LOGINSepeninggalnya Sean dari ruangan ini, Kath perlahan menegakkan kepalanya dengan air mata yang masih mengalir dari pelupuk mata, menatap Leo yang balas menatapnya dengan raut wajah datar.
"Gue gak bisa berhenti nangis," ucap Kath sesunggukan. Tangannya bergerak kasar mengusap air matanya, hingga karena beberapa kali melakukan hal yang sama menyebabkan kedua belah pipi Kath memerah. Leo membiarkan segalanya terjadi di hadapan pria itu, tanpa ada rasa ingin menghentikannya. Hingga setelah pandangan Kath mulai mengabur barulah Leo bangkit dari kursinya kemudian menghampiri Kath yang kini menatap Leo dengan pandangan nanar. Saat Leo sudah berada di dekatnya, tanpa Kath duga Leo berlutut sejajar dengan posisinya lalu memeluk tubuhnya. Kath sendiri sontak terdiam walaupun air mata masih saja mengalir dan membasahi wajahnya. "Lo aman sekarang," ujar Leo yang kini mengelus perlahan rambut Kath yang terurai, berharap agar Kath berhenti menangis. Namun tetap saja, kesedihan yang Kath alami sekarang terlalu meluap hingga tidak dapat dia kendalikan sama sekali. Bahkan Kath merasa bahwa dirinya bukanlah dirinya yang biasa. "Bisakah kalian berhenti?" tanya Kath seraya mencengkeram kuat kerah sweater yang dikenakan Leo saat dirinya mengingat rencana balas dendam Leo dan Sean kepada keluarga Emanuel yang masih berjalan. "Lo tau jawabannya." Kath kembali menangis. Seperti sebelumnya, sulit sekali untuk menahan diri agar tidak tenggelam dalam luapan emosi Lilian. Apalagi mendengar jawaban dari Leo, perasaan yang dirasakan Kath semakin campur aduk. "Target balas dendam kalian adalah Reandra. Seharusnya kalian...." ucapan Kath langsung ditimpali oleh Leo. "Jadi lo mau kita bunuh papa kesayangan lo?" Gue gak mau satupun orang terbunuh, Sialan! teriak Kath dalam hati. "Kesalahan Gerald, Kritaka dan juga gue cuma satu yaitu terlahir dalam keluarga yang udah tega melenyapkan keluarga kalian, tetapi tidak ada satupun dari kami yang meminta untuk dilahirkan di keluarga Emanuel," Kath mengigit bibir bawahnya kembali, menahan diri agar tidak larut dalam emosi. "Jadi gue mohon dengan amat sangat, tolong berhenti... Berhenti melukai diri kalian dengan masa lalu." Sontak saja setelah Kath mengatakan demikian, Leo mengendurkan pelukannya lalu menatap Kath dengan tajam. "Lo kira semudah itu melenyapkan rasa benci kami?" Leo bangkit dari posisi berlututnya lalu kembali berucap, "Gue dan Sean bakalan pastikan, Reandra akan merasakan hal yang sama seperti yang kami rasakan. Dia akan segera merasakan bagaimana rasanya kehilangan satu persatu anggota keluarga yang dia cintai dan membuat dia merasakan kesendirian yang amat pedih sampai penyesalan tidak akan ada artinya lagi!" Leo langsung melangkah keluar meninggalkan Kath yang masih meluapkan isakan penuh kesedihan---meraung memenuhi sudut ruangan. Entah sampai kapan dia berada di sini. Namun yang jelas, karena terlalu lelah menangis dan juga kehabisan tenaga, Kath pada akhirnya hilang kesadaran diri dan jatuh pingsan dalam keadaan duduk di sofa. ---- "Nona Lilian mengalami dehidrasi dan juga kurangnya asupan makanan. Saya anjurkan agar pola makannya bisa lebih teratur, dan juga yang paling penting adalah kurangi tekanan batin dengan aktivitas yang membuat nona bahagia." Leo mengangguk pelan kepalanya sembari tangannya tidak berhenti mengelus rambut Lilian. Kini gadis itu tengah terbaring lelap dengan mata yang sedikit membangkak karena terlalu banyak menangis. Dokter yang Leo datangkan jauh kemari pastinya menyadari akan hal tersebut hingga menyarankan Leo agar lebih menjaga Lilian. "Saya hanya akan resepkan obat penambah nafsu makan. Setelah bangun dari pingsan, biarkan nona minum air putih lebih banyak." Setelah mengatakan hal barusan, dokter tersebut menyerahkan resep kepada kepala pelayan. Hingga tanpa menunggu waktu lama, mereka pada akhirnya keluar dan mulai mengerjakan apa yang harus mereka lakukan. Sepeninggalnya kedua orang tersebut kini hanya ada Leo, serta Lilian yang masih setia memejamkan kedua mata. Tidak ada gerakan sedikit pun dari Lilian membuat Leo semakin takut. Beberapa menit setelah Leo meninggalkan Lilian kala itu, dia berinisiatif untuk kembali masuk ke dalam ruangan kerjanya. Memastikan bahwa Lilian tidak berbuat macam-macam seperti kabur misalnya, mengingat ruang kerja Leo berada di lantai satu dengan jendela yang terbuka lebar. Namun tidak sesuai apa yang dia duga, dia malah mendapati Lilian yang tidak sadarkan diri di sofa dengan keadaan wajah yang sangat pucat. "Gue gak mau lagi kehilangan orang yang gue sayang," ucap Leo yang kini menggenggam telapak tangan Lilian yang sudah mulai menghangat, tidak seperti beberapa jam yang lalu yang sedingin es, "Jadi gue harap lo tetap bertahan di sisi gue." Setelah berucap demikian, Leo mengecup telapak tangan Lilian lalu meletakkan kepalanya di pinggir tempat tidur, ikut memejamkan mata bersama wanita yang masih terbuai dalam alam mimpi. ----- Semenjak insiden pingsannya Kath sejak dua hari yang lalu. Hampir sebagian besar tindakan Leo pada dirinya berubah--- yang sialannya tidak menjurus ke arah kebaikan bagi Kath. Tentu saja karena itu Kath semakin parno, membayangkan apa jadinya dirinya kedepannya. Apakah dia tidak akan mati? Apakah dia akan diselamatkan oleh Leo? atau... apakah Leo benar-benar jatuh cinta padanya? Untuk yang terakhir Kath bisa menganggapnya sebagai angin lalu belaka. Lagipula mustahil sekali Leo mencintainya--- maksud Kath, mencintai Lilian. Jadi, daripada hanyut dalam emosi sesat dari Leo, lebih baik Kath memikirkan cara agar dia bisa menjauh dari dua malaikat mautnya. Nah, sekarang bagaimana caranya? Nyatanya, setelah Sean datang kemari, entah untuk terakhir kalinya, Kath merasa bahwa pengawasan di tempat ini semakin mengetat saja, terbukti dengan bertambahnya pelayan dan juga pengawal yang selalu berada di setiap sudut rumah. Kemudian intensitas Leo berada di mansion ini juga semakin meningkat, ditambah pria itu hampir tiap hari selalu berada di dekatnya membuat Kath semakin risih karenanya. "Kenapa harus di kamar tidur? Lo bisa kerja di ruang kerja kan kayak biasa?" celetuk Kath sembari matanya menatap sinis ke arah Leo yang ikut duduk di tempat tidur dengan posisi bersandar di sandaran. Sebuah tablet merek terkenal senantiasa berada di tangan Leo, menemani kesibukan pria itu yang memilih mengurus pekerjaannya di tempat ini daripada di perusahaan langsung. "Lo bisa aja kabur kalau gue gak ada," timpal Leo. "Memang lo pernah lihat gue berencana kabur dari sini?" Ayolah, logika Kath masih terjaga dengan baik hingga dia memilih untuk tetap di sini sementara waktu daripada keluar dari pagar mansion ini dan berakhir tersesat di hutan. "Bisa aja lo bakalan kabur dan berusaha menyelamatkan dua saudara lo yang tengah terancam nyawanya." Selepas Leo mengaitkan pembicaraan mereka dengan saudara Lilian, Kath tiba-tiba saja dilanda perasaan aneh. Gadis itu yang tadinya semangat melawan Leo kini malah menundukkan kepalanya dalam. Kath tidak tau apa yang dia rasakan dalam dirinya--- yang jelas perasaan aneh ini terus ada sejak Kath mengetahui nasib Gerald dan juga si tokoh utama wanita dalam Secret Dark yaitu Kritaka yang sedang dalam bahaya. Leo yang sadar akan perubahan Kath jelas langsung mengalihkan fokusnya pada gadis yang sekarang tampak diam. "Lo kenapa? Baper karena gue bicara fakta?" Baiklah, katakan saja bahwa Kath baper karena Leo yang mulai membahas tentang saudara Lilian, lagipula dia juga tidak bisa begitu saja membiarkan Gerald dan Kritaka menjemput maut di tangan Leo ataupun Sean. Tentu saja karena bukan hanya Kath yang berhak hidup, namun juga kedua saudara Lilian memiliki hak yang sama. Merampas nyawa mereka bukanlah prilaku baik yang mesti dibiarkan oleh Kath. Terlebih Kath sadar bahwa balasan dari dirinya yang selamat dari maut adalah kematian dari kedua saudara Lilian yang tidak tau menahu mengenai balas dendam Leo maupun Sean. Jika mereka mati, maka penyebab kematian mereka adalah karena Kath yang ingin bertahan hidup. "Gue mau turun ke bawah," ujar Kath dengan intonasi pelan hingga Leo sendiri tidak begitu jelas mendengar. Kath yang hendak beranjak dari tempat tidur langsung dihentikan oleh Leo yang saat ini tengah menahan lengannya. "Ngapain?" Pandangan Kath tertuju pada lengannya yang ditahan oleh Leo kemudian beberapa detik setelahnya dia menatap Leo dengan tajam. "Gue udah gak mood ngobrol sama manusia yang gak punya rasa simpati sedikit pun." "Lo marah?" tanya Leo dengan raut wajah yang tampak tidak berdosa sedikit pun. "Siapa yang gak marah kalau lo terus-terusan kasih gue tekanan kayak gini!" Kath menghentakkan lengannya lalu kembali berbicara sembari menunjuk ke arah jendela, "Gue masih waras untuk gak masuk ke hutan yang gue sendiri belum tau jalan yang bener untuk keluar. Jadi stop provokasi gue! Jangan sampe gue beneran kabur dari mansion sialan ini!" teriak Kath membalas. Beberapa detik kemudian Kath mendadak tersentak sesaat setelah mendengar suara gemertak dari Leo. Raut wajah pria itu pun mendadak berubah seketika. "Don't scream in front of me, Lilian Emanuel!" Saat itu pula Kath sadar akan kelakuannya barusan. Dia sudah berlebihan mengungkapkan emosinya dan hal tersebut tentunya tidak akan baik untuk Kath sendiri. Walaupun suara Leo terdengar tidak keras, Kath sadar bahwa Leo tengah menahan amarah sekarang. Perlahan nyalinya yang besar mendadak ciut, "Gue... Maksud gue, gue gak niat teriak tapi..." Belum sempat Kath menyampaikan kalimat pembelaan, tubuhnya sudah terlebih dahulu direngkuh oleh Leo. Kath kaget hingga dia tidak bisa berkata apapun. Kini mereka hanya diam, sibuk dengan pemikiran masing-masing, hingga setelah beberapa lama waktu terlewati, Kath yang sudah mulai tenang akan situasi ini terlebih dahulu membuka suara. "Gue minta... maaf." bisik Kath yang tentu saja didengar oleh Leo karena jarak mereka yang sangat dekat. Sebenarnya Kath meminta maaf juga setengah niat mengingat dirinya tidak salah sepenuhnya. Dia berteriak seperti tadi juga karena terlampau emosi dengan keadaan yang tengah dialaminya tanpa tau pria yang tengah memeluknya sekarang tidak menyukai tindakannya. Ya mana Kath tau Leo gak suka diteriaki, di novel juga gak ada tuh pemberitahuannya. Kalau Kath tau dia pasti tidak akan berteriak di depan pria itu. Setelah meminta maaf, Kath tidak langsung menerima respon dari Leo, pria itu saat ini malah sibuk menyelusupkan wajah ke arah leher Kath dan juga sesekali menggesekkan hidungnya ke permukaan lehernya--- membuat Kath tanpa sadar bergedik karena geli. "I'm done with this, gue gak bisa lama-lama marah sama lo." Seriusan, sekarang Kath sukses tercengang dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut Leo. Ini Kath yang salah tanggap atau memang Kath yang kegeeran? Mengapa Kath ngerasa kalau Leo sedang dalam mode mencari perhatian kepadanya? Kath rasa ada sesuatu yang membentur kepala Leo sampai pria itu tiba-tiba jadi seperti ini. "Leo?" Kath menepuk pelan punggung Leo untuk menyadarkan pria itu. Namun bukannya berhenti, Kath malah mendengar geraman pelan. Leo mengeratkan pelukannya lalu berucap, "Seberapa jauh perubahan lo... Lo masih tetap jadi Lilian yang gue kenal." Kath mengeryitkan dahi, "Hah?" Bukannya menjelaskan, Leo malah terkekeh geli. "Setelah gue dapetin lo, gue cuma mau nyimpen lo baik-baik. Jadi wajar kalau gue terus menerus di dekat lo, jagain lo dan mastiin lo selalu ada di setiap detik yang gue lewatin." Leo melepaskan rengkuhannya dan menatap Kath dengan bibir yang menyungging senyuman manis. Sontak saja hal tersebut membuat Kath hampir jatuh karena terlalu terpesona. Baiklah, Kath masih tergolong perempuan biasa yang bisa khilaf kapanpun ketika melihat pria tampan. Tidak terhitung rasanya Kath menahan diri agar tidak teriak kegirangan melihat ketampanan Leo. Pemicunya tentu saja karena Kath mengedepankan keselamatan agar hidupnya damai tanpa teror kibaran bendera kematian Lilian. "Biasakan diri lo dengan perilaku gue yang sekarang. Dengan begitu segalanya akan menjadi lebih baik." Kath mengangguk pasrah, melawan pun tidak mungkin karena dia berada di pihak yang terpojok. Kini, dalam hatinya Kath berdoa agar dirinya tidak goyah akan pesona maut yang sanggup mematikannya saat ini juga. ---- Kedua telapak tangan Gerald terkepal kuat hingga urat-urat yang tersembunyi di balik kulitnya terlihat. Aura dingin kentara menyelimuti paras pria yang tengah duduk di kursi kerjanya. Pun, iris mata coklat gelapnya kini menatap penuh amarah ke arah beberapa pria berbadan tegap yang sudah pasrah akan apa yang akan terjadi nantinya. "Saya menyuruh kalian mencari satu orang saja tidak mampu?" Gerald membanting meja secara bersamaan dengan kedua tangannya yang terkepal. "Belum lagi saya menyuruh kalian mencari kelompok besar!" Tidak ada yang mengeluarkan satu katapun, karena tentu saja mereka yakin jika satu diantara mereka berbicara Gerald pasti akan lebih marah daripada yang sekarang. Merasa geram dengan situasi yang dia hadapi, pada akhirnya Gerald mengacak rambutnya yang memang sudah acak-acakan disebabkan stress yang menumpuk akibat hilangnya si pewaris, terlebih urusan perusahaan yang dia pimpin kini tiba-tiba saja dilanda krisis. Padahal jelas-jelas perusahaan miliknya masih dalam keadaan baik-baik saja belakangan ini. "Saya tidak mau tau, dalam dua hari ke depan saya ingin Lilian ditemukan. Jika kalian tidak berhasil melakukannya, persiapkan diri untuk menerima surat pemecatan." Setelah mengatakan kalimat tersebut, sontak saja para bawahan yang saat ini menghadap Gerald langsung dilanda kecemasan, pasalnya selama hampir sebulan tidak ada titik cerah dimana Lilian Emanuel berada--- seolah perempuan tersebut benar-benar hilang ditelan bumi. Namun perintah dari Gerald mutlak untuk mereka, berhasil ataupun tidak tergantung perjuangan mereka melakukan pencarian. Jadi satu-satunya pilihan yang mereka ambil adalah menerima secara bulat perkataan Gerald barusan. "Akan segera kami laksanakan," teriak mereka secara bersamaan. Selepasnya, daripada harus terus-menerus berada dalam ruangan kerja Gerald yang telah dipenuhi aura menyeramkan, mereka secepatnya mengundurkan diri. Kini tinggallah Gerald sendiri dengan perasaan kalut yang sangat kentara terlihat. Gerald bingung, dia tidak tau harus berbuat apa jika benar nantinya dia ataupun Kritaka akan dipilih sebagai pewaris pengganti Lilian yang sekarang tidak diketahui keberadaannya. Selama ini, segala pelatihan sebagai sang pewaris dilakukan oleh Lilian tanpa ada campur tangan dari Kritaka dan juga dirinya sendiri. Jika ada yang bertanya pelatihan yang diterima Lilian seperti apa maka sebaiknya dipendam saja--- karena untuk mengingat bagaimana pelatihan tersebut berjalan saja, Gerald mendadak merasa mual. Maka dari itu Gerald ataupun Kritaka ogah untuk berkecimpung dalam lingkaran setan yang diterima Lilian yang pada akhirnya menjadikan salah satu mereka menjadi pewaris dari pekerjaan keluarga Emanuel yang secara turun-temurun dikerjakan. Suara pintu terbuka memecahkan lamunan Gerald. Pandangannya seketika tertuju kepada Kritaka yang masuk dengan tergesa-gesa dan menghampirinya. "Ada perkembangan mengenai keberadaan kak Lilian?" tanya gadis itu setelah duduk di kursi tepat berada di depan meja kerjanya. Gerald menggeleng lemah diakhiri dengan decakan kesal ketika menangkap ekspresi wajah Kritaka yang tampak menyalahkannya. "Lo gimana sih!? Cari satu orang aja gak becus!" Gerald langsung menunjuk ke arah Kritaka dan berteriak, "Jangan sampe gue luapin emosi gue ke lo, Taka!" Barulah di saat mendapat teguran dari Gerald, Kritaka tidak berniat untuk menyudutkan Gerald kembali. Mau bagaimana lagi, saat Kritaka mengetahui tidak ada perkembangan pencaharian Lilian, dia menjadi ketakutan dan was-was, seolah sebentar lagi dirinyalah yang akan menjadi pewaris pekerjaan ayah mereka, jadi jangan salahkah Kritaka jika dia kelepasan dan bertindak berlebihan kepada Gerald yang dia tau sudah berjuang mati-matian untuk dapat segera menemukan Lilian. Kritaka menarik nafasnya lalu menghembuskannya perlahan, berusaha untuk menenangkan dirinya agar tidak ikut tertular oleh stress yang dialami kakaknya. Setidaknya biarkanlah dia menjadi satu-satunya orang yang waras. "Lo sempat geledah apartemen kak Lilian 'kan? Lo nemuin sesuatu yang janggal di sana?" Gerald mengeryitkan dahi tampak berpikir beberapa saat, hingga keduanya terlihat lemas kembali di saat Gerald menggelengkan kepalanya. "Gak ada tanda-tanda orang asing masuk ataupun saksi yang melihat Lilian diculik. Bahkan cctv dalam apartemen dan sekitar apartemen bersih tanpa ada keanehan sedikit pun," jelas Gerald. "Kalau barang? Lo lihat ada barang cowok gak di sana?" "Barang cowok?" "Gue kan pernah bilang kalau terakhir kali gue ketemu kak Lilian, gue lihat ada beberapa sepatu cowok di rak sepatunya!" "Gue gak ketemu sepatu cowok ataupun barang milik cowok di apartemen Lilian," ungkap Gerald. "Are you kidding me?! Di rak sepatu kak Lilian yang gue lihat ada banyak sepatu cowok, bahkan sepatu kak Lilian aja udah hampir gak keliatan! Masa iya sepatunya hilang gitu aja sekarang?" Kritaka menggerakkan tubuhnya agak condong ke depan sembari pandangannya fokus tertuju pada kakak lelakinya, "Lo gak mikir kalau bisa aja pelakunya cowok yang sering berada di apartemen kak Lilian?" Mendengar pernyataan dari Kritaka langsung saja Gerald menghidupkan laptopnya dan membuka file cctv apartemen Lilian yang dia dapatkan selama penyelidikan. "Tanggal berapa lo ketemu Lilian?" tanya Gerald sembari dirinya mengecek satu persatu video di bulan April, bertepatan dengan pertemuan Kritaka dan Lilian yang dia tau. "Tanggal 19 bulan April," balas Kritaka. Setelah beberapa lama, Gerald akhirnya membuka video cctv pada tanggal yang diberitahukan oleh Kritaka. Mereka kemudian menyaksikan detik tiap detik video itu berjalan hingga selesai. Saat itu pula mereka menyadari sebuah keanehan yang mengarah pada alibi sang pelaku dalam menyembunyikan fakta. "Lo gak kelihatan di cctv," ucap Gerald mengingat selama mereka menonton tidak ada satupun bagian yang menampilkan Kritaka yang masuk dalam apartemen Lilian. "Gue yakin kalau gue ketemu kak Lilian tanggal 19 karena gue inget banget setelah ketemu kak Lilian gue langsung cabut ke pesta ulang tahun temen sekolah gue dulu," kekeuh Kritaka. Mereka terdiam sesaat hingga setelah sibuk dengan pemikiran masing-masing barulah mereka mencapai titik terang. "Gue rasa cctv apartemen kak Lilian dimanipulasi," ujar Kritaka yang bersuara terlebih dahulu. Gerald yang memikirkan hal yang sama seperti Kritaka langsung bergegas mengambil jas formal yang tergeletak asal di atas meja. Pria itu kemudian dengan segera melangkahkan kaki keluar dari ruangan kerja diikuti oleh Kritaka yang mengikuti di belakangnya. Tujuan mereka kali ini hanyalah satu tempat, yaitu apartemen milik Lilian yang menjadi tempat terakhir kali sang pewaris sebenarnya berada.Keesokan paginya, tidak seperti biasa Lilian tidak keluar dari kamarnya. Dia tetap berada di kamar pribadinya yang terletak di lantai 2 toko bunga miliknya, duduk santai di atas tempat tidur sambil menyantap semangkuk sereal dengan televisi di depannya yang menayangkan kartun favoritnya. Biasanya di jam seperti ini dia sudah berdiri di depan toko, menyambut pegawai yang datang satu persatu dan membantu membuka etalase atau sekedar berbincang ringan sebelum hari kerja dimulai. Namun hari ini berbeda, di hari peringatan kematiannya Lilian memilih menghindar. Dia tidak ingin mengambil risiko sekecil apapun untuk bertemu dengan orang-orang dari masa lalunya. Lilian malah di ponsel di sampingnya, layar menampilkan rekaman CCTV toko secara langsung, yang menampilkan para pegawainya yang sudah mulai bekerja seperti biasanya. Mengenai urusan toko Lilian tidak terlalu khawatir. Dia percaya pegawainya mampu melayani pelanggan dengan baik tanpa perlu diawasi secara langsung. Di waktu yang
Di belahan kota lain kehidupan berjalan dengan ritmenya sendiri. Lampu studio menyala terang memantul pada lantai putih mengkilap. suara kamera berbunyi bertubi-tubi diiringi arahan fotografer yang tengah memastikan model di depannya bergerak sesuai keinginannya. "Good! Hold that pose, jangan bergerak." Sean berdiri di tengah set pemotretan, mengenakan setelan hitam elegan yang jatuh sempurna di tubuhnya. Ekspresinya begitu profesional, berbeda jauh dari pria flamboyan yang dulu sering dianggap hanya mengandalkan wajah tampan. Kini namanya berada di puncak industri model, wajahnya terpampang di Billboard besar, majalah fashion nasional, hingga kampanye merek-merek ternama. Dia menurunkan dagunya sedikit, mengikuti arahan kamera lalu mengubah pose dengan gerakan halus yang sudah menjadi refleks. "Kita ambil satu pose terakhir!" Beberapa menit kemudian sesi pemotretan selesai. Sean menerima handuk kecil dari staf dan mengusap keringat tipis yang membasahi pelipisnya.
Seorang perempuan tertidur di atas kursi goyang, yang dikelilingi oleh deretan pot bunga yang tertata rapi. Aroma tanah basah dan wangi kelopak memenuhi udara di sekitarnya. Sebuah majalah menutupi wajahnya, yang sebelumnya sempat dia buka dan baca sebelum akhirnya tertidur tanpa sadar. "Untuk bunga lilynya perlu kita warnai? Kelihatannya terlalu polos kalau tetap putih, apalagi untuk edisi hari valentine." Suara seseorang memecahkan keheningan, membangunkannya dari tidur singkat. Akibatnya, majalah yang menutupi wajahnya pun terjatuh di pangkuannya. Perempuan itu mengerjakan mata beberapa kali berusaha mengumpulkan kesadarannya. Cahaya sore menyelinap diantara kaca-kaca rumah bunga, jatuh lembut di rambutnya yang sedikit berantakan "Jam berapa sekarang... ?" gumamnya serak. "Jam lima sore. Toko juga sudah hampir tutup, Bu.," jawab karyawan muda di depannya sambil merapikan deretan bunga lily yang baru datang siang tadi. Perempuan itu bangkit perlahan dari kursi goy
Dua hari setelah penusukan itu ada terjadi, Lilian terbaring tidak bergerak di ranjang ruang perawatan intensif. Tubuhnya dipenuhi selang medis, mesin monitor berdetak perlahan mengikuti detak jantungnya yang kini melemah. Pendarahan hebat yang dialaminya membuat kondisinya kritis dan sejak saat itu Lilian tidak pernah kembali sadar. Kritaka menjadi orang yang paling sibuk mengurus seluruh kebutuhan medisnya. Perempuan itu hampir tidak pernah pulang untuk memastikan semua prosedur terbaik telah diberikan untuk kakaknya. Gerald datang hampir setiap hari. Namun ada satu orang yang bahkan lebih sering berada di sana yaitu Leo, calon suami Lilian yang dipilihkan oleh keluarganya. Pria itu tidak pernah absen menjenguk, Leo hanya duduk diam di kursi samping ranjang dan menatap wajah Lilian yang pucat tanpa banyak bicara. Siang ini, pintu ruang rawat terbuka perlahan. Terlihat Lea, asisten pribadi Lilian masuk sambil membawa beberapa berkas tebal di tangannya. "Ini dokumen akuisisi y
Waktu yang tertinggal terasa sangat cepat sekali dan Lilian melewatinya tanpa mendapatkan pencerahan mengenai keselamatan hidupnya. Sampai kemudian dia berakhir di hari ini, hari dimana Lilian akan dibunuh sesuai dengan ramalan Orea yang tertuang dalam buku Secret Dark. Lilian menatap ke arah cermin yang memperlihatkan seluruh tubuhnya yang terbungkus gaun merah sepanjang mata kaki. Wajahnya yang sebelumnya sudah pucat--- karena cukup tertekan akibat memikirkan kematian, sudah terpoles cantik dengan make up tipis. Kakinya pun sudah lumayan pulih dan dapat digerakkan, walaupun dia masih harus berjalan dengan hati-hati. Lilian tidak bisa menghindari, terlebih Reandra sudah mengingatkan acara ini jauh-jauh hari. Acara peresmian gedung baru yang berhasil dibangun oleh Reandra dan beberapa investor lainnya hari ini merupakan pintu utama Lilian untuk masuk ke dalam jurang kematian. Setelah itu, jika mengikuti ramalan Orea. Lilian akan dibunuh oleh Leo dan Sean, di apartemen tempat Lil
Kakinya sudah jauh lebih baik. Lilian memilih beristirahat total, menahan diri untuk tidak memaksakan apapun selama beberapa hari ini, termasuk bernegoisasi langsung pada Gerald terkait rencana akuisisi yang ingin dia jalankan.Sisa waktunya sebelum ramalan kemattian tersisa dua hai lagi. Untuk mempersiapkan hari itu Lilian tidak boleh terlihat lemah, apalagi sakit seperti yang tengah terjadi padanya saat ini. Maka dia harus secepatnya pulih agar semua yang dia rencanakan dapat berjalan sesuai kemauannya.Sore ini, Lilian berada di apartemennya bersama Kritaka. Keduanya duduk di balkon, menikmati teh hangat sambil memandangi jajaran gedung-gedung tinggi yang menjulang di hadapan mereka. Angin berhembus pelan, mengantarkan suasana tenang bagi Lilian maupun Kritaka.Di tengah keheningan, Lilian membuka suara. "Lo dekat sama Sean?"Kritaka yang tengah menatap pemandangan di sekitarnya menoleh ke arah Lilian, alisnya terangkat. "Sean? Teman lo itu?"Lilian mengangguk."Enggak terlalu," ja







