang yang kejam. Jadi berhati-hatilah.”
Honey menelan burrito-nya pelan. Ia belum berani bertanya lebih jauh, tapi kata-kata Scott cukup membuat dadanya terasa berat.
"Josh, apa aku boleh meminta bantuanmu jika kamu tidak keberatan?""Tentu saja. kamu boleh meminta apa saja padaku!" sahut Josh menjawab dengan cepat. Bahkan tak ada keraguan sama sekali pada kalimatnya. Jewel menarik napasnya lebih panjang dan mulai bicara."Bisakah kamu mengantarkan aku ke rumah Charlotte? Aku dengar dia sudah bebas dan aku ingin bicara dengannya," pinta Jewel langsung mengungkapkan maksudnya."Apa! Kamu bilang Charlotte sudah bebas?!" pekik Josh dengan nada lebih tinggi."Aku kira kamu sudah tahu ..." gumam Jewel separuh tak sadar."A-Aku benar-benar tidak tahu ..." Jewel terdiam sejenak dan menarik napasnya."Tapi, aku rasa itu bukan ide yang bagus untuk bertemu dengannya. Dia sangat membencimu, Jewel!" jawab Josh menambahkan lagi. Jewel menggigit bibir bawahnya terdiam mendengarkan Josh bicara."Aku pernah bicara padanya saat ia masih di penjara NYPD. Dan dia dengan terang-terangan mengatakan jika membencimu. Jad
"Apa yang kamu lakukan, Rei? Kau gila ya?" hardik Andrew mendorong Rei yang malah terkekeh kecil dan mendengus mengejek sambil memperbaiki jaket hoodienya."Aku hanya bersenang-senang. Lagi pula harusnya orang seperti itu pukuli saja kepalanya!" tunjuk Rei ke arah pintu kamar perawatan Dalton."Aku pun ingin melakukannya, tapi semua ada caranya! Kamu tidak bisa datang dan membuat keributan seperti ini!" hardik Andrew lagi. Rei menghela napasnya dan mengangguk."Aku sedang melindungimu di sini! Jadi bantu aku dengan tidak menambah masalah, mengerti?" sambung Andrew masih menghardik Rei. Rei mengangguk paham dan akhirnya meminta maaf."Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menambah masalahmu. Aku hanya kesal dia malah mau menuntut NYPD!" Andrew mendengus pelan."Aku tahu. Aku pun kesal. Tapi biar itu jadi urusanku! Sekarang katakan apa maumu?""Aku ingin bicara dengan Christina!" Andrew sontak mengernyit mendengar Rei bicara hal tersebut. Ia sempat
Dalton Curt tak berhenti membuat tindakan yang makin menjerumuskannya. Kali ini, ia menuntut pihak kepolisian karena sudah melakukan kekerasan dan pelanggaran terhadap penangkapannya. Dalton yang masih ditahan di rumah sakit karena dirawat akibat luka yang ia peroleh di rahangnya kini sadar dan menuntut polisi yang sudah menangkapnya. Sehingga terjadi keributan di ruang rawatnya."Ada apa ini?" tegur Andrew Miller dengan nada agak sedikit besar. Beberapa polisi berseragam yang tengah mengamankan sekaligus menenangkan Dalton pun sedikit menyingkir."Maaf, Pak. Tuan Curt tidak bersedia di borgol dan dibawa. Pengacaranya mengatakan bahwa sampai polisi ditindak mereka tak bersedia untuk diproses!" lapor salah satu petugas pada Andrew. Andrew mendengus kesal dan mengernyitkan keningnya. Ia menoleh pada pengacara Dalton yang sedang berdiri di depan Dalton untuk memagari kliennya. Andrew kemudian mendekat sambil berkacak pinggang."Apa yang kau lakukan, pengacara?" teg
Persiapan pernikahan Grey Hunter dan Lenora Smith telah memasuki akhir. Gedung dan tempat diadakannya resepsi nantinya telah dipersiapkan. Oleh karena beberapa aset keluarga Belgenza belum sepenuhnya dipulihkan karena telah dijual oleh pihak yang tidak berkepentingan seperti menara Il Rosso. Menara itu adalah bangunan saksi bisu pernikahan James Belgenza dan istrinya Delilah Belgenza. Grey tengah mengalihkan lagi ke pemilikannya atas milik Cass Belgenza sebagai warisan miliknya.Karena keadaan itu, Grey tak bisa mengadakan pernikahannya di menara yang sama, meskipun ia ingin melakukannya. Namun Bryan Alexander meminta dengan khusus agar pernikahan Grey dan Lenora dilakukan di menara The Heist. Dan Grey telah menyetujuinya.Hari ini, Grey mengunjungi tempat akan diadakannya pesta pernikahannya. Ia ingin mengecek kesiapan tempat dan persiapan pesta yang sedianya akan dilakukan dalam beberapa hari ke depan. Grey harus melakukan pernikahannya dalam beberapa hari karena dua
“Aku menghubungimu untuk mengatakan jika jaminan Charlotte Harper sudah disetujui oleh Jaksa dan dia baru saja keluar penjara. Charlotte dikenakan tahanan rumah dan dia tidak boleh keluar rumah sama sekali,” sambung Andrew menjelaskan pada Rei tentang yang terjadi pada Charlotte.Rei masih diam mendengarkan sembari berpikir. Wajahnya tampak serius memikirkan hal tersebut.“Apa menurutmu dia akan melarikan diri?” tanya Rei masih dengan nada cemas.“Tidak menutup kemungkinan meskipun aku ragu dia akan melakukannya. Jika terjadi kedua orang tuanya juga bisa ditangkap atas tuduhan menyembunyikan tersangka,” jawab Andrew mulai menjelaskan dengan lebih serius.“Jangan lupa dia orang yang nekat melakukan apa saja!” jelas Rei mengingatkan pada Andrew. Rei sedikit melirik pada Jewel tapi ia terlihat masih cuek dan tak peduli padanya.“Aku tahu. Itu mengapa aku menempatkan satu mobil patroli di depan ruma
Dengan ditangkapnya Christina, maka pengacara Charlotte Harper mencoba peruntungan sekali lagi dengan mengajukan jaminan pembebasan bersyarat untuk Charlotte.Alasan yang dipakai adalah Charlotte tak terlibat dalam skenario percobaan pembunuhan terhadap The Midas Rei. Menurut bukti yang diperoleh oleh pihak polisi, hanya Christina yang terbukti memasukkan racun tersebut ke dalam minuman.Namun Charlotte masih bisa disangkakan dengan tuduhan konspirasi karena dianggap sebagai pengalih perhatian saat Christina masuk ke dalam ruangan The Midas Rei untuk mencampurkan racun tersebut ke dalam minuman. Setidaknya sebelum segala tuduhan itu dilontarkan, ia punya kesempatan untuk bebas lebih awal.Jaminan Charlotte pun diterima dan dia tetap akan menjalani proses pengadilan atas kasusnya yang terlibat pada konspirasi rencana pembunuhan The Midas Rei.Saat Charlotte keluar, ia dijemput oleh kedua orang tuanya. Charlotte tampak pucat dan lusuh. Ia menangis hampir kehilangan suaranya di pundak ib
Honey berdiri tegak di depan meja kerja Rei, nyaris sepuluh menit tanpa bergerak. Keringat dingin merayap di pelipisnya meski pendingin ruangan cukup dingin. Ia merasa seperti siswa yang dihukum guru karena kesalahan kecil, hanya saja di depannya ini adalah seorang produser musik dengan reputasi pa
Setelah rapi dan beres, Honey tersenyum dan kembali ke ruang HRD. Ternyata manajer yang dimaksud sudah datang. Honey pun melaporkan diri sebagai Axel Clarkson.“Tunggu dulu Anda bilang aku akan menjadi asisten?” pekik Honey kaget.“Benar, kamu akan bertugas sebagai asisten pribadi The Midas. Ayo ik
Honey duduk termenung di depan banner besar audisi. Kepalanya masih berdenyut, tubuhnya lemah. Semua terasa hancur. Audisi yang ia perjuangkan jauh-jauh dari Pennsylvania lenyap begitu saja.“HONEY!” suara lantang memecah lamunannya.Honey mendongak. Angelica, sahabatnya yang ikut datang ke Boston
“Maksudmu dia pernah ... membunuh?” Honey menebak sembari berbisik. Ia takut suaranya terdengar.Scott semakin mendesah pelan dan serius. “Tidak hanya itu. Aku dengar dia juga menyukai pria.”Honey terperangah tak percaya. “Apa itu mungkin?” tanya Honey masih dengan mulut separuh terbuka karena ter







