LOGINNaya meringis kecil saat cengkraman tangan Farel pada tangan terlalu kuat. Namun Farel tidak perduli dengan ringisan Naya.
"Aku sudah memperingatkan mu Naya, jaga batasanmu! Pernikahan kita itu hanya sebatas kontrak!" Geram Farel yang tidak habis pikir Naya akan muncul di kantornya. Phak! Naya menepis kuat tangan Farel dari lengannya yang terasa ngilu. "Maaf Tuan Farel, apa anda tidak bisa melihat tanda pengenal ini?" Naya menunjuk seragam dan juga topi khas seragam toko roti yang sedang booming saat ini. "Aku tidak se pengangguran itu sehingga banyak waktu untuk datang ke gedung ini dan mengganggu mu Tuan!" Ucap Naya bersamaan dengan pintu Lift yang kembali terbuka. Tanpa menunggu lama Naya segera keluar dari kotak besi itu. Di luar lift beberapa mata tengah memperhatikannya. Ada yang berbisik-bisik ada pula yang terang-terangan membicarakannya. "Sial! Kenapa aku tidak memperhatikan seragamnya. Tapi bagaimana dia bisa bekerja di tempat yang dekat dengan kantorku?" Farel merutuki kecerobohannya yang tidak memperhatikan seragam yang di kenakkan Naya. "Maafkan saya Tuan, telah lancang mengganggu harimu!" Sebelum berlalu Naya sempatkan berucap kata maaf pada Farel yang masih berdiri diam di dalam Lift yang pintunya terbuka. "Wanita itu..!" Geram Farel. Farel masih menatap punggung Naya yang berlalu menjauhinya. "Ekhm! Silahkan Tuan Farel, 20 menit lagi waktunya kita meeting dengan Tuan Andreas!" Sekretaris pribadi Farel yang bernama Edward itu mempersilahkan Atasannya. "Siapa wanita itu? Apakah ada hubungan special dengan CEO kita?" Para karyawan wanita yang menyaksikan kejadian itu beritanya-tanya akan status Naya. "Ah, tidak mungkin dia memiliki hubungan special dengan CEO! Lihat penampilannya saja sepertinya dia oang miskin. Tuan Farel itu seleranya Tinggi!" Berbagai macam omongan yang masih terdengar di telinga Naya sebelum benar-benar keluar dari gedung pencakar lagit itu. "Hah! Dasar Tuan rese! Dia pikir aku nggak ada kerjaan apa! Mau mengganggu dia katanya! Ayolah, pekerjaanku masih banyak untuk melakukan hal yang tidak ada manfaatnya itu! Naya mendumel mengeluarkan segala kekesalannya sepanjang perjalanan kembali ke Toko Roti tempatnya bekerja. Naya masuk ke dalam Toko dan kembali melanjutkan pekerjaanya. ******** "Hah! Akhirnya sampai rumah juga! Capek banget badan aku!" Naya merenggangkan tubuhnya yang pegal karena pekerjaanya yang lumayan banyak hari ini. "Sore bi Ina!" Sapanya smabil berlalu menuju kamarnya yang berada di paviliun. "Sore Naya! Tumben pulang lebih dulu dari Tuan Farel?" "Iya bi, hari ini pekerjaanku selesai lebih awal, makanya bisa pulang cepat!" Bi Ina menatap kasihan pada wanita itu. Statusnya istri seorang pengusaha terkenal tetapi masih bekerja keras untuk menghidupi dirinya. "Kasian Non Naya!". Gumamnya kemudian. Sesampainya di kamar Naya langsung meloloskan semua kain yang menempel di tubuhnya. Rasa gerah setelah bermacet-macetan di jalan membuatnya tidak betah jika tidak segera mandi. Meraih handuk yang tercantol di paku Naya segera masuk ke dalam kamr mandi untuk membersihkan tubuhnya dari keringat yang terasa lengket di tubuhnya. Tidak butuh waktu lama Naya sudah keluar dari kamar mandi dengan keadaan Fresh usai mandi air dingin. Sementara itu di rumah Utama. "Bi Ina, panggil kan Naya kemari!" Farel yang baru tiba di rumah itu memerintahkan bi Ina untuk memanggil Naya. "Baik Tuan!" Tanpa menunggu lama bi Ina segera melaksanakan perintah Tuannya. Sekitar lima menit Farel menunggu namun bi Ina mau pun Naya tak kunjung muncul di hadapannya. "Argh..! Lama sekali sih!" Farel yang tidak sabar menunggu itu pun segera menyusul bi Ina. "Mana Naya nya bi?" Hampir saja bi Ina terlonjak dari berdirinya saat mendengar suara keras Farel. "Seperti nya Naya nya ketiduran Tuan, sejak tadi bibi ketuk tidak ada sahutan!" Lapornya sedikit takut saat melihat wajah kesal Farel. "Apa! Tidur jam segini?" "Sepertinya begitu Tuan!" Bi Ina segera menyingkir dari depan pintu kamar Naya membiarkan Farel berdiri di sana. Buk!!! Buk!! "Naya! Buka pintunya...!" "Ya ampun! Tuan Farel selalu saja menakutkan jika sudah marah! Kasian Naya!" Monolog bi Ina yang tidak tega pada Naya yang pasti sangat kelelahan hari ini. "Naya...!" Farel kembali berteriak sambil menggedor-gedor daun pintu itu. Ceklek! "Ada apa sih, berisik banget!" Naya membuka pintu kamarnya sembari mengusap. Tidak sadar dirinya ketiduran. Padahal niatnya hanya ingin berbaring sebentar untuk meluruskan urat-urat pinggangnya yang terasa kaku karena kelelahan. "Kamu tahu ini jam berapa Naya?" Farel menunjuk jam yang ada di pergelangan tangannya dengan wajah kesal. "Hm! Ada apa?" Naya kembali menguap dan menutupnya dengan punggung tangannya. dirinya benar-benar mengantuk rupanya. Melihat itu tentu saja membuat Farel semakin kesal. "Kamu lupa dengan tugasmu yang wajib melayani ku saat berada di rumah?" Geramnya sembari menarik lengan Naya dan menyeretnya menuju rumah utama. "Apa yang kamu lakukan Farel! Lepas, aku bisa jalan sendiri!" * *Farel tidak menjawab dengan kata-kata. Tatapannya mendalam, mengunci manik mata Naya dengan binar kerinduan dan hasrat yang tak lagi bisa ditahan. Perlahan, jemari tangannya yang basah mengusap lembut tengkuk Naya, mendekatkan wajah mereka hingga napas hangatnya berembus tepat di bibir sang istri."Mengambil kembali milikku, Sayang... yang sudah terlalu lama aku rindukan," bisik Farel rendah, suaranya serak dan sarat akan emosi.Tanpa memberikan kesempatan bagi Naya untuk membalas, Farel mendaratkan bibirnya di atas bibir Naya. Ciuman yang awalnya lembut dan penuh kepasrahan itu perlahan berubah menjadi pekat, menumpahkan segala rasa bersalah, kerinduan, dan ketakutan akan kehilangan yang sempat menyiksa batinnya selama berbulan-bulan ini. Naya sempat terkejut, namun hangatnya sentuhan Farel dan desakan emosi yang membuncah membuat pertahanannya runtuh. Desahan pelan lolos dari tenggorokannya saat lengannya secara refleks terangkat, melingkar erat di leher Farel.Ia pasrah, membiarka
Farel tidak menjawab dengan kata-kata. Tatapannya mendalam, mengunci manik mata Naya dengan binar kerinduan dan hasrat yang tak lagi bisa ditahan. Perlahan, jemari tangannya yang basah mengusap lembut tengkuk Naya, mendekatkan wajah mereka hingga napas hangatnya berembus tepat di bibir sang istri."Mengambil kembali milikku, Sayang... yang sudah terlalu lama aku rindukan," bisik Farel rendah, suaranya serak dan sarat akan emosi.Tanpa memberikan kesempatan bagi Naya untuk membalas, Farel mendaratkan bibirnya di atas bibir Naya. Ciuman yang awalnya lembut dan penuh kepasrahan itu perlahan berubah menjadi pekat, menumpahkan segala rasa bersalah, kerinduan, dan ketakutan akan kehilangan yang sempat menyiksa batinnya selama berbulan-bulan ini. Naya sempat terkejut, namun hangatnya sentuhan Farel dan desakan emosi yang membuncah membuat pertahanannya runtuh. Desahan pelan lolos dari tenggorokannya saat lengannya secara refleks terangkat, melingkar erat di leher Farel.Ia pasrah, membiarka
Farel menghentikan langkahnya di ruang tengah. Bau aroma terapi lavender beradu dengan wangi masakan hangat, aroma khas yang selalu menyambutnya pulang dulu, namun sudah beberapa bulan belakangan ini lenyap dari rumah megah yang dingin itu. Dada Farel berdesir hebat. Apakah kelelahan membuat otaknya memproduksi halusinasi? Langkah gontainya tertahan saat melihat samar bayangan seseorang di dapur. Lampu utama memang mati, hanya tersisa penerangan remang dari lampu meja makan. Di sana, seorang wanita berdiri membelakanginya, sibuk merapikan tudung saji. "Naya...?" suara Farel keluar amat liris, hampir seperti helaan napas yang gemetar. Sosok itu membeku. Perlahan, Naya membalikkan badan. Di bawah remang cahaya, mata Naya yang sembap menatap lurus ke arah Farel—ke arah penampilannya yang berantakan, wajahnya yang kusam, dan binar kehancuran yang begitu nyata di matanya. Tidak ada lagi tatapan dingin seperti di rumah sakit dulu, hanya ada rasa sakit yang amat dalam, bercampur de
Naya terpaku. Lidahnya terasa kelu, seolah sel-sel di tubuhnya berhenti berfungsi bersamaan dengan terungkapnya kebenaran pahit itu. Napasnya tertahan di dada, menggelembung bersama rasa sesak yang menghantam tanpa ampun.Pandangannya perlahan kabur tertutup lapisan air mata yang menumpuk. Bayangan Farel saat itu—wajah suaminya yang membeku, tatapannya yang dipenuhi luka dan amarah yang tertahan—tiba-tiba berputar di kepalanya bagai kaset rusak."Foto... foto intim?" suara Naya keluar berupa bisikan bergetar, nyaris tenggelam oleh angin senja.Ella mengangguk pelan, matanya menatap Naya dengan tatapan penuh rasa iba. "Dicky mengatur semuanya dengan sangat rapi, Nay. Dia memanfaatkan celah kecemburuan Farel dan memanipulasi keadaan sampai Farel berpikir kalau anak di dalam kandunganmu itu... anak Dicky."Naya menggelengkan kepala berulang kali, menolak mencerna kepahitan yang baru saja membedah dadanya. "Tapi kenapa Mas Farel enggak nanya langsung sama aku, El? Kenapa dia lebih percaya
suasana di teras sore hari itu sedikit mencekam bagi Naya. tatapan curiga sang Ayah, sulit untuk di abaikan. namun Naya tidak akan membiarkan keretakan rumah tangganya sampai di dengar oleh Ayahnya. karena itu tidak baik untuk kesehatan sang Ayah yang baru saja pulih. "Ayah jangan berpikir buruk tentang hubungan kami, Naya dan Mas Farel baik-baik saja kok, nggak ada yang berantem atau masalah lainnya. Mas Farel memang lagi banyak kerjaan akhir-akhir ini." jawab Naya. Lagi-lagi ia harus berbohong demi kebaikan bersama. Ia tidak ingin kondisi Ayahnya yang baru saja pulih kembali memburuk. "Pokoknya Ayah nggak boleh berpikir macam-macam tentang rumah tangga Naya dan mas Farel. Kami baik-baik aja. Yang penting itu sekarang Ayah harus banyak-banyak istirahat, jangan terlalu kena angin sore. Nggak baik buat kesehatan Ayah." ucap Naya lagi sembari berdiri dari duduknya dan mengamit lengan Ayahnya membantunya berdiri. "Ayo kita masuk!" ajaknya kemudian. Sementara Ayah Wahyu hanya menurut
Bagas menatap kakaknya curiga, lalu mengedarkan pandangan ke ujung gang tempat sebuah mobil sedan hitam baru saja berlalu meninggalkan debu tipis. Bagas menghela napas panjang, menebak siapa pemilik mobil itu tanpa perlu bertanya."Kalau Mbak mau cilok, biar Bagas belikan ke depan gang." ujar Bagas mengalihkan perhatian, mencoba mencairkan suasana. "Mbak tunggu di sini sama Kenan."Naya mengangguk pelan, berusaha mengukir senyum kecil di bibirnya yang masih pucat. "Makasih ya, Gas." ucapnya. "Kenan, sama Bunda sebentar ya, Om mau ke depan. Nggak lama kok!" Bagas tidak lupa berpamitan pada keponakannya itu. Setelah Bagas berlalu dengan sepedanya, Naya duduk di kursi teras, memperhatikan Kenan yang sibuk berlari-lari mengejar kupu-kupu di halaman. Tangan Naya tanpa sadar bergerak meraba perutnya yang kini terasa hampa. Rasa sakit fisik pasca keguguran perlahan mengering, namun luka di dadanya masih menganga lebar."Aku tahu itu kamu mas, penyesalan sudah tidak berguna lagi. Anakku tel
Naya baru saja mematikan mesin motornya yang dia parkir kan di garasi mobil milik Farel yang luasnya melebihi lapangan bola yang ada di dekat rumahnya. Rasanya tidak semangat sekali mengingat akan bertemu lagi dengan Farel sepulang kerja. ingin rasanya ia menginap saja di mess toko roti tempatnya
"Prufftt...! Kopi apa ini? Kenapa nggak ada rasanya! " Bentak Farel saat baru satu teguk mencicipi kopi buatan Naya. "Kamu ini benar-benar nggak berguna ya! Pantes saja Ayahmu lebih memilih membuangmu daripada mempertahankanmu!" Ucap Farel lagi. Degh!! Naya memejamkan matanya meresapi sak
Entah sudah berapa lama tertidur, Naya terbangun karena suara ketukan di pintu kamar nya. Yang di sertai suara panggilan. Sepertinya itu bi Ina. "Naya! Ini bi Ina!" Tok! Tok! "Iya bi, sebentar!" Naya segera bangun dan membuka pintu kamarnya. "Maaf Nay, bibi ganggu waktu istirahat nya!
"Kamu punya kaki yang normal kan? Turun!" Ucap Farel yang telah lebih dulu meninggalkann nya. pria itu telah berlalu memasuki rumah mewahnya. Naya yang tengah melamun memikirkan nasibnya kedepannya. tersentak kala suara berat itu menyuruhnya turun dengan kota kata yang kurang baik. "Astaga orang







