Beranda / Romansa / Terjebak Cinta Bos Sadis / Bab 108 — Ketika Hening Mengajarkan Mendengar

Share

Bab 108 — Ketika Hening Mengajarkan Mendengar

Penulis: Rayden Arsha
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-08 19:45:14

Ada satu kemampuan yang baru kusadari perlu dipelajari ulang: mendengar. Bukan mendengar suara, melainkan mendengar diri sendiri—tanpa menyela, tanpa menilai, tanpa buru-buru memberi jawaban. Hening, yang dulu kuanggap musuh, kini menjadi guru yang sabar.

Pagi itu, aku terbangun oleh hujan yang turun pelan. Bukan hujan deras yang menuntut perhatian, melainkan rintik yang seperti mengusap jendela. Aku tidak langsung bangun. Aku berbaring, menutup mata, dan membiarkan suara itu mengisi ruan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 124 — Aku Tidak Lagi Takut Sendirian

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 123 — Aku Belajar Bahwa Tidak Semua Hal Harus Diselesaikan

    Dulu aku punya kebiasaan yang tidak pernah kusadari sebagai beban: aku ingin menyelesaikan semuanya.Semua masalah harus diselesaikan. Semua konflik harus diselesaikan. Semua percakapan harus jelas. Semua luka harus sembuh sempurna.Aku tidak nyaman dengan hal-hal yang digantung. Aku tidak tahan dengan intimidasi. Jika ada pertanyaan yang belum terjawab, saya merasa harus mencari penjelasannya. Jika ada hubungan yang berakhir tanpa penjelasan, saya merasa harus menutupnya dengan kalimat terakhir yang rapi.Aku ingin hidup seperti buku yang setiap babnya punya kesimpulan jelas.Tapi hidup ternyata bukan buku yang bisa kita edit sesuka hati.Kesadaran itu datang perlahan, bukan lewat kejadian besar. Justru lewat kenyamanan.Pagi itu aku bangun dengan perasaan netral—tidak terlalu bahagia, tidak juga sedih. Hanya tenang. Cahaya matahari masuk seperti biasa, membentuk garis lembut di dinding. Aku duduk di tepi tempat tidur dan menunggu beberapa detik sebelum berdiri.Dulu, jika aku ter

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 122 — Aku Tidak Lagi Bertanya “Kenapa Dulu Begitu?”

    Ada masa dalam hidupku ketika satu pertanyaan terus berputar seperti lagu rusak di kepala:Kenapa dulu aku begitu?Kenapa dulu aku membiarkan diriku disakiti?Kenapa aku bertahan terlalu lama di tempat yang jelas membuatku lelah?Kenapa aku menunggu seseorang yang tidak pernah benar-benar memilihku?Kenapa aku mengorbankan diriku sendiri demi menjaga sesuatu yang bahkan tidak menjagaku kembali?Pertanyaan-pertanyaan itu dulu terasa seperti penyelidikan. Seolah aku harus menemukan jawaban logis agar bisa berdamai dengan masa lalu. Aku pikir kalau aku mengerti alasannya, aku akan sembuh. Aku percaya kalau aku bisa menjelaskan semuanya, luka-lukanya akan hilang.Tapi waktu mengajarkanku sesuatu yang tidak pernah terpikir sebelumnya:Tidak semua hal di masa lalu perlu dijelaskan.Sebagian hanya perlu diterima.Kesadaran itu datang di pagi yang sangat tenang.Aku bangun dengan perasaan ringan, seperti seseorang yang baru saja menurunkan beban t

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 121 — Aku Akhirnya Mengerti: Damai Itu Tidak Datang, Ia Dibuat

    Dulu aku selalu menunggu damai.Aku menunggunya seperti seseorang menunggu kereta di peron—berdiri, melihat jauh ke depan, berharap sesuatu datang menjemput. Aku percaya suatu hari nanti hidup akan tenang dengan sendirinya. Bahwa akan ada momen di mana semuanya rapi, semua masalah selesai, semua rasa takut hilang, lalu damai datang duduk di sampingku tanpa diminta.Aku menunggunya lama.Aku menunggunya saat hidup sibuk.Aku menunggunya saat hidup sepi.Aku menunggunya saat aku lelah.Aku menunggunya bahkan saat aku bahagia.Tapi damai tidak pernah datang seperti itu.Ia tidak muncul tiba-tiba. Tidak mengetuk pintu. Tidak memperkenalkan diri. Ia tidak pernah datang sebagai hadiah dari luar.Dan butuh waktu lama bagiku untuk menyadari sesuatu yang sederhana namun mengubah segalanya:Damai bukan sesuatu yang datang.Damai adalah sesuatu yang dibuat.Kesadaran itu muncul pada pagi yang sangat biasa.Aku bangun tanpa suara alarm, hanya

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 120 — Aku Tidak Lagi Mengejar Hidup, Aku Menjalani

    Dulu aku hidup seperti seseorang yang terlambat.Bahkan ketika tidak ada yang benar-benar menungguku, aku tetap merasa dikejar waktu. Setiap pagi terasa seperti garis start perlombaan. Setiap malam terasa seperti laporan hasil. Jika hariku tidak produktif, aku merasa gagal. Jika aku beristirahat terlalu lama, aku merasa bersalah. Jika aku bahagia tanpa alasan jelas, aku malah curiga.Aku hidup bukan untuk menjalani hari—aku hidup untuk mengejar sesuatu yang bahkan tidak selalu bisa kujelaskan.Dan anehnya, aku dulu mengira itu normal.Aku mengira semua orang hidup dengan napas setengah tertahan seperti itu. Aku mengira kelelahan adalah harga yang harus dibayar agar hidup terasa berarti. Aku mengira jika aku berhenti berlari, aku akan tertinggal dari sesuatu yang penting.Tapi pagi itu, aku bangun dengan kesadaran yang sangat sederhana—dan sangat mengubah segalanya.Aku tidak sedang dikejar.Tidak ada yang mengejarku.Aku membuka mata perlahan. Cahaya

  • Terjebak Cinta Bos Sadis   Bab 119 — Aku Tidak Lagi Takut Jika Suatu Hari Semua Berubah

    Dulu, perubahan adalah kata yang selalu membuat dadaku menegang.Bukan karena aku tidak tahu hidup pasti berubah—semua orang tahu itu. Tapi mengetahui dan menerima adalah dua hal yang berbeda. Aku memahami perubahan sebagai konsep, namun aku menolaknya sebagai kenyataan. Setiap kali sesuatu terasa stabil, aku justru gelisah. Bukan takut kehilangan yang sudah hilang, melainkan takut kehilangan yang bahkan belum terjadi.Aku sering bertanya dalam diam: Bagaimana kalau ini tidak bertahan lama?Bagaimana kalau kebahagiaan ini hanya sementara?Bagaimana kalau ketenangan ini hanya jeda sebelum badai?Pikiran-pikiran itu dulu datang seperti tamu tak diundang yang selalu tahu jalan masuk. Mereka duduk di sudut pikiranku dan berbisik pelan, cukup lirih untuk tidak terdengar orang lain, tapi cukup jelas untuk membuatku tidak pernah benar-benar tenang.Namun pagi itu, sesuatu terasa berbeda.Aku terbangun sebelum alarm berbunyi. Bukan karena gelisah, melainkan karen

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status