ログイン05
Selama beberapa hari berikutnya, Harvitha gelisah, karena Atalaric sama sekali tidak mengirimkan pesan, atau pun menelepon. Padahal sebelumnya, setiap pagi pria itu akan menyapanya dalam pesan, dan menelepon di malam hari.
Harvitha khawatir jika Atalaric tersinggung dengan penolakanjya Minggu sore kemarin. Padahal sebelumnya Harvitha ingin menerima ajakan pria tersebut untuk menjalin hubungan serius, tetapi dia malu dan tidak percaya diri menjadi pendamping Atalaric.
Jumat malam itu, Harvitha bekerja dengan separuh hati. Dia beralasan tengah sakit perut akibat datang bulan, Harvitha menolak ajakan bosnya guna berbincang berdua.
Harvitha khawatir jika Felix Arion akan kembali berusaha menciuminya secara paksa, seperti yang pernah dilakukan sang bos pada bulan lalu.
Mira yang telah mengetahui peristiwa itu, berusaha untuk melindungi Harvitha. Namun, sebelum acara usai, kakaknya Mira menelepon dan meminta perempuan itu untuk segera pulang, karena Ibu mereka masuk rumah sakit akibat serangan asma berat.
Harvitha membiarkan Mira pergi, sembari memutar otak guna mencari cara supaya bisa menghindari Felix. Usaha Harvitha nyaris berhasil. Dia bergegas keluar dari venue dan jalan cepat ke area depan. Sebelum dia terpaksa berhenti, setelah tangan kirinya ditarik seseorang.
"Aku antar kamu pulang," tukas Felix.
"Enggak usah, Pak. Saya bisa pulang sendiri," tolak Harvitha sembari berusaha melepaskan tangannya dari cekalan lelaki tersebut.
"Kita perlu bicara, buat meluruskan kejadian tempo hari."
"Maaf, tapi saya sudah ditunggu orang."
"Siapa?"
"Pacar saya."
Felix menyipitkan mata. "Pacar?"
"Hu um."
Harvitha mencari kontak seseorang dan langsung menghubunginya. Harvitha terpaksa berbohong supaya bisa menyingkirkan Felix dengan cara halus.
"Assalamualaikum," sapa Harvitha, sesaat setelah panggilannya tersambung.
"Waalaikumsalam," jawab pria di seberang telepon.
"Mas, sudah nyampe mana?"
"Ha?"
"Aku sudah selesai kerja, dan nunggu di depan."
Atalaric menegakkan badan. Dia memaksa otaknya untuk berpikir cepat, sebelum dia bertanya, "Apa kamu sendirian di situ?"
"Enggak, tapi sekarang mulai sepi. Apa aku naik taksi aja?"
"Lokasimu, di mana?"
"Oh, oke. Aku share loc."
Harvitha menutup sambungan telepon, lalu jalan cepat ke dekat gerbang sambil mengirimkan lokasinya pada Atalaric. Harvitha tidak berani menoleh ke belakang, karena dia yakin jika Felix tengah mengikuti.
Sesampainya di depan gerbang, Harvitha memindai sekitar. Dia memutuskan untuk menyeberang guna mencapai mini market, yang di depannya cukup ramai orang.
Harvitha memandangi seunit mobil sedan merah yang keluar dari tempat parkir gedung pertemuan itu. Harvitha menyelinap ke lapak pedagang gorengan dan berakting hendak membeli, saat pengemudi mobil itu turut menyeberang dan berhenti di depan mini market.
Harvitha makin deg-degan, kala Felix keluar dari mobil, dan jalan mendekatinya. Harvitha menekan rasa panik yang mulai mencuat, sembari bertekad untuk tetap berada di keramaian. Dia menyahut panggilan dari Atalaric yang menyampaikan jika ada seorang ajudan PBK yang akan menjemputnya, dengan menggunakan jaket kulit hitam dengan logo perusahaan di bagian dada.
Seunit motor besar mendekat dan berhenti di tepi jalan. Seusai memasang standar, pengendaranya turun dari motor dan menyambangi lapak pedagang gorengan.
"Neng, sudah belanjanya?" tanya pria berjaket hitam, seusai membuka kaca helmnya.
Tatapan Harvitha tertuju ke logo PBK di jaket pria tersebut. "Sudah," balasnya.
"Ayo. Helm-mu di motor," ajak lelaki beralis tebal tersebut.
Harvitha melenggang menghampiri sang ajudan. Keduanya jalan berdampingan, dengan diikuti tatapan tajam Felix. Harvitha memakai helm dengan benar, lalu menaiki motor dan memegangi pinggang pria berjaket hitam.
Felix mengumpat dalam hati kala motor itu menjauh. Dia kesal, karena Harvitha ternyata telah memiliki kekasih. Felix berbalik dan bergegas memasuki mobilnya. Pria bersetelan jas hitam itu melajukan kendaraan ke arah yang berbeda dengan motor tadi.
"Makasih," ucap Harvitha, ketika motor telah jauh dari mini market.
"Sama-sama," jawab sang pengendara.
"Mas, ajudannya Pak Atalaric?"
"Bukan. Aku, Lazuardi. Ajudannya Bang Zulfi, sobatnya Mas Aric."
Harvitha manggut-manggut. "Maaf, aku ngerepotin."
"Enggak apa-apa. Kebetulan tadi aku baru pulang kongkow. Terus baca pengumuman di grup proyek."
"Pengumuman?'
"Ya. Mas Aric minta tolong siapa pun yang lagi di daerah sini, buat jemput kamu. Kebetulan, aku nggak terlalu jauh, dan bisa langsung otw kemari."
Harvitha mengangguk paham. Dia memerhatikan sekeliling, lalu dia bertanya, "Ini, kita mau ke mana?"
"Rumah Bu Sekar. Mas Aric yang minta kamu dianterin ke sana, karena dia masih di perjalanan."
Memasuki area perumahan, Harvitha membatin jika itu adalah kawasan hunian elite. Dugaan Harvitha terbukti benar, karena sepanjang jalur utama itu semua bangunannya adalah rumah mewah, dengan kendaraan mahal yang terparkir di carport ataupun pekarangan.
Harvitha memerhatikan sekeliling. Dia baru tahu jika perumahan itu ternyata besar sekali, dan terdiri dari 10 cluster yang berbeda tipe serta tema rumahnya, sesuai dengan informasi dari Lazuardi.
Pria tersebut menghentikan motor di depan rumah besar ber-cat hijau muda. Harvitha turun dan melepaskan helm. Dia menunggu Lazuardi turun, kemudian keduanya mendekati teras depan rumah yang pintunya terbuka lebar.
Harvitha kaget saat Lazuardi langsung memasuki rumah sambil mengucapkan salam, tanpa melepaskan sepatu. Harvitha ragu-ragu sesaat, sebelum melepaskan sepatutnya dan mengekori langkah pria bertubuh tinggi tersebut.
"Bun, aku nganter paket," seloroh Lazuardi, sebelum mendekati Sekar dan menyalami perempuan itu dengan takzim.
"Vitha, kamu, nggak apa-apa?" tanya Sekar, sembari menghampiri Harvitha yang turut menyalaminya dengan hormat.
"Ya, Bu. Saya nggak apa-apa," sahut Harvitha.
"Sepatunya, kenapa dilepas?"
"Ehm, takut lantainya kotor."
Sekar mengulum senyuman. "Bi, ambilkan sandal buat Vitha," pintanya yang segera dikerjakan sang asisten. "Duduk sini," ajaknya, sembari mengarahkan tamunya ke sofa ruang tengah.
"Aric tadi nelepon. Dia bilang, kamu digangguin orang di depan gedung T. Beneran?" desak Sekar.
Harvitha meringis malu. "Semacam itu, Bu."
"Kenal sama orangnya?"
"Dia, Pak Felix, pemilik hotel, restoran, plus WO tempat saya kerja."
"Dia apain kamu?"
"Ehm, bulan lalu, ada acara di tempat temannya. Dia ... ngajak saya ke ruang VIP. Terus dia ... mau nyium saya. Untungnya saya berhasil keluar dan langsung kabur."
Sekar mengerucutkan bibirnya, lalu dia memandangi Lazuardi yang tengah duduk santai di kursi seberang, sembari mengunyah kacang telur.
"Di, kamu lihat orangnya? Si Felix itu," desak Sekar
"Sekilas, Bun," jelas Lazuardi. "Dia tadi mandangin aku, sambil merengut,' akunya.
"Cakep?"
"Biasa aja. Lebih cakepan aku."
"Aih! Muji diri."
"Bunda nggak pernah muji aku."
"Males."
"Pujilah, Bun. Sekali aja."
"Yusuf lebih ganteng daripada kamu."
"Langsung patah hati aku."
"Drama."
Bunyi decit ban mobil dari luar rumah menjadikan percakapan itu terhenti. Tidak lama berselang, Atalaric muncul sambil memasang raut wajah serius. Dia menyalami Sekar dengan takzim, lalu bergeser ke kiri dan merunduk untuk memeluk Harvitha, yang tubuhnya sontak menegang.
68Arfan berteriak sesaat setelah pesawat berlogo Baltissen 1 mendarat di landasan. Arfan maju dan menempelkan kedua tangannya ke kaca, sembari memandangi moncong pesawat yang kian mendekat. Sekian menit berlalu. Arfan telah digendong Kairav yang jalan cepat menuju pesawat. Pintu burung besi terbuka dan Jariz keluar lebih dulu sambil menjinjing tas kerjanya. Satu per satu ajudan muda turun. Mereka bergegas mengambil koper para bos dan menyeretnya ke ruang tunggu. Kairav menaiki tangga, lalu menurunkan Arfan guna bisa menjelajahi isi kabin. Arfan menyambangi Atalaric dan beberapa bos yang masih berada di dalam. Alvaro menggenggam tangan kiri Arfan dan mengajaknya memasuki kokpit. Lelaki kecil berkemeja merah itu sempat termangu, memandangi pilot dan kopilor yang merupakan warga negara asing. Namun, kala kopilot menyapanya dengan bahasa Indonesia fasih, Arfan spontan tersenyum. "Om, namanya siapa?" tanya Arfan, sembari memandangi sang kopilot. "Gutierre Benedicto. Aku, Adik sepupu
67 Sidang perdana atas Felix berlangsung secara tertutup. Selain petugas keamanan, banyak polisi yang turut mengamankan sekitar gedung pengadilan. Sebab Felix cukup terkenal di dunia bisnis hiburan tanah air, banyak awak media resmi maupun independen, yang memenuhi area parkir depan gedung. Atalaric tidak hadir dalam sidang itu, karena sedang dinas ke Filipina. Dia diwakili kuasa hukum, dan Caksa, serta Hisyam. Harvitha hadir dengan didampingi Farras, Hasni, dan ketiga sahabatnya. Sebagai pihak penggugat, Harvitha tetap bersikap tenang. Dia duduk di bangku belakang tim kuasa hukum dan nyaris tidak bergerak, hingga persidangan itu usai. Harvitha bangkit dan merapikan gaunnya. Panggilan dari depan membuatnya menengadah, dan memandangi pria berkemeja putih yang tengah berdiri di dekat pagar pembatas. "Terima kasih sudah mau datang," cakap Felix, sesaat setelah Harvitha mendekat."Ya." Harvitha terdiam sejenak, lalu dia bertanya, "Bapak, sehat?" "Lumayan. Ehm, makasih juga atas kir
66Harvitha mengusap set perhiasan di tujuh kotak yang dibukakan Zhou Yiran, di meja toko perhiasannya dan Malya (istri Jariz), yang berada di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan. Harvitha bingung hendak memilih yang mana, karena semuanya bagus. Dia meminta pendapat Atalaric yang juga sama bingungnya. Kemudian Atalaric mengusulkan guna mengirimkan semua foto set perhiasan itu pada Sekar, yang dianggap lebih memahami detail perhiasan. Selama beberapa menit Sekar mengamati setiap detail foto. Lalu dia memberi tanda pada tiga set yang menurutnya paling cocok dengan kepribadian Harvitha. Kemudian Sekar mengirimkan ulang foto itu pada calon Adik iparnya. Harvitha berdiskusi dengan Zhou Yiran, yang kemudian menerangkan setiap detail perhiasan buatannya itu, sebagai bahan pertimbangan sang calon pengantin. "Saranku, ini paling pas buat mahar," ujar Zhou Yiran sambil menunjuk kotak perhiasan kedua. "Yang ini, bisa dipakai untuk akad," lanjutnya sembari memajukan kotak pertama
65*Tim Sukses VYJA*Alvaro : Sudah ada laporan dari tim China? Deswin : Laporan apa? @Padre. Alvaro : Loh! Kok, kekirim ke sini? Padahal tujuanku ke grup VCAZ. Panji : Sudah kuduga, Padre salah grup. Zulfi : Kumat lagi dia. Dimas : Dari 4 hari lalu, Padre sudah beberapa kali salah kirim. Paling sering, ke grup petinggi. Padahal tujuannya ke grup lain.Dhruvi : Padahal profil grupnya beda-beda. Panglima : Harap dimaklumi. Abangku lagi stres ditinggalin istrinya holiday sama ibu-ibu pejabat. Zhao Yichen : Alasan doang, itu. Madre cuma pergi seminggu, dan dengan pengawalan ketat. Varo lebih sering kabur dari rumah tanpa kabar. Yanuar ; Dan bikin orang se-Jakarta heboh nyariin dia. Bikin emosi!Hendri : Ujung-ujungnya, aku sama Z ditelepon W, supaya bantu nyariin Varo, pake mata batin. Zein : Jadi berasa kayak nyari jurig. Kenzo : Hantu kompeni. Irish : Padre paling cakep waktu jadi penjahat di film kung fu itu, yang bintang utamanya Mamados. Kimora : Benar. Aku masih simpan
64 Seunit bus berhenti di depan lapas kejaksaan. Beberapa tahanan turun dengan didampingi satu petugas per orang. Mereka diarahkan menuju ruangan luas, lalu dipersiapkan duduk.Satu per satu pengacara maju ke dekat meja petugas pencatatan, guna memastikan kelengkapan dokumen klien masing-masing. Kemudian, para lawyer itu mengekori langkah kliennya yang diantarkan petugas ke sel khusus tahanan baru. Felix dan Miko menjadi dua tahanan terakhir yang diarahkan petugas ke area dalam. Namun, mereka tidak ditempatkan di sel yang sama dengan beberapa tahanan sebelumnya. Felix dan Miko diantarkan ke ruangan kecil di sudut kanan lorong panjang. Sekian menit berlalu. Sang petugas dan pengacara telah keluar dari kamar itu. Felix merebahkan tubuh di kasur bawah. Sedangkan Miko tengah memindahkan pakaian dari koper ke lemari kecil di pojok kiri ruangan. "Kayaknya cuma kita yang ditempatkan di kamar kayak gini," ucap Miko, sembari duduk di bangku depan meja kecil. "Ya. Ini ruangan VIP buat taha
63Harvitha menatap pantulan dirinya di cermin besar. Dia meraba kristal swarovsky yang melapisi seluruh bagian kain luar gaun pengantinnya. Sinar ratusan permata itu tampak berkilau di cermin, dari bagian leher sampai lantai yang menutupi kedua kaki perempuan tersebut. Harvitha kaget kala Dahayu menyisiri rambutnya, sebelum digelung sederhana. Risty memasangkan tiara yang dijepit rapi di semua sisi. Kedua desainer itu merapikan kain tile penutup tiara yang menjuntai sampai lantai. Setelahnya, Harvitha duduk di bangku dekat meja rias. Tangan Elma, istri Zhao Yichen, bergerak cepat memoleskan bedak dan kosmetik tipis ke wajah sang calon pengantin. Tawa Elma menguar kala Kayra juga meminta didandani, tetapi diprotes Maheen dan Mira. "Kamu tunggu Lula datang, Kay. Dia yang nangani riasan pengiring pengantin," goda Risty, istri Ferdianto, sembari mengupas kulit jeruk. "Sekalian pasang inai?" tanya Kayra. "Belumlah. Itu H minus 1 baru dipasang. Setelah acara siraman," terang Risty."A







