Home / Romansa / Terbuai Setelah Malam Pertama / 93. Rugi? Dada Masih Utuh

Share

93. Rugi? Dada Masih Utuh

Author: Angsa Kecil
last update publish date: 2026-09-24 20:26:37

Posisinya kini benar-benar terhimpit dalam dekapan Bima.

Napas Megha seketika memburu. Kaget, geram membakar dadanya. Ternyata kata-kata Bima semalam kalau nggak mau tidur di ranjang itu, cuma akal-akalan saja.

“Licik!!” jerit Megha. Mendorong dada Bima sekuat tenaga hingga pria itu tersentak bangun dari tidurnya.

Bima tersentak dan masih setengah sadar. “Apa-apaan ini, pagi-pagi sudah teriak.” Dia beranjak duduk dengan wajah tanpa dosa.

Megha bangun dan menunjuk wajah suaminya dengan mata nyal
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terbuai Setelah Malam Pertama   98. Six Pack

    Kalimat Megha mendadak tertahan di tenggorokan. Matanya menegang begitu menangkap penampakan suaminya. Rambut Bima yang masih basah dengan sisa tetesan air di dada bidang serta perut six-pack-nya benar-benar bikin salah fokus. Penampilan pria itu kelihatan amat hot sekaligus keren tanpa minus. Setengah mati Megha menahan napas, dadanya berdebar tak karuan sampai rasanya mau melompat keluar.Melihat reaksi itu, Bima tersenyum miring. ‘Nah, kan, benar perkiraanku. Dia langsung syok saat melihat ketampananku. Mulut bodoh tajam dan mengelak, tapi respon raga tidak bisa bohong,’ batinnya dengan tingkat kepercayaan diri makin melonjak.Lalu, Bima berjalan pelan menghampiri meja dengan wajah tenang yang dibuat sok cool. Namun, begitu pandangannya jatuh pada isi piring dan isi gelas, matanya seketika melotot lebar.“Kenapa kamu bawa makanan seperti ini? Ini yang kamu sebut sarapan?” ketus Bima, heran dan geram.Megha masih mencoba menetralkan debar jantungnya yang makin liar. Dia menelan lud

  • Terbuai Setelah Malam Pertama   97. Ada yang Cemburu

    “Tenang dulu. Kamu masih bisa cara cara lain.”Seorang temannya mencoba menenangkan, tapi Varen langsung menepis tangan itu kasar. “Kamu pikir aku bisa tenang?! Bertahun-tahun aku yang ada di samping Megha! Saat dia terpuruk, saat dia hampir menyerah sama hidupnya, siapa yang pegang tangannya?! Aku!”Lalu, Varen tertawa sumbang, tatapannya nyalang, dadanya panas.“Waktu dia sakit parah, tidak ada yang peduli, sampai harus masuk UGD malam-malam, siapa yang kalang kabut cari dokter terbaik?! Aku yang tidak tidur semalaman buat menunggunya di samping ranjangnya! Aku yang usap dahinya, aku yang pastikan dia baik-baik saja! Bima di mana saat itu?! Pria brengsek itu bahkan tidak tahu kalau Megha sedang kesakitan!”Dadanya naik turun. Bayangan Megha yang kini terikat dalam pernikahan dengan Bima membuat kepalanya rasanya mau pecah. Selama ini dia selalu jadi benteng pertahanan Megha, memberikan porsi support paling besar tanpa menuntut apa-apa. Dia mengorbankan waktu, perasaan, dan segalan

  • Terbuai Setelah Malam Pertama   96. Mengukung

    Bima mengunci tubuh Megha di bawah kungkungannya, menatap dalam manik mata istrinya.Deg. Deg. Deg.Detak jantung Megha berdegup begitu kencang hingga getaran dadanya begitu kuat, naik-turun sambil menahan napas. Tangannya mencengkeram kuat bahu Bima. Jarak wajah suaminya hanya tersisa sejengkal dari wajahnya, membuatnya tak bisa berkata-kata lagi.Hembusan napas hangat Bima menerpa kulit pipinya, mengikis pertahanan diri Megha.Ketika Megha mencoba menggeser tubuhnya sedikit saja, Bima refleks makin merapatkan posisinya, mengunci pergerakan wanita itu sepenuhnya di bawah kungkungannya.“Megha! Apa yang pria itu lakukan padamu? Bima! Jangan berani menyakiti Megha! Jawab aku, Megha! Kalau kamu dalam bahaya, aku akan datang ke rumah itu sekarang juga!” teriak Varen panik, di balik telepon.Suara panik Varen mematik kesadaran Megha kembali. Hanya saja pikirannya masih tak karuan. Dengan napas memburu dan perasaan membuncah campur aduk, Megha mulai mendorong dada Bima. “Lepas, Bima …,” b

  • Terbuai Setelah Malam Pertama   95. CUP CUP

    Megha sudah membuka mulut untuk menjawab. “Kami sudah–” “Kami sudah melewati malam pertama, Ma. Dan tentunya semalam tidur berpelukan.” Tapi, Bima sudah lebih dulu menyambar dengan santainya. Membuat Megha mengepalkan tangannya di balik dress, geregetan setengah mati dalam hati. Sedang Bima, memang sengaja menjawab asal dan provokatif karena tahu Mamanya membenci Megha. Pria itu dengan sengaja membentuk opini seolah-olah mereka telah melanggar batas kontrak perjanjian awal yang melarang adanya kontak fisik. Demi, agar Mamanya tidak berani memisahkannya. Rianti menunjuk wajah Megha dengan napas memburu. “Kurang ajar! Kamu memang wanita licik dan murahan, Megha! Kamu memanfaatkan tubuhmu untuk mengikat anakku!” Megha tak tinggal diam. Dia tidak mau terkesan murahan di mata mertuanya. “Tolong jaga ucapan Mama. Kalau ada yang harus disalahkan atas situasi ini, salahkan anak Mama sendiri.” Mata Rianti melotot. “Apa kamu, Bilang? Meski sekarang penampilanmu sudah seperti ini, tapi sel

  • Terbuai Setelah Malam Pertama   94. Buang Make up Istri

    Setelah dapat info siapa sebenarnya istri Bima, dia langsung datang untuk check langsung. Di lantai bawah, Rianti mondar-mandir dengan napas memburu dan wajah emosi. “Kalau benar Megha dan Kiran itu satu orang yang sama, aku tidak akan biarkan pesta malam nanti terlaksana. Dan jangan sampai mereka tidur satu kamar!” serunya seraya meremas kedua tangannya erat-erat.Dada Rianti naik turun bergetar menahan emosi. “Pasti bisa aku atur nanti. Aturan konyol si kakek itu pasti bisa digeser.”Bima melangkah tenang menyusuri anak tangga. “Harusnya Mama datang nanti malam. Soal persiapan pesta kecil makan malam keluarga, sudah aku urus semua.”Rianti menoleh cepat dan langsung mendekat dengan tatapan tajam nyalang. “Mana Megha? Mama mau lihat wajahnya sekarang juga!”Bima menoleh melirik ke arah atas dengan wajah santai. “Dia masih mandi sepertinya.”Rianti lalu memindai penampilan putranya dari atas ke bawah, makin kesal saat mendapati Bima yang masih mengenakan baju tidur. “Kenapa kamu masi

  • Terbuai Setelah Malam Pertama   93. Rugi? Dada Masih Utuh

    Posisinya kini benar-benar terhimpit dalam dekapan Bima.Napas Megha seketika memburu. Kaget, geram membakar dadanya. Ternyata kata-kata Bima semalam kalau nggak mau tidur di ranjang itu, cuma akal-akalan saja.“Licik!!” jerit Megha. Mendorong dada Bima sekuat tenaga hingga pria itu tersentak bangun dari tidurnya.Bima tersentak dan masih setengah sadar. “Apa-apaan ini, pagi-pagi sudah teriak.” Dia beranjak duduk dengan wajah tanpa dosa.Megha bangun dan menunjuk wajah suaminya dengan mata nyalang. “Lihat kelakuanmu! Mana jarum-jarumku?! Kamu sengaja menenggelamkannya dan menyeberang ke areaku, kan?! Benar-benar mesum. Ini masuk pasal pelukan paksa, dan penganiayaan perasaan istri!”Bima tertawa kesal, dengan alis terangkat. Dia lalu merapikan posisi duduknya, sambil memasang wajah angkuh seolah tidak terjadi apa-apa. “Tuduhan konyol macam apa itu? Jarum-jarum itu tenggelam karena mereka nggak bisa melawanku. Dan aku tidak memaksamu masuk dalam pelukanku. Semalam kita sama-sama terlel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status