登入Megha menghembuskan napas pelan, menatap pintu dengan menahan gelisah.
‘Kalau Bima mengenaliku sebagai wanita malam itu, apa dia akan menganggapku murahan? Lalu dia marah besar karena risih. Ternyata wanita yang tidur dengannya adalah istri yang paling dia benci? Jangan sampai ketahuan. Jangan sampai.’ Sementara di dalam ruang kerja, Bima menatap arloji miliknya untuk yang kesepuluh kalinya. “Kenapa dia belum sampai juga, Dilan?” Bima mendengkus gusar. Kakinya tak berhenti mengetuk lantai. “Ini sudah lewat lima menit dari jadwal.” “Semua sudah sesuai rencana, Pak. Resepsionis sedang mengantarnya ke atas.” Dilan masih bicara tenang dan sabar. “Haish!” Bima mengacak rambutnya kasar, lalu menghempaskan punggung ke kursi kebesarannya. Sorot matanya menajam menatap asisten pribadinya itu. “Ini semua gara-gara kamu, aku jadi nggak tenang. Coba kalau otakmu berjalan sedikit saja. Harusnya kamu langsung minta nama lengkap dan alamat rumah Kiran! Kalau perlu cari tahu siapa saja pria yang dekat sama dia belakangan ini. Makanan kesukaan, hobi atau apalah!” bentak Bima. Dilan menghela napas pelan. “Maaf, Pak. Saya tidak tahu kalau Anda ada permintaan sedetail itu tadi. Lagi pula kita langsung pergi begitu saja setelah Anda keluar dari lab Elvora Perfumery.” “Nggak usah banyak alasan! Harusnya kamu pintar memahami situasi tanpa harus aku perintah!” “Maaf lagi, Pak.”Dilan mengalah. Bima lalu mengetuk-ngetukkan jemarinya dengan tatapan gelisah. “Kenapa rasanya seperti pernah ketemu Kiran sebelumnya,” gumam Bima dengan tatapan menerawa. “Tapi mirip siapa? Dan di mana?” Dilan mengangkat alisnya. “Bukannya Anda sangat yakin kalau Kiran itu adalah wanita yang bermalam dengan Anda?” Bima menatap jengah asistennya itu. “Aku tahu! Bukan itu maksudku. Sorot matanya itu mirip seseorang, tapi aku lupa siapa!” bentaknya. Dilan terdiam sejenak, berpikir. “Kalau boleh jujur, Kiran sedikit mirip dengan istri Anda.” Bima seketika menegakkan posisinya. Raut wajahnya berubah merah tegang. “Ngomong apa kamu? Kiran itu sangat cantik dan punya aroma tubuh yang membuat candu. Sementara wanita yang statusnya istriku itu? Mengingat wajahnya saja sudah membuatku risih.” Dilan memilih bungkam, tidak mau memancing emosi atasan lebih jauh. Bima tak tahu saja. Saat hari pernikahan, Megha memang berpenampilan sangat jauh berbeda. Rambutnya potongan pendek di atas bahu, dan dia sengaja menyembunyikan kecantikan alaminya dengan makeup downgrade, lengkap bekas luka palsu di sekitar pipi. Megha memang wanita yang terobsesi dengan ketulusan sebuah hubungan. Namun, tujuannya berpenampilan seperti itu di depan Bima punya alasan yang jauh lebih besar. Terdengar suara ketukan pintu. Lalu, pelan pintu itu terbuka. Mata Bima seketika menegang melihat Siapa yang datang, dia beranjak berdiri dari kursinya tanpa memalingkan pandangan sedikit pun. Penampilan Kiran sore ini terlihat makin cantik. Di mata Bima, seperti ada magnet kuat dari sorot mata wanita itu. Dan juga seperti ada percikan-percikan cahaya yang di sekitar wajahnya. Megha melangkah masuk anggun, sambil membetulkan letak bingkai kacamata. “Ehem, maaf saya terlambat, Pak Bima.” Bima melangkah keluar dari balik meja, menghampiri Megha dengan langkah lebar. “Nggak masalah. Kebetulan dari tadi aku juga masih sibuk kerja.” Dilan yang berdiri di sudut ruangan meringis dalam hati. 'Sibuk menunggu, maksudnya.' Lalu, Bima menggulirkan sorot matanya tajam pada Dilan. Dilan yang paham langsung membungkuk. “Saya permisi keluar sebentar, Pak Bima, Kiran.” Dilan telah pergi, dan Megha semakin tak tenang karena hanya berdua saja. Lalu, Bima menatap intens manik mata di balik kacamata itu. Pria itu mengayunkan kaki, mengikis jarak. “Kenapa aku merasa kita pernah bertemu sebelumnya, Kiran?” Jantung Megha berdegup kencang. Pipinya bersemu merah. Megha spontan mengambil satu langkah mundur untuk menjaga jarak. “Ehem! Bukankah tadi di lab Elvora kita sudah bertemu, Pak Bima?” Bima menghentikan langkahnya, lalu menyunggingkan senyum miring yang tertahan. Dia sungguh tidak menyangka wanita yang menghabiskan malam dengannya bisa bersikap seformal dan secanggung ini. Tetapi, justru terlihat sangat menggemaskan di matanya. ‘Menarik,’ batin Bima. Pria itu lalu mengibaskan tangan ke arah sofa. “Duduk dulu, Kiran. Kita bicara santai.” Megha menggeleng pelan sambil merapikan selempang tas di bahunya. “Tidak usah, Pak. Terima kasih. Saya ingin langsung membahas urusan pekerjaan. Yang saya heran, kenapa harus langsung ke direktur utama soal riset lapangan?” Bima terkekeh dengan salah datarnya. “Karena aku presisi soal standar di hotel ini. Parfum di Royal Mavendra bukan sekedar pengharum ruangan, tapi identitas. Salah menentukan komposisi atau tingkat penyebaran aroma, kenyamanan tamu yang jadi taruhannya.” Megha mengangguk kecil. “Kalau begitu, mari kita mulai dari mana?” Lalu, menghembuskan nafasnya, sambil menekan barisan gigi. Bima sebenarnya gemas melihat sikap formal yang terus dipasang Megha. Tapi melihat wajah gelisah wanita itu, dia menahan diri untuk tidak mendesak lebih jauh. “Baiklah, kita mulai keliling sekarang.” Bima berjalan lebih dulu memimpin. Mereka mulai meninjau area lobby utama yang beratap tinggi serta executive lounge. Di sana, Bima menjelaskan titik ideal pemasangan diffuser system. Kali ini, Bima tampak profesional. Hingga Megha sama sekali tak harus menjaga jarak. ‘Apa karena di depan para karyawannya jadi dia seperti ini?’ batin Megha. Keduanya terus berjalan hingga menjadi pusat atensi para karyawan. Bagaimana tidak, Bima belum pernah terjun langsung untuk urusan seperti itu. Dan kali ini justru mendampingi seorang wanita untuk proyek yang seharusnya tinggal dia tandatangani. Riset dilanjutkan ke area spa dan koridor kamar suite. Selama berjalan berdampingan, Megha mengukur kelembapan udara dan menyusun pemetaan aroma sesuai zona. Hingga sekian saat, Megha mengira semua telah selesai, apalagi hari juga sudah petang. “Semua sudah selesai, saya permisi dulu.” Tapi Bima menaikkan alisnya. “Siapa bilang sudah selesai?”‘Foto ranjang dan bukti kalau benar-benar tidur satu ranjang.’Megha merinding geli sekaligus kesal setengah mati membaca isi pesan itu. Giginya bergemeletuk menahan geram.Bima menurunkan ponselnya sambil menyunggingkan senyum tipis yang tertahan di bibirnya. “Bagaimana sekarang? Masih mau menolak tidur bersama?”Padahal, jika saja Megha bisa mengusap layar ponsel itu dan membaca bagian atasnya, pesan dari pengacara Kakek sebenarnya sama sekali tidak se-ekstrem itu. Pria paruh baya itu hanya menanyakan kabar biasa. Bima sengaja memancing hingga semua kalimat itu terbit, demi memojokkan istrinya.Megha lalu menghentakkan napasnya kasar dengan wajah geram memerah. “Mana surat perjanjian nikah yang baru? Aku mau tambah banyak poin di dalamnya!”Bima mendelik pelan. “Surat perjanjian hitam di atas putih memang belum kita tanda tangani, tapi persetujuan lisan sudah kamu lakukan. Dan sekadar mengingatkan, saat ini ayahmu sedang dalam proses pemindahan ke rumah sakit terbaik. Dilan sedang m
CUP!Bima menekan ciumannya lebih dalam.Megha menegang sekejap, matanya membelalak lebar, tapi otaknya tetap sadar dan akhirnya dengan sekuat tenaga mendorong dada itu agar bibir mereka terlepas.“Kamu gila, Bima!” pekik Megha. Melipat bibirnya.Jantung Megha dalam bahaya. Dadanya itu berdegup liar, hampir saja rasanya melompat. Matanya menegang dengan napas tertahan. “Mesum!”Bima justru menyeringai tipis tanpa dosa. “Aku hanya bertindak sesuai pesananmu saja.”Megha melotot dengan napas berat naik turun. “Pesanan bagaimana?! Jangan mengada-ada! Kamu sengaja mengambil kesempatan!”Bima menaikkan satu alisnya. “Kamu menggodaku dan mengirim sinyal secara eksplisit. Sebagai suami yang sangat pengertian, tentu harus langsung tanggap dan tahu diri untuk membahagiakan istriku. Lantas, apa salahku?”Megha merinding geli mendengarnya. “Tingkat rasa percaya dirimu benar-benar sudah menyentuh langit.”Megha berputar hendak mundur menjauh, tetapi Bima bergerak jauh lebih cepat. Tangan pria itu
Megha kembali menatap pengacara itu “Suami saya yang sangat baik hati, tidak sombong, dan tidak pernah marah-marah ini, selalu membelikan saya banyak barang mewah termasuk berlian mahal yang sama sekali tidak saya minta. Tapi sayangnya, dia melupakan janjinya sendiri. Dia lupa membelikan rumah mewah atas nama saya sendiri, mobil atas nama saya sendiri, bahkan apartemen atas nama saya dan beberapa aset.” Bima tercengang seketika, matanya melebar menatap istrinya dari samping. Megha menahan senyum kemenangannya. Tentu saja itu semua sengaja untuk mengerjai Bima. Paman pengacara itu langsung menoleh pada Bima, tajam. “Bima, kamu harus jadi pria yang berkomitmen penuh. Kekayaan keluarga tidak akan berkurang sedikit pun hanya karena kamu membelikan beberapa aset untuk istri sahmu sendiri.” Bima dengan cepat menguasai raut wajahnya kembali. Dia tidak tinggal diam dan memilih meladeni serangan itu. Pria itu kini menyunggingkan senyum miring. “Tentu saja tidak, Paman. Aku bukannya l
“Bima tidak berbohong, Paman. Saya memang tinggal di sini.” Wanita itu melengkungkan senyum sangat lebar yang membuat bulu kuduk Bima langsung berdiri. Bima tergagap menatap istrinya. “Me-Megha?” Pria itu tak tahu lagi harus berkata apa. Dadanya terus berdenyut kencang dan tatapannya bergulir sembarangan, pasrah dengan situasinya. Pengacara sang kakek memicingkan mata, lalu mengangguk kecil. Pria paruh baya itu mencoba mengingat wujud istri Bima saat dia menjadi saksi pernikahan dua tahun lalu. Penampilan wanita di depannya ini sangat mirip dengan memori itu, meskipun ada sedikit perbedaan. Dan yang membuat pengacara itu sedikit merasa senyum, Bima benar-benar kuat menahan diri untuk menerima syarat dari kakeknya untuk bertahan menikahi istri yang tidak cantik. Megha berjalan tanpa keanggunan sama sekali. Dia sengaja memakai make up downgrade dengan foundation cokelat tua dan lipstik pucat. Bahkan, ada coretan hitam tipis sengaja dibubuhkan di salah satu pipinya. Kalau dulu ram
Dia lalu menoleh pada Bima dengan senyum miring menyebalkan. “Untuk apa aku pakai barang berkilauan seperti ini? Aku bukan manekin berjalan. Jangan bilang kamu mau pamer harta lewat istrimu? Dan semua ini takutnya nggak cuma-cuma. Bilang apa balasannya kalau aku menerima semua ini?” Bima menarik tangan dalam dan membuangnya pelan agar emosi tidak meledak. Sedang Megha semakin menikmati wajah kemarahan suami antagonisnya. Dia memiringkan kepala sambil tersenyum manis. “Jangan bilang kamu minta aku jadi gulingmu tiap malam. Harus bayar pajak pake ciuman? Atau malah lebih dari itu? Sayangnya, aku istri mahal. Semua ini, belum bisa membayarku.” Mata Bima melebar dengan dada naik turun. Dua tangannya meremas di bawah. “Belum bisa membayarmu belum tentu kamu tidak suka, bukan? Kecuali kalau kamu tidak menyukainya, aku tinggal bilang pada para pembantu dan menyuruh mereka berebut di sini.” Glek! Megha lantas menelan ludahnya. Nah, kan? Bima ini tetap nggak mau kalah, malah makin mau m
Megha melotot tajam, menarik tangan pria itu agar kepalanya rendah, lalu dia memajukan wajahnya untuk berbisik, “Bima! Apa maksudnya ini?! Aku nggak butuh ranjang besar! Aku nggak mau tidur di kamar utama. Apalagi denganmu! Jangan sampai aku kabur dan menolak perpanjangan pernikahan.”Bima tersenyum tipis, dia justru menarik napas dalam-dalam menghirup aroma istrinya yang membuat candu. Lalu, baru berbisik, “Kamu sudah punya cara lain untuk menyelamatkan ayahmu?”Megha makin geram karena itu itu saja yang jadi ancamannya. “Varen menawarkan pengacara dan pengobatan terbaik. Jangan mengira kalau selamanya aku akan takut dengan ancamanmu.”Dahi Bima berkerut. “Maksudmu, aku harus membuat restoran pria itu bangkrut ditutup permanen, atau sampai membuatnya masuk penjara karena sudah menggunakan bahkan terlarang atau–”“Berani, Kamu!” Megha menggeram, rasanya ingin sekali meremas-remas mulut kejam itu. Lalu mendorong kuat dan menjauh malas.Bima lalu tertawa kecil. “Terserah kamu mau atau t







