Home / Romansa / Tergoda dengan Tetangga Daun Muda / 8. DICUEKI SUAMI, DIPERHATIKAN TETANGGA

Share

8. DICUEKI SUAMI, DIPERHATIKAN TETANGGA

Author: LUFI
last update Huling Na-update: 2025-09-29 23:33:39

Grup W******p RT biasanya bak kuburan, sunyi. Sesekali hanya ada info kerja bakti atau pengumuman iuran kas. Tapi malam itu, ponsel Nasrul tak berhenti bergetar. Pak RT menuliskan pesan panjang.

Assalamu’alaikum warga. Mohon lebih waspada. Di kampung sebelah sudah dua kali kemalingan seminggu ini, kejadiannya sekitar tengah malam. Harap pintu dan pagar rumah dikunci rapat. Kalau ada yang mencurigakan, segera lapor.

Balasan warga berderet masuk. “Siap, Pak RT.” “Waduh, serem juga.” “Semoga kampung kita aman.” Grup seketika riuh karena ancaman maling.

Nasrul membaca sambil duduk di ruang servis. Laptopnya menyala, aplikasi rahasia terbuka. Sudah dua minggu sejak malam ia memapah Arum ke sofa. Dua minggu pula bayangan itu tak pernah benar-benar pergi dari kepalanya.

“Sejak malam itu, rasanya semua berubah,” gumamnya lirih.

Satu klik, dan layar komputernya menampilkan dunia Arum lagi. Malam ini, Arum duduk di ranjang, wajah murung, rambut diikat asal, dan jemarinya sibuk mengetik. Nasrul menelan ludah saat melihat jelas pesan yang ia tuliskan untuk suaminya.

Arum:

Mas… sibuk lagi?

Hening. Butuh beberapa menit sebelum balasan muncul.

Deni:

Iya. Masih ada lemburan.

Nasrul mendesah berat. “Astaghfirullah… dingin sekali.”

Arum menggigit bibir, lalu mengetik cepat.

Arum:

Aku takut sendirian di rumah. Katanya ada maling…

Deni:

Kunci pintu aja yang rapat, Yang.

Nasrul memukul meja pelan. “Ya Allah, dia jelas butuh ditemani. Kok jawabannya seadanya begitu…”

Arum menunduk, wajahnya kian kecewa. Tapi ia mencoba lagi.

Arum:

Mas, aku kangen ngobrol. Sekarang jarang banget telponan. Dulu sebulan pertama kan sering…

Beberapa detik ia terdiam, lalu mengetik tambahan dengan jari gemetar.

Arum:

Apalagi sekarang aku sering sendirian. Ayah sering keluar kota setor mebel atau tidur di mebel, Ibu juga hampir tiap malam nginap di rumah Mbak yang baru punya bayi. Jadi rumah benar-benar sepi, Mas…

Sepuluh menit berlalu. Arum menunggu, tatapannya kosong.

Akhirnya, balasan singkat muncul.

Deni:

Besok kita telpon ya. Pulang lembur capek banget nanti, pasti langsung tidur.

Air muka Arum jatuh. Ia rebah di bantal, menutup wajah dengan tangan. Nasrul merasakan dadanya ikut sesak.

“Dia benar-benar kesepian. Bahkan orangtuanya pun jarang ada di rumah. Bagaimana mungkin harus menghadapi semua ini sendirian?” batinnya.

Nasrul menoleh ke ponselnya sendiri. Grup RT masih ramai membahas maling. Jantungnya berdegup keras.

“Aku bisa pakai ini… sebagai alasan,” bisiknya. “Sekedar mengingatkan. Tidak lebih.”

Ia mengetik perlahan, lalu kirim.

Nasrul:

Rum, maaf ganggu. Kamu sudah masuk grup WA RT belum? Tadi ada info soal maling. Takutnya kamu belum tahu, soalnya biasanya yang dimasukkan ke grup itu kepala keluarga.

Notifikasi muncul di layar Arum. Ia terkejut membaca nama pengirimnya. Senyumnya muncul samar, wajahnya sedikit berbinar.

Arum:

Oh… belum Mas. Aku memang belum masuk grup RT. Wah, terima kasih banget sudah diingatkan. Kalau nggak, mungkin aku nggak tahu apa-apa.

Nasrul menambahkan cepat, agar tidak terkesan aneh.

Nasrul:

Iya, aku dapat nomor kamu dari HP Mbak Ning tadi. Aku cuma mikir… kamu sering sendirian di rumah, takutnya nggak tahu ada info penting begini.

Arum membaca, lalu mengetik dengan cepat.

Arum:

Oh, begitu toh. Ya Allah, aku malah seneng banget diingatkan. Makasih banyak, Mas.

Nasrul:

Iya, Rum. Nggak usah sungkan. Kalau ada apa-apa, bilang saja sama aku atau Mbak Ning. 

Arum:

Iya Mas… aku jadi agak tenang dengarnya. Rasanya nggak sendirian banget. Soalnya kadang aku sampai nggak bisa tidur mikirin sepi rumah ini.

Nasrul menarik napas panjang, mencoba tetap terdengar wajar.

Nasrul:

Wajar, Rum. Apalagi malam-malam. Yang penting jangan takut. Kalau ada apa-apa, ketok rumahku aja. InsyaAllah aku siap bantu.

Balasan masuk cepat, seakan Arum benar-benar lega.

Arum:

Mas, aku beneran berterima kasih. Apalagi waktu itu Mas sudah repot nolongin aku sampai hampir jatuh. Aku malu banget kalau ingat kejadian itu…

Nasrul:

Ah, jangan dipikirkan, Rum. Aku justru minta maaf kalau malam itu aku sampai pegang kamu. Itu refleks saja, aku takut kamu jatuh.

Arum membalas dengan emotikon wajah merah menunduk, lalu menambahkan:

Arum:

Justru aku yang malu, Mas… waktu itu aku cuma pakai baju tidur begitu. Rasanya… duh, nggak enak banget.

Nasrul terdiam beberapa saat. Senyum getir muncul di bibirnya. “Ya Allah… ini semakin susah menjaga jarak…” batinnya.

Tiba-tiba notifikasi masuk lagi.

Arum:

Mas… ngomong-ngomong, hp-ku yang satu lagi itu masih rusak. Udah lama mati total. Aku jadi pengen bawa ke tempat servis. Tapi aku kepikiran… mungkin Mas bisa bantu lihat dulu? Siapa tahu masih bisa diperbaiki…

Nasrul terhenyak, menatap layar cukup lama. Jantungnya berdetak kencang.

Nasrul:

Kalau cuma coba lihat sih, insyaAllah bisa, Rum. Nanti kalau memang berat, baru dibawa ke konter.

Arum membalas dengan emotikon senyum lega.

Arum:

Ya ampun, makasih banget Mas. Kalau gitu, kapan-kapan aku bawa ke rumah Mas ya? Biar sekalian dicek…

Nasrul menyandarkan tubuh, napasnya bergetar. Dalam hati, ia tahu kesempatan emas itu sudah ada di depan mata.

“Momen ini harus aku manfaatkan… tapi jangan sampai kelihatan salah niat,” gumamnya lirih.

Di layar komputer, wajah Arum terlihat lebih cerah. Chat sederhana itu sudah cukup membuatnya merasa ditemani. Sedangkan di hati Nasrul, rencana baru mulai terbentuk—sebuah langkah yang bisa membawa mereka makin dekat, atau justru makin dalam ke jurang yang berbahaya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   34. HASRAT YANG HARUS DITUNTASKAN

    Arum berdiri di bawah guyuran shower, kulit putih bersih yang tanpa cacat memendar di balik buliran air yang mengalir dari ujung rambutnya. Payudara montoknya tegak sempurna, putingnya menjulang menantang. Pinggang rampingnya, paha panjang yang mulus, dan bokong bulat yang seolah menantang gravitasi, nampak semakin sensual seiring gerakan jemarinya yang bergerilya menyusuri tubuhnya sendiri.Tiba-tiba, ketukan pelan di pintu kamar mandi membuat jantungnya berhenti sesaat. "Siapa?" tanyanya lirih, tapi tak ada jawaban. Arum membuka pintu sedikit, dan Nasrul muncul di ambang pintu. Mata coklatnya langsung mendarat pada tubuh telanjang Arum. Tak ada kata. Hanya pandangan yang membara. “Aku mau mandi bareng kamu, Rum” Nasrul berkata tiba-tiba, tanpa meminta persetujuan langsung masuk ke dalam dan mengunci pintu kamar mandi. Pria 34 tahun itu melepas kaosnya tanpa ragu, memperlihatkan dada bidang berotot coklat sawo matang yang berkilau keringat tipis, lengan berurat, jambang dan kumis t

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   33. BERCINTA DALAM DILEMA

    "Ini... ini harus berhasil. Aku harus berpura-pura semuanya normal. Demi rahasia ini, demi anak di perutku yang nggak bersalah" Batin Ningsih bergemuruh. Dengan tangan gemetar Ningsih membuka pintu lemari, mengeluarkan baju tidur seksi yang sudah lama tak dipakai: camisole putih tipis dengan dada rendah, dan hotpan yang nyaris tak menutupi paha mulusnya. Di depan cermin, Ningsih memandangi pantulannya sendiri. Tubuhnya masih ramping, payudaranya masih kencang dan montok seperti biasa, pinggang kecil tanpa tonjolan apa pun. "Masih ramping, tak ada yang terlihat. Alhamdulillah, tapi... apa ini benar? Aku hamil, dan bukan dari suamiku. Ya Allah, astaghfirullah... Ini semua karena kebodohanku dengan Bayu," pikirannya bergejolak, tangannya pelan menyentuh perut bawah, menggerayangi kulit halus di sana, merasakan kehangatan yang sekarang terasa asing, seperti ada rahasia hidup di dalamnya yang tak bisa dia bagi siapa pun.Ningsih menarik napas dalam, berusaha tenang. "Ayo, Ning, kamu bisa

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   32. MENGUBUR BANGKAI

    “Hamil?” Bayu mengulang pelan, suaranya serak. “Mbak… beneran?” Bayu serasa dihentak oleh suara halilintar tepat di atas kepalanya.Ningsih masih duduk di tepi kasur tipis di kontrakan Bayu, tangannya memeluk lutut erat-erat. Udara pagi menjelang siang di kamar kecil itu terasa lebih pengap dari seharusnya. Matanya merah, bukan hanya karena menangis, tapi juga karena dilanda kepanikan yang sudah berjam-jam menggerogoti dadanya.Hari itu, pagi-pagi sekali Ningsih mendatangi kontrakan Bayu, masuk dengan kunci duplikat yang selama ini ia pegang, sengaja menunggu sang adik iparnya pulang dari shif malam di hotel, untuk menyampaikan hal penting tersebut.Bayu berdiri membeku, menyandarkan punggungnya di tembok kamar. Wajah yang biasanya penuh senyum nakal kini tampak pucat mendengar pengakuan dari kakak iparnya.“Mbak, jangan nakut-nakutin aku, pliss” Bayu masih tak percaya.Ningsih tak menjawab, tangannya merogoh tas selempang, mengeluarkan test pack yang sudah dibungkus plastik hitam. Du

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   31. KEJUTAN BESAR

    SATU SETENGAH MILIAR RUPIAH.Angka itu seolah terus menari-nari dan melayang di atas ubun-ubun Nasrul pada Minggu pagi itu, seperti mimpi yang tiba-tiba mewujud menjadi realita. Transfer pertama sudah mendarat: Rp 450 juta, sisanya akan menyusul dalam hitungan hari.Nasrul memelototi angka saldo banknya berulang-ulang, jarinya gemetar menyentuh layar, takut kalau-kalau angka itu lenyap begitu dia kedip. Tiga bulan yang penuh begadang, mata merah, dan keheningan di rumah akhirnya berbuah sesuatu seperti yang dia bayangkan sebelumnya, namun baginya itu terlampau besar. Pikirnya, paling besar hanya seratusan juta, itu pun total semua ditambah komisi dan akomodasi, yang nantinya sudah cukup untuk sewa ruko di kota untuk buta servis dan toko ponsel sederhana.“Alhamdulillah…, Terima kasih Tuhan….” Nasrul kebali sujud syukur entah yang ke berapa kali.Selama tiga bulan terakhir, Nasrul hampir tak lagi memperhatikan dinginnya hubungan dengan Ningsih. Dulu setiap malam dia masih berharap ada

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   30. DIABAIKAN…DISEPELEKAN

    Siang itu matahari sudah tergelincir, udara sangat kering, namun di antara paha Ningsih masih terasa ada sesuatu yang lengket saat ia menginjakkan kaki di rumahnya. Keringat menempel di punggungnya, bukan cuma karena panas, tapi juga karena badan masih terasa lemas usai berjam-jam bergumul penuh nafsu dengan adik iparnya.Kakinya terasa berat melangkah masuk ke ruang tamu yang tampak dihinggapi debu, helm nya diletakkan asal di meja tamu.Nasrul langsung muncul dari arah dapur, wajahnya yang sedari tadi tegang langsung mengendur lega begitu melihat istrinya. “Akhirnya… pulang juga. Kemana sih, Dek tadi kamu?”Ningsih cuma mengangguk kecil, tak menatap mata suaminya. “Ke rumah temen, Mas”. Ia langsung melenggang ke kamar, meninggalkan Nasrul yang masih mematung di ambang pintu.Di dalam kamar, Ningsih langsung merebahkan tubuhnya ke kasur tanpa ganti baju. Badannya terasa lengket, mata memejam, berusaha menghapus bayangan apa yang baru saja terjadi. Tapi setiap kali mata tertutup, mala

  • Tergoda dengan Tetangga Daun Muda   29. LEBIH BESAR DARI PUNYA MAS NASRUL

    Ningsih berdiri di tengah kamar kecil itu, tanpa dikomando tangannya langsung menanggalkan kaos dan roknya. Bayu sudah siap dengan ponsel di tangan, matanya berbinar antusias. Ia berjalan mendekati kakak iparnya masih dengan handuk melilit pinggangnya, tapi ekspresinya tak lagi polos, ada campuran nafsu dan kemenangan di sana.“Ya sudah, cepat foto, Yu. Aku mau pulang,” gumam Ningsih, suaranya jengkel. Ia merasa harga dirinya seperti diinjak-injak. Dasar anak ini, perlakukan aku seperti apa? Pikirannya bergejolak, tapi ia ingat uang 10 juta itu, uang yang bisa membayar tagihan sekolah Arga, belanja bulanan, bahkan mungkin sedikit tabungan. Ini cuma adik ipar nakal yang lagi iseng. Turutin saja, nggak ada yang tahu, batinnya mencoba menenangkan.Ningsih mundur merapat ke tembok, menyandarkan punggungnya. Tubuh putih mulusnya hanya terlindungi secarik bra dan CD, mata menatap ke lantai, kedua tangannya menyilang menutupi dada dan perutnya. “Cukup foto gini aja, ya?”Bayu menggeleng, ters

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status