Share

DIA, SANG PRESDIR?

Author: Kak Upe
last update Last Updated: 2025-01-28 21:09:41

Matahari pagi menyelinap melalui jendela kotor gudang penyimpanan, menebar cahaya keemasan pada debu-debu yang beterbangan di udara. Valerie menghela napas panjang, jari-jarinya yang masih lelah memegang troli dorong penuh bahan kain.

"Andaikan aku tidak menamparnya..."

Pikiran itu terus mengusik. Tangannya yang kemarin menghantam pipi si pria brengsek itu terasa panas kembali. Bukan karena menyesal telah membela diri—tapi karena sekarang dia menganggur.

"Duh, kepalaku!"

Vanya, sahabatnya sejak SMA, langsung menoleh. Rambut pendeknya yang ikal berayun saat dia melompat dari tumpukan kardus.

"Masih memikirkan si brengsek malam kemarin?" Vanya menyeringai, menggigit donat di tangannya. "Kalau aku jadi kau, Vee, laki-laki brengsek itu tidak cuma aku tampar—aku tonjok, tendang, lalu gelindingkan dia keluar klub pake kakiku sendiri!"

Valerie tak bisa menahan tawa. Vanya selalu begitu—berapi-api, seperti kobaran yang tak pernah padam.

"Ah, kau ini..." Valerie menggeleng, tapi senyum kecil muncul. "Tapi setidaknya aku masih punya pekerjaan di sini."

Vanya tiba-tiba memeluknya erat dari belakang, membuat kacamata tebal Valerie melorot ke hidung.

"Semangat, Vee! Kita bisa lewatin ini!"

Valerie membetulkan kacamatanya, mencoba menyembunyikan mata berkaca-kaca. "Ayo ke gudang. Kalau terlambat, Pak Dika marah."

Vanya langsung melotot.

"Pak Dika?!" Suaranya melengking. "Sejak kapan kau memanggil pacarmu sendiri 'Pak'? Hfff! Sok profesional banget sih!"

Valerie tersipu. "Dia atasan kita di bagian produksi, Van. Harus profesional."

"Booooring!" Vanya mendorong trolinya dengan semangat berlebihan, hampir menabrak tumpukan kain. "Ayo, sebelum 'Pak Dika'-mu ngamuk karena kita molor!"

***

Valerie dan Vanya berjalan berdampingan menuju lift. Saat membelok di sudut koridor, Valerie tiba-tiba membeku. Jantungnya berhenti berdetak.

Di depan lift, berdiri sosok yang baru saja menghantui pikirannya.

Pria itu-

Pria yang semalam menatapnya dengan mata penuh amarah di klub malam, kini berdiri tegak dalam setelan jas hitam yang sempurna.

Jas Tom Ford itu membungkus tubuh atletisnya dengan sempurna, membuatnya terlihat seperti predator yang sedang beristirahat.

Rambut hitamnya tersisir rapi, tapi tatapan mata biru baja itu tetap sama menusuknya.

Dia tidak sendirian. Dua eksekutif dengan tablet di tangan berdiri di sampingnya, sementara satu lagi—bodyguard setianya—berdiri sigap di belakang.

Valerie buru-buru menunduk, bersembunyi di balik kacamata besarnya yang tebal. Tolong jangan kenali aku, doanya dalam hati.

Penampilannya sekarang sangat berbeda dari kemarin malam. Tak ada pakaian seksi pelayan klub. Tak ada rambut yang dikepang dua. Hanya ada seragam kerja sederhana, rambut yang diurai biasa, dan kacamata tebal yang sengaja dipakainya untuk menyembunyikan wajah.

"Ya Tuhan, apapun alasan dia datang ke sini, tolong jangan sampai dia mengenaliku!"

Dengan kepala masih tertunduk, Valerie berusaha masuk ke lift sambil mendorong trolinya. Tapi karena terlalu fokus menghindari tatapan Zane, trolinya nyaris menabrak Zane.

Anton dengan sigap menahan troli itu sebelum mengenai Zane.

Zane mengangkat alis, melirik sekilas ke arah Valerie. Selama tiga detik yang terasa seperti tiga abad, mata birunya menyapu tubuh Valerie dari atas ke bawah.

Lalu, dengan sikap acuh tak acuh, dia kembali fokus pada iPad di tangannya.

"Vee, kau gila?" bisik Vanya panik, menarik lengan Valerie. "Kau hampir menabrak Pak Presdir! Kau mau dipecat?"

Deg!

Pak Presdir?!

Valerie diam-diam mengangkat pandangannya sedikit. Ya Tuhan! Pria yang semalam dia tampar ternyata adalah Presiden Direktur perusahaan tempatnya bekerja?

"Ini mimpi buruk. Pasti. Aku pasti masih tertidur."

"Vee?" Vanya memanggil lagi, tapi Valerie terlalu sibuk berusaha tidak pingsan.

"VEEE!"

Valerie tersentak. "Ya?!"

"Ayo keluar! Kita sudah sampai!" Vanya menunjuk pintu lift yang terbuka lebar.

Valerie baru menyadari dia berdiri tepat di depan pintu lift, menghalangi jalan orang-orang di belakangnya. Dengan perasaan segan, dia segera mendorong trolinya keluar—terlalu cepat—hampir membuatnya tersandung.

"Hei! Tunggu!" teriak Vanya dari belakang, terpaksa ikut berlari mengejar Valerie.

Nafas Valerie turun naik sebab ia berjalan sangat cepat menyusuri koridor, jantungnya berdegup kencang.

"Dia tidak mengenaliku. Pasti tidak."

Di dalam lift yang pintunya mulai menutup, Zane mengangkat sudut bibirnya dalam senyum tipis.

"Tolong siapkan data semua karyawan bagian produksi," bisiknya pada asistennya tanpa mengalihkan pandangan dari sosok yang sedang berjalan tergesa-gesa itu. "Terutama... yang berkacamata tebal."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Kak Upe
terima kasih telah mampir ya .....
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Terjebak Gairah Sang Cassanova   BAB 208 (BONCHAP)

    "Tolong, sate dan minuman ini diantarkan ke ruang Pak Zane, ya," pinta Valerie pada staf kantin dengan senyum ramah. Dengan cermat, dia meletakkan selembar kertas kecil bertuliskan pesan rahasia di bawah tutup kotak sate. "Dan dua gelas jus jeruk ini untuk kedua wanita yang ada di dalam ruangannya," tambahnya sambil menunjuk kedua gelas yang sudah disiapkan."Baik, Bu," jawab staf kantin itu dengan sigap. Sejak kejadian di hotel yang viral di media, hampir semua karyawan perusahaan telah mengenali Valerie sebagai istri sang pemilik, Zane Hardata."Sekarang, aku tinggal menunggu telepon darinya," gumam Valerie sambil berjalan santai menuju ruangan Zane. Dia yakin, begitu pesanan sate itu tiba, Zane pasti akan segera menghubunginya.***Di dalam ruangan Zane, situasi semakin memanas. Natasya yang awalnya berusaha tampil elegan, kini mulai kehilangan kesabaran dan membalas setiap kata-kata kasar Anita. Suara mereka saling tindih, memenuhi ruangan yang seharusnya tenang.Zane melirik jam

  • Terjebak Gairah Sang Cassanova   BAB 207 (BONCHAP)

    "Masuk..." sahut Zane dari balik pintu ruangannya, suaranya datar.Pintu terbuka, dan Natasya masuk dengan langkah penuh percaya diri. "Hai... Zane! Apa aku mengganggu?" sapanya dengan suara yang sengaja dibuat lembut dan merdu."Tidak. Masuklah, Natasya," jawab Zane singkat tanpa membalas sapaan hangatnya. Dia berjalan menuju sofa di tengah ruangan, menandakan percakapan ini akan berlangsung singkat. "Duduklah. Ada apa kau mencariku?""Aku... heem..." Natasya mulai dengan nada ragu, duduk di hadapan Zane. "Sewaktu peragaan busana di hotel, aku belum sempat menjelaskan keterkaitanku dengan Johan. Sungguh, aku takut kau salah paham padaku, Zane.""Aku tidak berpikiran buruk padamu, Natasya," jawab Zane tetap singkat, matanya sesekali melirik ke arah pintu, seolah menunggu seseorang."Tapi aku sungguh merasa tidak enak, Zane," lanjut Natasya, tiba-tiba berpindah tempat duduk. Dari yang awalnya di hadapan Zane, kini dia duduk persis di sampingnya, jarak mereka menjadi sangat dekat.Zane

  • Terjebak Gairah Sang Cassanova   BAB 206 (BONCHAP)

    "Wah... Nyonya Hardata sudah datang?" sapa Angela dengan nada ramah yang agak berlebihan, saat Valerie memasuki ruang kerja. Dia sedang duduk santai bersama Natasya di area lounge kecil."Hai, Valerie..." sambut Natasya dengan senyum manis yang jelas-jelas dipaksakan, matanya berbinar dengan kepalsuan yang mudah dibaca."Pagi, Angela. Pagi, Natasya," balas Valerie singkat sambil menuju meja kerjanya. Dia tidak ingin terlibat percakapan lebih jauh dengan mereka."Pagi, Moon..." sapanya lagi pada rekan kerjanya yang duduk di meja sebelah."Pagi, Valerie," jawab Moon dengan nada datar seperti biasa. Fakta bahwa Valerie adalah istri direktur utama tidak mengubah sikap profesional Moon padanya.Valerie dan Moon kemudian fokus pada pekerjaan masing-masing. Sesekali, mata Valerie tertuju pada kursi kosong Johan. Dia mengira Johan sedang mengambil cuti untuk memulihkan diri setelah skandal yang menghebohkan itu. Berita tentang kejadian di hotel telah viral di media, wajar jika Johan butuh wak

  • Terjebak Gairah Sang Cassanova   BAB 205 (TAMAT)

    "Serius mau ke kantor hari ini?" tanya Valerie dengan suara penuh perhatian, matanya menyelidiki wajah Zane yang terlihat pucat dan lesu. Semalaman suaminya itu menderita, tidak bisa makan apa pun dan terus-menerus muntah, membuatnya khawatir."Heem... Aku tidak bisa selalu membuat Belvan lembur hingga pagi di perusahaan, Sayang," jawab Zane lemah sambil duduk di tepi sofa, membiarkan Valerie dengan cermat memasangkan dasi untuknya. Nafsu makannya masih nol, dan tubuhnya terasa lemas."Cup.." Valerie mencium kening Zane, hati tersayat melihat kondisi suaminya. Rasa kasihan yang dalam membuatnya ingin merawat Zane sebaik mungkin.Zane merespons dengan memeluk pinggang Valerie, menariknya mendekat dan menikmati kehangatan pelukan singkat itu, mencari sedikit kekuatan sebelum menghadapi hari."Yakin tetap mau ke kantor?" tanya Valerie sekali lagi, tangannya lembut mengelus kepala Zane."Heem..." Zane mengangguk pelan."Kalau gitu, sarapan ini dimakan dulu, ya?" Valerie menunjuk piring be

  • Terjebak Gairah Sang Cassanova   BAB 204

    "Astaga! Aku lihat sendiri kalau Bibik memasukkan gula dan susu, Zane. Tidak ada yang memasukkan garam," gerutu Valerie, sedikit kesal karena dituduh mengerjai suaminya. Untuk membuktikan ketidakbersalahannya, dia mengambil gelas berisi sisa jus mangga itu dan bersiap meminumnya.Saat gelas hampir menyentuh bibir Valerie, Zane dengan cepat mencegahnya, tangan besar itu memegangi pergelangan tangan istrinya dengan lembut namun tegas. "Jangan! Nanti kau sakit perut minum jus garam itu," protesnya. Meski kesal karena dikira sedang dijahili, Zane sama sekali tidak tega membiarkan Valerie meminum sesuatu yang menurutnya terasa asin hanya untuk membuktikan sebuah titik.Valerie melepaskan genggaman Zane dengan lembut. "Sayang, tidak ada yang memasukkan garam ke dalam jus ini. Lihat dan perhatikan baik-baik," bujuknya sebelum meneguk habis sisa jus mangga di gelas itu tanpa ragu.Zane bergidik ngeri, membayangkan betapa tidak enaknya rasa asin yang harus ditelan istrinya. "Kau baik-baik saja

  • Terjebak Gairah Sang Cassanova   BAB 203

    "Rumah ini terasa kosong ya, Zane, sejak Tama pindah ke rumah barunya," ujar Valerie sambil dengan lembut mengelus rambut Zane yang sedang tiduran dengan kepala di pangkuannya. Suasana sore yang tenang di ruang keluarga rumah besar mereka terasa sedikit berbeda tanpa kehadiran si bungsu yang biasanya riuh."Tidak juga," jawab Zane singkat sambil mencium perut Valerie yang mulai terlihat membulat. "Tama itu jarang di rumah sebenarnya. Dia suka kelayapan tidak jelas. Hanya sejak kau ada di rumah inilah Tama lebih sering berada di rumah.""Benarkah?" tanya Valerie, sedikit terkejut."Heem..." jawab Zane sambil menutup matanya, menikmati sentuhan lembut jari-jari Valerie di rambutnya."Kira-kira Tama—" Ucapan Valerie terhenti mendadak ketika Zane tiba-tiba mengangkat kepala dan mencium bibirnya. "Cup."Valerie tertegun, matanya membelalak. "Zane!""Kalau kau masih membicarakan Tama, maka aku akan kembali menciummu," ancam Zane dengan sorot mata cemburu yang jelas terlihat. Bibirnya menyung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status