LOGINBu Laras tersenyum penuh arti, dengan binar mata jahil. “Pak Bima itu terkenal dingin, tapi punya sikap yang beda banget sama kamu. Kelihatan sekali dia tertarik. Anehnya lagi, langsung menyetujui kerja sama kita tanpa banyak drama.”
Dingin sama wanita? Tawa Megha hampir meledak mendengarnya. ‘Yang ada dia mesum,’ batinnya. Megha mencoba mengatur napasnya. “Nggak ada apa-apa, Bu. Saya sama sekali tidak ada hubungan khusus dengannya. Siapalah saya bisa kenapa sama Pak Bima.” Dia memaksakan senyum tipis kaku. Bu Laras menyenggol lengan Megha pelan sembari terkekeh tipis. “Nggak apa-apa kalaupun ada, Kiran. Kabarnya Pak Bima itu sedang proses cerai dengan istrinya, sekretarisnya sendiri yang cerita.” Megha menghela napas panjang, menatap atasannya itu heran. “Bu Laras ini suka sekali mendengarkan gosip. Saya beneran tidak ada hubungan apa pun dengan Pak Bima. Justru saya mau minta tolong sama Ibu.” Bu Laras menaikkan dua alisnya, memajukan kepala sedikit. “Minta tolong apa? Mau Ibu comblangkan sama Pak Bima?” Megha memejamkan mata gemas, jengkel sendiri. Mereka menganggap Bima itu seperti pangeran limited edition. Lalu Megha menatap Bu Laras dengan wajah serius. “Tolong, kalau nanti ada siapa pun yang mencari tahu soal identitas asli atau alamat saya, Ibu jawab saja nama saya cuma Kirana. Tidak usah menyinggung nama Megha sama sekali. Dan alamat rumah jangan pernah diberikan. Kasih saja alamat apartemen baru saya. Nanti akan saya kirim.” Bu Laras mengerutkan dahi. “Kenapa harus sampai begitu?” “Saya nggak mau nambah beban masalah lagi, Bu,” bisik Megha dengan tatapan redup. “Hidup saya sudah cukup berat. Ditambah kondisi Ayah yang kritis di rumah sakit, saya cuma mau hidup tenang.” Wanita paruh baya itu lalu mengangguk paham, dan menepuk-nepuk bahu Megha pelan. “Kamu tenang saja, percaya sama Ibu.” Megha melangkah kembali ke meja laboratoriumnya. Dia lalu sibuk menata ulang botol-botol ekstrak minyak aromatik. Namun, fokusnya sudah acak-acakan. ‘Cepat atau lambat, Bima pasti akan tahu kalau aku ini istrinya,’ batin Megha sembari mengencangkan tutup botol kaca di tangannya. ‘Tapi setidaknya, dia tidak boleh sampai tahu kalau aku ini wanita di kamar hotel malam itu. Dan kalau pun akhirnya semua terbongkar, semoga itu terjadi setelah resmi bercerai.’ Waktu bergulir cepat hingga mendekati pukul empat sore. Bu Laras berjalan mendekati meja Megha dengan wajah serba salah dan hembusan napas berat. “Ada apa, Bu? Kenapa kelihatan gelisah begitu?” Bu Laras berdehem pelan, membasahi bibirnya yang kering. “Gini, Kiran. Pihak Royal Mavendra Hotel baru saja telepon. Mereka minta kamu secara sebagai perwakilan perusahaan sekaligus perfumer penanggung jawab proyek ini. Ehm ….” Bu Laras mengusap tengkuknya, makin merasa tidak enak. “Mereka minta kamu melakukan riset lapangan sore ini juga. Katanya untuk analisis area dan menentukan pemetaan aroma. Pihak sana bilang sore ini waktu yang paling pas untuk analisis.” Dada Megha bergemuruh hebat. Tangannya tergantung kaku. Seperti ini memang bagian pekerjaannya, tapi pasti juga ada rekayasa Bima. Hanya saja, Megha sadar posisi. Dia hanya seorang pekerja profesional yang butuh uang untuk biaya hidup dan biaya rumah sakit ayahnya. “Ehm, baik, Bu. Saya akan ke sana.” Mata Bu Laras berbinar. Dia menepuk pelan bahu Megha. “Terima kasih banyak ya, Kiran. Maaf, kamu harus terlibat dekat dengan Pak Bima.” Setelah Bu Laras berlalu, Megha melangkah ke loker untuk berkemas. Di depan cermin, dia menatap bayangannya sendiri, moles riasan tipis, merapikan tatanan rambutnya, dan memasang kacamata berbingkai tipis yang jarang dia pakai. Dia memastikan penampilannya benar-benar berbeda dari sosok istri yang dibenci Bima. Selesai berkemas, Megha pergi dengan taksi. Dalam lajuan taksi, Megha menyandarkan kepalanya di kaca jendela. ‘Bima, seperti apa reaksimu nanti saat tahu kalau aku adalah istri yang kamu sebut tidak selevel itu. Istri yang bahkan menurutmu tidak pantas untuk kamu tatap?’ batinnya. Taksi di depan Royal Mavendra Hotel. Megha turun, lalu memasuki lobby. Dia berjalan mendekati meja resepsionis. “Selamat sore. Saya Kirana, perwakilan dari Elvora Perfumery.” Petugas resepsionis berbaju rapi itu langsung tersenyum profesional dan berdiri tegap. “Selamat sore, Mbak Kirana. Mari, silakan ikut saya. Pak Dilan sudah menginstruksikan agar saya mengantar Anda secara langsung.” Bukannya diarahkan ke area perkantoran umum, staf itu justru membimbing Megha menuju sebuah koridor khusus di samping lobby dan membuka pintu VIP lift. Staf itu menempelkan kartu akses khusus lalu menekan tombol lantai 30. Perasaan Megha makin tidak enak. Matanya menatap angka di layar lift yang bergerak naik dengan cepat. “Maaf, kita mau ke mana ya? Bukankah untuk koordinasi proyek biasanya di bagian operational?” Resepsionis itu tersenyum. “Pak Dilan sudah berpesan agar saya mengantar langsung perwakilan Elvora Perfumery ke ruang direktur utama, Mbak.” Megha menegang seketika. Dia membuang napas pelan melalui mulut, berusaha menguasai diri agar tangannya tidak gemetar. Pintu lift berdenting dan bergeser terbuka. Lantai 30 hanya berisi satu area eksekutif yang sangat eksklusif. Tidak ada deretan kubikel karyawan di sana. Di ujung lorong ada pintu ganda elegan, tentu saja ruang kerja Direktur Utama. Resepsionis menghentikan langkah tepat di depan pintu besar itu, lalu mengangguk kecil. “Silakan masuk, Mbak Kirana. Pak Bima dan Pak Dilan sudah menunggu di dalam.”Muka Jefri merah padam menahan dongkol. “Dasar wanita tidak tahu untung!” ketusnya kasar, lalu berbalik dan menyingkir pergi dengan langkah lebar geram. Megha kini berdiri sendirian di sudut, napasnya agak terengah menahan luapan emosi yang sejak tadi ditahannya rapat-rapat. Dari kejauhan, Varen yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik mereka dengan rasa khawatir, kini melangkah mendekat. “Dasar, Megha. Dia tetep saja nggak bisa diam dan ngalah. Om Jefri begitu kejam, bagaimana kalau dia kenapa-napa!” Pikirannya yang tajam sudah bisa menebak alur permainannya. Jelas rencana jebakan Veronica dan Bima baru saja masuk tepat ke dalam perangkap. Dia nggak peduli dengan akhir dari Bima, yang penting baginya hanyalah Megha. Tanpa membuang waktu, Varen memotong kerumunan tamu yang sibuk mengobrol. Dia memangkas jarak hingga berdiri tepat di belakang Megha. “Ikut aku sekarang, Megha!” bisik Varen cepat di samping telinganya. Ekor mata Jefri melirik tajam Varen yang menyambar Megha, la
“Om saja nggak tahan melihat kamu yang pamer mesra sama istrimu. Apalagi Veronica, yang akan menjadi istri yang sesungguhnya!”Bima terdiam. Dadanya berdenyut pelan, sementara ekor matanya melirik Megha dengan sejuta rasa yang sulit diartikan.Dia paham, Jefri sedang sengaja memancing kesalahan pahaman di depan mereka. Hanya saja, yang membuatnya gelisah, takut jika Megha mulai berpikiran yang tidak-tidak. “Tenang saja. Jangan dengarkan dan jangan percaya kalau Om Jefri ngomong,” bisik Bima.Megha yang posisinya masih menempel rapat di sebelah Bima dalam pose pura-pura romantis itu menekan rahangnya. “Jangan dengarkan? Kamu kira aku tuli? Aku masih bisa mendengar jarak satu meter lebih. Suruh saja calon mertuamu ini yang diam!” balas bisiknya.Bima menahan kesal dan gelisah jadi satu. Istri satu-satunya itu benar-benar menyebalkan. Tapi cinta.“Ehem! Sepertinya kamu terlalu nyaman di sebelah Bima sampai lupa waktu. Mungkin sudah saatnya kamu pergi. Jangan membuat mataku sakit!” Jefri
Bima berjalan dengan langkah tegap, memancarkan aura dominan dan karisma luar biasa. Di sampingnya, Megha melangkah anggun, dengan gaun berkilau diterpa cahaya lampu. Kombinasi sempurna antara kecantikan yang berkelas dan aura dingin yang mempesona. Mereka berdua berjalan bersisian bak pasangan paling romantis dan berkuasa di jagat raya, memancarkan kombinasi visual yang benar-benar mematikan. Semua orang di ruangan itu tercengang tanpa terkecuali. Beberapa tamu penting sampai menatap tanpa berkedip. “Ini benar-benar istri Bima Mavendra?” bisik seorang pria paruh baya berkacamata tebal, menatap tak berkedip ke arah tangga. “Luar biasa. Auranya sama sekali tak tenggelam di sebelah Bima.” Pengusaha lain di sampingnya membetulkan posisi kerah jasnya sambil mengangguk pelan. “Gaya jalannya tenang sekali. Cantik, tapi tatapannya dingin berkelas. Pantas saja Bima merahasiakannya selama ini.” “Saya pikir cuma wanita biasa yang beruntung,” timpal seorang wanita bergaun elegan d
“Jangan berpikir mau pakai kostum kelinci, untuk mempertegas spesies-mu. Kamu pakai kostum macam begitu, tetap nggak akan kelihatan manis.”Megha membolakan matanya geregetan. Lalu, dia menatap gaun di depannya.“Aku nggak mau pakai gaun yang kamu siapkan ini. Aku mau pilih gaun sendiri. Lagian ini cuma acara keluarga, bukan pesta megah kelas dunia. Nggak perlu pakai gaun sebagus ini,” ketus Megha sambil membuang napas lemas.Gaun satin bertali tipis warna emerald green itu punya potongan backless yang cukup rendah dan belahan di paha kiri yang lumayan tinggi. Modelnya simpel, modern, dan sangat elegan, tapi jelas menunjukkan lekuk tubuh dengan sangat pas. Megha cuma merasa terlalu terekspos karena tidak terbiasa memakai pakaian terbuka seperti itu.Bima mendengkus pelan, menaikkan sebelah alisnya dengan gaya super percaya diri. “Kamu bilang ini bagus? Menurut standarku, gaun ini biasa aja. Lagipula, ini bukan sekadar pesta keluarga biasa, Megha. Kamu itu berdiri di sebelahku. Mengim
Kalimat Megha mendadak tertahan di tenggorokan. Matanya menegang begitu menangkap penampakan suaminya. Rambut Bima yang masih basah dengan sisa tetesan air di dada bidang serta perut six-pack-nya benar-benar bikin salah fokus. Penampilan pria itu kelihatan amat hot sekaligus keren tanpa minus. Setengah mati Megha menahan napas, dadanya berdebar tak karuan sampai rasanya mau melompat keluar. Melihat reaksi itu, Bima tersenyum miring. ‘Nah, kan, benar perkiraanku. Dia langsung syok saat melihat ketampananku. Mulut bodoh tajam dan mengelak, tapi respon raga tidak bisa bohong,’ batinnya dengan tingkat kepercayaan diri makin melonjak. Lalu, Bima berjalan pelan menghampiri meja dengan wajah tenang yang dibuat sok cool. Namun, begitu pandangannya jatuh pada isi piring dan isi gelas, matanya seketika melotot lebar. “Kenapa kamu bawa makanan seperti ini? Ini yang kamu sebut sarapan?” ketus Bima, heran dan geram. Megha masih mencoba menetralkan debar jantungnya yang makin liar. Dia menelan
“Tenang dulu. Kamu masih bisa cara cara lain.”Seorang temannya mencoba menenangkan, tapi Varen langsung menepis tangan itu kasar. “Kamu pikir aku bisa tenang?! Bertahun-tahun aku yang ada di samping Megha! Saat dia terpuruk, saat dia hampir menyerah sama hidupnya, siapa yang pegang tangannya?! Aku!”Lalu, Varen tertawa sumbang, tatapannya nyalang, dadanya panas.“Waktu dia sakit parah, tidak ada yang peduli, sampai harus masuk UGD malam-malam, siapa yang kalang kabut cari dokter terbaik?! Aku yang tidak tidur semalaman buat menunggunya di samping ranjangnya! Aku yang usap dahinya, aku yang pastikan dia baik-baik saja! Bima di mana saat itu?! Pria brengsek itu bahkan tidak tahu kalau Megha sedang kesakitan!”Dadanya naik turun. Bayangan Megha yang kini terikat dalam pernikahan dengan Bima membuat kepalanya rasanya mau pecah. Selama ini dia selalu jadi benteng pertahanan Megha, memberikan porsi support paling besar tanpa menuntut apa-apa. Dia mengorbankan waktu, perasaan, dan segalan







