Masuk06
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Atalaric, seusai menjauhkan diri dan berpindah duduk di sebelah kanan gadis berdagu lancip.
"Ya, Pak. Saya nggak apa-apa," jawab Harvitha. Dia masih kaget, karena dipeluk Atalaric di depan Sekar dan Lazuardi.
"Syukurlah. Aku sudah panik tadi. Mana jalanan macet dan mobilku terjebak di tengah." Atalaric mengalihkan pandangan ke depan. "Thanks, Di," ucapnya dengan tulus.
"Sama-sama, Mas," balas Lazuardi.
"Aku tadi bingung mau minta tolong ke siapa. Aku bikin pengumuman di grup, lalu Hisyam nelepon, dia bilang kamu lagi kongkow di sekitar Tebet, dan dia sudah mention kamu di grup proyek."
"Betul. Sebelum berangkat tadi sore, aku mampir ke rumah Bang Hisyam buat nganterin data, dan ngasih tahu kalau aku mau ketemu the gank di coffee shop punya kakaknya Uwais."
"Enak, di sana?"
"Yups. Banyak makanan juga, dan harganya murah. Sesuai dengan kantong ajudan biasa."
"Kamu itu dirut, bukan ajudan biasa lagi."
"Itu cuma jabatan di kantor, Mas. Kalau di luar, aku tetap junior yang baru lulus diklat pengawal."
Kedua pria itu terus berbincang, tanpa menyadari bila Harvitha tengah melongo. Atalaric dan Lazuardi baru berhenti bercakap-cakap, kala ditegur Sekar.
"Kenapa, Tha?" tanya Atalaric.
"Ehm, Mas Ardi, dirut?" Harvitha balik bertanya.
"Ya, dirut PBK. Bos tertingginya Alzam," jelas Atalaric.
Harvitha meringis. "Aku nggak tahu. Soalnya, tadi Mas Ardi bilang, dia ajudan Bang Zulfi."
"Itu, dulu. Waktu dia masih ajudan bau kencur," seloroh Atalaric.
"Ardi memang usil. Banyak orang yang tertipu," kelakar Sekar. Dia memerhatikan ketiga orang di sekitar. "Kalian sudah makan?" tanyanya.
"Aku, belum," jelas Atalaric.
"Aku, udah, tapi masih belum kenyang," papar Lazuardi.
"Vitha?' Sekar memegangi lengan kiri gadis tersebut.
"Tadi saya sudah makan sedikit. Belum selesai, sudah harus tampil. Pas balik ke meja, piringnya sudah nggak ada," ungkap Harvitha dengan sedikit malu-malu.
"Tunggu, ya. Aku panaskan steak dan goreng kentang. 15 menit lagi, siap," beber Sekar, sebelum dia berdiri dan jalan menuju pantry.
Seorang gadis remaja turun dari tangga sambil memegangi tangan laki-laki kecil berkaus merah. Disusul kedua bocah lelaki, yang parasnya mirip.
Mereka mendatangi ketiga orang di ruang tengah dan menyalami Atalaric Harvitha serta Lazuardi dengan takzim. Karin Calanta Arvhasatya, putri pertama Bryan, berpindah ke dekat bundanya untuk membantu Sekar menyiapkan makanan.
Selama beberapa menit berikutnya, Harvitha mengamati interaksi antara Atalaric dengan ketiga keponakannya. Mereka terlihat akrab, begitu juga dengan Lazuardi yang meladeni Denzel Arvhasatya mengoceh, tentang kejadian di sekolah bocah tersebut.
Bryan muncul dari luar rumah sembari mengucapkan salam. Disusul kedua ajudan muda yang menyalami Atalaric dan Harvitha dengan takzim. Lalu keduanya serentak memberi penghormatan yang dibalas Lazuardi dengan anggukan.
Setelah hidangan siap di meja makan, Bryan mengajak semua orang untuk bersantap. Dia meminta Harvitha untuk duduk di kursi antara Karin dan Atalaric. Sedangkan Lazuardi menempati kursi ujung kanan.
"Orang tuamu sudah dikabari, Tha?" tanya Bryan di sela-sela mengunyah.
"Ehm, belum. Terlalu tegang tadi, saya sampai lupa buat ngabarin mereka," tukas Harvitha.
"Biar aku yang bicara. Sekalian minta izin, supaya kamu bisa nginap di sini," sela Sekar.
"Ehm, saya pulang aja, Bu," tolak Harvitha.
"Ini sudah malam. Nggak baik perempuan keluyuran di luar," kilah Sekar.
"Bunda benar. Walaupun kamu dianterin Aric, tetap aja itu bisa jadi bahan omongan orang," timpal Bryan.
"Besok, Alzam ke sana buat jemput Arfan dan keluargamu. Supaya bisa ketemu dengan keluargaku di sini," ungkap Atalaric yang mengejutkan Harvitha.
"Ehm, saya nggak ada baju ganti, Pak," tutur Harvitha.
"Banyak bajuku yang masih baru, Tante. Ukuran badan kita sama," celetuk Karin.
"Atau mau pakai bajuku, juga bisa. Banyak yang belum dibuka bungkusnya," tambah Sekar.
"Jangan kaget, Tha. Di sini ada toko baju," canda Atalaric.
"Tuls. Letaknya di sana." Bryan menunjuk rumah di belakang kolam renang. "Itu bungalo khusus tamu di lantai bawah, dan toko baju. Lantai atasnya, mess pegawai," lontarnya.
"Habis makan, aku bantu Tante milih pakaian," cetus Karin.
Harvitha hendak menyanggah, tetapi akhirnya dia memutuskan untuk mengalah dan menuruti permintaan penghuni rumah. Harvitha bersyukur dalam hati, karena keluarga Atalaric ternyata sangat baik padanya.
Seusai bersantap, Harvitha menelepon Husni dan menyampaikan permintaan pemilik rumah. Sekar membantu meminta izin, dan Husni memperbolehkan putrinya menginap di sana.
Husni sempat terkejut kala Atalaric menyela percakapan, dan menjelaskan rencananya, untuk mengirim ajudan guna menjemput keluarga Husni esok pagi. Meskipun ragu-ragu, tetapi Husni mengiakan permintaan Atalaric.
Setelahnya, Karin mengajak Harvitha ke rumah belakang. Dia menggandeng lengan sang tante sembari melenggang dan mengoceh tentang kegiatan akhir pekan di rumah itu, yang biasanya akan ramai orang.
Harvitha tercenung memandangi deretan gantungan di sekeliling kamar terdepan tempat itu. Harvitha tidak sanggup mencegah ketika Karin mengambil banyak blus dan celana panjang dari gantungan, lalu ditempelkan ke badan Harvitha.
Karin bergerak cepat bak pramuniaga toko pakaian. Dia berjongkok dan membuka lemari bawah, guna mengambil beberapa bungkus underwear.
Karin berdiri dan berpindah ke lemari lain. Dia mengambil deodoran, pelembap bibir, dan pouch kecil berisikan kosmetik serta skincare ukuran kecil.
Harvitha terhenyak melihat merk kosmetik itu, karena dia tahu jika harga barang-barang tersebut mahal. Namun, Harvitha tidak mampu menolak, dan membiarkan Karin menggusurnya ke pintu kamar ujung kanan, yang berhadapan langsung dengan kolam renang.
"Ini kamar Tante," ucap Karin, seusai menyalakan lampu dan mesin penyejuk udara. "Di depan ada dispenser. Kopi teh, gula, dan creamer, lengkap. Ada kulkas juga. Isinya aneka kue, dan boleh dimakan semua," lanjutnya.
"Oh, ya. Kamar mandinya, yang itu. Ujung kiri." Karin menunjuk pintu yang dimaksud. "Handuk bersih dan perlengkapan mandi baru, ada di lemari dekat wastafel " sambungnya.
"Aku keluar dulu. Tante, silakan istirahat," pungkas Karin, sebelum dia berbalik dan keluar dari ruangan sambil menutup pintu dengan pelan.
Harvitha mengamati sekeliling ruangan, sebelum memasuki toilet untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Kala dia keluar, Harvitha tertegun melihat Atalaric yang sedang menghamparkan sajadah menghadap jendela.
82 Sepasang manusia duduk berdampingan di bulatan besi yang turun perlahan dari langit-langit ballroom. Celana panjang ungu mengilat berumbai yang mereka kenakan, berkibar seiring dengan gerakan bulatan besi yang terus berputar pelan, hingga sosok keduanya menghadap penonton. Harvitha bersorak kala mengenali kedua akrobaters, yakni Alvaro dan Asmiratih. Atalaric juga ikut berteriak sambil bertepuk tangan guna menyemangati kedua rekannya di atas.Setelah putaran besi terhenti, Asmiratih mengulurkan tangan kanannya yang langsung dipegangi Alvaro. Asmiratih bergeser ke kanan, lalu melepaskan tangan kiri dari besi, dan beralih memegangi karet yang diulurkan Alvato. Setelah yakin pegangannya kuat, Asmiratih berpindah ke depan Alvaro, dan menginjak kedua kaki pria itu yang sengaja ditekuk ke atas, guna menyangga kedua kaki perempuan berbaju ungu campur silver. Asmiratih melepaskan tangan kanannya dari pegangan Alvaro. Perempuan bermata besar itu melengkungkan badan ke belakang, sambil
81"Abi! Jangan joget-joget mulu! Urus kembar tilu!" pekik seseorang yang muncul dari pintu kiri sambil menggendong Zharufa dan Zhani. Sedangkan Zhardan digendong di punggung, menggunakan kain elastis. Gelakak penonton mengencang kala mengenali orang tersebut adalah Lazuardi, yang kembali berdandan sebagai separuh perempuan. Harvitha tertawa kencang, sebelum turun dari panggung bersama Amelina dan Fairly. Ketiganya berpindah duduk ke deretan kursi terdepan, lalu mereka meneruskan menonton pertunjukan tersebut. "Bun, kenapa bawa kiddos ke sini?" tanya Zikria, sembari berusaha menahan tawanya yang nyaris keluar. "Bunda mau hang out. Anak-anak, Abi yang urus," balas Lazuardi, sebelum menurunkan kedua bocah ke lantai. Kemudian dia berjongkok dan melepaskan kain elastis, supaya Zhardan bisa turun dan bergabung dengan kedua adiknya, yang tengah memeluk kaki sang abi. "Abi lagi kerja, Bun," kilah Zikria. "Jangan kerja mulu! Semua istri juga harus diperhatikan." "Semua? Istri Abi cuma B
80Ballroom Hotel Janitra siang itu kembali dipenuhi pengunjung. Bila saat akad tadi pagi tamunya hanya ratusan orang, pada resepsi tersebut jumlah tamunya membengkak hingga 1500 orang. Pebisnis senior yang datang bersama keluarga, disambut pasangan Ezhar dan Rustina, Gamal dan Darnila, serta kedua Paman dan Bibi Harvitha, yang bertugas sebagai penyambut tamu. Sementara semua bos aliansi menjadi tanggung jawab Bryan, Sekar, Tohpati, Sherina, Imran, Maudy, Damsaz, Kyle, Nirpataka dan Zinnia. Utari yang masih dalam proses pemulihan, duduk menyandar di sofa khusus untuknya di ruang VIP 2, bersama keluarga besar kedua mempelai. Naysila menemani Utari, sembari mengawasi semua anak dan keponakannya. Fikri yang kembali bertugas sebagai MC bersama Rinjani, melakukan sesi tanya jawab dengan penonton. Kedua pembawa acara juga melemparkan candaan pada kedua mempelai di pelaminan, yang memanggapinya dengan senyuman. "Bang, seperti apa pertunjukan kali ini? Apakah sama dengan resepsi Mas Heru
79Sabtu pagi, ballroom Hotel Janitra telah dipenuhi banyak orang yang mengenakan seragam sama warna, yakni cokelat muda buat laki-laki, dan peach untuk perempuannya. Suara Zufair dan Shaqueena memenuhi area. Kedua MC itu menyebutkan susunan acara, sebelum mempersilakan Hasni dan Heru memberikan pidato singkat, guna mewakili keluarga masing-masing. Setelahnya, acara akad pun dimulai. Atalaric dan Harvitha tampak serius mendengarkan penuturan penghulu. Kemudian Atalaric dan Hasni diminta melakukan latihan. Tidak berselang lama. Acara akad yang sebenarnya pun dimulai. Hasni melafazkan kalimat ijab yang dibalas Atalaric dengan ucapan kabul yang tegas, dan dalam satu tarikan napas. Penghulu menanyakan keabsahannya pada kedua saksi, yakni Rahmad (Kakak Azizah), dan Gamal. Setelahnya, sang penghulu membaca doa yang diamini hadirin. Atalaric menghela napas panjang dan melepaskannya perlahan. Dadanya seketika tenang dan beban berat di pundaknya pun langsung lenyap. Atalaric mengusapkan ke
78Acara kajian dimulai tepat pukul 8 waktu setempat. Shihabuddin, bapaknya Zikria, memberikan tausiah yang diselipi candaan, hingga jemaahnya berulang kali tertawa. Tidak terkecuali dengan Harvitha. Perempuan berjilbab sage mengilat itu sibuk menyeka sudut matanya yang berair, akibat banyak tertawa. Gelakak Harvitha mengencang, ketika Lazuardi berlakon sebagai calon suaminya, dan menjawab semua pertanyaan Shihabuddin dengan serius."Di, kalau nggak tahu siapa calonnya Vitha, Bapak mikirnya kamu yang akan nikah," tutur Shihabuddin, seraya tersenyum. "Doain, Pak. Setelah ini, Bapak ngisi acara pengajian sebelum nikahanku," balas Lazuardi. "Aamin. Nanti Bapak doakan kamu 5 menit full di depan Ka'bah." "Bapak mau umrah?" "Ya. Minggu ketiga Januari. Bareng sama Emak OY, suaminya, dan beberapa abangmu." "Loh, Emak OY ikut juga?" tanya Deswin. "Aku sudah ngomong dari kemaren, Win," sela Zikria. "Makanya aku minta Zulfan ngurus dokumen tambahan buat Emak dan Babeh," lanjutnya. Deswin
77Matahari baru menyingsing dari ufuk timur, tetapi kediaman Wirya telah ramai orang yang sibuk mempersiapkan acara kajian, sekaligus siraman, yang akan berlangsung beberapa jam mendatang.Harvitha dan keluarga besarnya yang telah datang sejak kemarin malam, ditempatkan di rumah Marwa dan Zayd. Mereka juga ikut sibuk membersihkan seluruh area luas 6 rumah tersebut, yang menyatu di sepanjang halaman belakang. Pekarangan depan rumah Bayazid, Marwa dan Zayd, telah tertutupi tenda hijau campur putih. Begitu pula dengan halaman dekat kolam ikan, dan pekarangan hingga jalan blok depan rumah Wirya. Sebab jalan itu hanya dilalui penghuni satu blok dan rumah Wirya berada di ujung kanan, penghuni lain blok itu tidak keberatan harus memutar dan melintasi ujung kiri. Jam 6, Elma tiba di rumah Marwa. Dia mengajak Harvitha ke kamar tamu satu di rumah utama, yang menjadi tempat berkumpulnya semua panitia perempuan. Elma bergegas merias Harvitha. Kemudian sang calon pengantin bertukar pakaian di







