LOGIN"Makasih yaa sudah mau nemenin aku ke supermarket..."
Setelah mobil SUV kompak itu sampai di parkiran kampus kembali, Berlina pun akhirnya bersuara, tatapannya yang cantik terlihat lesu.
Satria geram, tak habis pikir ada laki-laki bodoh yang menyia-nyiakan wanita sekelas Berlina.
"Kak, kamu pasti akan dapat yang lebih baik dari laki-laki berengsek itu..."
Setelah tersenyum tipis, tiba-tiba di dalam mobil ber-AC, Berlina membuka jaketnya. Kini ia hanya mengenakan tanktop putih ketat.
Leher jenjangnya dan dadanya yang putih seketika terlihat jelas, apalagi saat ia mengangkat tangan, memperlihatkan ketiaknya yang mulus tak bercela.
Kalamenjing Satria sontak bergerak naik dan turun.
"Boleh aku peluk? Sebagai ucapan makasih dan tanda pertemanan...?"
Tenggorokan Satria kering, pe–peluk katanya?!
Belum sempat ia menjawab, Berlina sudah bergerak cepat.
Bruk!
Tubuh Satria yang kaku dipeluk erat. Campuran aroma parfum dan asam keringat tipis Berlina menghantam indranya. Apalagi sensasi gundukan empuk yang penuh menekan kuat ke dadanya.
Celana Satria seketika sesak tak tertahankan. Ia hampir hilang akal di dalam pelukan memabukkan itu.
“K-Kak… kelasku sudah mau mulai… Maaf yaa…” Satria berusaha dengan lembut melepaskan pelukan Berlina.
Bukan, bukan karena Satria tidak mau. Sebenarnya mau banget malah. Tapi… Satria takut Berlina menyadari jika apa yang ada di dalam celana pemuda itu sudah berontak begitu kuat.
“Ehhh… Maaf yaa. Jadi Keenakan…” Senyum Berlina pada Satria begitu manis, juga penuh… arti?!
Buru-buru Satria keluar dari mobil Berlina dan berjalan cepat, menjauh dari mobil.
“Duehhh… godaannya kuat banget…”
Baru saja masuk ke gedung kampus, Satria kaget, 3 mahasiswa yang kemarin dia tabrak sudah berada di depannya.
“Heii kurus, kamu tadi kemana saja diajak si Berlina?” orang yang kemarin tarik kerah bajunya langsung tembak dirinya dengan pertanyaan menohok.
“H-hanya ke supermarket Bang, nemani belanja,” suara Satria kali ini tenang saja, karena dia aslinya bukanlah tipe pria pengecut, hanya tak ingin bikin ribut.
“Dengar yaa, mulai kini awas kalau berani ajak Berlina jalan lagi, atau…!” tiba-tiba salah satu mahasiswa ini ambil minumannya dan Satria kaget bukan kepalang, air minumnya di siramkan ke kepalanya, basahlah rambut dan pakaiannya.
“Ini hanya peringatan, lain kali berani temani Berlina jalan, aku hajar kamu,” kata orang ini dan ketiganya berlalu, sambil tendang kursi plastik di depan Satria.
Satria sampai gemeretakkan giginya menahan amarah. Agaknya kesabarannya mulai menipis.
“Sabar Satria, mereka itu anggota Menwa dan terkenal sok jago di kampus ini,” Syarif sahabat dekatnya datang sambil ikut ngelap tubuhnya dengan tissue.
Syarif lantas cerita, Trio Doni, Anjar dan Toni 'premannya' di kampus ini, apalagi mereka itu andalan di klub basket kampus mereka.
“Aku tak akan mengalah lagi…cukup bullyan ini,” batin Satria.
**
Baru saja Satria meletakkan tas ranselnya dan masih kesal dengan perbuatan Doni, Anjar dan Toni, pintu kamarnya diketuk dengan ketukan cepat.
Dengan ogah-ogahan dia menuju ke pintu, begitu dibuka, Tante Vega. Wajahnya panik dan matanya terlihat memancarkan ketegangan. Tanpa tedeng aling-aling, wanita itu nyelonong masuk.
“Satria… Tante mau bicara! Sekarang!” Tante Vega, yang tingginya hanya sebatas hidung Satria, menatap tajam ke atas, sorot matanya yang lentik seolah menuntut pengakuan.
“Iya Tante… S-satria dengarkan!” Satria langsung berdiri tegak di hadapannya, merasakan aura serius yang belum pernah ia lihat.
“Kamu harus jaga rahasia! Jangan sampai Om kamu tahu aku tadi jalan dengan seorang pria di supermarket... Itu tak seperti yang kamu bayangkan!” desis Tante Vega.
“I-iya Tante, aku akan jaga rahasia ini!”
“Janji... sumpah?” desak Tante Vega, kini meraih lengan Satria.
“Aku janji... dan bersumpah Tante, tak akan bocorkan ini pada Om atau siapapun!” sela Satria cepat.
Tante Vega menarik napas lega, namun matanya masih memindai Satria. “Bagus. Tante percaya kamu. Nah, kalau kamu benar-benar menjaga rahasia tadi, tante akan kasih sesuatu buat kamu!”
Satria menelan ludah, membayangkan imbalan materi. Memangnya apa yang Tante Vega mau berikan? Uang jajan tambahan? Otak polosnya kontan bersorak, siapa yang nolak batinnya.
Namun, tindakan Tante Vega selanjutnya membuat jantung Satria berhenti berdetak.
Tanpa peringatan, Tante Vega meraih bagian depan celana jeans Satria. Jemari halusnya menyentuh kain denim tebal itu, lalu dengan gerakan cepat, ia menarik ritsleting celana Satria hingga turun. Satria terlonjak kaget, tubuhnya seketika kaku seperti patung.
"Ta-tante mau apa?!" Suara Satria terdengar serak dan nyaris tak keluar.
Tante Vega tersenyum, senyum nakal yang sungguh asing dan mendebarkan. Ia memajukan wajahnya, memanyunkan bibir merahnya yang masih berlumur gincu, mendekat ke telinga Satria.
“Tentu saja kasih kamu sogokan lebih biar tutup mulut...”
Lalu, diiringi desahan samar, Tante Vega mulai membungkuk.
**
Lanjut teruss yaaa....!!
“Boleh aku bertamu dan masuk ke rumah kamu Tante Vega?” Satria menatap si cantik yang makin matang ini, tubuhnya juga makin menggiurkan di usia 37 tahunan ini.“B-boleh Satria, ayooh masuk,” Tante Vega buru-buru membuka pintu dan Satria mengikuti dari belakang.“Makin montok ajee ni cewek,” batinnya, tapi tentu saja Satria dulu dan kini beda, dia tidak mau menunjukan ke bangoranya pada si mantan istri Om Brata ini, dia adalah pria matang dan kenyang pengalaman.Dengan gaya yang sopan dan elegan Tante Vega kini menatap pria yang pernah bikin dia sayang dan jatuh cinta...hasilnya, si Irwansyah itulah, anaknya yang tampan, tapi sayangnya autis, tanpa setahu Satria pastinya.“Di mana suami kamu sekarang, papanya Irwansyah?” tanya Satria berbasa-basi, Tante Vega kontan terdiam, hampir saja ia mengaku.Tapi saat ingat wanita yang bersama Satria di mal Plaza Indonesia, kontan Tante Vega menahan mulutnya.“Kami…sudah pisah, dia tak mau punya anak autis. Yaah tak apalah, aku tetap akan besarka
Dan Soraya terpekik manja, saat dari belakang Satria langsung serbu pantat bohaynya dan melumatnya dengan ganas, sehingga acara coba-coba baju baru tertunda, karena Soraya mlenguh-lenguh lagi di hajar si bangor cap biawak ini dengan gaya doggy style.“Manaa tahaannn…liat bokong semok kamu,” canda Satria sambil pompa Soraya hingga kamar ini berubah jadi lenguhan-lenguhan dan desahan manja Soraya.“Silahkan Bang, mulai saat ini, kapanpun Abang mau, aku berikan,” bisik Soraya sambil menahan tubuhnya yang terguncang-guncang aduhai ini, upoiii….!Pertandingan senggama dengan beragam gaya ini berakhir setelah keduanya sama mencapai puncaknya, dengan seperti biasa 3-1, alias Soraya 3X klimaks dan Satria 1X klimaks.Sejak hari itulah, Satria membiarkan Soraya tinggal di rumah besar dan mewahnya dan berlakon bak istri, Satria tak tidak tega ‘mengusirnya’ pulang. Lagian…adanya Soraya membuatnya kini jadi betah di rumah, sebab Soraya selalu perhatikan kesehariannya dan juga cara berpakaiannya
Dengan perban di lehernya, Soraya yang selamat dari aksi nekat Joni, kini tetap lanjutkan belanjanya tadi, dan dia malah merasa makin aman dengan adanya Satria di sisinya.Satria hanya geleng-geleng kepala. "Kelamaan tinggal di kampung kaleee," batin Satria dan membiarkan saja ulah Soraya. Kepolisian sektor terlihat berbincang dengan Satria dan mereka (polisi) kini lacak taksi yang membawa Joni kabur.Satria dan Soraya lalu memutuskan pulang, setelah membayar semua belanjaan Soraya, si cantik ini juga membelikan pakaian buat Satria, dengan alasan biar Satria makin berkelas, Satria iya-iya...!“Nggak di sangka si Joni bisa se gila tadi ya Bang? Tapi lebih gila lagi Abang yang melompat segitu tinggi kejar penjahat itu” kata Soraya sambil menatap Satria yang santai saja bawa mobil mahalnya dan bikin Soraya makin klepek-klepek, makin melotot lagi saat tahu harganya yang lebih 18 embeeer.“Sayangnya dia berhasil kabur, eh bagaiman leher kamu, masih sakitkah?” sahut Satria pendek, sambil m
Satria membiarkan Soraya kini belanja sepuasnya di Plaza Indonesia, misinya untuk memancing Joni agar mendekati Soraya di mulai saat ini.Soraya yang kini bak ‘istri’ saja, siang malam menikmati melayani Satria, walaupun dia rela siang malam dua lubang kenikmatannya di hajar si pejantan tangguh ini.“Lama-lama nggak sanggup juga aku rujuk dengannya, mana tahan malam 2X, pagi satu kali di hajarnya,” batin Soraya, yang antara ngeri dan menikmati juga selama tinggal dengan Satria.Tapi satu hal yang bikin Soraya betah. Satria adalah tipikal laki-laki yang royal, apapun keinginannya, tak banyak cincong langsung diiyakan Satria, termasuk hobby semua wanita, yakni shopping.Satria tak pernah perhitungan, sampai-sampai Soraya bingung, apa bisnis Satria hingga se kaya raya begini dan enteng saja keluar duit buatnya.“Andai dulu aku tak egois, mungkin aku sudah hidup enak bak ratu di sisinya, kalaupun aku tak sanggup, tak masalah dia mau poligami, tuh hartanya agaknya nggak bakalan habis 10 tur
“Sekarang mau di apain nih?” tanya Soraya malu-malu, tapi membiarkan tangan Satria mulai nakal dan elus-elus tubuh pahanya yang berbulu tipis, hingga Soraya merinding juga.Soraya juga mulai pegang si pelatuk gede ini dan meremasnya gemas. “Udah berapa lama kamu nggak bercinta Soraya?” tanya Satria, nggak mau buru-buru beraksi, dia ingin bikin si cantik ini makin klepek - klepek dulu.“Ehemm…lumayan Bang, hampir 1 tahun, malah aku nggak pernah nyukur, jadi jangan jijai yaa kalau milik aku lebat banget,” sahut Soraya dan mulai mendesah pelan, saat jari tangan Satria mulai meraba rerumputan lebat miliknya.“Wow…makin sempit donk?” gombal Satria dan tangan satunya meremas-remas melonnya yang gede di balik handuk, hingga Soraya makin blingsatan di buatnya.“Ahh aku kan sudah pernah melahirkan Bang!” kata Soraya makin menahan nafas, sebab jari Satria mulai masuk ke lubang perkencingannya, hingga miliknya mulai berkedut dan pelan-pelan mulai basah lagi.Satria dengan nakal cabut jarinya dan
Satria tidak mau buru-buru manfaatkan Soraya, dia ingin rehat dulu, setelah lakukan tugas yang sangat menegangkan selama berbulan-bulan, bahkan hampir saja membuatnya tapa daksa dan cacat seumur hidup.Inilah resiko besar yang harus dia lakukan untuk menangkap gembong narkoboy, sehingga dengan adanya Soraya, sesaat Satria jadi ingat masa remaja mereka yang lucu dan kadang bikin gemes.Apalagi saat ingat kelakuan dua sahabatnya Ujang dan Arik, yang dulu sempat mengintipnya di rumah Soraya ini.Soraya yang melihat Satria terlihat kelelahan memancing Satria apakah mau di pijat malam ini?Saat ini Soraya sudah kenakan gaun bobo yang tipis, hingga beda dan celdamnya membayang dari balik pakaiannya tipisnya ini, Satria sampaai menelan ludah juga.Apalagi saat ingat pengalaman dahulu, tapi sebagai bangor berpengalaman, ia tentu saja menahan diri tidak asal seruduk dan pastinya main slow saja.Apalagi seingatnya, Soraya tak suka bercinta dengan gaya kasar, si cantik denok ini suka yang lembut
Satria Dewantara saat ini bukan lagi pemuda culun, dia sudah merasakan nikmatnya surgawi dunia. Imbasnya, jiwa pedenya kini juga makin kuat, Satria ogah di bully siapapun lagi.Senyumnya merekah, saat Berlina Hutafea menyampirinya di parkiran.“Besok kamu sibuk nda Sat?”“Hari ada dua ujian kenaikan
Satria tak nyadar, celana dan bajunya mulai sesak, seiring otot di tubuhnya yang mulai membesar, hasil latihan rutin selama 2,5 bulanan ini terlihat, di tambah lagi pola makannya yang juga berubah.Dia semakin tahu makanan yang bisa cepat membesarkan otot. Satria bahkan sering berlatih silat seorang
Satria pun berjongkok dan tanpa ragu langsung dekatkan mulutnnya ke liang ‘naga’ yang telihat mulai kucurkan air beningnya ini."Kalau udah gini, siapa yang nolak," batin Satria penuh semangat dan...cappp!Begitu lidah Satria sudah berada di sana dan pelan-pelan mulai meratakan kue lezat ini, desisa
Satria temani Andrea sambil menunggu Om Brata yang operasi dengkul, untuk di pasangi besi, agar kelak tak sakit lagi saat beraktivitas.“Sejak kapan sih kamu gede’in badan?” pancing Andrea buka obrolan.“Sejak 6 bulanan yang lalu ka, habisnya aku sering kena bully di kampus, dan punya julukan si Cek







