LOGIN"Duduklah dulu Nay! Ini masih sangat pagi untuk badmood!"
Ella teman sekolahnya yang kini telah sukses membuka bisnis Bakerynya yang sudah dia rintis setahun belakangan ini. Menyuruh Naya untuk duduk sejenak sambil menyodorkan satu gelas coklat panas untuk teman baiknya itu. Ella yang berasal dari keluarga yang cukup mampu itu memilih membuka bisnis sendiri dari pada ikut mengelola bisnis Meubel keluarga nya. "Aku lagi kesal banget sama di Farel!" Naya akhirnya mendudukan dirinya di kursi yang berhadapan dengan Ella yang tengah menyeruput coklat panasnya. Sambil mengeluarkan kekesalannya pada Farel yang telah sukses membuatnya kesal pagi ini. "Em! Kamu kesal kenapa lagi pada suami mu itu? Kalian itu kan pengantin baru, harus romantis dong. Masa iya pengantin baru kok berantem terus!" Naya hampir tersedak minumannya yang baru saja di seruput sedikit. Kala mendengar kaliamat yang di ucapkan Ella yang menurutnya sedikit menjijikan. "Berhenti berkata seperti El, aku dan dia itu hanya statusnya saja suami istri. Nggak ada yang special di antara kami!" Ketus Naya membuang muka saat mengucapkan hal itu. Sungguh tidak pernah terbayangkan akan bernasib seperti ini. Angan-angan menikah dengan kekasih yang di cintainya kinintelah hancur lebur saat mendapati kenyataan jika sang kekasih kabur tepat di hari pernikahan yang sudah di sepakati. "Jangan berkata seperti itu Nay! Hari esok nggak ada yang tahu! Bisa saja sekarang kamu bilang begitu, dan besoknya kamu malah sudah jatuh cinta pada Suami!" Ella tergelak membayangkan Naya bucin pada Suaminya. "Nggak akan El, aku nggak akan membiarkan hal itu terjadi" Naya segera beranjak meninggalkan Ella yang menahan senyumnya melihat wajah Naya yang semakin di tekuk. Tak berapa lama Ella pun ikut beranjak dari kursinya. Sudah saatnya toko buka. Sudah jam delapan pagi. Jam segitu biasanya banyak pegawai kantoran yang memesan Menu breakfast dari tokonya. "Naya, tolong antarkan pesanan ini ke PT Armada Bakti yang ada di sebrang jalan itu!" Ella menyuruh Naya untuk mengantarkan pesanan ke salah satu gedung perkantoran yang terletak di sebrang jalan. "Loh! Edo mana?" Edo adalah rekan kerja Naya yang bertugas mengantar pesanan breakfast. "Edo belum sampai, itu anak baru aja ngabarin kalau dia datang terlambat akibat terjebak macet di sebabkan ada kecelakaan lalulintas. "Tapi aku lusuh begini El!" Naya memandang penampilan nya yang lusuh. Sangat tidak pede jika bertemu dengan orang-orang pekerja kantoran. "Ada apa dengan penampilan mu? Ku rasa tidak ada masalah! Abaikan saja jika ada yang mencibirmu karena pakaian mu yang biasa saja!" Ella berkata sambil memeriksa pesanan yang bekerja di perusahaan itu.Menurut yang pesan tadi ini adalah breakfast untuk salah satu petinggi perusahaan ternama itu. "Baiklah, aku akan mengantarkan nya!" Tidak ada pilihan, Naya akhirnya pergi mengantar pesanan PT Armada Bakti yang memiliki gedung yang sangat tinggi. Sesampainya di depan gedung itu Naya menatap takjub gedung tinggi pencakar lagit itu. Ini kali pertama dirinya akan memasuki gedung perkantoran itu. "Ya Ampun! Tinggi banget gedungnya! Seperti apa orang yang memimpinya?" Naya nampak takjub dengan semua yang di lihatnya itu. Dengan menarik nafas dalam-dalam Naya melangkahkan kakinya memasuki lobby gedung tinggi itu. "Permisi Pak! Saya ingin mengantar pesanan atas nama.. Pak Satria!" Naya menghampiri security yang berjaga di depan pintu masuk gedung itu. "Oh! Silahkan, naik saja ke lantai lima belas, disana sudah di tunggu ada yang menunggu!" Sigap security tersebut mengarahkan Naya menuju lift yang akan mengantar nya ke lantai lima belas di mana orang yang bernama Satria itu telah menunggunya. "Terimakasih banyak Pak!" Tidak lupa Naya mengucapkan terimakasih pada Security yang telah membantunya itu. Naya memasuki lift dan menekan angka lima belas untuk sampai ke tempat tujuannya. Sembari menunggu kotak besi itu membawanya naik. Naya memandang takjub bertapa indahnya pemandangan jika di lihat dari ketinggian seperti saat ini. Denting lift yang menandakan jika telah sampai di tempat tujuan itu menghentikan aktifitas Naya dalam menikmati pemandangan luar gedung. "Ini pesanan saya?" Seorang pria tampan langsung mendekati Naya dan menanyakan apakah itu pesanannya. "Tuan Satria?" "Ya, terima kasih!" Setelah menyerahkan pesanan itu pada pemiliknya Naya pun kembali memasuki Lift untuk turun ke lantai satu. Wanita itu kembali menikmati pemandangan luar yang menakjubkan. Ting! Lagi-lagi kegiatannya menikmati pemandangan itu terhenti oleh dentingan lift yang berbunyi. Naya berbalik badan saat melihat beberapa orang pria yang masuk ke dalam lift itu. Tidak sengaja netranya beradu tatap dengan seseorang yang enggan sekali ia temui itu. Keduanya sama-sama terkejut namun dengan cepat kembali bersikap biasa. Dengan cepat Naya mengalihkan pandangannya dengan memperbaiki topinya. Topi adalah tanda pengenal bagi seluruh karyawan Sheylla Bakery tempatnya bekerja. "Mau apa wanita ini kemari!" Gumamnya. Pria yang tidak lain adalah Farel itu mengeraskan rahangnya melihat keberadaan Naya di dalam lift itu. "Astaga...kenapa Lift nya sangat lambat bergerak!" Kesal Naya yang merasa Lift tidak kunjung mendarat di lantai satu. Farel memberi kode pada sekretarisnya untuk keluar lebih dulu dari dalam lift saat pintunya terbuka. "Ah, akhirnya sampai juga!" Dengan semangat Naya melangkahkan kakinya hendak buru-buru Keluar dari dalam lift itu namun tanpa diduga pintu lift tersebut kembali tertutup. "Loh! Kok tertutup lagi?" Naya hendak menekan tombol di samping pintu itu namun suara seseorang membuatnya terkejut. "Mau apa kamu kemari? Apa kamu sengaja kemari untuk mempermalukan aku?!"Farel menyambar kunci mobilnya dengan gerakan yang nyaris membuat kursi kerjanya terguling. Jantungnya berdegup kencang, seirama dengan langkah kakinya yang lebar menuruni anak tangga. Pikirannya dipenuhi oleh nama salah satu rumah sakit yang tertera di notifikasi transaksi barusan."Tuan? Mau ke mana lagi?" tanya Bi Mirah yang terkejut melihat majikannya kembali terburu-buru.Farel tidak menjawab. Ia hanya terus melangkah menuju garasi, menghidupkan mesin mobil, dan memacu kendaraannya membelah jalanan kota yang mulai padat. Sepanjang perjalanan, genggamannya pada kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih."Kumohon jangan nekat Nay." ucapnya lirih. Setibanya di rumah sakit, Farel segera menuju bagian administrasi. Napasnya tersengal, namun ia berusaha tetap tenang agar bisa mendapatkan informasi. Ia menanyakan pasien atau pengunjung atas nama Nayara.Sambil menunggu informasi dari petugas, Farel menyisir setiap sudut ruang tunggu, berharap melihat sosok yang ia cari.Pikir
Naya berjalan gontai mencari bnagku kosong yang sedikit sepi, perasaannya saat ini tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata. Kecewa, marah, bercampur menjadi satu. Marah pada dirinya sendiri, merasa jika dirinya adalah wanita yang sangat buruk, wanita yang tidak bisa menjaga kehormatannya sebagai seorang istri. Naya mendudukkan dirinya di bangku kayu yang di jatuhi beberapa daun kering, sepertinya bangku tersebut jarang di duduki pengunjung taman itu. Karena posisinya yang berada di pojok tepat di bawah pohon jambu Air. Tamgannya masih terasa nyeri akibat jarum infus yang ia lepas paksa, beruntung darahnya telah berhenti keluar. Naya duduk termenung, tatapannya kosong. Tidak tahu harus bebruat apa, harus bagaimana. Tring! Bunyi notif yang masuk ke ponselnya membuyarkan lamunannya yang tak tentu arah. Tangan lentik itu merogoh saku tasnya untuk men cek siapa yang mengiriminya pesan. _"Kak, Kak Naya lagi dimana?"_Ternyata itu pesan dari adiknya Bagas. "Ada apa Bagas?" Naya tidak
"Nay, sayang!" Farel segera menghampiri Naya yang berdiri sambil membawa tiang infunya. "Stop!! Aku bertanya, dan tolong mas jawab dengan jujur!" Naya mengangkat sebelah tangannya saat Farel hendak mendekatinya. "Saat mas menemukanku saat itu, apa yang terjadi padaku mas? " tanya Naya dengan raut wajah datar menatap Farel. Naya tidak ingat apa yang terjadi saat itu. Tapi mendengar langsung keraguan Farel padanya membuat hati Naya sakit. "Sayang, kenapa kamu bisa ada disini? Kamu harus istirahat, ayo kita kembali ke kamar!" Farel berusaha mengalihkan pembicaraan."Jawab mas..! Apa yang terjadi sama aku, sehingga membuatmu ragu? Aku baru saja di nyatakan hamil, tapi kamu sudah ingin melakukan tes DNA, apa mas ragu jika janin ini bukan darah dagingmu?" tukas Naya dengan mata yang sudah bercucuran air mata. Farel bungkam tak sanggup bersuara, hatinya ikut teriris melihat wajah kecewa istrinya. Bukan, bukan maksudnya untuk menyakiti istrinya. Dirinya hanya belum bisa menerima kenyataa
"Selamat ya Nay, atas kehamilannya. Aku sudah takut banget tadi saat kamu tiba-tiba pingsan di teras Toko. Ternyata kamu sedang hamil muda! Aku ikut bahagia Nay dengan kabar kehamilan mu ini, sehat-sehat selalu ya baby dan bundanya!" ucap Ella sembari memeluk Naya yang baru sadar dari pingsannya. "Terimakasih El, untung ada kamu yang nolongin aku tadi. Makasih banyak ya!" balas Naya sembari membalas pelukan Ella. "Sama-sama bumil. Jangan banyak pikiran ya, ingat ada baby di dalam sini!" lanjut Ella lagi. "Iya El, aku nggak nyangka kalau aku hamil. Padahal aku nggak ada ngerasain tanda-tanda apapun loh!" balas Naya yang begitu nampak raut kebahagiaan di wajah cantiknya. "Kenan pasti bakal senang banget, bakal dapat adik!" tukas Ella lagi sembari tersenyum tulus menatap Naya. Mendengar ucapan Ella itu Naya langsung teringat dengan suaminya. "Mas Farel kemana ya, kok lama banget keluarnya?" monolog Naya sembari menatap ke arah pintu yang tertutup. "Em...Nay, aku pamit ya, hari i
"Maksudnya gimana Nay?" Ella menautkan kedua alisnya mendengar penuturan sahabatnya itu. Naya mendesah pelan sebelum menjelaskan apa yang di alaminya selama sebulanan ini dengan sikap Farel yang kontras sekali dengan perubahannya. "Intinya semenjak kejadian itu Farel jadi berubah sikap El, dia seperti menghindariku!" jelas Naya yang sangat kentara raut resah di wajah cantiknya. "Aku nggak ngerti, kenapa dia seperti itu! Sebelumnya dia selalu hangat dan romantis!" lanjutnya, murung. Ella semakin menautkan kedua alisnya mendengar penuturan Naya. Wanita itu ikut berpikir, apa yang telah terjadi dengan hubungan Naya dan Farel."Mungkin dia sedang lelah karena banyak pekerjaan di kantor! Edward saja sekarang jarang menemuiku karena terlalu subuk. Dia hanya mengirimkan pesan saja setiap hari!"" ucap Ella mengingat kekasihnya juga akhir-akhir ini sangat sibuk. "Apa iya begitu El? Hampir setiap hari pulang malam, dan pagi-pagi sekali dia sudah pergi lagi. Kadang aku belum bangun dia suda
Hari berlalu begitu cepat, tidak terasa kini sudah sebulan dirinya kembali berkumpul dengan keluarga kecilnya. ehari-hari yang Naya lalui penuh keceriaan bermain bersama Kenan. Walaupun sebulan terakhir ini Naya merasa ada sedikit ganjalan di hatinya. Naya merasa Farel suaminya sedikit cuek padanya. Entah hanya perasaannya saja atau memang demikian. Tetapi Naya merasa Farel lebih banyak berada di rung kerjanya di bandingkan bersama dirinya dan Kenan seperti sebelumnya. Sebelum kejadian naas yang menimpanya satu bulan yang lalu. Sebelumnya Farel selalu mengurungnya di kamar, bahkan tiada hari yang mereka lewati tanpa bercinta. Tetapi kini Naya merasa ada perubahan pada sikap Farel padanya. Sepertinya ada yang di sembunyikan darinya. Tetapi Naya tidak tahu apa itu. Malam ini Naya sengaja menunggu Farel pulang, ya, akhir-akhir ini Farel selalu pulang larut. Terkadang saat pulang dirinya sudah tertidur pulas. Bahkan dalam sebulan ini Farel hanya meminta haknya dua kali saja. Tidak sepe







