เข้าสู่ระบบNapas Rosa kian memburu, menciptakan harmoni yang ganjil di antara dinding-dinding studio yang sunyi.
Wanita itu sengaja memundurkan pinggulnya, menyandar manja pada tepi meja kayu tempat Wira biasa menaruh peralatan tatonya. Dengan gaun kaos ketat yang masih tersingkap hingga batas pinggang, ia membiarkan sepasang mata tajam Wira merekam lekuk tubuh bagian bawahnya yang hanya berbalut seutas tali G-string merah menyala. "Mas Wira... lihat aku," bisik Rosa, suaranya mendayu, sengaja memecah keheningan pagi. "Kamu mau mendiamkan aku sampai kapan? Kita sudah sering ketemu, tapi kamu selalu pura-pura jadi patung di depanku." Wira bergeming di tempatnya berdiri. Kedua tangannya mengepal kuat di sisi paha, mencoba menahan dorongan primitif yang mulai bergejolak di dalam dadanya. Namun, wangi parfum melati yang menguar dari tubuh Rosa seolah mengunci pergerakannya. Melihat Wira yang hanya diam dengan rahang mengeras, Rosa justru semakin percaya diri. wanita itu menunjukkan seulas senyum tipis yang penuh kemenangan. Satu tangan lentiknya naik, meraba lembut pundaknya sendiri, lalu turun perlahan menelusuri belahan dadanya yang menyembul di balik potongan rendah gaun spandeknya. Sementara itu, tangannya yang lain mulai bermain dengan berani, menelusup masuk ke balik seutas kain tipis merah di bagian bawahnya. "Ayo Mas... aku mau tangan kasarmu itu menyentuhku di sini," ucap Rosa di sela desahan tertahannya. Sepasang matanya sayu menatap Wira, menggigit bibir bawahnya dengan begitu sensual. "Rosa, turunkan rokmu. Dan pulang lah," ujar Wira, suaranya terdengar lebih berat dan dalam dari biasanya. Ada getaran menahan diri yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapat. "Nggak mau," sahut Rosa manja. Kini ia justru sengaja menggeser jemarinya lebih lambat, menikmati setiap detik ketegangan yang tercipta. "Kenapa sih kamu selalu nolak aku, Mas? Kurang apa coba aku ini? Di luar sana, laki-laki harus bayar mahal dan antre panjang cuma buat dapat senyuman aku. Tapi buat kamu... semuanya gratis, Mas. Bahkan kalau kamu mau, aku juga bisa membayar mu. Asal..." Rosa menggantung kalimatnya, memberikan tatapan yang begitu mengundang dosa. "Asal kamu mau temani aku di sini. Sekali ini saja, Mas Wira. Aku tahu kamu kesepian. Aku bisa ngerasain napas kamu yang berubah sejak tadi." Pertahanan Wira yang sudah terkikis rasa lelah semalaman karena menjaga Senjana mulai goyah. Ocehan dan desahan Rosa yang konstan merayap masuk ke dalam kepalanya laksana racun yang melumpuhkan akal sehat. Darah panasnya berdesir hebat, merambat naik hingga ke ubun-ubun. Pandangan Wira menggelap, terpaku pada bagaimana kulit putih Rosa kontras dengan warna merah berani dari pakaian dalamnya. Satu langkah kaki Wira bergerak maju. Langkahnya yang berat terasa ditarik oleh daya pikat magis sang pelacur. Wira hampir saja menyerah pada dorongan primitif untuk menerkam tubuh di hadapannya dan menuntaskan gairah yang mulai membakar dadanya pagi itu. "Ayo, Mas... sentuh aku..." rintih Rosa lagi, kian gencar melemparkan rayuan saat melihat Wira mulai bergerak ke arahnya. Sreeet... Suara sentakan kain yang nyaring mendadak membelah atmosfer pekat di dalam studio. Tirai kusam pembatas kamar belakang tiba-tiba tersibak lebar. Senjana melangkah keluar dari sana dengan tubuh yang masih tampak lemas, tangannya berpegangan pada lipatan kain tirai untuk menjaga keseimbangan. Namun, langkah kakinya langsung terhenti di tempat. Wira tersentak, seketika membeku di posisinya bagai disiram air es. Di seberang meja, Rosa pun terperanjat. Tangannya terlambat untuk ditarik keluar dari balik gaun ketatnya yang masih tersingkap tinggi. Senjana tertegun sejenak. Sepasang matanya yang masih sayu membelalak, menatap lurus pada pemandangan abnormal di depannya. Wira dengan posisi tubuh condong maju, dan seorang wanita asing yang tengah meraba tubuhnya sendiri dalam kondisi setengah telanjang. Aroma gairah yang pekat di dalam ruangan itu mendadak menguap tanpa sisa, digantikan oleh kecanggungan yang mencekik dan mematikan. Kesadaran Senjana seolah ditarik paksa dari sisa-sisa syoknya. Wajah wanita itu yang semula pucat pasi seketika berubah memerah karena terkejut dan malu. Dengan segera, Senjana memalingkan wajahnya ke arah lain, menolak untuk melihat lebih jauh tindakan asusila yang terpampang di depan matanya. "Maaf..." ucap Senjana dengan suara bergetar dan sangat lirih. Tanpa menunggu jawaban atau penjelasan apa pun dari Wira, wanita itu dengan cepat memutar tubuhnya. Ia kembali menutup tirai pembatas dengan sentakan kasar, lalu berlari secepat yang ia bisa, mengabaikan rasa lemas di kakinya untuk bersembunyi di dalam kamar istirahat Wira lagi. Suara derap langkah kaki Senjana yang menjauh laksana hantaman gada besi yang memecahkan seluruh sihir gairah di kepala Wira. Kabut nafsu di matanya sirna seketika, meninggalkan rasa bersalah yang teramat besar dan kepanikan yang menjalar cepat ke seluruh urat sarafnya.Malam makin merambat pekat di dalam laboratorium bawah tanah, membawa serta hawa dingin yang merayap menembus celah-celah beton. Keheningan yang mencekam kembali bertakhta. Semua orang telah tertidur lelap akibat rasa lelah dan kesakitan yang melumpuhkan raga—Guntur meringkuk diam di sudut sel, Bagas bernapas lambat menahan derita dada bekas pembedahannya, dan Rosa tertidur lelah dengan sisa air mata yang mengering di pipinya. Kecuali Wira. Anak laki-laki berusia dua belas tahun itu masih bertelanjang dada, duduk gemetar menatap lantai sel semen dengan pandangan mengerikan. Di dalam kepala dan ingatan kecilnya, bayangan tumpukan mayat anak-anak lain—puluhan jasad tanpa nyawa yang diangkut kaku keluar dari ruang eksperimen—terus berkelebat tanpa henti. Gagal. Mati. Dibuang. Seakan-akan Abah masih belum berpuas diri dan tidak akan pernah berhenti mencoba menciptakan penyihir-penyihir berikutnya—penyihir sempurna yang tidak mengalami kegagalan organ tragis seperti raga Wira, ya
15 Tahun yang LaluAroma besi menyengat dan obat-obatan keras mengendap tebal di udara lembap laboratorium bawah tanah itu. Bau busuk kegagalan dan keputusasaan menyusup ke setiap sudut lorong berdinding beton kusam yang selalu diterangi pendar lampu pijar redup.Langkah kaki bersepatu kulit berat bergema memecah keheningan mencekam. Seorang lelaki paruh baya—sosok yang dipanggil dengan sebutan Abah—melangkah tenang. Jemari tangannya yang kasar akibat sering bersentuhan dengan bahan kimia mencengkeram kasar bahu seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun.Anak itu adalah Wira. Raganya menyeret kaku, matanya sayu dan tubuhnya yang kurus penuh luka.Abah menghentikan langkah tepat di depan sebuah sel berjeruji besi tebal khusus yang terpisah dari sel utama. Dengan senyum dingin yang mengembang di balik kumis tebalnya, lelaki itu mendorong raga kecil Wira hingga tersungkur ke lantai semen yang dingin.Brak!"Kau adalah mahakarya terindahku, Wira," desis Abah, matanya berkilat penuh o
Di dalam kamar, aroma parfum menyengat dari tubuh Rosa mendadak bertabrakan dengan bau antiseptik dan minyak kayu putih yang mengendap kaku di udara. Pemandangan di dalam ruangan itu begitu kacau. Pecahan cermin rias tua berhamburan mengilap di semen dingin, sebagian tercoreng noda darah segar yang menetes dari telapak kaki Senjana. Di sudut ruangan yang paling gelap, gadis itu meringkuk kaku memeluk tubuhnya. Ia membenamkan wajah di antara kedua lututnya rapat-rapat, seolah-olah raga di balik pakaian rapuh itu adalah monster yang tak boleh terlihat oleh siapa pun. Isak tangis Senjana terhenti sejenak ketika mendengar derap langkah sepatu hak tinggi menapak pelan mendekatinya. "Siapa kau..." suara Senjana meluncur sangat parau, tercekat oleh tenggorokan yang kering dan keputusasaan yang meluap. "Pergi... Aku tidak ingin bertemu siapa pun." Rosa berhenti sekitar tiga langkah dari tempat Senjana meringkuk. Ia menatap ke sekeliling ruangan dulu—melihat jarum infus yang terlepas
Suara pintu kayu tua yang tertutup merapat itu bergema kaku di lorong tengah rumah Guntur. Wira melangkah tertatih, seolah-olah seluruh tulang dan sendinya mendadak dilucuti dari raganya. Tubuhnya yang mampu menahan tembakan peluru tajam dan membalikkan bangkai truk berbobot belasan ton kini terasa begitu ringkih dan tak berdaya. Dengan napas yang berburu berat dan tenggorokan yang tercekat rasa sesak, Wira menjatuhkan tubuhnya, terduduk pasrah meluncur di sisi dinding luar kamar Senjana. Pria bertato itu menundukkan kepala dalam-dalam saat isak tangis Senjana yang terendam dari balik dinding papan terus meremas dadanya tanpa ampun. "Apa yang harus kulakukan...?" suara Wira meluncur lirih dan gemetar, bergetar hebat menembus keheningan lorong. "Aku hanya ingin menyelamatkannya... Aku hanya ingin membantunya..." Guntur yang berdiri tak jauh dari sana menghembuskan napas panjang. Pria berjaket kulit itu berjalan pelan mendekat, lalu menjatuhkan badannya berlutut di sebelah Wira.
Cahaya remang yang menerobos sela-sela jendela kayu tua itu terasa begitu menusuk di mata Senjana. Manik matanya yang sayu bergerak lambat, menyapu langit-langit papan yang lapuk, aroma antiseptik yang menyengat, hingga selang bening yang menancap di punggung tangan kirinya. Lingkungan yang sama sekali tak ada di dalam ingatan terakhirnya. Di samping ranjang, Wira berdiri terpaku dengan dada berombak tajam. Harapan yang membumbung tinggi saat melihat kelopak mata itu terbuka kini bercampur dengan getaran cemas yang luar biasa. "Senjana..." bisik Wira sangat pelan. Tangannya terulur lambat, mencoba menggapai jemari dingin yang terlentang di atas selimut kusam. "Kamu... kamu sudah sadar?" Namun, belum sempat ujung jemari Wira menyentuh kulitnya, Senjana menarik tangannya secara refleks. Gerakan itu kasar dan ketus, membuat selang infus bergoyang hebat. Senjana perlahan menggerakkan lehernya yang kaku. Kulit leher sebelah kirinya terasa tertarik, kencang, dan menyengat perih saat
Sambungan telepon di genggaman Wira mendadak hening sejenak, hanya menyisakan hembusan napas berat Bagas yang teratur di balik pengeras suara ponsel. Pria berjas kaku yang menjadi tangan kanan sang Gubernur baru itu jelas mengerti seluk-beluk permainan kekuasaan di kota ini jauh lebih baik daripada siapa pun. "Dengar, Wira," potong Bagas sebelum Wira sempat memutus sambungan. Suaranya meluncur makin dalam, sarat akan penekanan yang tak bisa dibantah. "Haryo tidak hanya menyisir kota untuk menemukan Senjana. Dia juga sedang mengerahkan intelijen dan orang-orang kepercayaannya untuk memburu keberadaanmu!" Wira memicingkan matanya. Manik mata cokelat keemasannya memancarkan pendar dingin saat mendengar hal itu. "Mencariku?" "Marco memang sudah mati, tapi Haryo tidak tahu siapa yang menghabisinya," lanjut Bagas cepat. "Haryo curiga ada sosok yang memiliki kekuatan tak wajar di balik runtuhnya Black Serpent. Dan mungkin orang itu berkaitan dengan tato magismu, Sekarang dia juga mulai







