เข้าสู่ระบบPemandangan erotis di depan matanya sempat membuat Wira terpaku selama beberapa detik.
Sebagai pria dewasa dengan naluri normal, desiran darah panas itu sempat mengetuk pintu akal sehatnya. Lembaran kain merah tipis yang tenggelam di balik kulit putih bersih milik Rosa adalah jenis racun dunia yang biasa melumpuhkan iman para lelaki. Namun, kilasan memori tentang wanita yang tengah pingsan di kamar belakang, serta beban utang yang esok hari bisa merenggut nyawanya, mendadak menjadi air es yang menyiram habis letupan gairah tersebut. Wira mengalihkan pandangan. Dengan rahang yang mengeras, ia berbalik membelakangi Rosa, berpura-pura sibuk merapikan kembali jajaran jarum tato steril di atas meja stainless steel. "Turunkan rokmu, Rosa," ujar Wira, suaranya terdengar datar dan dingin, mengabaikan debar abnormal di dadanya. Rosa tidak menyerah begitu saja. Penolakan halus dari Wira justru menjadi bensin yang membakar ego dan nafsunya. Alih-alih merapikan pakaiannya, Rosa justru membiarkan gaun kaos ketatnya tetap tersingkap hingga ke pinggang, membiarkan separuh tubuh bagian bawahnya terekspos tanpa sekat di udara pagi studio yang dingin. Dengan langkah perlahan yang sengaja dibuat menggoda, pelacur nomor satu itu berjalan mendekati Wira. Suara napasnya yang memburu terdengar kian dekat, berbaur dengan aroma melati yang kian menyengat indra penciuman Wira. Grep. Tanpa aba-aba, Rosa merangsek maju dan memeluk tubuh kekar Wira dari belakang. Kedua lengannya yang lembut itu melingkar erat di pinggang sang seniman tato. Rosa sengaja menempelkan sepasang dada bulatnya yang besar dengan sangat ketat ke punggung lebar Wira, menyalurkan rasa hangat dan detak jantungnya yang berpacu cepat. Wira membeku. Punggungnya bisa merasakan dengan jelas kelembutan ekstrem yang menekan kulitnya, menembus sekat tipis kaus hitam yang ia kenakan. Belum sempat Wira mengambil tindakan, jemari lentik Rosa dengan berani menelusup masuk ke balik kaus hitam Wira. Telapak tangan si pelacur yang hangat mulai mengelus permukaan perut Wira yang kotak-kotak keras, hasil dari kerja kasarnya selama bertahun-tahun sebagai kuli dan pekerja serabutan. Sentuhan Rosa merayap turun dengan sensual, mengelus perlahan, bergerak semakin rendah menuju ke arah bawah pusar, berniat menyentuh area paling sensitif pria itu. "Apa yang kamu lakukan, Rosa?" Suara Wira terdengar lebih dalam dan berat. Dengan satu sentakan tegas namun tidak kasar, Wira mencengkeram pergelangan tangan Rosa, menepisnya keluar dari balik kausnya, lalu bergerak menjauh beberapa langkah ke sudut ruangan yang lain. Pria itu berbalik, menatap Rosa dengan sepasang mata elangnya yang tajam tanpa ekspresi. Rosa yang pelukannya terlepas hanya bisa mendesah kecewa. Namun, seulas senyum kemenangan justru terbit di bibirnya yang basah oleh lipstik merah. Ia menatap celana jins Wira yang tampak menegang, lalu beralih menatap mata pria itu dengan pandangan sayu yang menuntut. "Aku tahu kamu tergoda, Mas... karena itu kamu sengaja berbalik membelakangiku tadi, kan?" goda Rosa dengan nada suara dan napas yang memburu. "Kamu tidak bisa membohongi tubuhmu sendiri, Mas Wira." Wira terdiam. Ia tidak membantah, tidak juga membenarkan. Lidahnya mendadak kelu karena harus menahan gejolak yang perlahan mulai menggerogoti pertahanannya sendiri. Di tempat pelacuran, Rosa adalah ratu yang tahu benar bagaimana cara mematahkan harga diri seorang pria. "Sekali ini saja, Mas... aku mohon," bisik Rosa, suaranya kini terdengar parau oleh keputusasaan dan nafsu yang sudah memuncak di ubun-ubun. Rosa semakin bernafsu melihat ketegangan yang tercipta di antara mereka. Sambil terus menatap lurus ke dalam manik mata Wira, wanita itu mulai melakukan aksi yang lebih berani. Satu tangan lentiknya naik, mencengkeram dan meremas gundukan dadanya sendiri yang menyembul di balik potongan rendah gaun spandeknya, menciptakan pemandangan yang sanggup meruntuhkan iman para pendosa. Sementara itu, tangan Rosa yang satunya lagi bergerak turun secara perlahan. Di hadapan Wira, di pagi buta yang remang itu, jari-jarinya menelusup masuk ke balik seutas tali G-string merah miliknya sendiri. Kain tipis itu bergeser, menampilkan pemandangan paling intim dan berani yang belum pernah ia tunjukkan pada pria mana pun secara cuma-cuma. Rosa memejamkan matanya sesaat, mendesah pelan saat jemarinya mulai bermain di area terlarangnya sendiri, mengeksos sisa keliaran dunia malam tepat di depan meja kerja Wira. Ruangan studio yang sempit itu seketika dipenuhi aura pekat yang panas, mengaburkan waras yang tersisa di kepala Wira yang belum sempat beristirahat sejak semalam.Malam makin merambat pekat di dalam laboratorium bawah tanah, membawa serta hawa dingin yang merayap menembus celah-celah beton. Keheningan yang mencekam kembali bertakhta. Semua orang telah tertidur lelap akibat rasa lelah dan kesakitan yang melumpuhkan raga—Guntur meringkuk diam di sudut sel, Bagas bernapas lambat menahan derita dada bekas pembedahannya, dan Rosa tertidur lelah dengan sisa air mata yang mengering di pipinya. Kecuali Wira. Anak laki-laki berusia dua belas tahun itu masih bertelanjang dada, duduk gemetar menatap lantai sel semen dengan pandangan mengerikan. Di dalam kepala dan ingatan kecilnya, bayangan tumpukan mayat anak-anak lain—puluhan jasad tanpa nyawa yang diangkut kaku keluar dari ruang eksperimen—terus berkelebat tanpa henti. Gagal. Mati. Dibuang. Seakan-akan Abah masih belum berpuas diri dan tidak akan pernah berhenti mencoba menciptakan penyihir-penyihir berikutnya—penyihir sempurna yang tidak mengalami kegagalan organ tragis seperti raga Wira, ya
15 Tahun yang LaluAroma besi menyengat dan obat-obatan keras mengendap tebal di udara lembap laboratorium bawah tanah itu. Bau busuk kegagalan dan keputusasaan menyusup ke setiap sudut lorong berdinding beton kusam yang selalu diterangi pendar lampu pijar redup.Langkah kaki bersepatu kulit berat bergema memecah keheningan mencekam. Seorang lelaki paruh baya—sosok yang dipanggil dengan sebutan Abah—melangkah tenang. Jemari tangannya yang kasar akibat sering bersentuhan dengan bahan kimia mencengkeram kasar bahu seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun.Anak itu adalah Wira. Raganya menyeret kaku, matanya sayu dan tubuhnya yang kurus penuh luka.Abah menghentikan langkah tepat di depan sebuah sel berjeruji besi tebal khusus yang terpisah dari sel utama. Dengan senyum dingin yang mengembang di balik kumis tebalnya, lelaki itu mendorong raga kecil Wira hingga tersungkur ke lantai semen yang dingin.Brak!"Kau adalah mahakarya terindahku, Wira," desis Abah, matanya berkilat penuh o
Di dalam kamar, aroma parfum menyengat dari tubuh Rosa mendadak bertabrakan dengan bau antiseptik dan minyak kayu putih yang mengendap kaku di udara. Pemandangan di dalam ruangan itu begitu kacau. Pecahan cermin rias tua berhamburan mengilap di semen dingin, sebagian tercoreng noda darah segar yang menetes dari telapak kaki Senjana. Di sudut ruangan yang paling gelap, gadis itu meringkuk kaku memeluk tubuhnya. Ia membenamkan wajah di antara kedua lututnya rapat-rapat, seolah-olah raga di balik pakaian rapuh itu adalah monster yang tak boleh terlihat oleh siapa pun. Isak tangis Senjana terhenti sejenak ketika mendengar derap langkah sepatu hak tinggi menapak pelan mendekatinya. "Siapa kau..." suara Senjana meluncur sangat parau, tercekat oleh tenggorokan yang kering dan keputusasaan yang meluap. "Pergi... Aku tidak ingin bertemu siapa pun." Rosa berhenti sekitar tiga langkah dari tempat Senjana meringkuk. Ia menatap ke sekeliling ruangan dulu—melihat jarum infus yang terlepas
Suara pintu kayu tua yang tertutup merapat itu bergema kaku di lorong tengah rumah Guntur. Wira melangkah tertatih, seolah-olah seluruh tulang dan sendinya mendadak dilucuti dari raganya. Tubuhnya yang mampu menahan tembakan peluru tajam dan membalikkan bangkai truk berbobot belasan ton kini terasa begitu ringkih dan tak berdaya. Dengan napas yang berburu berat dan tenggorokan yang tercekat rasa sesak, Wira menjatuhkan tubuhnya, terduduk pasrah meluncur di sisi dinding luar kamar Senjana. Pria bertato itu menundukkan kepala dalam-dalam saat isak tangis Senjana yang terendam dari balik dinding papan terus meremas dadanya tanpa ampun. "Apa yang harus kulakukan...?" suara Wira meluncur lirih dan gemetar, bergetar hebat menembus keheningan lorong. "Aku hanya ingin menyelamatkannya... Aku hanya ingin membantunya..." Guntur yang berdiri tak jauh dari sana menghembuskan napas panjang. Pria berjaket kulit itu berjalan pelan mendekat, lalu menjatuhkan badannya berlutut di sebelah Wira.
Cahaya remang yang menerobos sela-sela jendela kayu tua itu terasa begitu menusuk di mata Senjana. Manik matanya yang sayu bergerak lambat, menyapu langit-langit papan yang lapuk, aroma antiseptik yang menyengat, hingga selang bening yang menancap di punggung tangan kirinya. Lingkungan yang sama sekali tak ada di dalam ingatan terakhirnya. Di samping ranjang, Wira berdiri terpaku dengan dada berombak tajam. Harapan yang membumbung tinggi saat melihat kelopak mata itu terbuka kini bercampur dengan getaran cemas yang luar biasa. "Senjana..." bisik Wira sangat pelan. Tangannya terulur lambat, mencoba menggapai jemari dingin yang terlentang di atas selimut kusam. "Kamu... kamu sudah sadar?" Namun, belum sempat ujung jemari Wira menyentuh kulitnya, Senjana menarik tangannya secara refleks. Gerakan itu kasar dan ketus, membuat selang infus bergoyang hebat. Senjana perlahan menggerakkan lehernya yang kaku. Kulit leher sebelah kirinya terasa tertarik, kencang, dan menyengat perih saat
Sambungan telepon di genggaman Wira mendadak hening sejenak, hanya menyisakan hembusan napas berat Bagas yang teratur di balik pengeras suara ponsel. Pria berjas kaku yang menjadi tangan kanan sang Gubernur baru itu jelas mengerti seluk-beluk permainan kekuasaan di kota ini jauh lebih baik daripada siapa pun. "Dengar, Wira," potong Bagas sebelum Wira sempat memutus sambungan. Suaranya meluncur makin dalam, sarat akan penekanan yang tak bisa dibantah. "Haryo tidak hanya menyisir kota untuk menemukan Senjana. Dia juga sedang mengerahkan intelijen dan orang-orang kepercayaannya untuk memburu keberadaanmu!" Wira memicingkan matanya. Manik mata cokelat keemasannya memancarkan pendar dingin saat mendengar hal itu. "Mencariku?" "Marco memang sudah mati, tapi Haryo tidak tahu siapa yang menghabisinya," lanjut Bagas cepat. "Haryo curiga ada sosok yang memiliki kekuatan tak wajar di balik runtuhnya Black Serpent. Dan mungkin orang itu berkaitan dengan tato magismu, Sekarang dia juga mulai







