MasukMakin penasaran kan...lanjut laagii!!
Rasman kini merapatkan tubuh kekarnya di balik rimbunnya tanaman hias yang tertata rapi di taman samping rumah besar bertingkat dua itu.Napasnya diatur sehalus mungkin, menyatu dengan desau angin malam. Sepasang mata tajamnya mendongak, menyisir deretan jendela kaca besar yang menghias arsitektur rumah megah bercat putih bersih tersebut.'Hmm... dengan posisinya sebagai anak bungsu kesayangan, kamarnya pasti terletak di lantai dua, menghadap langsung ke arah taman ini,' tebak Rasman dalam hati penuh keyakinan.Tanpa membuang waktu, Rasman merogoh saku taktisnya dan mengeluarkan sepasang sarung tangan khusus berdaya cengkeram tinggi, lalu memasangnya dengan erat di kedua belah lengannya.Setelah memastikan alat itu terpasang sempurna, ia mengambil ancang-ancang singkat.Dengan satu hentakan kaki yang kuat namun tanpa suara, Rasman melompat tinggi. Kedua tangannya mencengkeram kokoh pilar beton bangunan, lalu dengan kecepatan dan kelenturan luar biasa, ia merayap naik memanjat pilar te
Dokumen itu seperti menguap begitu saja....Rasman mengembuskan napas panjang yang sarat akan rasa frustrasi. Kakinya terasa berat hingga ia terpaksa terduduk lemas kembali di atas meja kerja kayu jati milik Cynthia.Seluruh tenaganya seolah terkuras habis akibat rasa kecewa karena gagal menemukan berkas yang dicarinya.Otak taktisnya kembali berputar keras, memikirkan segala kemungkinan lokasi penyimpanan alternatif."Satu-satunya jalan yang tersisa... aku terpaksa harus menyatroni rumah pribadinya malam ini juga...!" gumam Rasman dingin, matanya menatap tajam ke arah dinding kosong.Rasman akhirnya bangkit dan melangkah perlahan untuk keluar dari ruangan tersebut. Namun, tepat di ambang pintu, langkah kakinya mendadak terhenti....Insting intelijennya yang sempat tumpul tiba-tiba mendeteksi sesuatu yang aneh. Pandangan matanya bergerak lambat ke arah sudut atas plafon, tepat ke arah sebuah lensa kamera kecil tersembunyi yang sejak tadi menyorot lurus wajah lelahnya yang tampak cemas
Rasman melompati pagar samping tanpa suara dan berhasil menyelinap masuk ke dalam area koridor rumah melalui jendela samping yang penguncinya sengaja ia bobol dengan sebilah alat khusus.Namun, saking bernafsunya ingin cepat-cepat sampai ke ruang kerja pribadi Cynthia demi menemukan berkas tersebut, konsentrasi Rasman kali ini sedikit buyar.Ada satu hal fatal yang luput dari kewaspadaannya yang biasanya sangat tinggi, ia tidak menyadari bahwa di setiap sudut plafon rumah tersebut terpasang kamera CCTV nirkabel dengan sensor inframerah berteknologi terbaru.Dan... seluruh pergerakan konyol nan tegap sang mantan agen lapangan itu saat ini terpampang dengan sangat jelas di layar ponsel pintar milik Cynthia!Saat ini, Cynthia memang sedang terjebak di dalam kemacetan jalanan Jakarta yang merambat padat menuju arah rumah pribadinya.Di jok belakang mobil mewahnya, wanita blasteran Batak-Prancis itu bersandar santai sementara mobilnya dikemudikan oleh sopir pribadinya.Matanya yang indah t
Detik itu juga, runtuh sudah seluruh ketenangan yang selama ini menjadi ciri khas Rasman.Harga dirinya sebagai seorang mantan agen lapangan seolah lenyap berganti kepanikan massal di dalam kepalanya.Rasman makin gelagapan saat Cynthia Lubis tanpa dosa langsung berbalik badan dan bersiap untuk... pamit pergi!"Cynthia, tunggu! Boleh aku cek dan baca kembali berkas-berkas yang tadi?" Rasman langsung melesat maju dari kursi kebesarannya, mengambil langkah lebar demi menghadang langkah kaki si cantik ini yang sudah berjalan anggun menuju ke arah pintu keluar."Ih, mana bisa begitu! Kau ini main hadang-hadang saja jalan orang, hah? Nanti sajalah itu kau cek. Aku sudah ada janji penting dengan klien bisnisku di luar dan harus segera pergi sekarang juga!" sahut Cynthia sambil memasang wajah jutek andalannya.Dalam situasi normal, raut wajah ketus bercampur logat Batak-Prancis itu justru membuat Cynthia terlihat berkali-kali lipat lebih cantik jelita.Namun, di mata Rasman yang saat ini ota
"Kamu... Cynthia Lubis... anaknya Om Ucok, alias Om Brigjen Purnawirawan Iman Lubis?" Tanpa sadar, Rasman kontan menyebutkan nama lengkap si cantik ini. Lidahnya mendadak kaku.Sementara matanya masih tak berkedip menatap kecantikan paripurna yang berdiri di hadapannya, tinggi langsing dan berkulit bak pualam saking putihnya."Baaahh... hebat juga kau, langsung bisa menebak siapa aku, hah?" seru Cynthia. Logat Batak yang kental dan tegas kontan keluar dari bibir tipisnya yang ranum.Mendengar perpaduan wajah blasteran aduhai dengan dialek khas Medan tersebut, Rasman terpaksa menggigit bibir bagian dalam demi menahan tawa yang nyaris pecah.Tanpa perlu disuruh atau dipersilakan, si cantik berambut cokelat gelap ini langsung mengempaskan tubuhnya dengan anggun di kursi empuk tepat di hadapan meja kerja Rasman."Tumben sekali kamu muncul di sini tanpa pakaian riasan penyamaran lagi. Padahal, seingatku dulu, kamu paling betah menyamar saat masih jadi asisten pribadiku loh," canda Rasman,
Ia memberikan hormat militer yang sangat tegas kepada Rasman sebelum akhirnya berbalik, berteriak sibuk mengomando puluhan anak buahnya untuk segera mengevakuasi enam jasad anggota The Viper dan mengamankan tempat kejadian perkara (TKP).Melihat situasi di bawah sudah terkendali penuh oleh kepolisian, Rasman memberikan kode isyarat dengan anggukan kepala agar adiknya mengikutinya naik kembali ke atas, menuju kamar apartemen mereka."Woww... harus kuakui, aksi Abang dan Nona Alice malam ini benar-benar luar biasa gila!" puji Irman bersemangat sesaat setelah mereka melangkah masuk ke dalam lift.Pemuda bengal itu merasa puas tak terkira.Jiwa mudanya bergejolak penuh kemenangan karena malam ini ia berhasil mengirim dua orang eksekutor musuh langsung terbang ke akhirat.Rasa perih akibat serempetan peluru di bahunya beberapa jam lalu kini rasanya sudah terbayar lunas tanpa sisa."Hmmm... jangan lupa, aksimu sendiri yang langsung turun menyergap dan menumbangkan dua orang di lobi tadi jug







