MasukMatahari memantulkan cahaya perak di atas permukaan kaca-kaca jendela gedung MKU, menciptakan suhu udara yang cukup gerah hingga membuat kerongkongan terasa kering. Lorong gedung MKU masih cukup lengang karena kelas belum resmi dimulai. Maorielle berdiri menyandar di dinding, sesekali melirik jam tangannya dengan gelisah. Sampai akhirnya Erina muncul dari ujung selasar membawa kantong kertas berminyak yang aromanya sangat menggoda.
"Maaf, maaf! Tadi agak mengantre," sesal Erina.
Maorielle langsung saja menerima burger pesanannya dari Erina. "Aku sudah sangat lapar," ujarnya sudah tidak tertahankan. Mao segera menyantapnya, segigit, dua gigit, tiga gigit. Namun, baru saja ia akan menikmati kunyahan berikutnya, sosok Khai muncul di ujung lorong dengan langkah tenang.
Sontak, Maorielle panik. Ia memaksakan satu lahapan besar yang seharusnya bisa menjadi dua atau tiga gigitan masuk ke mulutnya. Pipinya menggembung drastis. Karena merasa tak sanggup menelan bongkahan roti itu, ia segera menyambar soda dinginnya.
Maorielle berbalik memunggungi dosen yang sedang berjalan ke arahnya. Berharap dosen itu tidak melihat wajah absurdnya sekarang. Maorielle meminumnya dengan rakus agar makanan itu terdorong paksa ke kerongkongan. Dia memejamkan mata sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri dengan kepalan tangan, berusaha agar tidak tersedak di depan dosennya.
Tepat saat Khai tiba di sampingnya, Maorielle dengan gerakan kilat membuang bungkus burger dan botol sodanya ke tempat sampah di depannnya. Ia berdiri tegak dengan napas sedikit tersengal, mencoba terlihat seolah tidak terjadi apa-apa.
Khai berhenti sejenak. Matanya yang tajam menatap Mao dengan binar geli yang sulit disembunyikan. Alih-alih menegur, Khai justru mengangkat telunjuknya, menunjuk ke arah atas mulut Mao tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mao hanya mengerjap bingung, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh dosennya itu.
Khai kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan kelas, diikuti oleh Mao yang berjalan beberapa langkah di belakangnya. Namun, di tengah kesunyian lorong menuju ke dalam kelas, sebuah suara "erppp" pelan namun jelas terdengar. Mao bersendawa akibat sodanya yang diminum terlalu cepat.
Khai yang berjalan di depan tampak bahunya sedikit berguncang dengan menggelengkan kepala, jelas sedang menahan tawa. Dia terus melangkah menuju ke depan kelas. Mao yang wajahnya sudah semerah tomat segera menyelinap masuk ke barisannya dan duduk.
Erina menoleh dengan wajah ngeri. Tanpa bicara, Erina segera mengambil selembar tisu dan menyeka sudut bibir serta bagian atas mulut Mao yang ternyata masih menyisakan noda saos barbekyu yang cukup lebar.
Dari depan kelas, sambil meletakkan tasnya di atas meja, Khai memperhatikan interaksi kedua gadis itu. Ia melihat bagaimana Erina dengan telaten membersihkan wajah Mao yang tampak pasrah sekaligus malu.
Khai menarik napas panjang, lalu bergumam pelan namun cukup terdengar oleh barisan depan."Persahabatan yang luar biasa... sampai urusan saos pun harus diselesaikan bersama."
Ia kemudian membuka laptopnya, menatap ke arah Mao yang masih sibuk menunduk. "Sudah selesai urusan makan dan sendawanya, Maorielle? Atau kita perlu waktu lima menit lagi untuk menenangkan lambungmu?"
Maorielle merasakan telinganya memanas. Ia mengangkat wajahnya sedikit, menatap Khai yang kini berdiri tegak di depan kelas, siap untuk memulai kelas. Erina di sebelahnya memegangi lengannya, seolah memberi kekuatan.
"Tidak, Pak. Saya sudah siap," jawab Mao dengan suara sedikit serak. Ia memaksakan dirinya untuk menegakkan punggung, berharap bisa menunjukkan bahwa ia baik-baik saja, meskipun ia tahu Khai bisa melihat rona merah di wajahnya.
"Bagus," sahut Khai dengan senyum tipis yang penuh makna. Ia menatap berkeliling kelas, lalu pandangannya kembali berhenti tepat pada Mao. "Baiklah, untuk materi hari ini, kita akan membahas 'Komunikasi Non-Verbal'. Bagaimana gestur, ekspresi wajah, dan kontak mata bisa mengungkapkan lebih banyak daripada kata-kata."
Khai menjeda kalimatnya, lalu ia mengetuk-ngetukkan jari pada meja podium. "Untuk itu, saya butuh seorang relawan. Seseorang yang memiliki pengalaman empiris tentang bagaimana tubuh kita bereaksi ketika sedang dalam kondisi tidak nyaman atau terkejut."
Seisi kelas saling pandang. Beberapa mahasiswa sudah melirik ke arah Mao, sadar bahwa sindiran Khai jelas tertuju padanya.
"Maorielle," ucap Khai dengan nada formal, namun matanya jelas memancarkan kilat jenaka. "Saya rasa kamu adalah kandidat yang paling tepat untuk demonstrasi ini. Silakan maju ke depan."
Mao merasa seluruh darah di tubuhnya mengalir ke wajah. Erina menepuk punggung Mao pelan, seolah menyuruhnya untuk pasrah. Dengan langkah ragu, Mao beranjak dari kursinya, melangkah ke depan. Setiap langkah terasa berat, seolah ia sedang berjalan menuju tiang hukuman. Di depan kelas, Maorielle berdiri agak jauh dari Khai, mencoba menjaga jarak aman.
"Jangan tegang, Maorielle ," Khai mengulas senyum tipis. "Ini hanya demonstrasi. Anggap saja kamu sedang berakting." Khai kemudian mengambil sebuah spidol dan menuliskan dua kata di papan tulis: RASA MALU dan TERKEJUT.
"Baiklah, Mao. Tugasmu sederhana. Saya akan menunjukkan beberapa skenario, dan kamu harus mengekspresikan respons nonverbal tanpa suara. Kita mulai dengan skenario pertama. Kamu baru saja ketahuan membohongi orang tuamu tentang nilai ujianmu."
Mao menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba memvisualisasikan skenario itu, lalu ia menundukkan kepala sedikit, bahunya sedikit merosot, dan tangannya saling meremas di depan perut. Ekspresi malu yang sangat otentik. Khai mengangguk puas.
"Lihat, teman-teman. Kepala menunduk, bahu merosot, dan gestur self touching adalah tanda-tanda klasik rasa malu atau bersalah. Sangat jelas, bukan?"
"Skenario kedua," lanjut Khai, nada suaranya sedikit berubah menjadi lebih menggoda. "Kamu baru saja melihat seorang dosen tampan keluar dari ruang dosen, sementara kamu sedang buru-buru menyelinap masuk ke toilet wanita. Bagaimana ekspresi 'terkejut' bercampur 'malu'?"
Maorielle merasakan wajahnya makin memanas. Skenario itu terlalu mirip dengan kejadian mereka minggu lalu. Ia mencoba menahan diri untuk tidak tersipu, namun gagal. Pipi Maorielle merona merah. Matanya membelalak sedikit, dan ia refleks mundur satu langkah kecil. Bibirnya sedikit terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu namun tidak ada suara yang keluar.
Seisi kelas menahan tawa. Beberapa mahasiswa bahkan terang-terangan terkekeh geli. Erina, yang duduk di barisan tengah, kini menutup wajahnya dengan buku. Khai tersenyum penuh kemenangan. Ia menunjuk ke arah Maorielle.
"Perhatikan, teman-teman. Pupil mata membesar, sedikit refleks mundur, dan rona merah di pipi. Ini adalah respons fisiologis alami terhadap kejutan bercampur rasa malu, terutama jika ada elemen tidak terduga dalam interaksi sosial."
Khai menatap Maorielle yang kini sudah menunduk sepenuhnya. "Terima kasih atas demonstrasinya, Maorielle. Kamu boleh kembal."
Maorielle tidak membuang waktu. Ia segera berjalan cepat menuju kursinya, ingin menghilang ditelan bumi. Ia tahu Khai sengaja melakukan ini untuk mempermainkannya. Kenapa selalu ada hal memalukan di kelasnya.
Angin di taman kampus siang itu berembus kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Maorielle. Di hadapannya, Arvan berdiri dengan senyum yang begitu tulus, tangannya terangkat menyapa."Mao," panggil Arvan, suaranya terdengar berat karena gugup.Morielle pun memberikan senyumya sebagai balasan. Dia lalu duduk di sebelah Arvan. Dia yakin bahwa Erina akan datang juga pada mereka.Namun, fokus Maorielle terpecah. Erina tidak juga datang. Instingnya memaksa matanya untuk menengok ke ruang dosen. Erina tadi mengatakan akan menemui pak Angin. Maorielle menyipitkan mata. Ia mencari sosok Erina yang katanya ingin menemui Pak Angin, namun yang ia temukan justru Pak Khai.Pak Khai tidak sedang sibuk dengan tumpukan jurnal atau berkas nilai. Ia berdiri tepat di depan pintu yang terbuka, mematung dengan satu tangan di saku celana. Tatapannya tidak tertuju pada pemandangan kampus secara luas, melainkan terkunci tepat pada satu titik: Maorielle dan Arvan.Dari jarak sejauh itu, ekspresi Khai suli
Sepanjang kuliah, Khai beberapa kali kehilangan ritme bicara. Matanya terus beralih dari layar proyektor ke arah Maorielle. Setiap kali Maorielle tidak sengaja menatapnya, Khai akan memberikan tatapan yang sangat intens seperti singa yang mengawasi mangsanya.Maorielle semakin bingung. Dia merasa terjebak di tengah medan magnet yang kuat antara Erina yang bersikap acuh tak acuh dan Khai yang tampak gelisah. Apa yang mereka bicarakan di jendela tadi.Khai berdiri di depan layar proyektor dengan tangan terlipat di depan dada. Ia tidak langsung menggeser slide selanjutnya, melainkan menatap mahasiswanya satu per satu dengan pandangan analitis."Kita akan mencoba melakukan dekonstruksi makna pada sebuah karya," suara bariton Khai memecah kesunyian. "Sebuah lagu. Karena bahasa juga tentang apa yang diucapkan dan apa yang dirasakan."Khai berjalan mendekati barisan tengah, langkahnya berhenti tepat di depan meja Maorielle. Erina, yang duduk di sampingnya tetap
Erina menahan napas. Jantungnya berpacu. Ia merasa kepastian sudah berada di depan matanya.Suasana di dalam kelas itu semakin sunyi. Pandangan Erina dan Khai terfokus pada titik yang sama. Gedung seberang, di mana Maorielle baru saja melangkah keluar dari ruang kelasnya.Erina, dengan senyum yang sulit diartikan, mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ia melambai dengan gerakan yang lebar untuk menyapa Maorielle yang melihat ke arah mereka. Sebuah gestur yang tampak ramah namun sarat akan klaim tersembunyi.Di seberang sana, Maorielle mematung. Jarak di antara kedua gedung itu tidak cukup jauh untuk menyembunyikan keterkejutan di wajahnya. Melihat sahabatnya berdiri begitu dekat di samping Khai, pria yang selama ini mengawasinya dari kejauhan. Membuat dunia Maorielle seolah berhenti berputar.Khai memperhatikan ekspresi Maorielle dari kejauhan. Ada sebuah getaran halus di sudut matanya yang biasanya sedingin es. Khai mengembangkan senyumnya pada Maorielle unt
Pagi itu, gedung Sastra masih diselimuti kabut tipis dan aroma tanah basah. Koridor lantai dua masih sunyi. Hanya suara langkah sepatu Erina yang beradu dengan lantai marmer, menciptakan gema yang tegas.Pikiran Erina kini terbagi menjadi dua skenario yang sangat kontras. Di satu sisi ada Arvan. Pemuda baik yang selalu berhasil menarik perhatiannya, namun selalu terpaku pada Maorielle. Di sisi lain, ada Khai. Sosok otoriter yang prestisius, yang mencari frekuensi yang tepat untuknya agar bisa menghilangkan radar Maorielle."Mao, kamu terlalu lambat membaca kode. Kalau kamu nggak berani ambil langkah. Jangan salahkan kalau Pak Khai memilih yang lain." gumam Erina.Erina tidak datang dengan kemeja seperti biasanya. Ia mengenakan kemeja silk berwarna pastel yang pas di tubuhnya, dipadukan dengan celana kain potongan rapi. Ia tampak dewasa, cerdas, dan yang paling penting: tidak memalukan.Erina sengaja datang ke kelas Khai lebih awal dari biasanya, tepatnya
Sore itu, mendung menggantung rendah di atas rumah dosen Angin. Seperti biasa, dia bermain ke rumah sang dosen untuk mencicipi masakan rumahan. Satu-satunya rumah dosen muda yang bisa Erina datangi tanpa rasa takut.Setelah mencicipi masakan pemilik rumah, Erina menemani Angin bersantai di teras belakang. Mereka basa-basi singkat tentang nilai dan organisasi. Lalu, Erina mulai melancarkan serangan halus, dia mengorek informasi tentang Khai."Om, Pak Khai kadang bisa seram ya?" Erina memulai sambil menyesap teh hangat yang disuguhkan. "Kelihatannya dia lagi banyak pikiran. Beberapa hari yang lalu dia di kelas agak seram."Pak Angin tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat santai hingga membuat suasana yang tadinya sepi menjadi riuh. Angin menyesap kopinya. Lalu menatap Erina dengan binar mata yang seolah mengatakan bahwa ia punya segudang cerita tentang rekan sejawatnya itu."Khai memang kadang begitu, Erina. Dia itu ibarat kamus berjalan yang cov
Maorielle kembali fokus menyimak lagu yang dibawakan oleh sebuah band kampus. Lalu tak berapa lama, bayangan seseorang berhenti di depan mereka.“Wah, kalian di sini juga!.”Erina mendongak lebih dulu. “Lho? Arvan?”Arvan tersenyum santai, tangannya masuk ke saku celana jeans. Ia tidak terlihat seperti penonton biasa. Terlalu percaya diri, terlalu nyaman berada di tengah keramaian.“Kok bisa ada di sini?” tanya Erina cepat.“Salah satu peserta itu kakak kelasku waktu SMA,” jawabnya ringan. “Mei. Kami satu ekskul dulu. Sudah janji mau datang dukung.”“Serius?” Erina langsung tampak antusias. “Yang tadi pakai kostum merah itu?”Arvan mengangguk. “Iya. Dia memang ambisius dari dulu.”Maorielle ikut menoleh ke arah panggung, berusaha terlihat tertarik pada pembicaraan itu.Dari arah meja juri, Khai mengangkat kepala tepat di saat







