INICIAR SESIÓNAroma kopi yang kuat langsung menyambut Edgar begitu ia memasuki kafe langganan mereka sore itu. Suasana tidak terlalu ramai, hanya beberapa pengunjung yang duduk santai sambil menikmati akhir pekan. Namun, perhatian Edgar langsung tertuju pada dua orang yang sudah menunggunya di sudut ruangan.Jayden duduk sambil memainkan sendok kecil di gelas kopinya, sementara Jane terlihat sibuk menatap layar tablet di depannya.“Kalian cepat juga,” ujar Edgar sambil menarik kursi di hadapan mereka.Jayden mendengus pelan. “Yang benar itu kamu yang telat.”“Lima menit.”“Buat orang yang biasanya datang paling duluan, itu udah aneh,” balas Jayden santai.Jane akhirnya mengangkat wajahnya lalu menatap Edgar beberapa detik. “Kamu kelihatan capek.”Edgar menyandarkan tubuhnya pada kursi. “Memang.”Tidak ada basa-basi panjang. Mereka sudah terlalu lama berteman untuk sekadar saling menanyakan kabar formal.Pelayan datang mengantarkan pesanan Edgar. Setelah suasana sedikit tenang, Jayden akhirnya menyi
Apartemen itu sunyi. Edgar berdiri di depan jendela besar ruang tamunya sambil memandang lampu kota yang masih menyala di tengah malam. Jasnya sudah ia lepaskan sejak tadi, dasi pun tergeletak sembarangan di sofa. Namun, meski tubuhnya lelah setelah seharian bekerja, matanya sama sekali tidak bisa terpejam.Jam digital di meja menunjukkan pukul setengah dua dini hari. Edgar mengembuskan napas pelan lalu berjalan kembali ke kamar. Ia sudah mencoba tidur hampir satu jam… dan gagal total. Ranjang king size itu terasa terlalu luas. Terlalu kosong.Pria itu merebahkan tubuhnya lagi sambil memijat pelipisnya pelan. Aneh. Dulu saat Safna kuliah di luar negeri selama bertahun-tahun, ia masih bisa menjalani hari seperti biasa. Tidak segelisah ini. Tidak seperti sekarang… saat gadis itu sebenarnya hanya berjarak beberapa kilometer darinya.Edgar memejamkan mata sejenak.Namun, yang muncul justru wajah Safna. Tawanya. Suaranya. Cara gadis itu menatapnya tadi malam saat ia dipaksa pindah dari rum
“Om mohon, Edgar, cabut tuntutan kamu pada Maya. Dia sudah menanggung semua kesalahannya. Om, janji…Maya tidak akan mengacau lagi.”Edgar memejamkan mata lalu menghela napas pelan saat mengingat percakapannya dengan Harlan siang tadi di kantor. “Pak, Anda yakin akan mencabut tuntutan pada Maya?” tanya Malik sambil mengemudi. Malik melirik atasannya yang masih bersandar pada jok mobil sambil memejamkan matanya.Ravendra terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab. “Ya. Tapi, buatkan perjanjian dengan om Harlan, Malik. Perjanjian hitam di atas putih.”Malik sedikit mengernyit mendengar jawaban itu. Mobil masih melaju membelah jalanan sore yang mulai padat. Cahaya matahari yang meredup masuk samar melalui kaca mobil, membuat suasana di dalam terasa tenang… tapi berat.“Perjanjian seperti apa, Pak?” tanya Malik hati-hati.Edgar membuka matanya perlahan. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan tenang seperti biasa.“Kalau Maya kembali mendekati Safna, mengganggu keluargaku, atau mencoba mel
Langit siang itu mendung. Awan abu-abu menggantung rendah, membuat suasana rumah sakit jiwa yang berdiri di pinggir kota itu terasa semakin suram. Bangunannya besar, dicat putih pucat dengan pagar tinggi yang mengelilingi area luar. Terlihat bersih dan tenang… tapi justru ketenangan itu terasa tidak nyaman.Safna berdiri di samping Edgar dengan kedua tangan saling menggenggam di depan tubuhnya. Sejak turun dari mobil tadi, ia belum banyak bicara. Entah kenapa langkahnya terasa berat.“Kalau kamu belum siap, kita bisa pulang,” ujar Edgar pelan sambil meliriknya.Safna menggeleng kecil. “Nggak apa-apa.”Meski begitu, Edgar tetap memperhatikan wajahnya beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya berjalan masuk bersama seorang polisi yang mendampingi mereka.Lorong rumah sakit itu sunyi. Hanya suara langkah kaki dan sesekali suara samar dari ruangan lain yang terdengar. Safna tanpa sadar mendekat sedikit pada Edgar. Pria itu langsung menyadarinya. Tangannya bergerak pelan, menggenggam tang
Pintu ruang kerja Edgar tertutup pelan begitu Safna masuk ke dalam. Gadis itu masih membawa tablet dan beberapa map tipis di tangannya. Wajahnya terlihat lelah setelah meeting panjang hampir dua jam, tapi yang paling jelas justru ekspresi kesalnya.Edgar yang sejak tadi berdiri di dekat meja langsung mendekat begitu melihat Safna.“Akhirnya selesai juga,” gumamnya pelan.Safna mendelik kecil. “Kak Ega senang banget, ya, bikin aku malu.”Edgar mengernyit samar. “Karena telepon tadi?”“Bukan cuma tadi,” sahut Safna sambil meletakkan map di sofa dengan sedikit lebih keras dari biasanya. “Kak Malik sampai hampir datang ke ruang meeting. Semua orang lihat.”Edgar langsung melirik Malik yang berdiri tidak jauh dari pintu.Malik mengangkat kedua tangannya cepat. “Saya belum sempat masuk, Nona. Baru sampai depan ruangan langsung disuruh balik.”Lagi pula itu perintah Pak Edgar. Tentu hanya dapat dikatakan dalam hati oleh Malik.Safna menghela napas panjang. “Tetap aja.”Edgar berjalan mendeka
“Kak, kan tadi aku bilang jangan diganggu dulu. Aku baru mulai meeting satu divisi. Meetingnya berhenti gara-gara kamu nelpon. Mereka takut kalau itu penting,” ujar Safna pelan tapi jelas dengan nada sedikit ketus.“Aku cuma–”“Nanti aku kabari lagi. Jangan suruh Kak Malik datang ke sini atau aku nggak mau makan sama kamu. Lagian makan siang masih lama.”“Sayang–”“Udah ya, pokoknya jangan ganggu aku dulu. Tahu nggak si kak? Aku malu. Mereka nungguin aku selesai telfon,” ucap Safna sambil melirik rekan kerja di ruang meeting yang sedang menatapnya.Safna benar-benar merasa tidak enak. Walau mereka bilang tidak masalah, tapi percayalah… mereka mengatakan seperti itu karena takut dipecat oleh Edgar. Sedangkan di ruangannya Edgar tidak dapat menyela ucapan Safna. Entah kenapa sekarang Safna semakin bawel padanya.Safna langsung menutup telponnya begitu saja lalu tersenyum pada mereka. “Maaf, ya, jadi ketunda meetingnya.”“Nggak papa, daripada nanti gaji kita yang dipotong,” ujar salah







