Partager

Bab 07

Auteur: Olivia Yoyet
last update Date de publication: 2026-09-05 11:06:57

07

"Karin lupa ngambilin mukena dan sajadah. Sudah kuhamparkan sesuai kiblat," tukas Atalaric sembari menegakkan badan.

"Makasih, Pak," ucap Harvitha. 

Atalaric menyambangi perempuan bersetelan piama merah muda. Dia membelai rambut hingga pipi Harvitha, yang balas menatapnya dengan sorot mata penuh tanya. 

"Waktu kamu telepon tadi, aku beneran takut," cetus Atalaric. "Dia, siapa?" desaknya.

"Pak Felix," terang Harvitha. 

"Bosmu."

"Hu um."

"Dia apain kamu?" 

"Dia narik tangan dan maksa aku buat ikut dia."

"Lalu?" 

"Aku panik, dan ngarang cerita, kalau aku sudah punya pacar. Terus, aku mikir harus segera cari bantuan dan langsung nelepon Bapak." 

"Kenapa harus aku?" 

Harvitha mengerjapkan mata. Dia menguatkan hati, lalu menjawab, "Karena cuma Bapak yang ada di pikiranku, dan aku yakin, Bapak bisa membantuku." 

Atalaric mengangkat kedua alis, lalu dia tersenyum. "Berarti, aku pahlawanmu, begitu?" 

"Ehm, ya, semacam itu." 

Harvitha terhenyak ketika Atalaric maju dan menciumi dahinya. Harvitha spontan memejamkan mata, dan membiarkan dirinya didekap erat pria tersebut.

"Aku ingin jadi yang spesial untukmu," bisik Atalaric, tepat di telinga kanan gadis dalam pelukan. "Mau, kan?" desaknya, sebelum menjauhkan diri.

Harvitha membuka mata dan memandangi pria yang balas menatapnya dengan intens. "Aku ... masih ragu, Pak," cicitnya.

"Kok, Pak lagi, Mas." 

"Hmm, ya." 

"Aku sudah pernah bilang, kan? Nggak usah mikirin strata sosial segala." 

"Tapi ... kita beneran timpang banget." 

"Aku nggak peduli. Yang penting itu, perasaan kita. Aku nyaman sama kamu, yang nggak pernah drama dan apa adanya. Aku juga yakin, kamu juga suka sama aku." 

"Ge er." 

"Iya, toh? Kalau nggak, kamu nggak akan nelepon aku. Benar, kan?" 

Harvitha mengangguk. "Ya, itu benar." 

"Aku suka kamu, dan kamu suka aku. Beres. Langsung lamaran dan nikah secepatnya." 

"Ehh! Nggak bisa buru-buru, gitu. Aku ...." 

Harvitha terkesiap saat Atalaric menunduk dan mengecup bibirnya. Alih-alih menolak, Harvitha justru tetap diam dan membiarkan pria itu mengisap madunya dengan lembut. 

"Aku sudah tua, Tha. Nggak ada waktu lagi buat pacaran," tukas Atalaric seusai memutus pagutan. 

"Aku paham, Mas. Tapi, kita baru kenal dan aku butuh waktu untuk lebih memahami karakter Mas," sanggah Harvitha. 

Atalaric mendengkus pelan. "Oke, sebulan. Lanjut lamaran, dan nikah." 

"Enggak. Minimal 6 bulan." 

"6 bulan lagi umurku sudah 40 tahun. Aku pengen nikah sebelum itu." 

"Masalahnya itu ...."

"Kamu nggak perlu repot mikirin ini itu. Urusan pernikahan, biar Teh Edelweiss, Lula, dan Kak Leni yang tangani." 

"Ehm, mereka siapa?" 

"Sobatku. Teh Edelweiss, owner WO ME. Lula, punya salon bridal. Kak Leni, MUA. Mereka yang menangani semua acara pernikahan bos aliansi PG." 

"ME? Itu perusahaan besar." 

"Yoih. Suaminya Teh Edelweiss adalah pemimpin keluarga Adhitama. Alias presiden komisaris Adhitama Grup." 

Harvitha kembali mengerjapkan mata. "Sahabat Mas, orang hebat semua. Aku makin insecure." 

"Itu cuma jabatan. Mereka ramah dan baik semua." Atalaric mengamati perempuan yang tengah merapikan rambut dengan jemari. "Kamu, resign aja dari kantor si brengsek itu. Aku tinggal ngomong ke Teh Edelweiss, supaya kamu masuk jadi stafnya," lanjutnya. 

Harvitha menggeleng. "Jangan, Mas. Aku masih terikat kontrak kerja, sampai 4 bulan lagi." 

"Putus saja." 

"Mesti bayar penalti, mahal banget." 

"Aku yang bayar." 

"Jangan!" 

"Daripada kamu digangguin lagi, tambah panjang masalah." 

Harvitha meringis. "Aku nggak mau utang budi ke Mas." 

"Namaku Aric, bukan Budi." 

Harvitha mengulum senyuman. "Lagi serius, malah bercanda." 

"Aku malas ngobrol serius. Yang fun aja. Kayak gini." 

Atalaric kembali menciumi Harvitha, sembari mengeratkan dekapannya ke tubuh gadis itu. Atalaric terus menyesap bibir Harvitha, yang membalas pagutannya dengan malu-malu. 

Panggilan dari luar mengejutkan pasangan tersebut. Harvitha refleks mendorong Atalaric hingga pagutan itu terlepas. Kemudian dia mundur hingga menabrak dinding. 

"Mas," panggil Alzam dari balik pintu.

"Ya?" balas Atalaric. 

"Disuruh keluar sama Bunda. Nggak boleh lama-lama di situ, cenah."

"Rese kalian!" 

Tawa Alzam bergema. Dia cepat-cepat lari ke bangunan utama, ketika pintu terbuka dan Atalaric keluar sembari menggerutu. 

Harvitha turut tersenyum. Dia beradu pandang dengan Atalaric yang masih berdiri di depan pintu. Harvitha mengangguk ketika Atalaric berpamitan, lalu pria tersebut menutup pintu.

Harvitha cepat-cepat mengunci lawang, lalu menyandar sambil mengusap dadanya yang berdegup kencang. Harvitha tercenung, kala menyadari bila Atalaric telah melamarnya, dan pria itu tidak akan menerima penolakan. 

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Tergoda Mama Muda   Bab 37

    37"Kita pindah ke kamar. Aku mau nyandar," ajak Heru, sebelum melenggang ke tempat yang dimaksud.Zinnia memindai sekitar selama beberapa detik, kemudian dia menyusul sang suami. Heru telah berbaring di kasur berseprai abu-abu mix fuchsia. Zinnia memutuskan duduk di sofa dekat jendela dan menunggu lelaki itu berbicara. "Di sini, aku nggak bisa pakai kasur lipat kayak di kamarmu," ucap Heru. "Takutnya, lupa dibereskan. Lalu kelihatan sama Bibi, atau Tania. Mereka yang biasa bersih-bersih kamar," lanjutnya. "Sofa itu bisa dijadikan tempat tidur. Nanti kita gantian tidur di situ," jelas Heru. "Kalau kurang empuk, bisa ditambahkan bed cover," sambungnya. Zinnia mengangguk. "Ya, Mas. Aku setuju." Heru mengamati perempuan yang telah dinikahinya selama lima hari tersebut. "Aku nggak mau maksa kamu buat langsung berhubungan fisik, Nia. Aku paham banget, kalau kamu masih kagok, karena aku juga sama." "Ehm, ya." "Seperti yang aku bilang Sabtu kemarin, kita jalani pelan-pelan. Kalau ada y

  • Tergoda Mama Muda   Bab 36

    36Rabu siang, pasangan pengantin baru tiba di depan rumah Heru, yang telah tertutup sepenuhnya dengan tenda putih campur hijau. Heru dan Zinnia diminta panitia untuk melangkah maju sampai dekat teras, kemudian mereka dilempari banyak bunga oleh Sulistiana, Sekar, Utari, Rustina dan Darnila. Kelompok kecil pimpinan Jabir Irwan (ajudan Heru), dipersilakan masuk ke ruang tamu. Heru sempat berhenti guna memerhatikan sekeliling yang telah dihiasi banyak bunga beraneka warna, dan beraroma harum.Heru tidak bisa memprotes tindakan keluarga dan kerabatnya, yang tampak antusias menyiapkan pesta kecil guna merayakan pernikahannya dengan Zinnia.Heru duduk di kursi tunggal. Dia mengusap kulit sofa yang terasa lebih halus, dan berbeda dari yang dulu. Heru menengadah ketika dipanggil, dan dia menerima cangkir besar yang diulurkan putrinya.Selama beberapa menit berikutnya, Heru mendengarkan celotehan Tania, yang menerangkan jika banyak perabot di kamar utama yang telah diganti. Begitu pula denga

  • Tergoda Mama Muda   Bab 35

    35Malam harinya, Harvitha sibuk bolak-balik mengangkut tambahan lauk dari dapur, ke meja prasmanan di teras samping kanan. Harvitha merasa harus membantu lebih banyak, karena dia tidak sesibuk para perempuan lain, yang tengah hamil atau pun memiliki anak kecil. Harvitha baru meletakkan tambahan ayam kalasan ke wadah stainless steel, ketika merasakan kaki kirinya dipegangi. Harvitha menunduk dan beradu pandang dengan sepasang mata sipit bocah perempuan berkuncir dua. Harvitha spontan berjongkok, lalu menggendong putri pertama Zikria dan Asmiratih, yang menunjuk ke meja prasmanan. "Cici mau apa?" tanya Harvitha. "Ayam," jawab Zeira. "Ayam goreng?" "Hu um. Kiluk-kiluk." Harvitha memaksa otaknya berpikir cepat, lalu dia bertanya, "Kriuk-kriuk?" "Hu um." "Mau berapa?" "Lima." Harvitha mengangkat alisnya. "Semuanya buat Cici?" "Hu um." Harvitha mengulum senyuman, lalu dia mengambil piring melanin khusus buat kiddos, dan meletakkan beberapa potongan ayam crispy. Harvitha berpur

  • Tergoda Mama Muda   Bab 34

    34Hari berganti. Harvitha telah berada di Jakarta sejak Minggu malam. Senin dia istirahat seharian. Selasa pagi, Harvitha sudah sibuk di kantor VYJA. Siangnya, Harvitha dan ketiga sahabatnya, bergabung dengan banyak orang lainnya di kediaman Heru. Pasangan pengantin baru akan tiba di rumah esok siang. Sebab itu, kediamannya dirapikan supaya bisa menampung keluarga inti Zinnia, yang hendak menghadiri acara ngunduh mantu. Harvitha membantu Tania dan Naysila, guna merapikan kamar utama. Utari dilarang membantu angkat berat dan hanya bisa berbaring di kamarnya, yang pernah dihuninya sebelum menikah dengan Hisyam.Sepulang dari Salatiga, perut Utari keram sampai dua hari. Hal itu menyebabkan semua orang panik, dan memaksanya untuk bed rest. Utari tidak bisa membantah dan patuh untuk berdiam diri di kamar itu, sambil bekerja secara daring. Beberapa ajudan pria memasuki kamar utama guna memindahkan ranjang lama ke luar, karena akan digantikan dengan yang baru. Alvaro muncul bersama keli

  • Tergoda Mama Muda   Bab 33

    33"Pernikahan besok akan tetap dilaksanakan, dan ... aku yang akan menikahi Zinnia," tukas Heru. Suasana ruangan seketika hening. Semua orang saling menatap, sebelum kembali memandangi Heru yang tengah mengambil KTP dari dompetnya, lalu diserahkan ke Kardi, Adik Warsito, yang merupakan pegawai kelurahan. Kardi segera keluar dari rumah dan mengendarai motornya, guna menuju kediaman kepala KUA setempat, untuk mengganti nama calon pengantin pria, di dokumen pernikahan."Mas, yakin?" tanya Atalaric. Heru mengangguk. "Ya," sahutnya. "Ibu maksa Mas?" "Aric," potong Sulistiana. "Ibu endak maksa!" protesnya. "Bagus kalau nggak maksa. Tapi, aku mesti nanya, kan, Bu. Daripada penasaran," kilah Atalaric. "Ibu beneran nggak maksa aku," jelas Heru. "Tadi, kami berembuk. Aku, Ibu, Paman Warsito, Bi Dina, Paman Kardi, dan Eyang Titi. Sama Zinnia juga," lanjutnya. "Aku cuma mau melindungi nama baik Zinnia dan keluarganya," terang Heru, sembari menatap gadis berjilbab biru yang sejak tadi hany

  • Tergoda Mama Muda   Bab 32

    32 Malam sebelum walimahan, suasana kediaman Warsito yang semula tampak gembira, mendadak berubah tegang. Keluarga besar Warsito dan Dina yang telah datang dari berbagai kota, berkumpul di bawah tenda biru yang menutupi halaman luas, sambil menunggu percakapan belasan orang di ruang tamu. Zinnia Ruhina termangu, sesaat setelah mendengar penuturan dari seorang perempuan berjilbab hitam, yang merupakan istri sah calon suami Zinnia, Ginanjar. Meskipun saat itu rumah tangga Ginanjar dan Yunengsih memang tengah dalam proses perceraian, tetapi hal itu tidak serta merta memperbolehkan Ginanjar untuk menikahi Zinnia, karena status perkawinan pertamanya belum selesai. Yunengsih tidak menyalahkan Zinnia, karena sang calon pengantin itu juga dibohongi oleh Gunawan. Selain itu, Yunengsih tahu, jika hubungan Zinnia dan Gunakan baru dimulai setelah dirinya mengajukan perceraian setahun silam. Lamanya proses perceraian itu, karena pembagian harta gono-gini yang memang cukup banyak. Gunawan yang

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status