Share

Terpaksa Pergi

last update publish date: 2026-07-23 12:41:24

Pagi yang cerah menyelimuti vila mewah di tepi Danau Como.

Sinar matahari menembus jendela-jendela besar, memantulkan cahaya ke permukaan lantai marmer yang mengilap. Suasana di dalam vila masih begitu tenang.

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki dari lantai dua.

Dante Moretti menuruni anak tangga dengan langkah tenang. Pria itu telah mengenakan kemeja hitam berlengan panjang yang digulung hingga siku, dipadukan dengan celana bahan berwarna gelap. Meski sedang menikmati waktu bersama
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terikat Cincin Sang Mafia   Ternyata Luciano...

    Sementara itu, di Markas Kepolisian Marseille, Prancis... Suasana ruang interogasi dipenuhi ketegangan. Dante Moretti duduk dengan tenang di hadapan dua penyidik senior. Jas hitam yang dikenakannya masih tampak rapi, seolah ia sedang menghadiri rapat bisnis, bukan menjalani pemeriksaan. Di atas meja tersusun beberapa berkas, foto-foto gudang yang telah digerebek, serta daftar barang bukti yang berhasil diamankan. Salah satu penyidik membuka map di hadapannya. "Tuan Moretti, gudang di kawasan pelabuhan Marseille itu terdaftar atas nama sebuah perusahaan logistik yang terhubung dengan grup bisnis Anda." Dante menatap penyidik itu tanpa mengubah ekspresinya. "Perusahaan saya memiliki banyak anak usaha." "Itu bukan berarti saya mengetahui setiap aktivitas operasionalnya." Penyidik lainnya menyodorkan beberapa lembar foto. "Di dalam gudang tersebut kami menemukan puluhan peti berisi senjata api ilegal." "Apa Anda masih ingin mengatakan tidak mengetahui apa pun?" Dan

  • Terikat Cincin Sang Mafia   Elina Kabur

    Pagi itu, langit Marseille, Prancis, masih diselimuti udara dingin. Di lantai paling atas sebuah hotel berbintang, Dante Moretti berdiri di depan jendela kamar sambil memandang pelabuhan yang mulai dipenuhi aktivitas. Semalaman ia tidak memejamkan mata. Penggerebekan gudang senjata milik organisasinya memaksanya berurusan dengan pihak kepolisian dan mengatur ulang seluruh jaringan distribusi. Berkas-berkas laporan memenuhi meja kerjanya, sementara laptopnya masih menyala sejak malam. Meski pikirannya dipenuhi masalah... Ada satu hal yang terus mengganggu benaknya. Elina. Dante meraih ponselnya, lalu kembali menekan nama sang istri. Nada sambung terdengar. Satu kali... Dua kali... Hingga panggilan itu kembali terputus tanpa jawaban. Dante mengembuskan napas panjang. "Ke mana kamu, Elina?" Ia kembali menatap layar ponselnya. "Sudah sepuluh kali aku menghubungimu..." "...kenapa tidak kau angkat?" Entah mengapa, dadanya mulai dipenuhi rasa tidak tenang.

  • Terikat Cincin Sang Mafia   Terpaksa Pergi

    Pagi yang cerah menyelimuti vila mewah di tepi Danau Como. Sinar matahari menembus jendela-jendela besar, memantulkan cahaya ke permukaan lantai marmer yang mengilap. Suasana di dalam vila masih begitu tenang. Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki dari lantai dua. Dante Moretti menuruni anak tangga dengan langkah tenang. Pria itu telah mengenakan kemeja hitam berlengan panjang yang digulung hingga siku, dipadukan dengan celana bahan berwarna gelap. Meski sedang menikmati waktu bersama istrinya, aura seorang pemimpin tetap terpancar kuat dari dirinya. "Selamat pagi, Tuan." James yang sejak tadi menunggu di ruang tengah langsung membungkukkan badan memberi hormat. "Pagi." Dante menganggukkan kepala singkat. Keduanya kemudian berjalan menuju ruang makan. Seorang pelayan segera menuangkan secangkir kopi hitam ke hadapan Dante, namun pria itu belum menyentuhnya. Ia justru melirik James yang sejak tadi terlihat gelisah. "Ada laporan apa pagi ini, James?" James te

  • Terikat Cincin Sang Mafia   Melindungi Elina

    Pagi itu, Elina sedang menikmati sarapannya dalam suasana yang tenang. Sudah hampir beberapa minggu terakhir ia mulai terbiasa dengan kehidupan di mansion Moretti. Meskipun hubungan mereka masih terasa canggung, ia menyadari bahwa Dante perlahan berubah. Pria itu tidak lagi sedingin sebelumnya. Namun tetap saja, Elina masih menjaga jarak. Baginya, terlalu berbahaya untuk berharap terlalu tinggi. Tiba-tiba, langkah kaki terdengar mendekat. Dante muncul dengan setelan jas hitam rapi, seperti biasanya. Elina melirik sekilas. "Tuan Moretti, bukankah hari ini Anda ada perjalanan bisnis?" Dante menghentikan langkahnya. "Kau masih mengingatnya?" Elina mengangkat bahu kecil. "Tentu saja. Vanessa sempat mengatakan jika Anda akan pergi ke Jepang beberapa hari untuk bertemu dengan beberapa investor." Dante menarik kursi di hadapannya lalu duduk. "Itu sudah berubah." Elina mengerutkan dahinya. "Berubah?" Dante mengangguk. "Aku tidak jadi pergi." Elina terdiam

  • Terikat Cincin Sang Mafia   Alessia Kembali

    Alessia terduduk lemas di tepi ranjang apartemennya. Tatapannya kosong menembus jendela, sementara pikirannya kembali pada peristiwa yang mengubah seluruh hidupnya. Sehari sebelum pernikahannya dengan Dante Moretti. Sore itu, Alessia baru saja pulang berbelanja bersama Isabella Rossi. Sesampainya di kamar, ia meletakkan beberapa kantong belanja di atas sofa. Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Alessia mengernyitkan dahi. "Siapa ini?" Dengan rasa penasaran, ia membuka pesan tersebut. Detik berikutnya, wajahnya mendadak pucat. Sebuah video memperlihatkan dirinya berjalan memasuki sebuah hotel bersama Matteo Ricci. Video itu berlanjut hingga keduanya memasuki kamar. Meskipun tidak memperlihatkan apa yang terjadi di dalam kamar, itu sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan reputasinya. Belum sempat Alessia menguasai diri, beberapa foto lain bermunculan. Dalam salah satunya, ia terlihat berada dalam pelukan Matteo. Jant

  • Terikat Cincin Sang Mafia   Alessia menyesal?

    Satu bulan kemudian... Di sebuah apartemen sederhana di kawasan Navigli, Milan, suasana tampak berantakan. Botol minuman, pakaian, dan beberapa koper berserakan di lantai, seolah pemiliknya sudah tidak lagi peduli dengan keadaan sekeliling. Di sudut ruang tamu, seorang wanita berambut panjang terduduk lemas sambil memeluk kedua lututnya. Ia adalah Alessia Rossi. Wajahnya yang dulu selalu terawat kini tampak pucat. Matanya sembap akibat menangis hampir sepanjang malam. Di tangannya, sebuah ponsel masih menyala. Layar itu menampilkan sebuah video yang baru saja dikirim oleh nomor tak dikenal. Video yang menghancurkan seluruh harapannya. Di dalamnya, Matteo Ricci, pria yang selama ini ia cintai dan demi siapa ia rela meninggalkan keluarganya, terlihat tengah bermesraan dengan wanita lain di sebuah kamar hotel. Tidak hanya berciuman. Mereka bahkan menghabiskan malam bersama. Ponsel itu terlepas dari genggaman Alessia. Air matanya kembali mengalir tanpa mampu ia b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status