เข้าสู่ระบบ"Kalian semua bodoh!" "Kenapa menjaga satu wanita saja kalian tidak mampu?" pekik Luciano dengan suara menggelegar. Brak! Pria itu menggebrak meja di hadapannya hingga beberapa berkas di atasnya berhamburan ke lantai. Wajahnya dipenuhi amarah. Rahangnya mengeras, sementara sorot matanya dipenuhi luapan emosi. Keberhasilan Dante membawa Elina pergi benar-benar memantik kemarahannya. Ia merasa telah dipermainkan oleh musuh bebuyutannya. Seluruh ruangan pun mendadak sunyi. Tak seorang pun anak buahnya berani mengangkat kepala. Tok... tok... tok... Suara ketukan pintu memecah keheningan. "Masuk." Pintu perlahan terbuka. Gabriel Conti melangkah masuk dengan raut wajah hati-hati. "Tuan..." Luciano mendongakkan wajahnya. "Ada apa lagi?" "Maaf, Tuan..." "Nyonya Livia menghubungi saya. Beliau sedang mencari Anda." "Livia?" "Benar, Tuan." "Beliau baru saja tiba di Milan setelah kembali dari Amerika." Mendengar nama istrinya disebut, ekspresi Lucia
Setelah perjuangan panjang untuk membawa Elina keluar dari apartemen Luciano De Luca, akhirnya Vanessa dan Elina tiba dengan selamat di Mansion Moretti. Begitu mobil berhenti di halaman mansion, Vanessa segera turun dan membukakan pintu untuk sang nyonya. "Nyonya..." "Apa Anda baik-baik saja?" Suara Vanessa terdengar penuh kekhawatiran. Elina tidak langsung menjawab. Begitu kedua kakinya menginjak halaman mansion, air matanya perlahan jatuh membasahi pipi. Tubuhnya terasa lemas. Entah karena kelelahan atau karena beban yang selama ini ia pendam. "Vanessa..." ucapnya lirih. "Iya, Nyonya." "Terima kasih..." "Terima kasih sudah menyelamatkanku." Vanessa tersenyum tipis. "Itu memang tugas saya, Nyonya." "Yang terpenting sekarang, Nyonya sudah kembali dengan selamat." Elina menganggukkan kepala pelan. Namun, pikirannya kembali melayang pada hari-hari yang ia lalui di apartemen Luciano. Luciano memang tidak pernah menyakitinya. Pria itu bahkan memperla
Suasana Kota Milan menjelang sore tampak diselimuti langit kelabu. Awan tebal menggantung rendah, sementara embusan angin dingin berembus pelan di antara deretan gedung-gedung tinggi. Luciano De Luca baru saja kembali ke apartemennya setelah menghadiri rapat di markas organisasi. Pria berusia tiga puluh dua tahun itu baru saja mengakhiri panggilan telepon ketika pintu ruang kerjanya terbuka. Brak! "Tuan!" Gabriel Conti masuk dengan napas sedikit tersengal, seolah baru saja berlari. Luciano mengernyitkan dahinya. "Ada apa, Gabriel?" Gabriel berusaha mengatur napasnya sebelum akhirnya berkata, "Tuan, saya baru saja mendapat laporan dari orang-orang kita yang berjaga di kawasan Porta Nuova." "Mereka melihat iring-iringan mobil milik Dante Moretti." Luciano langsung berdiri dari kursinya. Sorot matanya berubah tajam. "Ucapkan sekali lagi." Gabriel menundukkan kepala. Ia tahu betul ekspresi tuannya ketika amarah mulai menguasai dirinya. "Tuan..." "Dante Mo
Jadi... Elina hilang?" "Putriku hilang?" Tangis Isabella Rossi pecah seketika. Tubuhnya melemas hingga harus berpegangan pada sandaran kursi. "Iya..." jawab Alexander dengan suara penuh penyesalan. "Semua ini salahku. Seandainya Elina tidak datang menjengukku di rumah sakit, mungkin sekarang dia masih berada di mansion Moretti." "Tidak..." Isabella menggeleng berulang kali. Air matanya terus mengalir. "Semua ini salahku. Seandainya aku tidak menelepon Elina dan memberitahunya kalau Daddy-nya sedang dirawat di rumah sakit, mungkin dia tidak akan menghilang seperti ini." Dante dan James yang sejak tadi berdiri di ruang tamu saling berpandangan. Tatapan Dante perlahan berubah semakin dingin. "Jadi..." ucapnya dengan suara rendah yang membuat suasana seketika membeku. "Kau yang meminta Elina datang ke rumah sakit?" Isabella sontak mendongakkan wajah. Raut wajahnya langsung memucat saat menyadari Dante Moretti berada di sana dan mendengar seluruh pengakuannya. "D-Dant
Elina masih berada di apartemen Luciano de Luca. Ia duduk memeluk kedua lututnya di sudut ranjang, sementara air mata terus mengalir membasahi pipinya. Dadanya terasa sesak. Ia begitu merasa bersalah kepada Dante. Pria itu sudah berulang kali mengingatkannya agar tetap berada di vila sampai dirinya kembali dari Prancis. Namun... Ia justru melanggar permintaan suaminya. "Maafkan aku, Tuan Moretti..." gumam Elina lirih. Belum sempat rasa bersalah itu menghilang, bayangan yang baru saja ia lihat kembali memenuhi pikirannya. Alessia... Kakaknya ternyata berada di apartemen Luciano de Luca. Semakin dipikirkan, semakin Elina tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Perlahan ia memejamkan mata. Pikirannya kembali pada malam saat dirinya meninggalkan vila. Sore itu, ponsel Elina berdering. Nama Alessia Rossi muncul di layar. "Halo, Kak..." "Elina, apa kau tahu kalau saat ini Daddy sedang sakit dan dirawat di rumah sakit?" "Aku tahu, Kak." "Lalu
Sementara itu, di Markas Kepolisian Marseille, Prancis... Suasana ruang interogasi dipenuhi ketegangan. Dante Moretti duduk dengan tenang di hadapan dua penyidik senior. Jas hitam yang dikenakannya masih tampak rapi, seolah ia sedang menghadiri rapat bisnis, bukan menjalani pemeriksaan. Di atas meja tersusun beberapa berkas, foto-foto gudang yang telah digerebek, serta daftar barang bukti yang berhasil diamankan. Salah satu penyidik membuka map di hadapannya. "Tuan Moretti, gudang di kawasan pelabuhan Marseille itu terdaftar atas nama sebuah perusahaan logistik yang terhubung dengan grup bisnis Anda." Dante menatap penyidik itu tanpa mengubah ekspresinya. "Perusahaan saya memiliki banyak anak usaha." "Itu bukan berarti saya mengetahui setiap aktivitas operasionalnya." Penyidik lainnya menyodorkan beberapa lembar foto. "Di dalam gudang tersebut kami menemukan puluhan peti berisi senjata api ilegal." "Apa Anda masih ingin mengatakan tidak mengetahui apa pun?" Dan







