LOGINMakin penasaran kan...lanjut laagii!!
Mereka bertahan di posisi itu beberapa saat, napas saling bersahutan, air sungai tetap mengalir pelan di sekeliling kaki mereka.Perlahan Rasman menarik diri, membalikkan tubuh Bulan, dan mencium keningnya dengan lembut.Keduanya masih bergetar, kulit saling menempel, basah oleh keringat, air sungai, dan sisa-sisa hasrat.“Makasih sayang… enak banget. Kamu kayak masih perawan aja,” bisik Rasman lembut sambil mengecup kening Bulan yang masih basah.Bulan tersenyum manis, matanya masih agak sayu.“Dan milik Abang… dua kali lebih gede dari milik mantan suamiku,” sahutnya pelan.Ia baru saja mencapai klimaks dua kali, tubuhnya masih bergetar ringan.Keduanya lanjut mandi bareng.Tangan saling menggosok, sesekali Rasman menggendong Bulan di dalam air yang dangkal. Tawa kecil terdengar, sampai Bulan tiba-tiba mengerang pelan.“Auuu… milik Abang masih kerasss,” katanya sambil terkekeh, tapi tawa itu berubah jadi desahan panjang saat Rasman kembali masuk ke dalamnya dengan gaya berdiri.Pingguln
Kulit punggungnya yang putih bersih tanpa cela seketika terekspos di bawah sinar matahari siang, menyajikan pemandangan terlarang yang membuat jakun lelaki Rasman mendadak naik turun...“Kok Abang diam di situ saja? Kapan mandinya?”Suara Bulan terdengar ringan, hampir seperti olokan, tapi ada senyum yang tersembunyi di balik nada itu.Rasman tertawa kecil, lalu dengan gerakan yang tak terburu-buru ia melepas kaosnya. Otot-otot dada dan bahunya yang kokoh tertimpa cahaya matahari sore yang menembus celah pepohonan.Celananya menyusul, tinggal celana dalam yang basah di pinggir air. Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah masuk ke sungai yang jernih dan surut itu.Air hanya sampai sepinggang, dinginnya menempel lembut di kulit, membuatnya menghela napas pelan.Bulan menatap lama. Tubuhnya yang bersekal-sekal, basah, dan kini berkilau di bawah sinar matahari, membuat dada Bulan berdetak lebih kencang.Ia tak sempat mengalihkan pandang ketika Rasman mulai mendekat, perlahan, seolah sengaja me
“Sejak kemarin Tuan mengajakku bekerja sama. Sekarang pertanyaanku, kalau misalnya ada sesuatu yang besar yang berhasil kita dapatkan dari kapal itu... bagaimana sistem pembagiannya?” tanya Rasman blak-blakan, sengaja memasang umpan seolah ia murni tertarik pada harta di dalam kapal.Tungkai terdiam sejenak. Ia menatap dalam-dalam ke arah wajah pemuda kokoh di depannya, mencoba menakar kadar keserakahan sang keponakan.“Kita bagi... 60-40. Aku mendapatkan enam puluh persen karena menyediakan seluruh logistik dan anak buah, sedangkan kamu mendapatkan empat puluh persen!” cetus Tungkai, mencoba menekan.“Hmm... 50-50, atau... aku dan adikku akan mundur sekarang juga dari kesepakatan ini,” sahut Rasman tanpa ragu, memberikan gertakan balik yang sangat dingin.Tungkai kembali kaget mendengar ketegasan Rasman yang menolak didikte.Namun, menyadari dirinya sangat membutuhkan otak taktis dan keahlian tempur tingkat tinggi milik Rasman untuk menghadapi 50 penjaga bersenjata militer, gembong pr
Fajar menyingsing di Kampung Muara Asih. Udara pagi yang basah oleh embun tipis masih terasa menggigit kulit.Di teras rumah panggung, Rasman menyodorkan layar ponsel satelitnya ke depan wajah Irman, memperlihatkan sebuah pesan teks yang baru saja masuk dari nomor Tungkai.Irman menatap lekat-lekat baris demi baris kata di ponsel itu, mencoba mencerna maksud di balik pesan tersebut, lalu mengalihkan pandangannya untuk menatap wajah abangnya yang tampak sangat tenang.“Bang... Apa langkah kita selanjutnya?” pancing Irman dengan nada suara yang kini terdengar jauh lebih mantap dan percaya diri.Wajar saja remaja itu makin pede, ritual mandi ramuan gaib yang dilakukan Pak Ukai tadi malam telah menyatu di dalam darahnya, memberinya keyakinan penuh bahwa kulitnya kini sudah sekokoh baja dan kebal dari terjangan senjata tajam.Rasman tidak langsung menjawab. Ia diam sejenak, mengedarkan pandangannya ke halaman samping rumah panggung.Di sana, di bawah pohon rindang, tampak Patrick yang kondi
Melihat kegelisahan pria asing itu, Rasman dengan tenang menyodorkan sebatang rokok miliknya beserta korek api.Patrick menerimanya dengan tangan sedikit gemetar, buru-buru menyalakannya, dan mengisapnya dalam-dalam. Asap putih mengepul dari bibirnya, sedikit memberikan ketenangan pada sarafnya yang tegang.“Setelah menguasai kapal, bajingan-bajingan bersenjata itu menyandera kami semua. Ada lima belas orang kelasi di atas kapal termasuk aku dan Johanes,” lanjut Patrick setelah mengembuskan asap rokoknya perlahan.“Mereka memaksa Johanes memutar haluan dan mengarahkan kapal barang kami menuju ke sebuah pulau terpencil yang tidak ada di dalam peta pelayaran umum. Begitu kapal bersandar di pulau mati itu, mereka langsung memaksa kami semua menuruni lambung kapal untuk memindahkan ratusan bungkusan besar berbungkus rapi dari dalam gudang rahasia di pulau tersebut ke atas palka kapal kami. Awalnya, kami semua benar-benar tidak tahu apa isi di dalam bungkusan-bungkus misterius itu.”Patrick
Ia baru sadar sepenuhnya kalau Patrick dan Johanes ternyata masih mengenakan seragam kelasi kapal barang kelas pekerja—lengkap dengan logo khas pelaut internasional yang sudah kotor terkena lumpur hutan karet.Penemuan visual ini seketika meledakkan rasa penasaran di dalam kepala Rasman. Otak nya langsung menghubungkan titik-titik misteri ini dengan keberadaan kapal barang misterius bersenjata lengkap yang bersandar di dermaga Sungai Mahakam.Siapakah sebenarnya kedua bersaudara ini? Mengapa mereka nekat melarikan diri ke tengah hutan belantara Kalimantan?Dan yang paling krusial, siapa sebenarnya pelaku kejam yang tega menembak Johanes dengan peluru militer hingga sekarat seperti ini?Rasman tahu, jawaban dari mulut Patrick malam ini akan menjadi kunci utama untuk membongkar konspirasi besar yang sedang mencengkeram Kampung Muara Asih.Suasana tenang di rumah panggung milik Ketua Adat seketika pecah berantakan.Bulan, Uni, dan Uki kaget bukan kepalang laksana melihat petir di malam ha







