LOGINHoney berdiri tegak di depan meja kerja Rei, nyaris sepuluh menit tanpa bergerak. Keringat dingin merayap di pelipisnya meski pendingin ruangan cukup dingin. Ia merasa seperti siswa yang dihukum guru karena kesalahan kecil, hanya saja di depannya ini adalah seorang produser musik dengan reputasi paling tinggi saat ini.
“Pak, bolehkah aku duduk sebentar? Kakiku mulai pegal.” Honey yang sedang menyamar sebagai Axel akhirnya memberanikan diri membuka suara.
Rei mendongak dari balik kacamata tipisnya. Tatapannya tajam dan menusuk. “Belum apa-apa sudah minta duduk? Asisten yang baik tidak mengeluh sebelum bekerja.” Nada suaranya datar, namun cukup membuat Honey kembali menunduk.
Ia menggigit bibir, berusaha tetap diam. Perannya harus meyakinkan sebagai Axel Clarkson. Meski sesungguhnya, Honey sedang berpikir apa yang harus ia lakukan untuk memenuhi perannya sebagai asisten. Tidak ada instruksi yang jelas.
Beberapa menit kembali berlalu. Rei masih fokus pada tumpukan kertas-kertas dan beberapa dokumen, sementara Honey berdiri kaku menahan pegal di betisnya. Sesekali ia ingin menggeser posisi, tapi sorot mata Rei seperti laser dengan cepat menangkapnya. Honey nyaris tak berani bernapas lebih keras.
Saat masih menahan pegal di betis, perutnya tiba-tiba kram. Honey refleks menekan sisi perutnya. “Aduh …” gumamnya mengaduh pelan, nyaris tak terdengar.
“Jangan bergerak tanpa izin,” tegur Rei lebih dingin. Honey sampai tertegun meski masih menahan rasa tak nyaman. Padahal mata pria itu tidak sedang tertuju padanya, tapi ia bisa mengetahui pergerakan Honey.
“Aku hanya merasa agak kurang enak badan,” jawab Honey buru-buru, nadanya hampir berubah lebih lembut dari seharusnya. Rei sontak menaikkan pandangan sempat menatapnya dengan kening mengernyit, seakan mencurigai sesuatu.
Honey menyadari perubahan suaranya langsung mengatupkan bibir rapat-rapat.
“Harusnya aku tidak bicara seperti tadi. Ah, bagaimana jika ketahuan?” gerutu Honey dalam hati.
Setelah beberapa detik, Rei kembali pada kertas-kertasnya.
“Ambilkan minumanku,” perintahnya tiba-tiba.
Honey terpaku. Matanya melirik kiri dan kanan. Ia tak menemukan dispenser atau botol di meja. Dengan ragu ia berjalan ke sudut ruangan, membuka sebuah laci, lalu menoleh kebingungan. “Minuman … maksudmu, aku harus mengambil di pantri?”
“Minumanku tidak ada di pantri. Ambil di kulkas.”
Kening Honey makin mengernyit. Ia melihat sekitar dan tidak ada satu pun lemari pendingin yang dimaksudkan. “Maaf, Pak. Aku tidak menemukan apa-apa.”
Rei mendengus kesal lalu separuh membanting pena dengan gerakan singkat. Ia berdiri, berjalan ke dinding di samping Honey, lalu menekan panel kayu. Sebuah pintu tersembunyi terbuka, memperlihatkan lemari pendingin yang terintegrasi rapi dengan tembok.
Honey terperangah lalu menelan ludah. “Astaga … ada lemari pendingin di balik dinding itu?”
Tak sadar, Honey separuh memekik seperti sedang mengagumi sebuah keajaiban.
Rei mencebik kecil lalu mengambil satu botol mineral dengan sikap angkuh dan meneguknya sebelum kembali ke kursi. “Jika tidak tahu, tanyakan. Jangan buang waktuku dengan berputar-putar.”
Honey meremas jemarinya sendiri. Antara kagum, kesal, sekaligus frustasi. Bosnya benar-benar tipe pria yang bisa membuat orang ingin lari sekaligus ingin melawan. Pada akhirnya, kedongkolan itu hanya bisa ditelan Honey dalam-dalam.
“Dengar baik-baik,” ucap Rei sambil menutup dokumennya. “Aku hanya akan mempekerjakanmu selama dua minggu. Setelah manajer Mills mendapatkan kandidat baru, kamu bisa pergi.”
Honey mengangguk cepat, tapi langsung menyesal ketika Rei mengangkat alisnya.
“Jawab dengan suara, bukan gerakan.”
“Baik, Pak,” sahut Honey dengan tegas, meski suaranya sedikit serak.
Rei menghela napas, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Sekarang siapkan makan siangku. Aku tidak punya waktu keluar kantor hari ini.”
Honey memandanginya dengan mata membulat. “Makan siang? Tapi aku baru datang ke New York, aku bahkan tidak tahu harus pesan di mana ....”
Rei menarik sebuah buku kecil dari laci meja. Isinya penuh dengan kartu nama restoran. Ia meletakkannya di meja dengan bunyi hentak yang cukup keras. “Gunakan ini. Asistenku sebelumnya langsung tahu apa yang kusukai. Tugasmu adalah mencari tahu menu yang tepat. Waktumu satu jam.”
Honey terperangah dengan tangan yang meraih buku itu dengan hati-hati. Ia membuka lembar demi lembar lalu kembali pada Rei. “Kalau aku salah menebak, bagaimana?” tanyanya tanpa sadar.
Rei menatapnya lama, dingin. “Kamu akan menerima konsekuensi yang tidak menyenangkan. Tidak boleh duduk hanyalah awal saja.”
Honey kembali membesarkan matanya dan menelan ludah. Benaknya langsung melenguh lelah dan frustrasi. “Oh Tuhan, baru hari pertama dan ini sudah terasa seperti survival game.”
“Apa lagi yang kamu tunggu? Kamu sudah menghabiskan dua menit berdiri bengong seperti itu.” Rei kembali menegur.
Honey melepaskan napas berat. Namun ia tak punya pilihan. Ia membutuhkan program magang itu untuk menyelesaikan kuliahnya.
“Baik, Pak,” jawab Honey akhirnya, kali ini dengan nada lebih mantap.
Rei kembali pada pekerjaannya, seolah percakapan barusan hanyalah interupsi kecil. Honey pun berbalik, membawa buku itu sambil menghela napas panjang.
Ia menatap daftar restoran dengan bahu jatuh karena pasrah. Bukan hanya karena terlalu banyak pilihan, tapi juga karena kepalanya dipenuhi satu hal yang terus ia pikirkan. Bagaimana caranya bertahan lebih dari dua minggu di bawah atasan bernama Rei Harristian ini?
Rei langsung pergi tanpa pamit pada Jake meninggalkan ruang pertemuan itu. Sementara Jewel yang melihat Rei keluar lantas mengikutinya. Awalnya Rei tidak menyadari jika Jewel mengikutinya sampai masuk ke dalam ruangannya. Rei lantas berhenti saat meletakkan beberapa dokumen sebelum ia berbalik dan cukup kaget melihat Jewel melihat ke sekeliling ruangannya.Pandangan Rei dan Jewel akhirnya beradu. Jarak di antara mereka cukup lebar. Nyaris dua meter terpisah. Tak ada yang berani memulai lebih dahulu untuk maju atau bicara. Jewel pun memilin jemarinya dan Rei mengeraskan rahangnya menatap Jewel dan sikapnya yang menggemaskan.“Aku ...”“Ada keperluan apa?” potong ketus Rei akhirnya berani bicara. Jewel spontan menggigit bibir bawahnya dan Rei yang tak tahan memilih memalingkan wajahnya ke arah lain.“Kenapa kamu bersikap seperti ini? Kenapa kamu ketus padaku?” lirih Jewel langsung membuat lumer hati Rei. Ia bersandar di u
Dalton Curt tak melepaskan Christina sama sekali. Ia memukul dan menyiksa mantan kekasihnya itu sampai babak belur dan kesakitan. Ia benar-benar kesal dan marah karena ulah Cristina yang membuatnya jadi tersangkut masalah hukum.“Bos, jika kamu memukulnya seperti itu, dia akan mati dan kamu akan masuk penjara!” ungkap salah satu preman Rusia yang dibayar Dalton untuk menculik Christina. Dalton sontak berbalik dan mendelik keras.“Diam kau!” hardik Dalton dan menghempaskan tubuh Christina di lantai. Ia terengah dan Christina sudah tak tahan lalu pingsan. Preman Rusia yang baru saja dihardik oleh Dalton lantas berjongkok di dekat Christina dan memeriksa nadinya.“Dia masih hidup!” lapor preman itu pada Dalton.“Tentu saja! orang seperti dia akan sangat sulit mati!” sahut Dalton mendengus kesal.“Gara-gara dia, aku harus berurusan dengan polisi!” tukas Dalton sambil menunjuk marah pada
Jewel membalikkan seluruh tubuhnya menghadap ke arah Rei yang pura-pura tak mengenalinya dan masuk ke dalam ruangannya begitu saja. Ruangan itu adalah ruangan yang sama tempat Jewel dulunya bekerja sebagai asisten Rei yang bernama Axel.Rasanya agak aneh saat Rei melewatinya begitu saja. Jewel bertanya pada dirinya sendiri apa kesalahannya.‘Apa ada yang salah denganku?’ bisik Jewel dalam hatinya. Matanya terus memandang ke arah pintu masuk ruangan Rei dan tak terjadi apa pun. Jewel pun kembali berbalik dan meneruskan kembali perjalanannya. Sedangkan Rei harus bersandar pada dinding pintu sebelum berbalik dan membuka untuk mengintip keluar.Jewel sudah tak ada lagi di sana dan Rei pun menutup pintunya. Ia mengatur napasnya yang tersengal karena emosi yang membuncah di dadanya. Rasanya begitu sulit saat harus melihat Jewel dan tak bisa berbuat apa pun.“Oh Tuhan, Oh Jewel ... aku sangat merindukanmu! Aku ingin memelukmu!” bisik Rei
Tak ada yang tersisa dari karier Charlotte saat ini. Ia dan Dalton akan dibawa ke pengadilan untuk membuktikan keterlibatannya pada percobaan pembunuhan terhadap The Midas Rei.Album milik Charlotte yang awalnya digadang-gadang akan menjadi album penyanyi terlaris di tahun ini ternyata meleset total. Yang terjadi adalah sebaliknya. Seorang penyanyi baru yang tak pernah dipublikasikan oleh Skylar sama sekali, kini melejit bagai bintang.Nama Jake Wienzel yang awalnya dianggap sebagai faktor penentu kesuksesan bintang baru Nabi kini berangsur berubah. Saat publik melihat langsung seperti apa penampilan Nabi secara langsung, banyak yang terpukau dengan suara merdunya.Tak ada yang menemani Charlotte sama sekali kecuali kedua orang tuanya yang masih berharap anaknya bisa bebas dari segala tuduhan. Namun banyak yang memberatkannya terutama karena Charlotte pernah terbukti melakukan pembulliyan di depan publik terhadap mantan asisten The Midas Rei.Terlebih Chr
Ketika album terbaru The Midas Rei diluncurkan, maka segudang jadwal promosi sudah menantinya. Sementara Jewel sudah menyelesaikan tampilan dandannya untuk kembali ke Skylar. Rambutnya telah kembali ke warnanya semula. Untuk sementara sampai menunggu rambutnya kembali memanjang, ia akan memakai rambut ekstensional.Selain itu, Jewel akan memakai topeng separuh wajah yaitu di bagian mata sebagai ciri khasnya. Ia juga sudah memiliki sopir dan pengawal pribadi yang akan mengantarkannya ke mana pun. Selama masa promosinya dengan Jake dan latihan bersamanya, Jewel akan tetap berada di New York.Sisa kuliahnya akan diselesaikan dari jarak jauh sembari menunggu waktu wisuda. Sementara Cass mulai akan diperkenalkan dengan dunia bisnis dan Superhart Tech yang akan ia pimpin nantinya.Rei mengetahui jika Jewel akan datang ke Skylar hari ini. Sama seperti penyanyi baru lainnya yang mulai bergabung, Rei akan memberikan sedikit pidato pencerahan sekaligus ucapan selama
Grey Hunter dan Lenora Smith berjalan bergandengan tangan bersama menelusuri jalan di Manhattan. Mereka tengah menghabiskan waktu bersama berjalan-jalan dengan Liam sekedar berlibur di akhir pekan. Liam sudah sangat akrab dengan Grey dan bahkan memanggilnya dengan sebutan Daddy.“Wah, ini bagus sekali!” gumam Liam kala melihat beberapa peralatan masak di sebuah supermarket besar. Liam memang berbeda. Ia tak seperti anak-anak seusianya yang gila bermain Xbox atau games, ia lebih suka berbelanja bahan makanan atau berburu peralatan masak.“Apa kamu suka?” tanya Grey tersenyum dan Liam langsung mengangguk menyengir.“Ambillah, masukkan ke dalam keranjangmu!” Liam langsung mengiyakan dengan semangat. Lenora sudah menggelengkan kepala dan menegur calon suaminya Grey yang mulai memanjakan anaknya.“Grey, jangan terus memanjakan Liam. Itu tidak baik!” tegur Lenora dengan lembut. Grey tersenyum dan menggenggam tanga







