Share

Rasa Terkejut dan Malu

Penulis: NaoMiura
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-06 19:58:58

Matahari memantulkan cahaya perak di atas permukaan kaca-kaca jendela gedung MKU, menciptakan suhu udara yang cukup gerah hingga membuat kerongkongan terasa kering.  Lorong gedung MKU masih cukup lengang karena kelas belum resmi dimulai. Maorielle berdiri menyandar di dinding, sesekali melirik jam tangannya dengan gelisah. Sampai akhirnya Erina muncul dari ujung selasar membawa kantong kertas berminyak yang aromanya sangat menggoda.

"Maaf, maaf! Tadi agak mengantre," sesal Erina.

Maorielle langsung saja menerima burger pesanannya dari Erina. "Aku sudah sangat lapar," ujarnya sudah tidak tertahankan. Mao segera menyantapnya, segigit, dua gigit, tiga gigit. Namun, baru saja ia akan menikmati kunyahan berikutnya, sosok Khai muncul di ujung lorong dengan langkah tenang.

Sontak, Maorielle panik. Ia memaksakan satu lahapan besar yang seharusnya bisa menjadi dua atau tiga gigitan masuk ke mulutnya. Pipinya menggembung drastis. Karena merasa tak sanggup menelan bongkahan roti itu, ia segera menyambar soda dinginnya.

Maorielle berbalik memunggungi dosen yang sedang berjalan ke arahnya. Berharap dosen itu tidak melihat wajah absurdnya sekarang. Maorielle meminumnya dengan rakus agar makanan itu terdorong paksa ke kerongkongan. Dia memejamkan mata sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri dengan kepalan tangan, berusaha agar tidak tersedak di depan dosennya.

Tepat saat Khai tiba di sampingnya, Maorielle dengan gerakan kilat membuang bungkus burger dan botol sodanya ke tempat sampah di depannnya. Ia berdiri tegak dengan napas sedikit tersengal, mencoba terlihat seolah tidak terjadi apa-apa.

Khai berhenti sejenak. Matanya yang tajam menatap Mao dengan binar geli yang sulit disembunyikan. Alih-alih menegur, Khai justru mengangkat telunjuknya, menunjuk ke arah atas mulut Mao tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mao hanya mengerjap bingung, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh dosennya itu.

Khai kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan kelas, diikuti oleh Mao yang berjalan beberapa langkah di belakangnya. Namun, di tengah kesunyian lorong menuju ke dalam kelas, sebuah suara "erppp" pelan namun jelas terdengar. Mao bersendawa akibat sodanya yang diminum terlalu cepat.

Khai yang berjalan di depan tampak bahunya sedikit berguncang dengan menggelengkan kepala, jelas sedang menahan tawa. Dia terus melangkah menuju ke depan kelas. Mao yang wajahnya sudah semerah tomat segera menyelinap masuk ke barisannya dan duduk.

Erina menoleh dengan wajah ngeri. Tanpa bicara, Erina segera mengambil selembar tisu dan menyeka sudut bibir serta bagian atas mulut Mao yang ternyata masih menyisakan noda saos barbekyu yang cukup lebar.

Dari depan kelas, sambil meletakkan tasnya di atas meja, Khai memperhatikan interaksi kedua gadis itu. Ia melihat bagaimana Erina dengan telaten membersihkan wajah Mao yang tampak pasrah sekaligus malu.

Khai menarik napas panjang, lalu bergumam pelan namun cukup terdengar oleh barisan depan.

"Persahabatan yang luar biasa... sampai urusan saos pun harus diselesaikan bersama."

Ia kemudian membuka laptopnya, menatap ke arah Mao yang masih sibuk menunduk. "Sudah selesai urusan makan dan sendawanya, Maorielle? Atau kita perlu waktu lima menit lagi untuk menenangkan lambungmu?"

Maorielle merasakan telinganya memanas. Ia mengangkat wajahnya sedikit, menatap Khai yang kini berdiri tegak di depan kelas, siap untuk memulai kelas. Erina di sebelahnya memegangi lengannya, seolah memberi kekuatan.

"Tidak, Pak. Saya sudah siap," jawab Mao dengan suara sedikit serak. Ia memaksakan dirinya untuk menegakkan punggung, berharap bisa menunjukkan bahwa ia baik-baik saja, meskipun ia tahu Khai bisa melihat rona merah di wajahnya.

"Bagus," sahut Khai dengan senyum tipis yang penuh makna. Ia menatap berkeliling kelas, lalu pandangannya kembali berhenti tepat pada Mao. "Baiklah, untuk materi hari ini, kita akan membahas 'Komunikasi Non-Verbal'. Bagaimana gestur, ekspresi wajah, dan kontak mata bisa mengungkapkan lebih banyak daripada kata-kata."

Khai menjeda kalimatnya, lalu ia mengetuk-ngetukkan jari pada meja podium. "Untuk itu, saya butuh seorang relawan. Seseorang yang memiliki pengalaman empiris tentang bagaimana tubuh kita bereaksi ketika sedang dalam kondisi tidak nyaman atau terkejut."

Seisi kelas saling pandang. Beberapa mahasiswa sudah melirik ke arah Mao, sadar bahwa sindiran Khai jelas tertuju padanya.

"Maorielle," ucap Khai dengan nada formal, namun matanya jelas memancarkan kilat jenaka. "Saya rasa kamu adalah kandidat yang paling tepat untuk demonstrasi ini. Silakan maju ke depan."

Mao merasa seluruh darah di tubuhnya mengalir ke wajah. Erina menepuk punggung Mao pelan, seolah menyuruhnya untuk pasrah. Dengan langkah ragu, Mao beranjak dari kursinya, melangkah ke depan. Setiap langkah terasa berat, seolah ia sedang berjalan menuju tiang hukuman. Di depan kelas, Maorielle berdiri agak jauh dari Khai, mencoba menjaga jarak aman.

"Jangan tegang, Maorielle ," Khai mengulas senyum tipis. "Ini hanya demonstrasi. Anggap saja kamu sedang berakting." Khai kemudian mengambil sebuah spidol dan menuliskan dua kata di papan tulis: RASA MALU dan TERKEJUT.

"Baiklah, Mao. Tugasmu sederhana. Saya akan menunjukkan beberapa skenario, dan kamu harus mengekspresikan respons nonverbal tanpa suara. Kita mulai dengan skenario pertama. Kamu baru saja ketahuan membohongi orang tuamu tentang nilai ujianmu."

Mao menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba memvisualisasikan skenario itu, lalu ia menundukkan kepala sedikit, bahunya sedikit merosot, dan tangannya saling meremas di depan perut. Ekspresi malu yang sangat otentik. Khai mengangguk puas.

"Lihat, teman-teman. Kepala menunduk, bahu merosot, dan gestur self touching adalah tanda-tanda klasik rasa malu atau bersalah. Sangat jelas, bukan?"

"Skenario kedua," lanjut Khai, nada suaranya sedikit berubah menjadi lebih menggoda. "Kamu baru saja melihat seorang dosen tampan keluar dari ruang dosen, sementara kamu sedang buru-buru menyelinap masuk ke toilet wanita. Bagaimana ekspresi 'terkejut' bercampur 'malu'?"

Maorielle merasakan wajahnya makin memanas. Skenario itu terlalu mirip dengan kejadian mereka minggu lalu. Ia mencoba menahan diri untuk tidak tersipu, namun gagal. Pipi Maorielle merona merah. Matanya membelalak sedikit, dan ia refleks mundur satu langkah kecil. Bibirnya sedikit terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu namun tidak ada suara yang keluar.

Seisi kelas menahan tawa. Beberapa mahasiswa bahkan terang-terangan terkekeh geli. Erina, yang duduk di barisan tengah, kini menutup wajahnya dengan buku. Khai tersenyum penuh kemenangan. Ia menunjuk ke arah Maorielle.

"Perhatikan, teman-teman. Pupil mata membesar, sedikit refleks mundur, dan rona merah di pipi. Ini adalah respons fisiologis alami terhadap kejutan bercampur rasa malu, terutama jika ada elemen tidak terduga dalam interaksi sosial."

Khai menatap Maorielle yang kini sudah menunduk sepenuhnya. "Terima kasih atas demonstrasinya, Maorielle. Kamu boleh kembal."

Maorielle tidak membuang waktu. Ia segera berjalan cepat menuju kursinya, ingin menghilang ditelan bumi. Ia tahu Khai sengaja melakukan ini untuk mempermainkannya. Kenapa selalu ada hal memalukan di kelasnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Tawaran di Antara Coretan Biru

    Khai tidak memberikan diskon waktu, jadi kelas berakhir sesuai jam belajar. Ia menunggu sampai semua mahasiswa mulai beranjak keluar. Dia mengawasi pergerakan Maorielle."Maorielle, bisa ke depan sebentar?" ucap Khai datar sambil merapikan kabel laptopnya.Erina mengepalkan tangannya dan menatap Maorielle dengan pandangan 'Semangat, Sahabatku!' sebelum akhirnya terpaksa keluar kelas lebih dulu. Mao menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah menuju meja dosen, tempat Khai menunggunya.Maorielle berdiri di depan meja dengan sikap sesempurna mungkin, berusaha menyembunyikan jemarinya yang saling bertaut di balik punggung. Ruang kelas kini hanya menyisakan suara dengung lampu neon dan langkah kaki mahasiswa yang menjauh di selasar.Khai tidak langsung bicara. Ia menutup laptopnya dengan bunyi klik yang tegas, lalu menyandarkan pinggulnya di tepi meja, menatap Maorielle dengan intensitas yang membuat gadis itu merasa seolah sedang menjalani sesi terapi klinis.

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Proksemik dan Titik Buta: Teori Tentang Jarak yang Gagal

    Senin siang ini, langit di atas kampus membentang jernih. Hamparan warna biru yang begitu bersih seolah-olah hujan deras beberapa hari lalu telah mencuci seluruh debu di atap gedung. Sinar matahari menyelinap di antara celah-celah pilar gedung.Maorielle melangkah menyusuri selasar menuju ruang kelas dengan perasaan berbeda. Energi Maorielle hari ini sedikit lebih penuh karena kelas sebelumnya diganti dengan tugas daring. Hal ini membuatnya sempat tidur siang di kamar kos Erina.Setelah insiden cegukan yang memalukan dan pertemuan di kantin yang penuh sindiran. Maorielle harus menyiasati agar ruang kelas tidak terasa seperti medan perang."Mao, kamu cepat sekali. Kita masih punya sepuluh menit," Erina terengah-engah, rambut panjangnya sedikit berantakan. "Jangan bilang kamu mau duduk di baris paling depan?""Tidak!" sahut Mao tanpa menoleh. "Aku mau di sudut yang paling tidak terjangkau radar." Maorielle tidak ingin lagi ada insiden apapun. Ia tidak ingin

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   The Beauty with Brains

    Ia berjalan cepat menuju kantin, berniat menyeret Erina pergi dari sana secepat mungkin. Namun, begitu sampai di ambang kantin, pemandangan di depannya membuatnya ingin putar balik. Di salah satu meja, Erina tampak sedang tertawa lebar. Di hadapannya, Pak Angin serta Khai baru saja meletakkan nampan makanan mereka.Erina melambai dengan semangat begitu melihat Mao berdiri mematung di pintu masuk."Mao! Sini! Kebetulan banget ini ada Om Angin sama Pak Khai!" teriak Erina tanpa dosa.Khai, yang sedang mengaduk kopinya, perlahan mendongak. Matanya bertemu dengan mata Maorielle, dan ia mengangkat alisnya sedikit. Sebuah ekspresi yang seolah berkata, aku ada di sini juga lho. Maorielletidak punya pilihan. Menarik Erina pergi sekarang hanya akan membuat suasana jadi aneh. Pria itu pasti akan menertawakannya dalam hati. Dengan langkah yang dipaksakan seanggun mungkin, Mao berjalan menghampiri meja pojok itu."Siang, Pak Angin. Siang, Pak Khai," sapa M

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Paradoks Di Balik Pilar

    Gedung teater mulai berangsur sepi. Suara ruangan diisi oleh dengung rendah pendingin ruangan yang masih menyala. Khai masih di sana, duduk dengan tenang di balik meja dosennya. Jemarinya lincah menari di atas layar ponsel sementara tumpukan makalah di hadapannya telah berpindah rapi ke dalam tas kulit.Beberapa menit kemudian, pintu kelas terbuka kembali. Maorielle melangkah masuk dengan napas yang sedikit tidak beraturan. Di tangannya, ia menggenggam botol air mineral baru yang masih sangat dingin. Lengkap dengan embun yang membasahi telapak tangannya.Ia berjalan lurus menuju meja Khai, lalu meletakkan botol itu tepat di tempat botol milik Khai tadi berada."Ini gantinya, Pak," ucap Mao, suaranya kini sudah stabil, meski rona merah di pipinya belum sepenuhnya pudar. "Terima kasih untuk bantuan... kemanusiaannya tadi."Khai mengangkat pandangannya dari ponsel. Ia menatap botol baru itu, lalu beralih menatap wajah Mao yang tampak berusaha keras mempertahan

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Diafragma yang Berbicara

    Sebuah gelas plastik berisi es kopi yang sudah mencair meninggalkan lingkaran embun yang memudar di atas permukaan meja kayu jati di depan kelas. Di sampingnya terdapat sebuah botol kecil air mineral yang masih tersegel utuh. Ada tumpukan makalah yang masih tercium aroma tinta segar tertata rapi, menunggu untuk segera dibedah.Khai hari ini tampil formal dengan kemeja abu-abu gelap dan celana panjang berwarna putih. Ia berdiri di samping meja dosen, matanya menyapu seisi ruangan yang sudah mulai penuh."Selamat siang semuanya," buka Khai, suaranya tenang namun memiliki otoritas yang membuat kegaduhan di barisan belakang seketika sirna. "Hari ini adalah waktu untuk membuktikan apakah mata kalian benar-benar jeli, atau kalian hanya sekadar melihat tanpa mengamati."Khai melirik daftar hadir di tangannya. "Kelompok pertama. Silakan maju ke depan untuk mempresentasikan pengamatan kalian."Jantung Maorielle berdegup kencang. Ia merapikan baju dan rambutnya sec

  • Terikat Tatapan Pak Dosen   Dua Dosen Muda

    Maorielle mendengus keras, tangannya menekan pulpen ke kertas hingga ujungnya nyaris melubangi buku catatan. Matanya menatap punggung Khai yang kian menjauh di antara kerumunan mahasiswa yang berlari sore."Mao! Mao! Dia memanggil seperti orang dekat!" gerutu Maorielle, suaranya naik satu oktav karena dongkol.Erina yang sejak tadi menahan napas akhirnya bisa tertawa lepas. "Mao, tenang... napas dulu. Lagipula, panggilan 'Mao' itu terdengar... manis kalau dia yang mengucapkannya," Erina terkekeh.Maorielle berdiri dari bangku mulai merasa tidak nyaman berada di sana. Bayangan Khai dengan kaus olahraga hitam dan caranya menatap matanya tadi masih terbayang-bayang di benaknya."Ayo kita pulang. Moodku sudah hancur," ajak Maorielle sambil menyampirkan tasnya dengan kasar."Lho, baru juga dapat tiga subjek. Kurang dua lagi," protes Erina sambil mengekor di belakang sahabatnya."Kita cari subjek lain di jalan saja. Di sini udaranya sudah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status