Share

Bab 05

Author: Olivia Yoyet
last update publish date: 2026-07-31 09:09:02

05

Selama beberapa hari berikutnya, Harvitha gelisah, karena Atalaric sama sekali tidak mengirimkan pesan, atau pun menelepon. Padahal sebelumnya, setiap pagi pria itu akan menyapanya dalam pesan, dan menelepon di malam hari. 

Harvitha khawatir jika Atalaric tersinggung dengan penolakanjya Minggu sore kemarin. Padahal sebelumnya Harvitha ingin menerima ajakan pria tersebut untuk menjalin hubungan serius, tetapi dia malu dan tidak percaya diri menjadi pendamping Atalaric. 

Jumat malam itu, Harvitha bekerja dengan separuh hati. Dia beralasan tengah sakit perut akibat datang bulan, Harvitha menolak ajakan bosnya guna berbincang berdua.

Harvitha khawatir jika Felix Arion akan kembali berusaha menciuminya secara paksa, seperti yang pernah dilakukan sang bos pada bulan lalu. 

Mira yang telah mengetahui peristiwa itu, berusaha untuk melindungi Harvitha. Namun, sebelum acara usai, kakaknya Mira menelepon dan meminta perempuan itu untuk segera pulang, karena Ibu mereka masuk rumah sakit akibat serangan asma berat. 

Harvitha membiarkan Mira pergi, sembari memutar otak guna mencari cara supaya bisa menghindari Felix. Usaha Harvitha nyaris berhasil. Dia bergegas keluar dari venue dan jalan cepat ke area depan. Sebelum dia terpaksa berhenti, setelah tangan kirinya ditarik seseorang. 

"Aku antar kamu pulang," tukas Felix. 

"Enggak usah, Pak. Saya bisa pulang sendiri," tolak Harvitha sembari berusaha melepaskan tangannya dari cekalan lelaki tersebut. 

"Kita perlu bicara, buat meluruskan kejadian tempo hari." 

"Maaf, tapi saya sudah ditunggu orang." 

"Siapa?" 

"Pacar saya." 

Felix menyipitkan mata. "Pacar?" 

"Hu um." 

Harvitha mencari kontak seseorang dan langsung menghubunginya. Harvitha terpaksa berbohong supaya bisa menyingkirkan Felix dengan cara halus. 

"Assalamualaikum," sapa Harvitha, sesaat setelah panggilannya tersambung. 

"Waalaikumsalam," jawab pria di seberang telepon. 

"Mas, sudah nyampe mana?" 

"Ha?" 

"Aku sudah selesai kerja, dan nunggu di depan." 

Atalaric menegakkan badan. Dia memaksa otaknya untuk berpikir cepat, sebelum dia bertanya, "Apa kamu sendirian di situ?" 

"Enggak, tapi sekarang mulai sepi. Apa aku naik taksi aja?" 

"Lokasimu, di mana?" 

"Oh, oke. Aku share loc." 

Harvitha menutup sambungan telepon, lalu jalan cepat ke dekat gerbang sambil mengirimkan lokasinya pada Atalaric. Harvitha tidak berani menoleh ke belakang, karena dia yakin jika Felix tengah mengikuti. 

Sesampainya di depan gerbang, Harvitha memindai sekitar. Dia memutuskan untuk menyeberang guna mencapai mini market, yang di depannya cukup ramai orang. 

Harvitha memandangi seunit mobil sedan merah yang keluar dari tempat parkir gedung pertemuan itu. Harvitha menyelinap ke lapak pedagang gorengan dan berakting hendak membeli, saat pengemudi mobil itu turut menyeberang dan berhenti di depan mini market. 

Harvitha makin deg-degan, kala Felix keluar dari mobil, dan jalan mendekatinya. Harvitha menekan rasa panik yang mulai mencuat, sembari bertekad untuk tetap berada di keramaian. Dia menyahut panggilan dari Atalaric yang menyampaikan jika ada seorang ajudan PBK yang akan menjemputnya, dengan menggunakan jaket kulit hitam dengan logo perusahaan di bagian dada. 

Seunit motor besar mendekat dan berhenti di tepi jalan. Seusai memasang standar, pengendaranya turun dari motor dan menyambangi lapak pedagang gorengan.  

"Neng, sudah belanjanya?" tanya pria berjaket hitam, seusai membuka kaca helmnya. 

Tatapan Harvitha tertuju ke logo PBK di jaket pria tersebut. "Sudah," balasnya. 

"Ayo. Helm-mu di motor," ajak lelaki beralis tebal tersebut. 

Harvitha melenggang menghampiri sang ajudan. Keduanya jalan berdampingan, dengan diikuti tatapan tajam Felix. Harvitha memakai helm dengan benar, lalu menaiki motor dan memegangi pinggang pria berjaket hitam. 

Felix mengumpat dalam hati kala motor itu menjauh. Dia kesal, karena Harvitha ternyata telah memiliki kekasih. Felix berbalik dan bergegas memasuki mobilnya. Pria bersetelan jas hitam itu melajukan kendaraan ke arah yang berbeda dengan motor tadi. 

"Makasih," ucap Harvitha, ketika motor telah jauh dari mini market.

"Sama-sama," jawab sang pengendara. 

"Mas, ajudannya Pak Atalaric?" 

"Bukan. Aku, Lazuardi. Ajudannya Bang Zulfi, sobatnya Mas Aric." 

Harvitha manggut-manggut. "Maaf, aku ngerepotin." 

"Enggak apa-apa. Kebetulan tadi aku baru pulang kongkow. Terus baca pengumuman di grup proyek."

"Pengumuman?' 

"Ya. Mas Aric minta tolong siapa pun yang lagi di daerah sini, buat jemput kamu. Kebetulan, aku nggak terlalu jauh, dan bisa langsung otw kemari." 

Harvitha mengangguk paham. Dia memerhatikan sekeliling, lalu dia bertanya, "Ini, kita mau ke mana?" 

"Rumah Bu Sekar. Mas Aric yang minta kamu dianterin ke sana, karena dia masih di perjalanan." 

Memasuki area perumahan, Harvitha membatin jika itu adalah kawasan hunian elite. Dugaan Harvitha terbukti benar, karena sepanjang jalur utama itu semua bangunannya adalah rumah mewah, dengan kendaraan mahal yang terparkir di carport ataupun pekarangan. 

Harvitha memerhatikan sekeliling. Dia baru tahu jika perumahan itu ternyata besar sekali, dan terdiri dari 10 cluster yang berbeda tipe serta tema rumahnya, sesuai dengan informasi dari Lazuardi. 

Pria tersebut menghentikan motor di depan rumah besar ber-cat hijau muda. Harvitha turun dan melepaskan helm. Dia menunggu Lazuardi turun, kemudian keduanya mendekati teras depan rumah yang pintunya terbuka lebar. 

Harvitha kaget saat Lazuardi langsung memasuki rumah sambil mengucapkan salam, tanpa melepaskan sepatu. Harvitha ragu-ragu sesaat, sebelum melepaskan sepatutnya dan mengekori langkah pria bertubuh tinggi tersebut.

"Bun, aku nganter paket," seloroh Lazuardi, sebelum mendekati Sekar dan menyalami perempuan itu dengan takzim. 

"Vitha, kamu, nggak apa-apa?" tanya Sekar, sembari menghampiri Harvitha yang turut menyalaminya dengan hormat. 

"Ya, Bu. Saya nggak apa-apa," sahut Harvitha. 

"Sepatunya, kenapa dilepas?" 

"Ehm, takut lantainya kotor." 

Sekar mengulum senyuman. "Bi, ambilkan sandal buat Vitha," pintanya yang segera dikerjakan sang asisten. "Duduk sini," ajaknya, sembari mengarahkan tamunya ke sofa ruang tengah. 

"Aric tadi nelepon. Dia bilang, kamu digangguin orang di depan gedung T. Beneran?" desak Sekar. 

Harvitha meringis malu. "Semacam itu, Bu." 

"Kenal sama orangnya?" 

"Dia, Pak Felix, pemilik hotel, restoran, plus WO tempat saya kerja." 

"Dia apain kamu?" 

"Ehm, bulan lalu, ada acara di tempat temannya. Dia ... ngajak saya ke ruang VIP. Terus dia ... mau nyium saya. Untungnya saya berhasil keluar dan langsung kabur." 

Sekar mengerucutkan bibirnya, lalu dia memandangi Lazuardi yang tengah duduk santai di kursi seberang, sembari mengunyah kacang telur. 

"Di, kamu lihat orangnya? Si Felix itu," desak Sekar 

"Sekilas, Bun," jelas Lazuardi. "Dia tadi mandangin aku, sambil merengut,' akunya.

"Cakep?" 

"Biasa aja. Lebih cakepan aku." 

"Aih! Muji diri." 

"Bunda nggak pernah muji aku." 

"Males." 

"Pujilah, Bun. Sekali aja." 

"Yusuf lebih ganteng daripada kamu." 

"Langsung patah hati aku." 

"Drama." 

Bunyi decit ban mobil dari luar rumah menjadikan percakapan itu terhenti. Tidak lama berselang, Atalaric muncul sambil memasang raut wajah serius. Dia menyalami Sekar dengan takzim, lalu bergeser ke kiri dan merunduk untuk memeluk Harvitha, yang tubuhnya sontak menegang. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tergoda Mama Muda   Bab 05

    05Selama beberapa hari berikutnya, Harvitha gelisah, karena Atalaric sama sekali tidak mengirimkan pesan, atau pun menelepon. Padahal sebelumnya, setiap pagi pria itu akan menyapanya dalam pesan, dan menelepon di malam hari. Harvitha khawatir jika Atalaric tersinggung dengan penolakanjya Minggu sore kemarin. Padahal sebelumnya Harvitha ingin menerima ajakan pria tersebut untuk menjalin hubungan serius, tetapi dia malu dan tidak percaya diri menjadi pendamping Atalaric. Jumat malam itu, Harvitha bekerja dengan separuh hati. Dia beralasan tengah sakit perut akibat datang bulan, Harvitha menolak ajakan bosnya guna berbincang berdua.Harvitha khawatir jika Felix Arion akan kembali berusaha menciuminya secara paksa, seperti yang pernah dilakukan sang bos pada bulan lalu. Mira yang telah mengetahui peristiwa itu, berusaha untuk melindungi Harvitha. Namun, sebelum acara usai, kakaknya Mira menelepon dan meminta perempuan itu untuk segera pulang, karena Ibu mereka masuk rumah sakit akibat

  • Tergoda Mama Muda   Bab 04

    04Beberapa lagu romantis berbahasa Inggris, mengalun merdu dari bibir Harvitha. Dia menutup pertunjukan singkat itu dengan lagu dangdut, sembari memancing penonton untuk bergoyang. Sekelompok pria maju dan berjoget dengan gaya heboh, yang membuat hadirin tertawa. Suasana kian meriah, ketika Atalaric mengajak Arfan bergoyang, dan bocah itu joget dengan semangat. "Lagi! Lagi! Lagi!" seru penonton, kala lagu itu usai. "Mau lagu apa?" tanya Harvitha. "Dangdut lagi aja. Aku masih pengen joget," seloroh Benigno Griffin Janitra, presiden komisaris Janitra Grup, sekaligus dokter pemilik salah satu rumah sakit terkenal, di Jakarta Selatan dan Bandung. Harvitha berdiskusi dengan Trevor Aryeswara, sang pemain keyboard. Pria bertubuh tinggi besar itu merupakan presiden direktur Aryeswara Grup, sekaligus Adik sepupu Benigno. "Turunin 1 nadanya, Pak. Nggak nyampe suara saya kalau ikut penyanyi asli," ungkap Harvitha dengan jujur. "Begini?" Trevor menekan tuts keyboard."Ya, segitu." "Sip."

  • Tergoda Mama Muda   Bab 03

    03Dua pekan berlalu. Atalaric kembali muncul di kediaman orang tua Harvitha. Pria berhidung mancung itu memberikan mainan yang diterima Arfan dengan gembira. Selain itu pria tersebut juga membawa aneka kue, yang diambil Harvitha dengan senang hati. Kedua orang tua Harvitha, mengajak Atalaric berbincang. Hasni Saifuddin dan Azizah Sadiya, saling melirik, seusai menyaksikan interaksi antara Atalaric dan Arfan yang sangat akrab. Tidak berselang lama, kedua laki-laki berbeda generasi itu dan juga Harvitha, telah berada di mobil SUV putih yang ukurannya lebih ramping dari mobil sedan, yang digunakan Atalaric dua minggu lalu. Pria berkemeja cokelat muda tersebut berbincang dengan Arfan, sembari mengajarkan bocah itu menggambar di ipadnya. Harvitha memerhatikan kedua pria berbeda generasi itu. Dia takjub, karena Arfan bisa cepat akrab dengan Atalaric. Padahal dengan orang dewasa lainnya, Arfan lebih sering menjaga jarak. "Vit, nanti nyumbang nyanyi, ya," pinta Atalaric, lalu dia menunju

  • Tergoda Mama Muda   Bab 02

    02Atalaric membaca biodata Harvitha, yang telah diselidiki tim rahasia PBK, perusahaan jasa keamanan terkemuka di Indonesia, yang menjadi rekanannya sejak puluhan tahun silam.Atalaric dan keluarganya, menjadi salah satu klien pertama PBK dan PB. Kedua perusahaan itu berada dalam 1 grup yang sama, dengan pemilik yang sama pula. Perbedaannya hanya di jenis layanan. PBK menyediakan tenaga bodyguard terlatih dan bersertifikat nasional serta internasional. Sementara PB menangani penyediaan tenaga sekuriti, yang juga terlatih dan bersertifikat nasional. Selain di tanah air, kedua perusahaan itu juga memiliki cabang di banyak negara, tempat di mana kesepuluh komisaris utamanya berbisnis. "Masih ada lagi orang yang perlu diselidiki, Mas?" tanya Daegal Jihadi, ketua tim rahasia 11."Ehm, nggak ada. Ini sudah cukup," jawab Atalaric. "Makasih, Da," lanjutnya. "Sama-sama, Mas. Kalau gitu, aku mau balik kerja." "Lagi nyelidikin siapa?" "Pacarnya Sandrina." "Kastara?" "Betul." Atalaric te

  • Tergoda Mama Muda   Bab 01

    01"Papa!" teriak seorang anak laki-laki sembari berjalan cepat menuju sekumpulan orang. "Papa!" jeritnya, sambil memeluk kaki kiri pria bersetelan jas biru tua. Atalaric Pradipta Dewawarman, menunduk. Dia kaget, karena dipanggil Papa oleh bocah yang tidak dikenalinya. Atalaric menatap lelaki kecil yang balas memandanginya penuh kerinduan, dan hal itu menyebabkan hatinya mencelos.Alih-alih menjauh, Atalaric justru berjongkok agar bisa melihat jelas anak tersebut. Sudut bibir Atalaric mengukir senyuman, kala sang bocah memegangi pipi kirinya. "Halo. Namamu, siapa?" tanya Atalaric dengan ramah. "Arfan," jawab anak laki-laki tersebut. "Papa, kumisnya, mana?" tanyanya saat menyadari bila pria itu tidak memiliki kumis. "Dicukur." Atalaric berdiri dan mengulurkan tangan kanannya. "Mau es krim?" desaknya. Arfan Mubarak menganguk semangat. Dia menggenggam jemari pria tersebut dan mengikuti langkah Atalaric, menuju stand di ujung kanan. Seorang pria berbadan tinggi, bergegas mendahului g

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status