Share

Chapter 4

Author: Shine
last update Last Updated: 2026-01-15 19:20:08

Pagi ini suasana kediaman Emanuel digegerkan dengan berita hilangnya sang pewaris. Kepala keluarga Emanuel yaitu Reandra yang barusan mendengar salah satu putrinya menghilang bahkan hampir saja mengalami serangan jantung.

Kini Reandra sendiri sudah terbaring tidak berdaya di atas tempat tidur ditemani oleh putrinya yang lain bernama Kritaka yang terus saja berada di dekatnya sejak tadi pagi--- sebelum berita hilangnya Lilian tayang di televisi beberapa jam yang lalu.

Kritaka sendiri terbang jauh dari Amerika setelah mendapat kabar dari kakak laki-lakinya yang terlebih dahulu mengetahui kabar ini. Mereka sebenarnya tidak ingin Reandra mengetahui hal yang sebenarnya mengenai nasib Lilian, namun sialnya tadi siang Reandra malah ngotot ingin menonton berita di televisi yang tanpa diduga tengah memberitahu salah satu keturunan Emanuel yang paling berpengaruh kini dinyatakan menghilang sejak satu minggu yang lalu.

Saat sedang memeriksa tekanan darah Reandra dengan menggunakan sfigmomanometer yang memang selalu berada di kamar Reandra dikarenakan kondisi kesehatan sang kepala keluarga yang sedang tidak stabil, Kritaka dikejutkan dengan kedatangan kakak laki-lakinya, Gerald Emanuel.

"Biarkan papa diurus oleh dokter," ujar Gerald yang di sisinya sudah tampak seorang pria berpakaian jas berwarna putih khas dokter.

"Kakak lupa kalau aku juga seorang dokter, aku sendiri bisa mengurus..." ucapan Kritaka terpotong bersamaan dengan suara Gerald yang berusaha mendominasi.

"Ada hal yang harus kita bicarakan segera. Masalah papa biar dokter yang lebih profesional urus."

Kritaka akhirnya menyerah, berdebat dengan kakaknya bukanlah pilihan yang tepat dalam keadaan genting seperti sekarang.

Setelah meninggalkan papa mereka bersama dokter, Kritaka dan juga Gerald menuju ke arah ruang kerja Gerald di mansion ini. Memasuki ruang kerja Gerald, lantas gadis itu duduk di depan meja kerja Gerald sedangkan Gerald duduk di kursi kerjanya.

"Gue dengar dari anggota keluarga kita cuma lo yang sering ketemu Lilian." Gerald memulai pembicaraan dengan gaya angkuh, kedua tangannya terlipat di bawah dada sembari melihat lawan bicaranya dengan tatapan intimidasi. Namun tentu saja tatapan tersebut tidak mempan untuk Kritaka. Bukannya merasa takut, gadis itu malah berdecih sembari mengalihkan tatapannya ke arah samping.

Lagipula Kritaka sudah sering diperlakukan bagai seorang bawahan seperti ini oleh kakak tertuanya sadari kecil sehingga dia sudah terlalu kebal.

"Denger doang?" tanya Kritaka lebih ke arah menyindir karena nyatanya Gerald terlalu sibuk dengan perusahaan milik pria itu daripada memperhatikan Lilian ataupun Kritaka sendiri.

"Setidaknya... Walaupun gue jarang ketemu sama kalian, gue selalu mengawasi pergerakan kalian," ungkap Gerald yang tidak ingin disalahkan sama sekali.

Kritaka tertawa geli, "Mengawasi kata lo?" gadis itu lalu menggebrak meja dengan keras sembari menatap tajam ke arah Gerald, "Kalau lo becus mengawasi kami, kenapa bisa-bisanya Lilian menghilang?" teriak Kritaka dengan amarah yang menggebu-gebu.

"Jadi sekarang gue yang salah di sini?!"

Langsung saja, setelah mendengar bentakan dari Gerald, Kritaka memilih diam sembari menatap terkejut ke arah Gerald.

Ada yang berbeda dari Gerald sekarang. Entah mengapa Kritaka merasa bahwa dibalik suara keras Gerald barusan terbesit rasa khawatir yang mendalam.

Apa jangan-jangan Gerald mulai menganggap Lilian?

Tanpa disadari Kritaka yang tengah sibuk dengan pemikirannya, Gerald terlihat memejamkan matanya dan mulai menenangkan diri. Pria itu seharusnya yang lebih tenang dalam keadaan ini. Namun sialannya dia malah terbawa suasana akibat adiknya yang tampak seolah-olah menyalahkan dirinya atas hilangnya Lilian.

"Bagaimana jika kak Lilian benar-benar diculik? Terus dibun..."

"Jaga ucapan lo, Taka!" teriak Gerald yang sudah mulai tidak bisa mengontrol emosinya.

Kritaka mengacak rambutnya, tampak frustasi sembari menatap ke arah Gerald, "Kalau kita belum menemukan Kak Lilian secepatnya. Gue yakin setelah ini papa pasti nunjuk gue sebagai pewaris." ujar Kritaka gusar.

Gerald menaikkan sebelah alisnya setelah dia sadari Kritaka sudah mulai menunjukkan kegoyahannya, bukan hanya karena khawatir atas kehilangan Lilian yang anehnya seperti hilang di telah bumi, "Bukannya bagus?" tanyanya.

"Shit Kak, Gue ogah ikut campur dalam perusahaan kotor papa!" teriak Kritaka.

Benar bukan? Keduanya takut, begitu takut posisi menyeramkan yang tadinya berada dalam genggaman Lilian jatuh kepada salah satu dari mereka.

Dalam benak Gerald, dia setuju dengan apa yang dikatakan Kritaka. Kenyataannya, tidak ada satupun yang ingin mewarisi tahta kekuasaan Reandra, berbeda jika mereka sudah tidak waras sama seperti Lilian.

"Balik ke topik utama kita, gue mau dengar keadaan terakhir Lilian sebelum dia menghilang." tegas Gerald, seolah berusaha menghindar dari pembicaraan mereka sebelumnya mengenai pewaris karena bagaimanapun mereka harus secepatnya menemukan Lilian sebelum Reandra berubah pikiran dan memutuskan mengalihkan posisi pewaris dari Lilian.

Kritaka mengangguk lalu beberapa detik kemudian menggeleng setelah sebuah kejanggalan terbesit di pikirannya, "Gue ketemu kak Lilian di apartemennya seminggu yang lalu, terus kayak biasanya kami ngobrol di ruang tengah."

"Ada yang aneh dari gelagat Lilian?"

Kritaka menggeleng lirih, "Bukan gelagat kak Lilian, tapi ada satu hal yang menurut gue aneh pada saat itu."

Gadis itu mulai berbicara serius, dia bahkan tengah berusaha mengingat lagi apa yang dia lihat ketika berada di apartemen Lilian. "Gue lihat beberapa sepatu cowok di rak sepatu Lilian, terus keanehan lainnya yang gue inget itu aroma yang gue cium dari tubuh Lilian beda banget sama aroma parfum yang dia dipakai sehari-hari."

"Jadi di apartemen dia bukan hanya ada lo di sana?" tanya Gerald.

Kritaka mengangguk, "Gue gak berani nanya lebih jauh karena masalah privasi. And then gue gak pernah ngira Kak Lilian bakalan hilang," gadis itu menunduk dalam lalu dalam hitungan detik tiba-tiba saja menangis sesenggukan, "Kalau memang gue tau, gue pasti bakalan cari tau siapa yang ada di apartemen Kak Lilian saat itu."

Gerald berdecak dan segera mengambil ponselnya. Daripada menenangkan adiknya yang tengah menangis, pria itu memilih menghubungi seseorang.

"Kita akan geledah apartemen Lilian sekarang. Gue kesana lima belasan menit lagi dan jika tidak ada satupun orang di sana, siapkan diri kalian untuk pengunduran diri!"

----

Matanya menatap tajam ke arah pria yang tengah menikmati sarapan pagi. Walaupun ditatap sedemikian rupa, pria di hadapannya tidak berkutik sama sekali, bahkan terlihat santai dengan tampang tidak berdosa karena sudah menculik dirinya dan mengurungnya di mansion yang sialannya berada di tengah hutan belantara.

Bayangkan saja, hutan belantara! Mencoba kabur? Jika selamat akan berakhir tersesat dan jika tidak selamat akan berakhir menjadi santapan hewan buas.

"Lo nyadar gak sih kalau gue udah lo kurung selama seminggu?"

Sebelum membalas pertanyaan Kath, Leo terlebih dahulu menghabiskan sepotong sandwich dan juga segelas susu. Hingga setelah sekian lama mereka diam satu sama lain, Kath sukses mengeluarkan decakan kesal.

Leo yang dia baca di Secret Dark benar-benar persis seratus persen dengan apa yang dia lihat sekarang. Egois, cuek, dan yang lebih parah sering kali mendahulukan keinginannya daripada keinginan orang lain.

Rasanya ingin sekali Kath melemparkan sepotong sandwich yang belum dia sentuh sama sekali tepat di wajah tampan Leo agar pria itu sadar bahwa Kath sedang berbicara dengan pria itu sekarang.

"Anggap aja mansion ini rumah lo sendiri," ujar Leo setelah sekian lama Kath menunggu pria itu berbicara, "Lagipula sebentar lagi lo juga bakalan jadi nyonya di seluruh rumah yang gue punya," lanjutnya dengan nada datar sembari menatap ke arah Kath.

Kath mengeryitkan dahi, tidak mengerti dengan apa yang baru saja didengarnya, "Maksud lo?"

Bukannya menjawab pertanyaan Kath, Leo beralih melempar pertanyaan lain, "Lo gak makan?"

Kath sontak menatap sarapannya yang sama dengan sarapan yang baru saja dihabiskan Leo. Setelah beberapa detik menatap makanannya barulah Kath menggelengkan kepalanya.

"Gak nafsu," sarkas Kath.

"Kalau gitu pertahankan sampai lo benar-benar mati karena kelaparan. Dengan begitu, gue gak perlu ngotorin tangan gue sendiri."

Shit! Skakmat.

"Bukannya lo yang memohon agar diselamatkan hidupnya? Tetapi yang gue lihat lo malah gak serius dengan kehidupan yang lo jalani," Leo bersidekap setelah mengatakan kalimat barusan. Pria itu tampak tengah menelisik raut muka Kath yang tengah menahan amarah.

Hah, Kath sukses terbakar emosi sampai tanpa sadar dia berteriak, "Gue gak pernah ingat milih ngejalanin kehidupan bareng cowok bangsat macam lo!"

Dengan suara pelan Leo membalas perkataan Kath, "Terus... dengan gue yang biarin lo bebas di luar sana, bakalan menjamin kehidupan lo tenang?" Kemudian dia bangkit dari duduk dan langkahnya tertuju ke arah Kath. Tepat di dekat Kath, Leo dengan cepat menggeser kursi yang diduduki oleh gadis itu hingga membuat Kath kini berhadapan dengan Leo yang berada di sampingnya.

Leo mengeratkan genggaman tangan ke arah kedua sisi kursi, dengan tajam pria itu menatap Kath, "Musuh lo itu bukan hanya gue. Masih ada Sean yang masih mengharapkan kematian lo sebagai penebusan dari kematian keluarganya."

Kath tercekat dalam diam, tertampar oleh kenyataan. Benar apa yang dikatakan Leo, dia tetap tidak aman walaupun dibebaskan sekalipun.

Tetapi tetap saja Kath harus menghindar dari Leo terlebih dahulu agar bendera kematiannya tidak berkibar, karena Leo adalah malaikat maut Lilian yang akan membunuh dirinya dengan keji nantinya.

"Gue bisa jaga diri gue sendiri,” ucap Kath menyakinkan diri.

Leo mendorong sedikit kursi yang diduduki Kath tanpa menjatuhkannya, membuat Kath agak tersentak karena kaget, pria itu selanjutnya berkata, "Shit, untuk kali ini aja bisa gak sih lo balik jadi Lilian yang nurut?"

Tidak mau kalah, Kath menjawab, "Terus kalau gue nurut nyawa gue bakalan selamat?"

Leo mengeram, pria itu terlihat belum terbiasa dengan perubahan Lilian.

"Be a good girl, patuh setiap apa yang gue suruh dan yang terpenting jangan coba-coba untuk kabur dari gue. Dengan begitu lo bakalan gue selamatkan dari maut."

Seketika Kath merasa dia berhenti bernafas. Tunggu sebentar. apa dia sedang berhalusinasi sekarang? Mana mungkin malaikat maut Lilian tengah berusaha untuk melindunginya, mungkin saja itu hanyalah kalimat penenang sebelum bilah pisau menancap di jantungnya.

"Kenapa lo mau menyelamatkan nyawa gue?" Kath berdehem untuk menormalkan degup jantungnya lalu kembali melanjutkan ucapannya. "Lo dan Sean yang paling menginginkan gue mati, bukan?"

Leo terkekeh kecil, setelah itu kedua tangan pria itu menangkup wajah Kath dan berkata, "Maybe because I'm falling in love with you."

Sumpah, rasanya Kath tidak dapat melakukan apapun tepat setelah Leo mengatakan hal tersebut. Karena belum sempat dia berbicara, Leo mencium bibirnya dalam jangka waktu yang cukup lama.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak Dalam Novel   Chapter 27

    Keesokan paginya, tidak seperti biasa Lilian tidak keluar dari kamarnya. Dia tetap berada di kamar pribadinya yang terletak di lantai 2 toko bunga miliknya, duduk santai di atas tempat tidur sambil menyantap semangkuk sereal dengan televisi di depannya yang menayangkan kartun favoritnya. Biasanya di jam seperti ini dia sudah berdiri di depan toko, menyambut pegawai yang datang satu persatu dan membantu membuka etalase atau sekedar berbincang ringan sebelum hari kerja dimulai. Namun hari ini berbeda, di hari peringatan kematiannya Lilian memilih menghindar. Dia tidak ingin mengambil risiko sekecil apapun untuk bertemu dengan orang-orang dari masa lalunya. Lilian malah di ponsel di sampingnya, layar menampilkan rekaman CCTV toko secara langsung, yang menampilkan para pegawainya yang sudah mulai bekerja seperti biasanya. Mengenai urusan toko Lilian tidak terlalu khawatir. Dia percaya pegawainya mampu melayani pelanggan dengan baik tanpa perlu diawasi secara langsung. Di waktu yang

  • Terjebak Dalam Novel   Chapter 26

    Di belahan kota lain kehidupan berjalan dengan ritmenya sendiri. Lampu studio menyala terang memantul pada lantai putih mengkilap. suara kamera berbunyi bertubi-tubi diiringi arahan fotografer yang tengah memastikan model di depannya bergerak sesuai keinginannya. "Good! Hold that pose, jangan bergerak." Sean berdiri di tengah set pemotretan, mengenakan setelan hitam elegan yang jatuh sempurna di tubuhnya. Ekspresinya begitu profesional, berbeda jauh dari pria flamboyan yang dulu sering dianggap hanya mengandalkan wajah tampan. Kini namanya berada di puncak industri model, wajahnya terpampang di Billboard besar, majalah fashion nasional, hingga kampanye merek-merek ternama. Dia menurunkan dagunya sedikit, mengikuti arahan kamera lalu mengubah pose dengan gerakan halus yang sudah menjadi refleks. "Kita ambil satu pose terakhir!" Beberapa menit kemudian sesi pemotretan selesai. Sean menerima handuk kecil dari staf dan mengusap keringat tipis yang membasahi pelipisnya.

  • Terjebak Dalam Novel   Chapter 25

    Seorang perempuan tertidur di atas kursi goyang, yang dikelilingi oleh deretan pot bunga yang tertata rapi. Aroma tanah basah dan wangi kelopak memenuhi udara di sekitarnya. Sebuah majalah menutupi wajahnya, yang sebelumnya sempat dia buka dan baca sebelum akhirnya tertidur tanpa sadar. "Untuk bunga lilynya perlu kita warnai? Kelihatannya terlalu polos kalau tetap putih, apalagi untuk edisi hari valentine." Suara seseorang memecahkan keheningan, membangunkannya dari tidur singkat. Akibatnya, majalah yang menutupi wajahnya pun terjatuh di pangkuannya. Perempuan itu mengerjakan mata beberapa kali berusaha mengumpulkan kesadarannya. Cahaya sore menyelinap diantara kaca-kaca rumah bunga, jatuh lembut di rambutnya yang sedikit berantakan "Jam berapa sekarang... ?" gumamnya serak. "Jam lima sore. Toko juga sudah hampir tutup, Bu.," jawab karyawan muda di depannya sambil merapikan deretan bunga lily yang baru datang siang tadi. Perempuan itu bangkit perlahan dari kursi goy

  • Terjebak Dalam Novel   Chapter 24

    Dua hari setelah penusukan itu ada terjadi, Lilian terbaring tidak bergerak di ranjang ruang perawatan intensif. Tubuhnya dipenuhi selang medis, mesin monitor berdetak perlahan mengikuti detak jantungnya yang kini melemah. Pendarahan hebat yang dialaminya membuat kondisinya kritis dan sejak saat itu Lilian tidak pernah kembali sadar. Kritaka menjadi orang yang paling sibuk mengurus seluruh kebutuhan medisnya. Perempuan itu hampir tidak pernah pulang untuk memastikan semua prosedur terbaik telah diberikan untuk kakaknya. Gerald datang hampir setiap hari. Namun ada satu orang yang bahkan lebih sering berada di sana yaitu Leo, calon suami Lilian yang dipilihkan oleh keluarganya. Pria itu tidak pernah absen menjenguk, Leo hanya duduk diam di kursi samping ranjang dan menatap wajah Lilian yang pucat tanpa banyak bicara. Siang ini, pintu ruang rawat terbuka perlahan. Terlihat Lea, asisten pribadi Lilian masuk sambil membawa beberapa berkas tebal di tangannya. "Ini dokumen akuisisi y

  • Terjebak Dalam Novel   Chapter 23

    Waktu yang tertinggal terasa sangat cepat sekali dan Lilian melewatinya tanpa mendapatkan pencerahan mengenai keselamatan hidupnya. Sampai kemudian dia berakhir di hari ini, hari dimana Lilian akan dibunuh sesuai dengan ramalan Orea yang tertuang dalam buku Secret Dark. Lilian menatap ke arah cermin yang memperlihatkan seluruh tubuhnya yang terbungkus gaun merah sepanjang mata kaki. Wajahnya yang sebelumnya sudah pucat--- karena cukup tertekan akibat memikirkan kematian, sudah terpoles cantik dengan make up tipis. Kakinya pun sudah lumayan pulih dan dapat digerakkan, walaupun dia masih harus berjalan dengan hati-hati. Lilian tidak bisa menghindari, terlebih Reandra sudah mengingatkan acara ini jauh-jauh hari. Acara peresmian gedung baru yang berhasil dibangun oleh Reandra dan beberapa investor lainnya hari ini merupakan pintu utama Lilian untuk masuk ke dalam jurang kematian. Setelah itu, jika mengikuti ramalan Orea. Lilian akan dibunuh oleh Leo dan Sean, di apartemen tempat Lil

  • Terjebak Dalam Novel   Chapter 22

    Kakinya sudah jauh lebih baik. Lilian memilih beristirahat total, menahan diri untuk tidak memaksakan apapun selama beberapa hari ini, termasuk bernegoisasi langsung pada Gerald terkait rencana akuisisi yang ingin dia jalankan.Sisa waktunya sebelum ramalan kemattian tersisa dua hai lagi. Untuk mempersiapkan hari itu Lilian tidak boleh terlihat lemah, apalagi sakit seperti yang tengah terjadi padanya saat ini. Maka dia harus secepatnya pulih agar semua yang dia rencanakan dapat berjalan sesuai kemauannya.Sore ini, Lilian berada di apartemennya bersama Kritaka. Keduanya duduk di balkon, menikmati teh hangat sambil memandangi jajaran gedung-gedung tinggi yang menjulang di hadapan mereka. Angin berhembus pelan, mengantarkan suasana tenang bagi Lilian maupun Kritaka.Di tengah keheningan, Lilian membuka suara. "Lo dekat sama Sean?"Kritaka yang tengah menatap pemandangan di sekitarnya menoleh ke arah Lilian, alisnya terangkat. "Sean? Teman lo itu?"Lilian mengangguk."Enggak terlalu," ja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status