ANMELDENKeesokan paginya, Lilian terbangun seperti biasa. Namun belum sempat kesadarannya terkumpul sepenuhnya, tubuhnya langsung tersentak kaget karena kehadiran seseorang yang berada di sampingnya. Leo, pria itu terbaring santai di sisinya. Satu tangan menopang kepala, menatapnya dengan senyuman tipis, berlagak seolah mereka memang menghabiskan malam bersama seperti pasangan pada umumnya. Nafas Lilian tercekat, dia tidak salah ingat, kemarin Mira benar-benar mengantarnya pulang ke toko, bahkan setelah itu Lilian sengaja menutup toko lebih awal dan mengurung diri di kamar untuk menghindari kemungkinan orang yang dikenalnya akan datang. Lalu sekarang mengapa Leo ada di sini? "Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Lilian, tubuhnya refleks menjauh. "Aku hanya ingin menjemputmu," jawab Leo santai. "Menjemputku?" "Kamu lupa?" Leo sedikit memiringkan kepalanya, "Hari ini kita cari gaun pernikahan, sekalian foto prewedding." Lilian menatap Leo tajam. Bukankah dia sudah menolak? dan
Lilian kembali ke unit apartemennya yang sudah lama dia tinggalkan, bersama orang yang sama sekali tidak ingin dia temui. Bukan karena benci, melainkan dia tidak ingin hatinya tergoyahkan oleh perasaan lama. Lilian tidak ingin kembali menjadi dirinya yang dulu, dia tidak ingin kembali menjadi Emanuel. Maka dari itu dia harus menanggalkan seluruh hal mengenai Emanuel, termasuk Leo, pria yang duduk di hadapannya yang sangat berkaitan erat dengan keluarganya di masa lalu. Mereka kini berada di ruang tengah duduk saling berhadapan di sofa. sSuasana terasa kaku dipenuhi dengan ketegangan yang belum terselesaikan. Tampak di sisi Leo, Mira-- perempuan itu sebelumnya berada di depan pintu apartemennya, menunggu Leo dan Lilian datang. "Setelah ini, apa yang kamu mau?" tanyanya blak-blakan. Leo terkekeh pelan, seperti tidak percaya dengan situasi yang terjadi saat ini. sosok yang selama ini dia anggap sudah mati kini duduk di depannya, benar-benar bernafas dan berbicara dengannya.
Keesokan paginya, tidak seperti biasa Lilian tidak keluar dari kamarnya. Dia tetap berada di kamar pribadinya yang terletak di lantai 2 toko bunga miliknya, duduk santai di atas tempat tidur sambil menyantap semangkuk sereal dengan televisi di depannya yang menayangkan kartun favoritnya. Biasanya di jam seperti ini dia sudah berdiri di depan toko, menyambut pegawai yang datang satu persatu dan membantu membuka etalase atau sekedar berbincang ringan sebelum hari kerja dimulai. Namun hari ini berbeda, di hari peringatan kematiannya Lilian memilih menghindar. Dia tidak ingin mengambil risiko sekecil apapun untuk bertemu dengan orang-orang dari masa lalunya. Lilian malah di ponsel di sampingnya, layar menampilkan rekaman CCTV toko secara langsung, yang menampilkan para pegawainya yang sudah mulai bekerja seperti biasanya. Mengenai urusan toko Lilian tidak terlalu khawatir. Dia percaya pegawainya mampu melayani pelanggan dengan baik tanpa perlu diawasi secara langsung. Di waktu yang
Di belahan kota lain kehidupan berjalan dengan ritmenya sendiri. Lampu studio menyala terang memantul pada lantai putih mengkilap. suara kamera berbunyi bertubi-tubi diiringi arahan fotografer yang tengah memastikan model di depannya bergerak sesuai keinginannya. "Good! Hold that pose, jangan bergerak." Sean berdiri di tengah set pemotretan, mengenakan setelan hitam elegan yang jatuh sempurna di tubuhnya. Ekspresinya begitu profesional, berbeda jauh dari pria flamboyan yang dulu sering dianggap hanya mengandalkan wajah tampan. Kini namanya berada di puncak industri model, wajahnya terpampang di Billboard besar, majalah fashion nasional, hingga kampanye merek-merek ternama. Dia menurunkan dagunya sedikit, mengikuti arahan kamera lalu mengubah pose dengan gerakan halus yang sudah menjadi refleks. "Kita ambil satu pose terakhir!" Beberapa menit kemudian sesi pemotretan selesai. Sean menerima handuk kecil dari staf dan mengusap keringat tipis yang membasahi pelipisnya.
Seorang perempuan tertidur di atas kursi goyang, yang dikelilingi oleh deretan pot bunga yang tertata rapi. Aroma tanah basah dan wangi kelopak memenuhi udara di sekitarnya. Sebuah majalah menutupi wajahnya, yang sebelumnya sempat dia buka dan baca sebelum akhirnya tertidur tanpa sadar. "Untuk bunga lilynya perlu kita warnai? Kelihatannya terlalu polos kalau tetap putih, apalagi untuk edisi hari valentine." Suara seseorang memecahkan keheningan, membangunkannya dari tidur singkat. Akibatnya, majalah yang menutupi wajahnya pun terjatuh di pangkuannya. Perempuan itu mengerjakan mata beberapa kali berusaha mengumpulkan kesadarannya. Cahaya sore menyelinap diantara kaca-kaca rumah bunga, jatuh lembut di rambutnya yang sedikit berantakan "Jam berapa sekarang... ?" gumamnya serak. "Jam lima sore. Toko juga sudah hampir tutup, Bu.," jawab karyawan muda di depannya sambil merapikan deretan bunga lily yang baru datang siang tadi. Perempuan itu bangkit perlahan dari kursi goy
Dua hari setelah penusukan itu ada terjadi, Lilian terbaring tidak bergerak di ranjang ruang perawatan intensif. Tubuhnya dipenuhi selang medis, mesin monitor berdetak perlahan mengikuti detak jantungnya yang kini melemah. Pendarahan hebat yang dialaminya membuat kondisinya kritis dan sejak saat itu Lilian tidak pernah kembali sadar. Kritaka menjadi orang yang paling sibuk mengurus seluruh kebutuhan medisnya. Perempuan itu hampir tidak pernah pulang untuk memastikan semua prosedur terbaik telah diberikan untuk kakaknya. Gerald datang hampir setiap hari. Namun ada satu orang yang bahkan lebih sering berada di sana yaitu Leo, calon suami Lilian yang dipilihkan oleh keluarganya. Pria itu tidak pernah absen menjenguk, Leo hanya duduk diam di kursi samping ranjang dan menatap wajah Lilian yang pucat tanpa banyak bicara. Siang ini, pintu ruang rawat terbuka perlahan. Terlihat Lea, asisten pribadi Lilian masuk sambil membawa beberapa berkas tebal di tangannya. "Ini dokumen akuisisi y
Waktu yang tertinggal terasa sangat cepat sekali dan Lilian melewatinya tanpa mendapatkan pencerahan mengenai keselamatan hidupnya. Sampai kemudian dia berakhir di hari ini, hari dimana Lilian akan dibunuh sesuai dengan ramalan Orea yang tertuang dalam buku Secret Dark. Lilian menatap ke arah cerm
Kakinya sudah jauh lebih baik. Lilian memilih beristirahat total, menahan diri untuk tidak memaksakan apapun selama beberapa hari ini, termasuk bernegoisasi langsung pada Gerald terkait rencana akuisisi yang ingin dia jalankan.Sisa waktunya sebelum ramalan kemattian tersisa dua hai lagi. Untuk mem
Keesokan harinya, dengan langkah tertatih Lilian memasuki lobi Gedung Imperium Co. dan tanpa menemui resepsionis terlebih dahulu Lilian mengarahkan kakinya menuju ruang kerja Gerald yang berada di lantai tiga dengan menggunakan lift. Rasa nyeri di kakinya masih tetap terasa karena lukanya yang be
Lilian mengigit bibir bawahnya ketika Bara tengah menjahit lukanya tanpa menggunakan anastesi sama sekali. Hampir saja dia berteriak ketika pria itu dengan sengaja menusuk lebih dalam daging yang terbuka di kakinya hingga membuatnya harus menahan diri agar tidak berteriak dan menyebabkan Leo dan Se







