LOGINKath duduk termenung di sofa yang terletak di ruang tengah mansion ini dengan televisi yang sengaja dihidupkan agar pikirannya mengenai kejadian tadi pagi enyah dari otaknya.
Sayangnya, bukan menghilang malah dia semakin mengingat kejadian yang telah sukses membuat wajah Kath merah padam saat ini. "Maybe because I'm falling in love with you." Falling in love itu artinya jatuh cinta 'kan? Kath tentu saja fasih berbahasa Inggris dan mengerti dengan apa yang dikatakan Leo. Tetapi Kath masih belum percaya apa yang dikatakan Leo sebenarnya kenyataan atau hanya godaan semata agar Kath tetap berada di sisi pria itu. Ya benar, bisa saja perkataan Leo hanya sebagai pancingan agar Kath patuh dengan segala yang diperintahkan oleh Leo. Sontak Kath tertawa sembari merutuk dalam hati, bisa-bisanya dia terbawa suasana hingga membuatnya seperti remaja yang baru saja ditembak sang pria pujaan. Kath kembali fokus pada televisi hingga beberapa menit kemudian siaran yang tadinya menayangkan sinema India berubah menjadi tayangan breaking news. Apartemen milik Lilian Emanuel digeledah ulang oleh pihak keluarga. Apakah akan ada titik terang atas hilangnya sang pewaris? Kath langsung saja terperanjat tidak percaya. Dia tidak pernah memikirkan bahwa hilangnya Lilian akan menjadi berita panas di setiap siaran televisi. Sampai setelah dia terdiam agak lama, barulah Kath menyadari bahwa Lilian--- tubuh perempuan yang tengah dia rasuki ini bukanlah perempuan biasa. Lilian adalah sang pewaris kekuasaan Reandra Emanuel yang artinya hilangnya Lilian akan berpengaruh besar atas pergeseran posisi pewaris selanjutnya. Jika mengikuti alur novel Secret Dark, akan ada dua orang yang berkemungkinan mendapatkan tempat sebagai pewaris perusahaan milik Reandra, mereka adalah Gerald dan Kritaka, kakak beradik yang merupakan saudara dari Lilian. Di novel Secret Dark, setelah melenyapkan nyawa Lilian, Leo lah yang akan menguasai perusahaan milik Reandra. Hal itu pun terjadi setelah Lilian selesai menandatangani penyerahan saham kepada Leo dan juga Sean--- dengan bagian Leo yang sedikit lebih banyak sehingga membuat pria itu mendapatkan posisi CEO nantinya. Namun kenyataannya saat ini Kath masih bisa mempertahankan Lilian tetap hidup, walaupun tidak tau sampai kapan dan juga dia belum menandatangani satupun dokumen mengenai pemindahan saham atau apapun itu. Jika begitu, hanya ada satu kemungkinan, Leo tidak akan menyentuh perusahaan milik Reandra selagi Kath masih hidup, Gerald atau Kritaka akan menjadi pewaris selanjutnya dan mungkin cerita akan tamat tanpa melenyapkan satu nyawapun. Bukankah cerita akan happy ending saat Kath berhasil mempertahankan hidup Lilian di kehidupan ini? Kath tersenyum sumringan, sekarang dia semakin mantap berkomitmen untuk tetap hidup agar cerita cepat selesai dan mencapai ending yang memuaskan. Dengan begitu Kath akan segera hidup tenang setelahnya, seperti yang dia impikan sebelumnya. --- Sean tertawa terbahak dengan tatapan yang amat tajam tertuju pada Kath yang sudah duduk diam di atas sofa tepat dihadapan pria itu. Kath menunduk dalam, tidak berani melihat Sean yang dipenuhi aura menyeramkan seakan-akan aura tersebut bisa membunuh Kath di tempat. Dalam hatinya Kath terus saja memaki Leo yang berada di samping Sean, duduk santai sembari menatap ke arah Kath yang sudah sangat ketakutan. Sialannya lagi pria itu malah tersenyum senang, seolah sedang menikmati detik-detik Kath bakalan dipenggal oleh Sean sebentar lagi. Baiklah, mengenai Kath yang akan dipenggal, gadis itu hanya bercanda. Tidak mungkin juga dia langsung dieksekusi begitu saja. Sean pastinya masih punya jiwa manusiawi, benar bukan? Tiba-tiba saja Kath mengingat perkataan Leo tempo lalu mengenai Sean yang masih ingin membunuh Lilian akibat dendam kesumat pria itu kepada keluarga Emanuel--- lebih tepatnya Reandra, ayah dari Lilian. Shit! Nyawanya kembali tidak aman sekarang. Seketika Kath menyesal mengikuti perintah Leo untuk datang ke ruang kerja pria itu tepat ketika matahari baru menunjukkan sinarnya ke dunia. Seharusnya Kath melanjutkan tidur saja sehingga dia tidak akan dipertemukan dengan Sean yang merupakan pelaku utama penusukan Lilian di Secret Dark. "Jadi lo berencana menyembunyikan kak Lilian?" Kath tidak menduga Sean masih memanggil Lilian dengan panggilan 'kakak', mengingat pria itu sudah terlalu tidak menyukainya semenjak dia membeberkan rencana pembunuhan Lilian secara terbuka begitu saja. Leo tampak berdehem menjawab pertanyaan dari Sean dengan tatapan masih tidak lepas dari Kath. "Lanjutkan seperti yang kita rencanakan sebelumnya dan anggap saja Lilian telah mati." "Mati maksud lo?" dengan emosi Sean menunjuk Kath, "Gue gak bisa gitu aja anggap dia mati sedangkan jelas-jelas gue lihat dia masih tetap bernafas!" "Mati ataupun hidup bukankah sama saja?" Bibir Leo menyunggingkan senyum sebelum melanjutkan ucapannya, "Selagi Lilian sama gue, keluarga Emanuel gak akan berhasil menemukannya. Pada akhirnya, satu-satunya pilihan adalah mengalihkan posisi pewaris kepada salah satu dari dua anak Reandra yang tersisa." Mendengarkan penjelasan Leo, Kath langsung tersentak dalam diam. Dia tanpa sengaja melebarkan kedua matanya karena terlalu terkejut. Tentu saja ekspresi yang terlihat dari Kath tidak lepas dari pandangan Leo yang terus saja memperhatikannya. "Tugas lo mulai hari ini adalah mendekati Kritaka yang berkemungkinan besar menjadi pewaris," ucap Leo yang kini mulai mengalihkan fokusnya pada Sean yang tampak tidak terima dengan perintahnya. "Sebenarnya susahnya apa? Kak Lilian udah dekat banget sama kita dan gak melakukan perlawanan sama sekali. Kita bisa aja paksa dia untuk tanda tangan surat pengalihan saham dan setelah itu langsung bunuh dia di tempat." Oh Tuhan, sebenarnya seberapa bencinya Sean terhadap Lilian hingga pria itu ingin sekali melenyapkan nyawa wanita ini, pikir Kath dalam hati. "Lo mulai membantah perkataan gue?" Seketika, beberapa detik setelah Leo menanyakan kalimat tersebut kepada Sean, ruangan mendadak sunyi. Kath sendiri masih pada posisi awalnya dan tidak bergerak sama sekali. Kath tidak berani untuk berbuat banyak karena situasinya yang sedang terancam. Bahkan untuk mengucapkan satu kalimat pun dia tidak berani. Karena sedikit saja Kath salah bicara, dia yakin Sean akan merealisasikan keinginan pria itu kepada dirinya. Sean tampak menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, setelah dirasa sudah cukup tenang, Sean kembali mulai berbicara. "Lo benar-benar mau menyia-nyiakan perjuangan kita selama setahun ini?" tanya Sean dengan intonasi yang sedikit pelan, namun tetap saja pria itu tidak bisa menghilangkan aura kemarahan yang terus saja meluap. Kath menyadari hal itu, tentu saja siapa yang tidak marah. Mereka sudah mendekati Lilian selama setahun belakangan ini, mencoba untuk menyayangi Lilian walau dalam hati terbesit rasa benci yang amat dalam. Kath mengigit bibirnya, dia tiba-tiba saja merasa ingin menangis sekarang. Bukan karena dia takut, tetapi karena dia sedang merasakan apa yang dinamakan sakit hati. Sakit karena mengetahui kenyataan bahwa kasih sayang yang Lilian dapatkan dari mereka hanya kebohongan belaka. Kasihan sekali Lilian, pikirnya. Bagaimanapun hanya mereka tempat berlabuhnya Lilian untuk mengeluh kesah. "Cukup." Leo dan Sean mengalihkan perhatian kepada Kath yang tiba-tiba saja berbicara. Sungguh, Kath tidak sanggup untuk diam saja. Apalagi setelah mendapatkan tekanan demi tekanan yang membuatnya merasa aneh sekarang. "Asal kalian tau, sebencinya kalian kepada Lilian," Kath tidak serta merta melanjutkan ucapannya, dia ingin memastikan apa yang dia rasakan dalam tubuh ini sama seperti apa yang tengah dia pikirkan. Ya, Kath bisa merasakannya. Kath bisa merasakan bahwa Lilian tidak memiliki rasa benci kepada mereka, walaupun Lilian mengetahui bahwa dia adalah target pembunuhan Leo maupun Sean. "Lilian sudah sangat lengah, sekarang waktunya kita melenyapkan nyawanya." Sean terllihat meletakkan sebuah botol yang berisikan beberapa pil ke atas meja lalu menatap Leo sembari menyunggingkan senyum kesenangan. Sedangkan Leo sendiri tidak tersenyum sama sekali, namun walaupun begitu Leo tidak bisa menyembunyikan raut wajah kemenangan di saat pria itu mengambil botol pemberian Sean. Tanpa mereka ketahui, di balik pintu kamar, Lilian melihat dan mendengar semua yang mereka rencanakan tanpa ada niat untuk menghentikan sama sekali. Karena Lilian tau, jika dia menghentikan mereka, segalanya tidak akan lagi sama. Leo dan Sean pasti akan menjauhinya--- untuk selamanya. Kath tercengang dengan air mata yang masih mengalir dari pelupuk matanya. Ini benar-benar tidak bisa dipercaya. Karena kali ini, dia mengingat dengan jelas kenangan Lilian, bukan dari novel yang dia baca di masa lalu, melainkan dari pikirannya sendiri. "Aku masih tetap menyayangi kalian." Kath tersentak, dalam lamunan tanpa sadar dia berbicara langsung dengan sendirinya. Sebenarnya bukan hanya dirinya saja yang tersentak, Leo dan Sean pun juga mengalami hal yang sama. Dua pria yang berada di hadapannya tampak terkejut dengan perkataan Kath yang tiba-tiba. Setelah beberapa menit terjadi kesenyapan, pada akhirnya terdengar decakan dari Sean. Pria itu tampak menyugar rambutnya ke belakang seraya menatap tajam ke arah Kath. Selepas melayangkan tatapan tersebut pada Kath, Sean kembali mengalihkan fokus kepada Leo. "Terserah lo mau apain dia. Gue udah gak peduli!" Sean mengambil kaca mata hitam yang sering pria itu kenakan saat menghadapi paparazi, Kath mengetahuinya karena kaca mata tersebut mirip sekali dengan deskripsi di Secret Dark. Dengan cepat Sean bergerak meninggalkan Leo dan Kath, namun sebelum keluar dari kamar ini, Leo mengucapkan sesuatu hal yang langsung membuat Kath merasa tersayat habis dari dalam. "Rencana kita menghancurkan keluarga Emanuel tidak akan berubah. Sekarang target lo adalah Kritaka dan mengenai Gerald, biar gue yang urus." Kini... kedua saudara Lilian berada dalam bahaya, menggantikan dirinya yang selamat dari maut.Lilian menarik nafas perlahan. Lalu dengan sisas kendali yang dia punya, Lilian mencoba tersenyum manis. Bibirnya melengkung sempurna, matanya sedikit menyipit agar terlihat normal di kamera. Di sampingnya, Leo meraih pinggangnya Lilian, menarik Lilian mendekat. tubuh mereka kini hanya berjarak tipis. Lilian menahan nafas. "Tatap satu sama lain, ya," pinta sang fotografer. Lilian tetap diam beberapa detik. Hingga secara perlahan dirinya mengangkat wajahnya. Tatapannya bertemu dengan manik mata Leo dan saat itu juga, sesat semua suara di sekitar mereka seperti menghilang. "Kamu kaku banget," gumam Leo pelan, dan hanya Lilian yang mendengarkannya. Dengan wajah memelas Lilian berucap, "Aku mau pulang...." Bayangkan saja, sejak tadi Lilian sudah sangat lelah. Di awali dengan memilihh gaun pengantin yang rasanya tidak ada ujungnya. Sampai kemudian, menjelang sore saat ini, dia harus berpose romantis bersama Leo. Klik. Suara kamera berbunyi. Mengabadikan memon yang tidak
Keesokan paginya, Lilian terbangun seperti biasa. Namun belum sempat kesadarannya terkumpul sepenuhnya, tubuhnya langsung tersentak kaget karena kehadiran seseorang yang berada di sampingnya. Leo, pria itu terbaring santai di sisinya. Satu tangan menopang kepala, menatapnya dengan senyuman tipis, berlagak seolah mereka memang menghabiskan malam bersama seperti pasangan pada umumnya. Nafas Lilian tercekat, dia tidak salah ingat, kemarin Mira benar-benar mengantarnya pulang ke toko, bahkan setelah itu Lilian sengaja menutup toko lebih awal dan mengurung diri di kamar untuk menghindari kemungkinan orang yang dikenalnya akan datang. Lalu sekarang mengapa Leo ada di sini? "Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Lilian, tubuhnya refleks menjauh. "Aku hanya ingin menjemputmu," jawab Leo santai. "Menjemputku?" "Kamu lupa?" Leo sedikit memiringkan kepalanya, "Hari ini kita cari gaun pernikahan, sekalian foto prewedding." Lilian menatap Leo tajam. Bukankah dia sudah menolak? dan s
Lilian kembali ke unit apartemennya yang sudah lama dia tinggalkan, bersama orang yang sama sekali tidak ingin dia temui. Bukan karena benci, melainkan dia tidak ingin hatinya tergoyahkan oleh perasaan lama. Lilian tidak ingin kembali menjadi dirinya yang dulu, dia tidak ingin kembali menjadi Emanuel. Maka dari itu dia harus menanggalkan seluruh hal mengenai Emanuel, termasuk Leo, pria yang duduk di hadapannya yang sangat berkaitan erat dengan keluarganya di masa lalu. Mereka kini berada di ruang tengah duduk saling berhadapan di sofa. sSuasana terasa kaku dipenuhi dengan ketegangan yang belum terselesaikan. Tampak di sisi Leo, Mira-- perempuan itu sebelumnya berada di depan pintu apartemennya, menunggu Leo dan Lilian datang. "Setelah ini, apa yang kamu mau?" tanyanya blak-blakan. Leo terkekeh pelan, seperti tidak percaya dengan situasi yang terjadi saat ini. sosok yang selama ini dia anggap sudah mati kini duduk di depannya, benar-benar bernafas dan berbicara dengannya.
Keesokan paginya, tidak seperti biasa Lilian tidak keluar dari kamarnya. Dia tetap berada di kamar pribadinya yang terletak di lantai 2 toko bunga miliknya, duduk santai di atas tempat tidur sambil menyantap semangkuk sereal dengan televisi di depannya yang menayangkan kartun favoritnya. Biasanya di jam seperti ini dia sudah berdiri di depan toko, menyambut pegawai yang datang satu persatu dan membantu membuka etalase atau sekedar berbincang ringan sebelum hari kerja dimulai. Namun hari ini berbeda, di hari peringatan kematiannya Lilian memilih menghindar. Dia tidak ingin mengambil risiko sekecil apapun untuk bertemu dengan orang-orang dari masa lalunya. Lilian malah di ponsel di sampingnya, layar menampilkan rekaman CCTV toko secara langsung, yang menampilkan para pegawainya yang sudah mulai bekerja seperti biasanya. Mengenai urusan toko Lilian tidak terlalu khawatir. Dia percaya pegawainya mampu melayani pelanggan dengan baik tanpa perlu diawasi secara langsung. Di waktu yang
Di belahan kota lain kehidupan berjalan dengan ritmenya sendiri. Lampu studio menyala terang memantul pada lantai putih mengkilap. suara kamera berbunyi bertubi-tubi diiringi arahan fotografer yang tengah memastikan model di depannya bergerak sesuai keinginannya. "Good! Hold that pose, jangan bergerak." Sean berdiri di tengah set pemotretan, mengenakan setelan hitam elegan yang jatuh sempurna di tubuhnya. Ekspresinya begitu profesional, berbeda jauh dari pria flamboyan yang dulu sering dianggap hanya mengandalkan wajah tampan. Kini namanya berada di puncak industri model, wajahnya terpampang di Billboard besar, majalah fashion nasional, hingga kampanye merek-merek ternama. Dia menurunkan dagunya sedikit, mengikuti arahan kamera lalu mengubah pose dengan gerakan halus yang sudah menjadi refleks. "Kita ambil satu pose terakhir!" Beberapa menit kemudian sesi pemotretan selesai. Sean menerima handuk kecil dari staf dan mengusap keringat tipis yang membasahi pelipisnya.
Seorang perempuan tertidur di atas kursi goyang, yang dikelilingi oleh deretan pot bunga yang tertata rapi. Aroma tanah basah dan wangi kelopak memenuhi udara di sekitarnya. Sebuah majalah menutupi wajahnya, yang sebelumnya sempat dia buka dan baca sebelum akhirnya tertidur tanpa sadar. "Untuk bunga lilynya perlu kita warnai? Kelihatannya terlalu polos kalau tetap putih, apalagi untuk edisi hari valentine." Suara seseorang memecahkan keheningan, membangunkannya dari tidur singkat. Akibatnya, majalah yang menutupi wajahnya pun terjatuh di pangkuannya. Perempuan itu mengerjakan mata beberapa kali berusaha mengumpulkan kesadarannya. Cahaya sore menyelinap diantara kaca-kaca rumah bunga, jatuh lembut di rambutnya yang sedikit berantakan "Jam berapa sekarang... ?" gumamnya serak. "Jam lima sore. Toko juga sudah hampir tutup, Bu.," jawab karyawan muda di depannya sambil merapikan deretan bunga lily yang baru datang siang tadi. Perempuan itu bangkit perlahan dari kursi goy







