Masuk“Maksudmu dia pernah ... membunuh?” Honey menebak sembari berbisik. Ia takut suaranya terdengar.
Scott semakin mendesah pelan dan serius. “Tidak hanya itu. Aku dengar dia juga menyukai pria.”
Honey terperangah tak percaya. “Apa itu mungkin?” tanya Honey masih dengan mulut separuh terbuka karena terkejut. Scott masih mengunyah burito miliknya dan mengangguk mengiyakan.
“Memangnya kamu tidak tahu gosipnya?”
Honey menggelengkan pelan pada Scott.
“Jika dia gay, lalu mengapa ia bisa malah tidur denganku?” gumam Honey dengan suara begitu kecil.
“Hhmm … apa katamu?” tanya Scott mencoba memastikan. Honey yang sadar langsung menyengir dan menggelengkan kepalanya dengan cepat.
“Tidak ada!”
Scott dan Honey yang masih berpakaian sebagai Axel kembali ke Skylar setelah waktu makan siang. Begitu kembali, mereka sama-sama naik ke lantai tempat mereka bekerja dan berpisah saat keluar lift.
Honey harus kembali ke ruangan mixing setidaknya untuk memastikan jika bosnya The Midas telah selesai makan siang. Akan lebih baik jika dia masih makan siang, jadi Honey tak terlihat terlambat. Setelah mengintip, Rei ternyata masih menelepon. Meski demikian, ia sempat menguping sedikit pembicaraan.
“Aku harus menemukan gadis itu. Tapi aku tidak yakin jika dia dari Boston.”
Kening Honey sedikit mengernyit dan ia malah menguping lebih banyak. Ia semakin mendekat dan sudah membuka pintu lebih lebar. Posisi Rei membelakangi pintu sehingga ia tidak melihat ada seseorang yang berusaha menguping pembicaraannya.
“Aku sudah bilang, rambutnya pirang dan ya ... dia punya wangi lavender yang khas. Hanya itu yang kuingat. Entahlah, tolong cari dia secepatnya!”
Jantung Honey berdegup kencang dan nyaris menarik pintu sedikit keras. “Siapa yang dia maksudkan? Tidak mungkin aku kan?” Honey menyebut pelan bertanya pada dirinya. Honey sampai memegang rambut pirangnya yang sudah berubah warna menjadi coklat lalu mencoba membaui dirinya sendiri.
Rasa gugup kembali melanda Honey. Entah siapa yang dimaksudkan oleh Rei tapi ia tidak ingin menebak jika pria itu sedang mencarinya. Rasanya tidak mungkin.
Honey pun memberanikan diri masuk ke ruangan itu dan Rei sudah selesai menelepon. Ia mendekati Rei hendak meminta ijin untuk membereskan piring makan siangnya. Rei masih sempat tertegun berpikir keras tentang telepon barusan.
“Apa sudah selesai, Pak? Aku ingin membereskan mejanya,” tegur Honey mengagetkan Rei. Rei mendengus kesal dan mengangguk. Ia bahkan hanya makan beberapa suap saja. Honey yang melihat makanan masih tinggal lalu menegur lagi.
“Kenapa makanannya tidak dihabiskan?”
Honey tampak kecewa. Ia sudah capek mencari menu dan bosnya itu malah tak makan. Rei malah makin bad mood dan balik menghardik Honey.
“Tugasmu adalah membereskan bukan mengomentari!” hardik Rei ketus.
Pandangan matanya tajam menusuk Honey yang sudah berani menegurnya. Honey yang kesal akhirnya menjulurkan tangan untuk mengambil piring yang posisinya agak ke depan dan itu membuatnya jadi makin dekat dengan Rei yang masih duduk.
Saat masih mengomel dalam hati, Honey kehilangan konsentrasi yang membuatnya kehilangan keseimbangan. Ia malah jatuh ke pangkuan Rei karena sebelah tangannya tengah mempertahankan piring tak jatuh ke tubuh bosnya. Wajah mereka kembali berdekatan satu sama lain.
“Uh, maaf Pak!” ucap Honey buru-buru menarik dirinya dan kembali berdiri tegak. Rei yang masih tertegun pun ikut gugup dan salah tingkah. Buru-buru Rei berdiri. Ia masih memandangi Honey dengan canggung.
Daripada marah, Rei memilih berpaling dan pergi begitu saja tanpa bicara apa pun sama sekali. Di luar, Rei sempat memegang dadanya sembari berpikir. Ia yakin pernah melihat mata itu di suatu tempat.
“Di mana aku pernah mengenalnya?” Rei bergumam seraya memegang dagunya dan berpikir. Ia sempat menoleh ke belakang sekali sebelum kembali ke ruang kerjanya.
Sedangkan Honey yang ditinggal keheranan, kini kebingungan. Ia kembali melihat ke meja yang penuh makanan. Apa ia harus membuang semua makanan di atas meja? hanya ada satu menu yang dimakan oleh Rei sedangkan sisanya masih utuh.
“Mereka tidak bersalah dan sudah dibeli. Apa aku simpan saja?” gumam Honey berpikir sendiri. Ia tak pernah membuang makanan. Sekalipun tidak hidup kekurangan, tapi Ayahnya selalu mengajarkan untuk menghargai setiap makanan yang tersedia di meja.
Dalam kebimbangan itu, Honey pun akhirnya memutuskan untuk menyimpan saja sisa makanan yang belum tersentuh dan membuang yang sudah dimakan oleh bosnya. Mungkin saja nanti Rei mau memakannya lagi, Honey hanya tinggal memanaskan.
Setelah selesai, Honey kembali masuk ke dalam ruang kerja The Midas. Ia adalah seorang asisten tapi belum ada pekerjaan administratif apa pun yang diberikan. Apa dia hanya akan jadi pelayan saja? karena sejauh ini, itulah yang terjadi.
Begitu masuk dan Honey langsung berdiri di depan meja bosnya. “Apa ada lagi yang harus aku kerjakan, Pak?” tanya Honey kemudian.
Rei tampak terkesiap tapi ia menutupi dengan baik. Jantungnya masih belum normal tapi ia tetap bersikap dingin.
“Uhm, apa kamu sudah baca rincian pekerjaanmu?” tanya Rei membuang pandangan ke arah lain. Ia tidak mau lama menatap asistennya yang memiliki warna mata biru laut yang menghanyutkan.
Honey mengangguk cepat. “Iya, tapi di sana tidak dijelaskan secara rinci. Intinya pekerjaan itu mengharuskan aku untuk mendampingi dan membantumu, Pak,” jawab Honey jujur apa adanya.
Rei mendengus kesal. Sekarang ia memperoleh asisten yang bahkan tak memiliki pengalaman apa pun dan harus belajar dari awal. Kepalanya sudah sakit dan sekarang ia harus memberitahukan secara rinci pekerjaan si asisten baru.
“Ya sudah, kemarilah. Aku butuh kamu untuk merapikan beberapa dokumen. Letakkan tasmu di sofa!” tunjuk Rei yang pasrah.
Honey akhirnya mendapatkan tugas pertama dari membersihkan ruangan dan memesan makan siang. Ia pun tersenyum saat mendekat. Tak lupa, Honey melepaskan tas dan meletakkannya di salah satu sofa di ruangan itu.
Saat menghampiri dan mendekat, Honey agak ragu tapi tetap menjalankannya.
“Kemari!” panggil Rei sekali lagi. Honey pun datang menghampiri dan berdiri di sebelahnya. Sambil duduk, Rei berputar lalu menarik dua laci besar dari lemari di belakangnya.
“Ini adalah kumpulan lirik lagu dan nada sampel dari beberapa penyanyi. Urutkan dan rapikan sesuai nama dan kode mereka. Yang tak diberi kode itu artinya aku belum sempat memeriksanya. Kamu bisa kan?”
Honey langsung mengangguk paham. Ia pun berlutut tak jauh dari posisi Rei yang kembali ke meja kerjanya.
“Duduk saja, nanti kamu kelelahan!”
Honey tersenyum dan menganggu. “Terima kasih, Pak!”
Rei kembali mengernyit saat mendengar suara lembut asistennya. Ia lantas menoleh dan menatapnya yang duduk di bawah kakinya.
“Siapa namamu tadi?”
Honey lalu menaikkan pandangannya sedikit tersenyum. “Axel. Namaku Axel Clarkson!”
"Josh, apa aku boleh meminta bantuanmu jika kamu tidak keberatan?""Tentu saja. kamu boleh meminta apa saja padaku!" sahut Josh menjawab dengan cepat. Bahkan tak ada keraguan sama sekali pada kalimatnya. Jewel menarik napasnya lebih panjang dan mulai bicara."Bisakah kamu mengantarkan aku ke rumah Charlotte? Aku dengar dia sudah bebas dan aku ingin bicara dengannya," pinta Jewel langsung mengungkapkan maksudnya."Apa! Kamu bilang Charlotte sudah bebas?!" pekik Josh dengan nada lebih tinggi."Aku kira kamu sudah tahu ..." gumam Jewel separuh tak sadar."A-Aku benar-benar tidak tahu ..." Jewel terdiam sejenak dan menarik napasnya."Tapi, aku rasa itu bukan ide yang bagus untuk bertemu dengannya. Dia sangat membencimu, Jewel!" jawab Josh menambahkan lagi. Jewel menggigit bibir bawahnya terdiam mendengarkan Josh bicara."Aku pernah bicara padanya saat ia masih di penjara NYPD. Dan dia dengan terang-terangan mengatakan jika membencimu. Jad
"Apa yang kamu lakukan, Rei? Kau gila ya?" hardik Andrew mendorong Rei yang malah terkekeh kecil dan mendengus mengejek sambil memperbaiki jaket hoodienya."Aku hanya bersenang-senang. Lagi pula harusnya orang seperti itu pukuli saja kepalanya!" tunjuk Rei ke arah pintu kamar perawatan Dalton."Aku pun ingin melakukannya, tapi semua ada caranya! Kamu tidak bisa datang dan membuat keributan seperti ini!" hardik Andrew lagi. Rei menghela napasnya dan mengangguk."Aku sedang melindungimu di sini! Jadi bantu aku dengan tidak menambah masalah, mengerti?" sambung Andrew masih menghardik Rei. Rei mengangguk paham dan akhirnya meminta maaf."Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menambah masalahmu. Aku hanya kesal dia malah mau menuntut NYPD!" Andrew mendengus pelan."Aku tahu. Aku pun kesal. Tapi biar itu jadi urusanku! Sekarang katakan apa maumu?""Aku ingin bicara dengan Christina!" Andrew sontak mengernyit mendengar Rei bicara hal tersebut. Ia sempat
Dalton Curt tak berhenti membuat tindakan yang makin menjerumuskannya. Kali ini, ia menuntut pihak kepolisian karena sudah melakukan kekerasan dan pelanggaran terhadap penangkapannya. Dalton yang masih ditahan di rumah sakit karena dirawat akibat luka yang ia peroleh di rahangnya kini sadar dan menuntut polisi yang sudah menangkapnya. Sehingga terjadi keributan di ruang rawatnya."Ada apa ini?" tegur Andrew Miller dengan nada agak sedikit besar. Beberapa polisi berseragam yang tengah mengamankan sekaligus menenangkan Dalton pun sedikit menyingkir."Maaf, Pak. Tuan Curt tidak bersedia di borgol dan dibawa. Pengacaranya mengatakan bahwa sampai polisi ditindak mereka tak bersedia untuk diproses!" lapor salah satu petugas pada Andrew. Andrew mendengus kesal dan mengernyitkan keningnya. Ia menoleh pada pengacara Dalton yang sedang berdiri di depan Dalton untuk memagari kliennya. Andrew kemudian mendekat sambil berkacak pinggang."Apa yang kau lakukan, pengacara?" teg
Persiapan pernikahan Grey Hunter dan Lenora Smith telah memasuki akhir. Gedung dan tempat diadakannya resepsi nantinya telah dipersiapkan. Oleh karena beberapa aset keluarga Belgenza belum sepenuhnya dipulihkan karena telah dijual oleh pihak yang tidak berkepentingan seperti menara Il Rosso. Menara itu adalah bangunan saksi bisu pernikahan James Belgenza dan istrinya Delilah Belgenza. Grey tengah mengalihkan lagi ke pemilikannya atas milik Cass Belgenza sebagai warisan miliknya.Karena keadaan itu, Grey tak bisa mengadakan pernikahannya di menara yang sama, meskipun ia ingin melakukannya. Namun Bryan Alexander meminta dengan khusus agar pernikahan Grey dan Lenora dilakukan di menara The Heist. Dan Grey telah menyetujuinya.Hari ini, Grey mengunjungi tempat akan diadakannya pesta pernikahannya. Ia ingin mengecek kesiapan tempat dan persiapan pesta yang sedianya akan dilakukan dalam beberapa hari ke depan. Grey harus melakukan pernikahannya dalam beberapa hari karena dua
“Aku menghubungimu untuk mengatakan jika jaminan Charlotte Harper sudah disetujui oleh Jaksa dan dia baru saja keluar penjara. Charlotte dikenakan tahanan rumah dan dia tidak boleh keluar rumah sama sekali,” sambung Andrew menjelaskan pada Rei tentang yang terjadi pada Charlotte.Rei masih diam mendengarkan sembari berpikir. Wajahnya tampak serius memikirkan hal tersebut.“Apa menurutmu dia akan melarikan diri?” tanya Rei masih dengan nada cemas.“Tidak menutup kemungkinan meskipun aku ragu dia akan melakukannya. Jika terjadi kedua orang tuanya juga bisa ditangkap atas tuduhan menyembunyikan tersangka,” jawab Andrew mulai menjelaskan dengan lebih serius.“Jangan lupa dia orang yang nekat melakukan apa saja!” jelas Rei mengingatkan pada Andrew. Rei sedikit melirik pada Jewel tapi ia terlihat masih cuek dan tak peduli padanya.“Aku tahu. Itu mengapa aku menempatkan satu mobil patroli di depan ruma
Dengan ditangkapnya Christina, maka pengacara Charlotte Harper mencoba peruntungan sekali lagi dengan mengajukan jaminan pembebasan bersyarat untuk Charlotte.Alasan yang dipakai adalah Charlotte tak terlibat dalam skenario percobaan pembunuhan terhadap The Midas Rei. Menurut bukti yang diperoleh oleh pihak polisi, hanya Christina yang terbukti memasukkan racun tersebut ke dalam minuman.Namun Charlotte masih bisa disangkakan dengan tuduhan konspirasi karena dianggap sebagai pengalih perhatian saat Christina masuk ke dalam ruangan The Midas Rei untuk mencampurkan racun tersebut ke dalam minuman. Setidaknya sebelum segala tuduhan itu dilontarkan, ia punya kesempatan untuk bebas lebih awal.Jaminan Charlotte pun diterima dan dia tetap akan menjalani proses pengadilan atas kasusnya yang terlibat pada konspirasi rencana pembunuhan The Midas Rei.Saat Charlotte keluar, ia dijemput oleh kedua orang tuanya. Charlotte tampak pucat dan lusuh. Ia menangis hampir kehilangan suaranya di pundak ib







