Terikat Cincin Sang Mafia

Terikat Cincin Sang Mafia

last updateLast Updated : 2026-07-27
By:  Selly AurellineUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
10Chapters
6views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Sehari sebelum pernikahan, Alessia Rossi kabur bersama pria yang dicintainya. Demi menyelamatkan kehormatan keluarga, Elina Rossi dipaksa menggantikan posisi saudara tirinya dan menikahi Dante Moretti, pewaris keluarga mafia paling berkuasa di Italia. Elina mengira dirinya hanyalah pengganti. Namun setelah pernikahan itu berlangsung, ia mulai menyadari sesuatu yang aneh. Dante tidak pernah menunjukkan kemarahan atas kepergian Alessia. Sebaliknya, pria itu justru memperhatikannya seolah Elina adalah wanita yang memang diinginkannya sejak awal. Di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia, Elina terjebak dalam dunia mafia yang berbahaya, pengkhianatan keluarga, dan masa lalu yang tak pernah ia ketahui. Ketika kebenaran perlahan terungkap, Elina harus memilih: melarikan diri dari pria yang ditakutinya atau tetap berada di sisi pria yang mulai menguasai hatinya. "Kau mungkin pengantin pengganti di mata semua orang, Elina. Tapi bagiku, hanya kau yang selalu menjadi pilihan."

View More

Chapter 1

Menjadi Pengganti

Daddy: "Pulanglah, Nak. Keadaan keluarga kita sedang genting!"

Elina baru saja menyuapi sang nenek yang tengah sakit ketika ponselnya berdering, menandakan sebuah pesan masuk dari ayahnya.

Keningnya berkerut.

"Apa yang terjadi? Keadaan genting apa? Bukankah besok adalah hari besar, pernikahan Kak Alessia dengan Dante Moretti?"

Setelah memastikan sang nenek telah terlelap dengan tenang, Elina melangkah keluar dari kamar.

Baru saja ia hendak duduk di ruang keluarga, ponselnya kembali berdering. Kali ini, nama ibunya muncul di layar.

"Iya, Mom..."

Suara di seberang terdengar panik.

"Segeralah pulang, Elina. Keluarga kita sedang menghadapi masalah besar."

Jantung Elina berdegup lebih cepat.

"Apa yang terjadi, Mom?"

Isabella Rossi mengembuskan napas berat. Ada keraguan dalam suaranya sebelum akhirnya berkata,

"Alessia kabur."

Elina membeku.

"Besok adalah hari pernikahannya dengan Dante Moretti. Jika kakakmu tidak muncul di altar, keluarga Moretti pasti akan murka. Dan kali ini... yang dipertaruhkan bukan hanya nama baik keluarga kita, tetapi juga keselamatan semuanya."

Tapi, Mom... bagaimana dengan Oma? Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian."

"Mommy sudah menghubungi Tante Evelyn untuk menemani Oma. Jadi kamu bisa pulang malam ini juga."

Elina memejamkan mata. Dadanya terasa sesak. Ia tahu, jika kedua orang tuanya sudah memintanya pulang dengan nada seperti itu, berarti keadaan benar-benar genting.

"Baiklah... aku akan pulang."

Perjalanan dari desa Montepulciano, Tuscany, menuju kota Milan terasa begitu panjang. Selama berjam-jam di dalam mobil, pikiran Elina dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.

Sesampainya di kediaman keluarga Rossi, ia langsung menemui kedua orang tuanya di ruang kerja.

"Jadi... aku harus menggantikan Kak Alessia menjadi pengantin Dante?"

Suaranya lirih, namun terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu.

Damian Rossi mengangguk pelan dengan wajah penuh tekanan.

"Ya, Elina. Kami tidak punya pilihan lain. Tuan Damian menginginkan salah satu putri Daddy menikah dengan Dante. Jika pernikahan itu batal, kerja sama antara keluarga Rossi dan keluarga Moretti akan hancur. Konsekuensinya bisa sangat berbahaya."

Elina menggigit bibirnya.

"Tapi, Dad... aku takut."

Ia menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca.

"Aku sering mendengar rumor tentang Dante. Katanya dia seorang mafia yang kejam, berdarah dingin, dan tidak pernah mengampuni siapa pun yang mengkhianatinya. Bagaimana kalau aku tidak bisa menjalani semua ini?"

---

Keesokan harinya...

Seorang pria bertubuh tinggi tegap dengan wajah tampan dan sorot mata sedingin es berdiri di depan cermin besar. Rahangnya yang tegas semakin menonjol saat ia mengenakan tuxedo hitam klasik Italia, dipadukan dengan kemeja putih bersih, dasi kupu-kupu hitam, serta boutonnière mawar putih yang tersemat rapi di kerah jasnya. Di pergelangan tangannya melingkar sebuah jam tangan mewah yang nilainya setara sebuah rumah.

Di sampingnya berdiri James, pria kepercayaan yang telah menemaninya selama bertahun-tahun.

"Anda terlihat sangat tampan, Tuan Moretti," puji James dengan nada penuh kagum.

Dante Moretti hanya membalas dengan senyum tipis.

Di usianya yang menginjak tiga puluh tahun, pesonanya memang sulit diabaikan. Wajahnya yang tegas berpadu dengan aura dingin dan berwibawa, membuat banyak wanita mengaguminya sekaligus takut mendekat.

"Bukankah aku memang selalu tampan, James?" katanya santai sambil membalikkan tubuh.

James terkekeh pelan sebelum mengangguk.

"Tentu saja, Tuan."

Tiba-tiba terdengar suara berat dari arah pintu.

"Wah... sepertinya kau benar-benar menginginkan pernikahan ini, Dante."

Mendengar suara itu, Dante dan James serempak menoleh.

Seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu gelap melangkah masuk dengan senyum penuh kemenangan.

"Bukankah justru Ayah yang menginginkan pernikahan ini?" balas Dante datar. "Ayah yang membuat perjanjian dengan keluarga Rossi, dan Ayah pula yang memaksaku menikahi putri mereka."

Pria itu tertawa kecil, lalu berjalan mendekat hingga berdiri tepat di hadapan putranya.

"Kau benar, Putraku. Dan akhirnya aku berhasil membuatmu menyetujui semuanya."

Rahang Dante mengeras. Kedua tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Sejak kecil, hidupnya tak pernah benar-benar menjadi miliknya sendiri. Setiap langkah, setiap keputusan, bahkan wanita yang akan menjadi istrinya, semuanya ditentukan oleh sang ayah.

Tatapannya berubah dingin saat menatap pria di hadapannya.

Di balik tuxedo pengantin yang tampak sempurna, tersimpan amarah yang siap meledak kapan saja.

---

Sementara itu, di sebuah ruang rias eksklusif di ballroom Grand Palazzo Moretti, tempat resepsi megah keluarga mafia akan digelar setelah pemberkatan, seorang gadis cantik tengah duduk terpaku di depan cermin.

Gaun pengantin berwarna putih gading yang membalut tubuhnya dijahit dengan detail renda dan mutiara yang elegan. Rambut hitam panjangnya disanggul anggun, menyisakan beberapa helai di sisi wajah yang membuat penampilannya terlihat lembut dan menawan.

Namun, kecantikan itu tak mampu menyembunyikan kegelisahan di matanya.

Elina menatap pantulan dirinya tanpa berkedip.

Ia masih sulit mempercayai kenyataan bahwa beberapa menit lagi ia akan resmi menjadi istri seorang pria yang namanya begitu disegani sekaligus ditakuti di seluruh Italia.

Pria yang selama ini hanya ia kenal dari rumor.

Pria yang disebut-sebut sebagai pewaris keluarga mafia paling berpengaruh.

Pintu ruangan perlahan terbuka.

Isabella Rossi melangkah masuk dengan mata yang sembab.

"Elina... sebentar lagi upacara pernikahanmu dimulai. Kau harus segera menuju altar. Calon suamimu sudah menunggumu di sana."

Elina mengalihkan pandangannya. Air mata yang sejak tadi ia tahan mulai menggenang di pelupuk mata.

"Mom..."

Isabella mendekat, lalu menggenggam kedua tangan putrinya erat-erat.

"Maafkan kami, Nak. Kami memang salah memintamu menggantikan posisi kakakmu. Tapi keluarga kita benar-benar tidak memiliki pilihan lain."

Suasana mendadak hening.

Elina menundukkan kepala, berusaha menerima takdir yang seolah dipaksakan kepadanya.

"Mom... kalau semua rumor tentang calon suamiku itu benar..." suaranya bergetar. "Kalau Dante benar-benar pria kejam yang tak punya belas kasihan... maka aku mungkin akan menjalani pernikahan ini dengan ketakutan seumur hidup."

Isabella mengusap pipi putrinya yang mulai basah oleh air mata.

"Tidak, Sayang. Mommy berharap Dante tidak seburuk yang orang-orang katakan. Terkadang rumor dibesar-besarkan oleh mereka yang hanya melihat seseorang dari kejauhan."

Elina memejamkan mata sejenak.

Di balik gaun putih yang begitu indah, ia menyimpan rasa takut yang begitu besar.

Namun ketika pintu ruangan kembali diketuk sebagai tanda bahwa upacara akan segera dimulai.

Alunan musik klasik memenuhi seluruh ruangan, mengiringi langkah Elina yang berjalan perlahan menuju altar diapit oleh Isabella dan Alexander Rossi.

Gaun putih gading yang dikenakannya menjuntai anggun di atas lantai marmer mengilap. Setiap langkahnya memancarkan keanggunan, tetapi hanya dirinya yang tahu bahwa kedua kakinya terasa begitu berat.

Seluruh tamu undangan berdiri.

Tatapan mereka mengikuti sosok Elina yang kini menggantikan posisi Alessia di hari yang seharusnya menjadi milik sang kakak.

Di ujung altar, Dante Moretti berdiri tegak dengan tuxedo hitam yang membalut tubuh atletisnya. Wajahnya tetap datar, tanpa menunjukkan sedikit pun emosi.

Namun, ketika pandangannya bertemu dengan mata Elina untuk pertama kalinya, ada sebersit keterkejutan yang melintas begitu cepat hingga tak seorang pun menyadarinya.

Bukan wanita itu yang seharusnya berdiri di hadapannya.

Tetapi Dante memilih diam.

Bagi pria seperti dirinya, mempertanyakan keputusan keluarga di hadapan para tamu hanya akan mempermalukan nama besar Moretti.

Elina berhenti tepat di hadapan calon suaminya.

Alexander menggenggam tangan putrinya sejenak sebelum perlahan meletakkannya di atas tangan Dante.

"Tolong jaga putriku."

Suara Alexander terdengar berat, dipenuhi rasa bersalah.

Dante hanya menganggukkan kepala singkat.

"Aku akan melaksanakan tanggung jawabku."

Jawaban itu terdengar dingin, namun cukup membuat Alexander mengembuskan napas lega.

Pemimpin upacara kemudian melangkah maju dan memulai prosesi pemberkatan.

"Kita berkumpul di tempat ini untuk menyatukan dua insan dalam ikatan suci pernikahan. Apakah Dante Moretti menerima Elina Rossi sebagai istri yang sah, untuk dicintai dan dihormati seumur hidup?"

Ruangan seketika sunyi.

Semua mata tertuju pada pewaris keluarga Moretti itu.

Dante menatap Elina beberapa detik. Gadis itu tampak gugup, bahkan jemarinya bergetar pelan.

Akhirnya, ia menjawab dengan suara mantap.

"Aku menerimanya."

Seketika terdengar bisikan pelan dari para tamu.

Pemimpin upacara lalu mengalihkan pandangannya kepada Elina.

"Apakah Elina Rossi menerima Dante Moretti sebagai suami yang sah, untuk dicintai dan dihormati seumur hidup?"

Air mata hampir saja jatuh dari pelupuk mata Elina.

Ia melirik kedua orang tuanya yang berdiri dengan wajah penuh harap, lalu kembali memandang pria di hadapannya.

Meski wajah Dante terlihat dingin, entah mengapa sorot matanya tidak menunjukkan kebencian.

Elina menarik napas panjang.

Dengan suara lirih namun jelas, ia berkata,

"Aku... menerimanya."

Ucapan itu disambut tepuk tangan para tamu yang memenuhi aula megah tersebut.

Pemimpin upacara kemudian mempersilakan kedua mempelai menandatangani dokumen pernikahan.

Dante lebih dulu membubuhkan tanda tangannya dengan tegas.

Elina mengambil pena dengan tangan yang sedikit gemetar. Setelah menatap namanya beberapa saat, ia akhirnya menorehkan tanda tangan itu.

Saat tinta terakhir mengering di atas kertas, keduanya resmi terikat sebagai suami dan istri.

"Mulai hari ini, saya nyatakan kalian sebagai pasangan suami istri yang sah."

Tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan.

Di tengah sorak bahagia para tamu, Elina justru merasakan jantungnya berdegup semakin cepat.

Ia baru saja menikah dengan pria yang paling ditakuti di Italia.

Suasana kamar pengantin dipenuhi keheningan yang terasa menyesakkan.

Begitu memasuki ruangan, Dante tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya melepas jasnya, lalu duduk di tepi ranjang sambil menatap layar laptop yang terbuka di hadapannya.

Elina memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan menenangkan pikirannya.

Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan mengenakan gaun tidur sederhana berwarna krem. Rambutnya yang semula tersanggul kini tergerai hingga melewati bahu.

Belum sempat ia melangkah lebih jauh, Dante mengalihkan pandangannya dari layar laptop.

Tatapan tajam pria itu langsung tertuju padanya.

"Mengapa kau bersedia menikah denganku?"

Suara berat itu memecah kesunyian.

Elina terdiam.

Jantungnya berdegup semakin cepat. Bibirnya bergerak pelan, tetapi tak satu pun kata berhasil keluar.

Sebelum ia sempat menjawab, Dante kembali berbicara.

"Bukankah keluarga Rossi menyiapkan putri sulung mereka untuk menjadi istriku?"

Tatapan pria itu semakin dalam.

"Lalu mengapa yang berdiri di altar hari ini justru kau, Elina Rossi?"

Deg!

Tubuh Elina menegang.

Tangannya yang menggenggam ujung gaun perlahan bergetar.

Ternyata Dante mengetahui semuanya.

Ia tidak bisa lagi bersembunyi di balik kebohongan yang telah disusun kedua orang tuanya.

Elina menundukkan kepala.

"Aku..."

Suaranya tercekat.

"Aku memang bukan calon pengantin yang seharusnya."

Dante tidak menyela. Ia hanya menunggu dengan wajah datar.

Elina menghela napas panjang sebelum akhirnya memberanikan diri mengangkat wajahnya.

"Kak Alessia... pergi."

"Hanya itu?"

Tatapan Dante tak berubah sedikit pun.

Elina mengangguk pelan.

"Ia meninggalkan rumah sehari sebelum pernikahan. Daddy dan Mommy panik. Mereka takut keluarga Moretti membatalkan kerja sama dan murka kepada keluarga kami."

Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya.

"Aku tidak ingin berada di altar itu. Tapi aku juga tidak sanggup melihat keluargaku hancur."

Ruangan kembali sunyi.

Dante menatap Elina cukup lama, seolah sedang memastikan apakah wanita itu berkata jujur.

Kemudian ia menutup laptopnya perlahan.

"Ayahku sudah memberitahuku sejak tadi pagi."

Elina membelalakkan mata.

"K-kau... sudah tahu?"

"Ya."

"Lalu... mengapa kau tetap menikah denganku?"

Dante berdiri, lalu melangkah mendekat hingga hanya berjarak beberapa langkah darinya.

Dengan nada tenang namun sulit ditebak, ia berkata,

"Karena bagiku, yang penting adalah nama Rossi tetap memenuhi perjanjian."

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan,

"Dan karena aku ingin melihat sendiri... wanita seperti apa yang rela mengorbankan hidupnya demi keluarganya."

Ucapan itu membuat Elina terdiam.

Bersambung...

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status