LOGINPagi ini suasana kediaman Emanuel digegerkan dengan berita hilangnya sang pewaris. Kepala keluarga Emanuel yaitu Reandra yang barusan mendengar salah satu putrinya menghilang bahkan hampir saja mengalami serangan jantung.
Kini Reandra sendiri sudah terbaring tidak berdaya di atas tempat tidur ditemani oleh putrinya yang lain bernama Kritaka yang terus saja berada di dekatnya sejak tadi pagi--- sebelum berita hilangnya Lilian tayang di televisi beberapa jam yang lalu. Kritaka sendiri terbang jauh dari Amerika setelah mendapat kabar dari kakak laki-lakinya yang terlebih dahulu mengetahui kabar ini. Mereka sebenarnya tidak ingin Reandra mengetahui hal yang sebenarnya mengenai nasib Lilian, namun sialnya tadi siang Reandra malah ngotot ingin menonton berita di televisi yang tanpa diduga tengah memberitahu salah satu keturunan Emanuel yang paling berpengaruh kini dinyatakan menghilang sejak satu minggu yang lalu. Saat sedang memeriksa tekanan darah Reandra dengan menggunakan sfigmomanometer yang memang selalu berada di kamar Reandra dikarenakan kondisi kesehatan sang kepala keluarga yang sedang tidak stabil, Kritaka dikejutkan dengan kedatangan kakak laki-lakinya, Gerald Emanuel. "Biarkan papa diurus oleh dokter," ujar Gerald yang di sisinya sudah tampak seorang pria berpakaian jas berwarna putih khas dokter. "Kakak lupa kalau aku juga seorang dokter, aku sendiri bisa mengurus..." ucapan Kritaka terpotong bersamaan dengan suara Gerald yang berusaha mendominasi. "Ada hal yang harus kita bicarakan segera. Masalah papa biar dokter yang lebih profesional urus." Kritaka akhirnya menyerah, berdebat dengan kakaknya bukanlah pilihan yang tepat dalam keadaan genting seperti sekarang. Setelah meninggalkan papa mereka bersama dokter, Kritaka dan juga Gerald menuju ke arah ruang kerja Gerald di mansion ini. Memasuki ruang kerja Gerald, lantas gadis itu duduk di depan meja kerja Gerald sedangkan Gerald duduk di kursi kerjanya. "Gue dengar dari anggota keluarga kita cuma lo yang sering ketemu Lilian." Gerald memulai pembicaraan dengan gaya angkuh, kedua tangannya terlipat di bawah dada sembari melihat lawan bicaranya dengan tatapan intimidasi. Namun tentu saja tatapan tersebut tidak mempan untuk Kritaka. Bukannya merasa takut, gadis itu malah berdecih sembari mengalihkan tatapannya ke arah samping. Lagipula Kritaka sudah sering diperlakukan bagai seorang bawahan seperti ini oleh kakak tertuanya sadari kecil sehingga dia sudah terlalu kebal. "Denger doang?" tanya Kritaka lebih ke arah menyindir karena nyatanya Gerald terlalu sibuk dengan perusahaan milik pria itu daripada memperhatikan Lilian ataupun Kritaka sendiri. "Setidaknya... Walaupun gue jarang ketemu sama kalian, gue selalu mengawasi pergerakan kalian," ungkap Gerald yang tidak ingin disalahkan sama sekali. Kritaka tertawa geli, "Mengawasi kata lo?" gadis itu lalu menggebrak meja dengan keras sembari menatap tajam ke arah Gerald, "Kalau lo becus mengawasi kami, kenapa bisa-bisanya Lilian menghilang?" teriak Kritaka dengan amarah yang menggebu-gebu. "Jadi sekarang gue yang salah di sini?!" Langsung saja, setelah mendengar bentakan dari Gerald, Kritaka memilih diam sembari menatap terkejut ke arah Gerald. Ada yang berbeda dari Gerald sekarang. Entah mengapa Kritaka merasa bahwa dibalik suara keras Gerald barusan terbesit rasa khawatir yang mendalam. Apa jangan-jangan Gerald mulai menganggap Lilian? Tanpa disadari Kritaka yang tengah sibuk dengan pemikirannya, Gerald terlihat memejamkan matanya dan mulai menenangkan diri. Pria itu seharusnya yang lebih tenang dalam keadaan ini. Namun sialannya dia malah terbawa suasana akibat adiknya yang tampak seolah-olah menyalahkan dirinya atas hilangnya Lilian. "Bagaimana jika kak Lilian benar-benar diculik? Terus dibun..." "Jaga ucapan lo, Taka!" teriak Gerald yang sudah mulai tidak bisa mengontrol emosinya. Kritaka mengacak rambutnya, tampak frustasi sembari menatap ke arah Gerald, "Kalau kita belum menemukan Kak Lilian secepatnya. Gue yakin setelah ini papa pasti nunjuk gue sebagai pewaris." ujar Kritaka gusar. Gerald menaikkan sebelah alisnya setelah dia sadari Kritaka sudah mulai menunjukkan kegoyahannya, bukan hanya karena khawatir atas kehilangan Lilian yang anehnya seperti hilang di telah bumi, "Bukannya bagus?" tanyanya. "Shit Kak, Gue ogah ikut campur dalam perusahaan kotor papa!" teriak Kritaka. Benar bukan? Keduanya takut, begitu takut posisi menyeramkan yang tadinya berada dalam genggaman Lilian jatuh kepada salah satu dari mereka. Dalam benak Gerald, dia setuju dengan apa yang dikatakan Kritaka. Kenyataannya, tidak ada satupun yang ingin mewarisi tahta kekuasaan Reandra, berbeda jika mereka sudah tidak waras sama seperti Lilian. "Balik ke topik utama kita, gue mau dengar keadaan terakhir Lilian sebelum dia menghilang." tegas Gerald, seolah berusaha menghindar dari pembicaraan mereka sebelumnya mengenai pewaris karena bagaimanapun mereka harus secepatnya menemukan Lilian sebelum Reandra berubah pikiran dan memutuskan mengalihkan posisi pewaris dari Lilian. Kritaka mengangguk lalu beberapa detik kemudian menggeleng setelah sebuah kejanggalan terbesit di pikirannya, "Gue ketemu kak Lilian di apartemennya seminggu yang lalu, terus kayak biasanya kami ngobrol di ruang tengah." "Ada yang aneh dari gelagat Lilian?" Kritaka menggeleng lirih, "Bukan gelagat kak Lilian, tapi ada satu hal yang menurut gue aneh pada saat itu." Gadis itu mulai berbicara serius, dia bahkan tengah berusaha mengingat lagi apa yang dia lihat ketika berada di apartemen Lilian. "Gue lihat beberapa sepatu cowok di rak sepatu Lilian, terus keanehan lainnya yang gue inget itu aroma yang gue cium dari tubuh Lilian beda banget sama aroma parfum yang dia dipakai sehari-hari." "Jadi di apartemen dia bukan hanya ada lo di sana?" tanya Gerald. Kritaka mengangguk, "Gue gak berani nanya lebih jauh karena masalah privasi. And then gue gak pernah ngira Kak Lilian bakalan hilang," gadis itu menunduk dalam lalu dalam hitungan detik tiba-tiba saja menangis sesenggukan, "Kalau memang gue tau, gue pasti bakalan cari tau siapa yang ada di apartemen Kak Lilian saat itu." Gerald berdecak dan segera mengambil ponselnya. Daripada menenangkan adiknya yang tengah menangis, pria itu memilih menghubungi seseorang. "Kita akan geledah apartemen Lilian sekarang. Gue kesana lima belasan menit lagi dan jika tidak ada satupun orang di sana, siapkan diri kalian untuk pengunduran diri!" ---- Matanya menatap tajam ke arah pria yang tengah menikmati sarapan pagi. Walaupun ditatap sedemikian rupa, pria di hadapannya tidak berkutik sama sekali, bahkan terlihat santai dengan tampang tidak berdosa karena sudah menculik dirinya dan mengurungnya di mansion yang sialannya berada di tengah hutan belantara. Bayangkan saja, hutan belantara! Mencoba kabur? Jika selamat akan berakhir tersesat dan jika tidak selamat akan berakhir menjadi santapan hewan buas. "Lo nyadar gak sih kalau gue udah lo kurung selama seminggu?" Sebelum membalas pertanyaan Kath, Leo terlebih dahulu menghabiskan sepotong sandwich dan juga segelas susu. Hingga setelah sekian lama mereka diam satu sama lain, Kath sukses mengeluarkan decakan kesal. Leo yang dia baca di Secret Dark benar-benar persis seratus persen dengan apa yang dia lihat sekarang. Egois, cuek, dan yang lebih parah sering kali mendahulukan keinginannya daripada keinginan orang lain. Rasanya ingin sekali Kath melemparkan sepotong sandwich yang belum dia sentuh sama sekali tepat di wajah tampan Leo agar pria itu sadar bahwa Kath sedang berbicara dengan pria itu sekarang. "Anggap aja mansion ini rumah lo sendiri," ujar Leo setelah sekian lama Kath menunggu pria itu berbicara, "Lagipula sebentar lagi lo juga bakalan jadi nyonya di seluruh rumah yang gue punya," lanjutnya dengan nada datar sembari menatap ke arah Kath. Kath mengeryitkan dahi, tidak mengerti dengan apa yang baru saja didengarnya, "Maksud lo?" Bukannya menjawab pertanyaan Kath, Leo beralih melempar pertanyaan lain, "Lo gak makan?" Kath sontak menatap sarapannya yang sama dengan sarapan yang baru saja dihabiskan Leo. Setelah beberapa detik menatap makanannya barulah Kath menggelengkan kepalanya. "Gak nafsu," sarkas Kath. "Kalau gitu pertahankan sampai lo benar-benar mati karena kelaparan. Dengan begitu, gue gak perlu ngotorin tangan gue sendiri." Shit! Skakmat. "Bukannya lo yang memohon agar diselamatkan hidupnya? Tetapi yang gue lihat lo malah gak serius dengan kehidupan yang lo jalani," Leo bersidekap setelah mengatakan kalimat barusan. Pria itu tampak tengah menelisik raut muka Kath yang tengah menahan amarah. Hah, Kath sukses terbakar emosi sampai tanpa sadar dia berteriak, "Gue gak pernah ingat milih ngejalanin kehidupan bareng cowok bangsat macam lo!" Dengan suara pelan Leo membalas perkataan Kath, "Terus... dengan gue yang biarin lo bebas di luar sana, bakalan menjamin kehidupan lo tenang?" Kemudian dia bangkit dari duduk dan langkahnya tertuju ke arah Kath. Tepat di dekat Kath, Leo dengan cepat menggeser kursi yang diduduki oleh gadis itu hingga membuat Kath kini berhadapan dengan Leo yang berada di sampingnya. Leo mengeratkan genggaman tangan ke arah kedua sisi kursi, dengan tajam pria itu menatap Kath, "Musuh lo itu bukan hanya gue. Masih ada Sean yang masih mengharapkan kematian lo sebagai penebusan dari kematian keluarganya." Kath tercekat dalam diam, tertampar oleh kenyataan. Benar apa yang dikatakan Leo, dia tetap tidak aman walaupun dibebaskan sekalipun. Tetapi tetap saja Kath harus menghindar dari Leo terlebih dahulu agar bendera kematiannya tidak berkibar, karena Leo adalah malaikat maut Lilian yang akan membunuh dirinya dengan keji nantinya. "Gue bisa jaga diri gue sendiri,” ucap Kath menyakinkan diri. Leo mendorong sedikit kursi yang diduduki Kath tanpa menjatuhkannya, membuat Kath agak tersentak karena kaget, pria itu selanjutnya berkata, "Shit, untuk kali ini aja bisa gak sih lo balik jadi Lilian yang nurut?" Tidak mau kalah, Kath menjawab, "Terus kalau gue nurut nyawa gue bakalan selamat?" Leo mengeram, pria itu terlihat belum terbiasa dengan perubahan Lilian. "Be a good girl, patuh setiap apa yang gue suruh dan yang terpenting jangan coba-coba untuk kabur dari gue. Dengan begitu lo bakalan gue selamatkan dari maut." Seketika Kath merasa dia berhenti bernafas. Tunggu sebentar. apa dia sedang berhalusinasi sekarang? Mana mungkin malaikat maut Lilian tengah berusaha untuk melindunginya, mungkin saja itu hanyalah kalimat penenang sebelum bilah pisau menancap di jantungnya. "Kenapa lo mau menyelamatkan nyawa gue?" Kath berdehem untuk menormalkan degup jantungnya lalu kembali melanjutkan ucapannya. "Lo dan Sean yang paling menginginkan gue mati, bukan?" Leo terkekeh kecil, setelah itu kedua tangan pria itu menangkup wajah Kath dan berkata, "Maybe because I'm falling in love with you." Sumpah, rasanya Kath tidak dapat melakukan apapun tepat setelah Leo mengatakan hal tersebut. Karena belum sempat dia berbicara, Leo mencium bibirnya dalam jangka waktu yang cukup lama.Beberapa hari kemudian, tiba saatnya Lilian pada akhirnya akan dipertemukan dengan orang-orang yang dikenalnya, orang-orang yang dia tinggalkan demi menuntaskan keegoisannya sendiri. Leo mengundang mereka kemari, dengan dalih makan malam bersama sekaligus membicarakan bisnis. Lilian terlihat mengenakan gaun one piece berwarna ungu muda itu menggenggam telapak tangan Leo yang berada di samping. Mereka kini berada di ambang pintu kamar tidur mereka yang tertutup, pintu itu layaknya enggan terbuka sebelum Lilian siap menghadapi orang-orang di luar sana. "Aku masih takut... " keluh Lilian sembari menatap kearah pintu.Leo menatap Lilian beberapa detik sebelum mengusap pelan punggung tangan Lilian, "Aku ada di sini, temani kamu... jadi kamu gak perlu takut.""Aku tau...." Lilian tersenyum kecil, tetapi matanya masih dipenuhi keraguan. "Tapi tetpa saja rasanya menakutkan. Bagaimana jika mereka...""Kalau begitu pertemuannya kita tunda?"Lilian langsung menggelengkan kepalanya. Dirinya kem
Melepaskan jati diri bukanllah perkara yang mudah. Cukup sulit bagi Lilian menghilangkan masa lalunya dari pikirannya sendiri---, mulai dari kematian ibunya di tangan ayahnya sendiri, kemudian bergabungnya dirinya kembali ke keluarga Emanuel. Hingga kemudian kini dia malah terjebak kembali ke kehidupan Leo yang dahulu ingin sekali membunuhnya untuk membalaskan dendam kepada ayah kandung Lilian yang telah membuat orang tua Leo bunuh diri. Entah alasan apa yang membuat Leo tertarik dengannya. Beberapa kali Lilian mempertanyakan mengapa Leo menjadikan dirinya sebagai pendamping hidup pria itu, padahal jelas-jelas dirinya adalah anak dari orang yang menjadi alasan orang tua Leo meninggal dunia. "Kamu jatuh cinta padaku?" Pertanyaan Lilian nyaris membuatLeo yang sedang menyantap sarapan paginya tersedak. Refleks Lilian menyodorkan segelas air putih ke arah Leo yang langsung disambut oleh pria itu. Setelah meneguk air sampai habis. Leo menatap serius ke arah Lilian yang sudah terlebi
Lilian menarik nafas perlahan. Lalu dengan sisas kendali yang dia punya, Lilian mencoba tersenyum manis. Bibirnya melengkung sempurna, matanya sedikit menyipit agar terlihat normal di kamera. Di sampingnya, Leo meraih pinggangnya Lilian, menarik Lilian mendekat. tubuh mereka kini hanya berjarak tipis. Lilian menahan nafas. "Tatap satu sama lain, ya," pinta sang fotografer. Lilian tetap diam beberapa detik. Hingga secara perlahan dirinya mengangkat wajahnya. Tatapannya bertemu dengan manik mata Leo dan saat itu juga, sesat semua suara di sekitar mereka seperti menghilang. "Kamu kaku banget," gumam Leo pelan, dan hanya Lilian yang mendengarkannya. Dengan wajah memelas Lilian berucap, "Aku mau pulang...." Bayangkan saja, sejak tadi Lilian sudah sangat lelah. Di awali dengan memilihh gaun pengantin yang rasanya tidak ada ujungnya. Sampai kemudian, menjelang sore saat ini, dia harus berpose romantis bersama Leo. Klik. Suara kamera berbunyi. Mengabadikan memon yang tidak
Keesokan paginya, Lilian terbangun seperti biasa. Namun belum sempat kesadarannya terkumpul sepenuhnya, tubuhnya langsung tersentak kaget karena kehadiran seseorang yang berada di sampingnya. Leo, pria itu terbaring santai di sisinya. Satu tangan menopang kepala, menatapnya dengan senyuman tipis, berlagak seolah mereka memang menghabiskan malam bersama seperti pasangan pada umumnya. Nafas Lilian tercekat, dia tidak salah ingat, kemarin Mira benar-benar mengantarnya pulang ke toko, bahkan setelah itu Lilian sengaja menutup toko lebih awal dan mengurung diri di kamar untuk menghindari kemungkinan orang yang dikenalnya akan datang. Lalu sekarang mengapa Leo ada di sini? "Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Lilian, tubuhnya refleks menjauh. "Aku hanya ingin menjemputmu," jawab Leo santai. "Menjemputku?" "Kamu lupa?" Leo sedikit memiringkan kepalanya, "Hari ini kita cari gaun pernikahan, sekalian foto prewedding." Lilian menatap Leo tajam. Bukankah dia sudah menolak? dan s
Lilian kembali ke unit apartemennya yang sudah lama dia tinggalkan, bersama orang yang sama sekali tidak ingin dia temui. Bukan karena benci, melainkan dia tidak ingin hatinya tergoyahkan oleh perasaan lama. Lilian tidak ingin kembali menjadi dirinya yang dulu, dia tidak ingin kembali menjadi Emanuel. Maka dari itu dia harus menanggalkan seluruh hal mengenai Emanuel, termasuk Leo, pria yang duduk di hadapannya yang sangat berkaitan erat dengan keluarganya di masa lalu. Mereka kini berada di ruang tengah duduk saling berhadapan di sofa. sSuasana terasa kaku dipenuhi dengan ketegangan yang belum terselesaikan. Tampak di sisi Leo, Mira-- perempuan itu sebelumnya berada di depan pintu apartemennya, menunggu Leo dan Lilian datang. "Setelah ini, apa yang kamu mau?" tanyanya blak-blakan. Leo terkekeh pelan, seperti tidak percaya dengan situasi yang terjadi saat ini. sosok yang selama ini dia anggap sudah mati kini duduk di depannya, benar-benar bernafas dan berbicara dengannya.
Keesokan paginya, tidak seperti biasa Lilian tidak keluar dari kamarnya. Dia tetap berada di kamar pribadinya yang terletak di lantai 2 toko bunga miliknya, duduk santai di atas tempat tidur sambil menyantap semangkuk sereal dengan televisi di depannya yang menayangkan kartun favoritnya. Biasanya di jam seperti ini dia sudah berdiri di depan toko, menyambut pegawai yang datang satu persatu dan membantu membuka etalase atau sekedar berbincang ringan sebelum hari kerja dimulai. Namun hari ini berbeda, di hari peringatan kematiannya Lilian memilih menghindar. Dia tidak ingin mengambil risiko sekecil apapun untuk bertemu dengan orang-orang dari masa lalunya. Lilian malah di ponsel di sampingnya, layar menampilkan rekaman CCTV toko secara langsung, yang menampilkan para pegawainya yang sudah mulai bekerja seperti biasanya. Mengenai urusan toko Lilian tidak terlalu khawatir. Dia percaya pegawainya mampu melayani pelanggan dengan baik tanpa perlu diawasi secara langsung. Di waktu yang







