LOGINBima lalu menatap Varen, serius. “Devika sudah resmi mendekam di sel tahanan. Dan tidak lama lagi, mamanya, Sofie, juga bakal menyusul jadi teman sekamarnya. Kamu bisa hidup tenang sekarang, Megha, tidak ada lagi gangguan sampah.” Megha mengembuskan napas, tapi dia masih diam, belum ada gairah bicara. “Baguslah kalau tikus got itu langsung diproses,” sahut Varen. Bima terkekeh dengan seringai tipis. “Bukan cuma mereka. Kabar terbaru, Om Jefri kena serangan jantung di dalam tahanan. Sekarang dia koma tidak sadarkan diri. Proses hukumnya jadi jauh lebih cepat. Sebagian besar aset keluarga mereka sudah disita. Veronica, si anak emas itu, sampai tidak terima dan mencoba mengakhiri hidupnya kemarin malam. Tapi sayangnya belum mati. Sekarang dia dipindahkan ke bangsal psikiatri dalam pengawasan ketat dokter jiwa.” Megha hanya bisa menggeleng pelan. Karma bekerja dengan cara yang paling telak dan efisien. Setelah bosan berdebat panjang lebar. Varen dan Kyra bersiap pamit. Varen menata
IGD Rumah Sakit.“Dokter!!” bentak Bima menggelegar. “Dokter! Istriku, Dokter!” Beberapa perawat dan dokter jaga langsung berlari membawa brankar. Megha dipindahkan dengan cepat, didorong menuju ruang penanganan intensif.Sedang Bima terus mencengkeram sisi brankar, menolak melepaskan tangan istrinya sampai langkahnya terhalang oleh pintu otomatis ruang tindakan.“Tuan, mohon tunggu di luar. Kami harus segera melakukan irigasi cairan kimia dan menetralisir luka bakar di wajah pasien,” ujar dokter.Pintu tertutup rapat di depan wajah Bima. Pria itu mondar-mandir gelisah di lorong steril, napasnya memburu, sementara otak dinginnya berputar keras memikirkan skenario terburuk atas apa yang baru saja menimpa wanita miliknya.Beberapa jam berlalu.Dan kini, di presidential suite room rumah sakit.Megha berbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan perban putih tebal menutupi seluruh wajahnya, menyisakan celah kecil untuk mata dan hidungnya. Bima duduk di tepi ranjang, menggenggam er
“Akkkhh!” teriak Megha histeris. Tangannya langsung mencengkeram wajahnya sendiri yang seketika terasa terbakar hebat seperti disayat ribuan jarum panas. Asap tipis berbau menyengat berhembus tipis dari permukaan kulitnya, memicu sensasi perih luar biasa yang melumpuhkan akal sehat. Kulit mulusnya seolah meleleh diterjang cairan keras. Bima tegang dan murka. “Megha!” bentak Bima panik, langsung merengkuh tubuh istrinya yang nyaris ambruk. Pria itu menangkup wajah Megha dengan tangan gemetar, menatap ngeri pada kulit yang mulai melepuh merah.“Sialan! Mana mobilnya sekarang juga dan tangkap bedebah itu!” teriak Bima histeris kepada.Wanita pelaku itu sambil lari berteriak. “Wajahnya sudah hancur. Dia buruk rupa. Buang dia, Bima! Ha ha ha ha ha ha ….”Varen yang berada di sebelah mereka ikut meradang, urat-urat di lehernya mencuat keluar. Pria itu spontan hendak melangkah maju untuk mendekati Megha, namun langkahnya terhenti kaku saat melihat Bima sudah mendekap istrinya erat. Lalu,
Bima yang melihat respons itu tidak mau kalah gengsi. Pria itu langsung menarik tengkuk Megha dan mencium bibir istrinya dalam-dalam cukup lama, menegaskan dominasi, kalau Megha miliknya.“Hanya itu kemampuan kalian?” sindir Bima tajam.Varen merasakan setengah hatinya berdenyut nyeri melihat kemesraan itu, sementara separuh hatinya lagi terbakar amarah. Tanpa berpikir panjang demi mempertahankan gengsi harga dirinya di hadapan Megha, Varen kembali mendekati Kyra dan mengecup sekilas sudut bibir wanita itu.Kyra membelalakkan mata lebar-lebar. Tanpa aba-aba, tangan wanita itu langsung mencubit pinggang Varen sekuat tenaga di balik meja, melampiaskan rasa geram yang sudah mencapai ubun-ubun. Varen sedikit meringis tertahan, namun tetap mempertahankan ekspresi wajah dingin di hadapan Bima.“Bima!” Megha melotot minta agar suaminya diam.Sedang Kyra gegas mendorong Varen sambil melotot. “Awas kamu nanti! Beraninya ambil ciuman pertamaku!” bisiknya tajam.Varen tak peduli. Dia fokus deng
Saat mereka berjalan mendekat, Kyra berbisik kecil tepat di samping lengan Varen. “Hm, aku paham. Malam ini tugasku ternyata mempertahankan harga diri Bos. Dan aku masih ingat dengan jelas, kalau wanita di sebelah sana itu adalah istri orang yang juga jadi pujaan hatimu, kan?”Varen merespons bisikan itu dengan mempererat genggaman tangannya pada jemari Kyra, menekan punggung tangan wanita itu sedikit lebih kuat untuk membungkam komentarnya.Bima bangkit berdiri, merengkuh pinggang Megha posesif, lalu menatap Varen dengan seringai menyebalkan.“Wah, luar biasa. Tidak disangka seorang Varen bisa bertransformasi secepat kilat dari status jomlo akut langsung jadi playboy. Pacarmu ini terlihat sangat menawan, Bung.”Varen membalas tatapan itu dengan senyum tipis yang tampak dipaksakan. Di balik ketenangannya, ada rasa perih yang mencubit ulu hatinya saat melihat betapa serasinya Megha dan Bima malam ini, terlebih karena Megha sama sekali tidak mengelak dari rangkulan posesif suaminya.Bim
Bima menekuk lengan kanannya, Megha menyambut tautan tangan itu. Melingkarkan tangannya di lengan sang suami. Langkah mereka beriringan, memancarkan aura pasangan power couple yang langsung mencuri atensi siapa saja yang melihatnya.Megha menoleh sedikit, merapatkan jarak lalu berbisik pelan tepat di telinga Bima.“Bima, tolong jangan buat keributan malam ini. Tahan dirimu. Varen sudah melakukan banyak hal padaku, dan aku datang ke sini benar-benar untuk berterima kasih secara tulus padanya.”Bima melirik istrinya sekilas. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang tampak arogan namun mematikan. Pria itu lalu mendekatkan wajahnya, membalas bisikan Megha.“Aku sudah sangat paham apa tujuan utama kita malam ini, Sayang. Agenda utamaku tentu saja pamer istriku. Jadi tenang saja, aku tidak akan membuat keributan. Aku hanya akan tampil semanis dan semesra mungkin sampai membuat siapa pun di sini iri setengah mati.”Megha langsung melotot tajam mendengar jawaban santai suaminya







