LOGIN“Mulai malam ini, kau milikku. Setiap tarikan napasmu, setiap detak jantungmu, adalah untukku.” Ayyana tak pernah membayangkan hidup dan tubuhnya akan menjadi harga dari sebuah hutang judi. Dalam satu malam, ayahnya menjualnya kepada Rafael Alvarez—raja mafia kejam yang namanya saja cukup membuat orang gemetar. Terperangkap dalam sangkar emas miliknya, Ayyana hidup di bawah tatapan yang selalu mengawasi. Setiap jarak yang terlalu dekat, setiap sentuhan yang terlalu lama, membuatnya sadar Rafael tidak hanya menginginkan tubuhnya, ia menginginkan kepatuhan dan hatinya. Namun tanpa disadari, keberanian Ayyana justru menjadi godaan berbahaya bagi pria yang tak pernah mengenal cinta. Di dunia di mana kelembutan adalah kelemahan, bisakah gadis itu memikat hati sang mafia kejam? Atau justru hancur dalam pelukan yang memenjarakannya?
View MoreJet pribadi Gulfstream milik Rafael membelah awan pekat di atas pegunungan Alpen, Swiss. Di dalam kabin yang kedap suara, suasana terasa sangat sunyi, namun penuh tekanan. Rafael tidak hanya membawa istrinya, tapi ia juga berhasil membawa Elena, adik bungsu Ayyana yang baru berusia sepuluh tahun, keluar dari rumah sakit tepat sebelum anak buah Lorenzo menyerbu tempat itu. Ayyana duduk bersandar di kursi pesawat, namun pandangannya tak lepas dari sosok kecil yang terbaring di sofa khusus medis di seberangnya. Elena tampak pucat, tertidur karena pengaruh obat penenang agar ia tidak syok selama penerbangan darurat ini. Sebuah selang oksigen kecil terpasang di hidungnya, dan seorang perawat pribadi yang dibawa Rafael terus memantau detak jantungnya. Rafael bangkit dari kursinya, mendekati Ayyana, lalu berlutut di depan istrinya. Ia mengambil tangan Ayyana yang terasa sedingin es. "Elena stabil, Sayang. Dokter bilang kondisinya tidak menurun selama penerbangan," bisik Rafael mencoba me
Di sebuah gedung bergaya gotik di sudut kota, Lorenzo Alvarez, paman Rafael yang dikenal sebagai iblis berdarah dingin membanting gelas kristalnya hingga hancur berkeping-keping di atas lantai marmer. Veronica berdiri di depannya dengan wajah pucat, namun matanya memancarkan kepuasan dendam setelah menceritakan segala yang ia temukan di mansion tadi sore. "Berani-beraninya dia ..." suara Lorenzo rendah, namun mengandung getaran yang sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengar. "Menikahi wanita jalang itu diam-diam dan menyembunyikan pewaris di rahimnya? Rafael benar-benar sudah menganggap dewan ini tidak ada!" "Dia menghianatimu, Paman Lorenzo. Dia memilih wanita itu daripada aliansi kita," kompor Veronica dengan suara melengking. Lorenzo berdiri, aura membunuhnya meledak. Ia menoleh ke arah barisan pria berseragam hitam di belakangnya. "Kepung mansion itu sekarang juga! Bakar habis jika perlu. Tapi pastikan satu hal ... bawa wanita itu ke hadapanku. Aku ingin membantainya
Deru mesin mobil mewah yang memasuki pelataran mansion Alvarez memecah kesunyian sore itu. Ayyana sudah berdiri di ambang pintu, menyambut suaminya dengan senyum yang tak pernah luntur. Namun, matanya tertuju pada satu benda: tas bekal biru muda yang masih bertengger manis di tangan kokoh Rafael. Melihat seorang mafia yang biasanya menenteng senjata atau koper berisi dokumen rahasia kini justru menenteng kotak makan lucu, membuat Ayyana ingin tertawa. Pemandangan itu sungguh kontras, membuat Rafael terlihat menggemaskan di matanya. "Bagaimana bekalnya? Apa habis?" tanya Ayyana saat Rafael sudah berdiri di depannya. Rafael mengangkat tas bekal itu dengan bangga. "Habis dong. Tandas sampai butiran nasi terakhir. Tidak ada yang tersisa sedikit pun," jawabnya, lalu mengecup kening Ayyana lama. Ayyana menyipitkan mata, menatap suaminya penuh selidik. "Hah? Yang benar kamu? Aku tidak percaya. Jangan-jangan kamu berikan pada Armand atau kamu buang diam-diam?" Rafael terkekeh, meski te
Mansion Alvarez yang biasanya tenang sore ini mendadak gaduh oleh suara decitan ban mobil yang mengerem kasar di pelataran. Veronica keluar dari mobilnya dengan wajah merah padam. Tanpa memedulikan prosedur keamanan, ia menerobos masuk. Para pengawal sempat menghalanginya. Namun Veronica berteriak histeris, mengancam akan memecat mereka semua menggunakan nama ayahnya yang merupakan sekutu utama dewan tetua. Di dalam, Ayyana sedang duduk tenang di ruang tamu sambil menyesap teh kamomilnya. Ia baru saja akan meletakkan cangkirnya saat pintu ganda mansion terbuka paksa. "DI MANA WANITA JALANG ITU?!" teriak Veronica menggema di seluruh ruangan. Bi Martha segera pasang badan di depan Ayyana. "Nona Veronica, Anda tidak bisa masuk sembarangan seperti ini. Tuan sedang tidak ada di tempat." "Minggir, pelayan tua!" Veronica mendorong Bi Martha kasar. Namun langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok wanita yang duduk di sofa utama. Veronica terpaku. Matanya membelalak lebar, lalu ta
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews