LOGINMata Megha menegang. Geregetan sendiri melihat tingkah pria di depannya ini. “Bukannya semua area operasional sudah ditinjau? Linen room, sampai dapur pun sudah.”
Bima tersenyum penuh arti. “Aku mau ruang kerjaku diganti juga parfumnya. Aku sudah menentukan aromanya, hanya saja referensi aroma itu tidak ada di hotel ini, tapi di tempat lain. Harus sama persis dengan aroma itu.” Megha menarik napas dalam dan menekan gemuruh di dadanya. Dia menahan jengkel setengah mati dengan ide-ide Bima yang muncul dadakan untuk mengulur waktu. Meski begitu, Megha tidak menaruh curiga, hanya gelisah malas. “Baiklah, kalau begitu kita ke sana sekarang dan selesaikan sekalian.” Bima mengangguk kecil. Wajahnya tampak profesional, padahal dia sedang tersenyum dalam hati melihat respon wanita itu. Mereka berjalan ke pintu masuk utama. Mobil sedan hitam sudah siap di sana. Bima membukakan pintu belakang dan itu termasuk fenomena langka untuk seorang Bima yang terkenal sangat garang. “Silakan, Kiran.” “Maaf, Pak Bima. Saya duduk di depan saja.” Megha tersenyum ke aku menahan kesal. Lalu, berjalan ke pintu depan sebelah kemudi. Bima menggeram dalam hati. Menahan emosi yang hampir mencapai ubun-ubun, dia terpaksa masuk dan duduk di kursi belakang sendirian. Dalam lajuan mobil menuju lokasi. Hening. Dilan yang menyetir ikut tegang setengah mati. ‘Apes banget. Kenapa wanita incaran bos malah duduk di sini? Kalau salah lirik sedikit saja, selesai hidupku, dihajar Pak Bima,’ batin Dilan panik. Sedang mata Bima tak bergeser dari punggung Megha. Tangannya terkebal di atas paha dengan wajah merah dan rahang mengeras. ‘Awas kamu, Dilan!’ batinnya. Hingga akhirnya, mobil itu berhenti di depan Aurelia Hotel. Deg! Mata Megha menegang seketika dengan dada bergetar hebat. Napasnya terasa berat saat deretan lampu megah hotel itu menyapa matanya. ‘Bagaimana ini? Kenapa kemari? Apa yang sebenarnya direncanakan Bima? Apa Bima mau mengujiku? Dia mencurigaiku? Nggak mungkin. Aku sudah berhati-hati dan tidak mengungkap sedikitpun,’ batin Megha. Bima melihat wanita itu malah terbengong, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan, menoleh tepat pada wajah Megha. “Kenapa tidak turun, Kiran? Apa hotel ini mengingatkanmu pada sebuah sesuatu?” Dada Megha mendesir saat merasakan hembusan napas hangat dan aroma khas Bima yang menyapu ceruk lehernya. Cepat dia menggeleng gugup sambil meremas tas di pangkuannya. “Ti-tidak. Saya belum pernah ke hotel ini.” “Oh, belum pernah?” Bima turun dari mobil sambil menyunggingkan senyum miring. Mereka jalan berdua memasuki lobby. Megha tegang bukan main saat melangkah masuk ke dalam lift dan indikator lantai naik menuju angka dua puluh. Pikirannya langsung blank. Bima meliriknya. “Sebenarnya ada apa? Kenapa wajahmu pucat begitu, Kiran?” Megha menggeleng gugup, sementara darahnya terus mendesir. “Ti-tidak ada.” ‘Astaga, pria ini benar-benar gila. Jangan sampai dia curiga. Ikuti saja dulu permainannya. Awas saja kalau sampai dia bertindak melampaui batas, lihat apa yang akan kubalas nanti!’ gumam Megha dalam hati. Langkah kaki Bima berhenti. “Ini kamarnya. Ayo masuk.” Saat menatap pintu kamar itu, Megha makin gemetar. Namun, tidak mungkin dia berbalik lari sekarang. Melarikan diri sama saja dengan mengaku secara tak langsung. Bima mengeluarkan card lock, menempelkannya pada sensor pintu kamar yang menjadi saksi bisu malam pertama mereka. Pintu terbuka. “Kenapa diam saja, ayo masuk. Bukannya kamu mau cepat-cepat menyelesaikan pekerjaanmu?” Bima menggerakkan kepalanya ke arah dalam. Megha menarik nafas dalam, mengatur gemuruh dada dan rasa gelisahnya. “Hem.” Begitu mereka masuk, Bima membawa langkahnya tepat ke sisi ranjang utama. “Di sini, coba kamu rasakan aromanya.” Dia lalu mengatupkan mata dan menghirup dalam-dalam. Sejak kejadian malam itu, Bima membayar kamar itu sampai berbulan-bulan. Dan tidak ada yang boleh menyentuh atau mengganti barang-barang di sana tanpa sepengetahuannya. Dia ingin mempertahankan semuanya, sampai menemukan wanita yang tidur dengannya. Sedang Megha melihat ranjang itu dengan tatapan tajam. Dia merasa apa yang ada dalam kamar hotel itu masih sama dengan saat dia tinggal di malam itu. Jantung Megha berdetak keras. Desiran-desiran halus dan rasa kesalnya bercampur membuat dadanya seperti tercengkram. Kalau saja waktu bisa diulang, dia tidak akan pernah mau menyerahkan raganya pada pria arogan ini. Megha menahan gelisah yang makin menjadi-jadi, berusaha tetap profesional. “Referensi aroma parfum yang mana, Pak Bima? Saya tidak melihat apa pun yang bisa dijadikan referensi di sini.” Mendengar hal itu, Bima melangkah mendekat dengan tatapan dalam dan terkunci. “Apa tempat ini benar-benar tidak mengingatkanmu pada sesuatu?” Dada Megha mendesir hebat ditatap seintens itu. Namun, dia menggeleng pelan, pura-pura tenang. “Tolong jaga batasan Anda, Pak Bima.” Bima mengangguk-angguk kecil dengan menahan senyum tipis. Tanpa membalas perkataan Megha, dia pelan mengikis jarak di antara mereka. Megha mundur reflek. Posisi mereka kini tepat di sisi ranjang. Saat Megha mencoba melangkah mundur lagi untuk menghindar, satu ujung sepatu pantofel Bima sengaja diayunkan menyangkut di belakang kaki Megha. Lalu, “Akkk!” Mata Megha membeliak. BRUKKK! Megha kehilangan keseimbangan dan jatuh di atas ranjang. “Pak, Anda–” Terbungkam. Jantung Megha hampir lepas melihat apa yang dilakukan pria itu. Bima gegas naik ke atas ranjang dan mencondongkan tubuh di atas Megha, lalu mengurung pergerakan wanita itu sepenuhnya dengan dua lengan di sisi kepalanya. Aroma maskulin yang begitu dekat, membuat dada Megha mendesir tak karuan. “Aroma ini, apa kamu tidak paham?” bisik Bima sambil terus memajukan wajahnya. Megha meletakkan dua tangan di depan dada Bima. “Tolong jangan melewati batas, Pak. Saya sungguh tidak paham dengan apa yang dikatakan Anda.” Bima sudah tak bisa menahan diri lebih lama lagi. Dorongan tangan Megha tak bisa menghentikannya. Nafas pria itu semakin berat, tatapannya tajam menuntut. Lalu, di luar kendali dia memajukan wajahnya pada wajah Megha. Posisi mereka begitu intim “Benar kamu tidak mengingat sesuatu sekarang, Kiran?”Saat ekor matanya melirik ke arah istrinya, Bima mendesis kesal dalam batinnya, ‘Kenapa wajahnya masih tetap seperti itu?! Apa dia nggak capek pasang wajah seperti itu?’Megha melangkah tenang keluar dari kamar mandi. Pakaian tidurnya sangat tertutup rapat, serba panjang, dan dijamin anti seksi.Membuat Bima menarik napas pelan, berusaha mengendalikan diri sambil meyakinkan otaknya sendiri. ‘Megha itu Kiran, Bima. Megha itu Kiran, Bima. Megha itu Kiran, Bima.’ Seperti sedang merapalkan mantra dalam hati.Saat Megha hampir mendekati sisi ranjang, Bima meletakkan iPad ke nakas di sebelah. Lalu, Pria itu menurunkan kedua kakinya ke lantai, sambil menatap istrinya dari ujung atas kepala sampai ke ujung kaki. “Besok saat acara besar keluarga. Jangan sampai kamu berpenampilan konyol begini di depan mereka.”Megha menaikkan satu alisnya, menghentikan langkahnya tepat di sebelah ranjang. “Kenapa? Kamu takut aku tampil dengan penampilan seperti ini? Lagipula, gaya seperti ini adalah penampilan
“Kenapa kamu nggak bilang sejak awal kalau Bima itu suaminya Megha!” Napas Varen memberat.Veronica menoleh dengan tatapan tajam, lalu menyunggingkan senyum sinisnya. “Kak Varen saja yang bodoh. Sudah lama kenal Kiran, tapi masih saja nggak tahu kalau dia itu Megha, istrinya Bima. Dibodohi dan dimanfaatkan begitu saja diam saja, malah kelihatan senang.”Varen mencebik, membuang muka sejenak, lalu kembali menatap adik sepupunya itu. “Dan itu alasanmu yang hampir membuat Megha celaka kemarin di laut?”Veronica melotot tajam, sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. “Karena aku sangat membencinya! Memangnya Kakak juga tidak ingin mencelakai Bima saat ini karena tahu faktanya? Apalagi tahu kalau mereka tidak jadi cerai! Jadi, nggak usah banyak tanya lagi apa alasanku ingin Megha atau Kiran itu musnah dari muka bumi ini!”Varen menekan rahangnya kuat-kuat, sorot matanya tajam. “Kalau kamu berani macam-macam lagi sama Megha, semua kebusukanmu akan kubongkar sekalian. Masih untung kemari
‘Foto ranjang dan bukti kalau benar-benar tidur satu ranjang.’Megha merinding geli sekaligus kesal setengah mati membaca isi pesan itu. Giginya bergemeletuk menahan geram.Bima menurunkan ponselnya sambil menyunggingkan senyum tipis yang tertahan di bibirnya. “Bagaimana sekarang? Masih mau menolak tidur bersama?”Padahal, jika saja Megha bisa mengusap layar ponsel itu dan membaca bagian atasnya, pesan dari pengacara Kakek sebenarnya sama sekali tidak se-ekstrem itu. Pria paruh baya itu hanya menanyakan kabar biasa. Bima sengaja memancing hingga semua kalimat itu terbit, demi memojokkan istrinya.Megha lalu menghentakkan napasnya kasar dengan wajah geram memerah. “Mana surat perjanjian nikah yang baru? Aku mau tambah banyak poin di dalamnya!”Bima mendelik pelan. “Surat perjanjian hitam di atas putih memang belum kita tanda tangani, tapi persetujuan lisan sudah kamu lakukan. Dan sekadar mengingatkan, saat ini ayahmu sedang dalam proses pemindahan ke rumah sakit terbaik. Dilan sedang m
CUP!Bima menekan ciumannya lebih dalam.Megha menegang sekejap, matanya membelalak lebar, tapi otaknya tetap sadar dan akhirnya dengan sekuat tenaga mendorong dada itu agar bibir mereka terlepas.“Kamu gila, Bima!” pekik Megha. Melipat bibirnya.Jantung Megha dalam bahaya. Dadanya itu berdegup liar, hampir saja rasanya melompat. Matanya menegang dengan napas tertahan. “Mesum!”Bima justru menyeringai tipis tanpa dosa. “Aku hanya bertindak sesuai pesananmu saja.”Megha melotot dengan napas berat naik turun. “Pesanan bagaimana?! Jangan mengada-ada! Kamu sengaja mengambil kesempatan!”Bima menaikkan satu alisnya. “Kamu menggodaku dan mengirim sinyal secara eksplisit. Sebagai suami yang sangat pengertian, tentu harus langsung tanggap dan tahu diri untuk membahagiakan istriku. Lantas, apa salahku?”Megha merinding geli mendengarnya. “Tingkat rasa percaya dirimu benar-benar sudah menyentuh langit.”Megha berputar hendak mundur menjauh, tetapi Bima bergerak jauh lebih cepat. Tangan pria itu
Megha kembali menatap pengacara itu “Suami saya yang sangat baik hati, tidak sombong, dan tidak pernah marah-marah ini, selalu membelikan saya banyak barang mewah termasuk berlian mahal yang sama sekali tidak saya minta. Tapi sayangnya, dia melupakan janjinya sendiri. Dia lupa membelikan rumah mewah atas nama saya sendiri, mobil atas nama saya sendiri, bahkan apartemen atas nama saya dan beberapa aset.” Bima tercengang seketika, matanya melebar menatap istrinya dari samping. Megha menahan senyum kemenangannya. Tentu saja itu semua sengaja untuk mengerjai Bima. Paman pengacara itu langsung menoleh pada Bima, tajam. “Bima, kamu harus jadi pria yang berkomitmen penuh. Kekayaan keluarga tidak akan berkurang sedikit pun hanya karena kamu membelikan beberapa aset untuk istri sahmu sendiri.” Bima dengan cepat menguasai raut wajahnya kembali. Dia tidak tinggal diam dan memilih meladeni serangan itu. Pria itu kini menyunggingkan senyum miring. “Tentu saja tidak, Paman. Aku bukannya l
“Bima tidak berbohong, Paman. Saya memang tinggal di sini.” Wanita itu melengkungkan senyum sangat lebar yang membuat bulu kuduk Bima langsung berdiri. Bima tergagap menatap istrinya. “Me-Megha?” Pria itu tak tahu lagi harus berkata apa. Dadanya terus berdenyut kencang dan tatapannya bergulir sembarangan, pasrah dengan situasinya. Pengacara sang kakek memicingkan mata, lalu mengangguk kecil. Pria paruh baya itu mencoba mengingat wujud istri Bima saat dia menjadi saksi pernikahan dua tahun lalu. Penampilan wanita di depannya ini sangat mirip dengan memori itu, meskipun ada sedikit perbedaan. Dan yang membuat pengacara itu sedikit merasa senyum, Bima benar-benar kuat menahan diri untuk menerima syarat dari kakeknya untuk bertahan menikahi istri yang tidak cantik. Megha berjalan tanpa keanggunan sama sekali. Dia sengaja memakai make up downgrade dengan foundation cokelat tua dan lipstik pucat. Bahkan, ada coretan hitam tipis sengaja dibubuhkan di salah satu pipinya. Kalau dulu ram







