Share

2. Kembang Hutan

Penulis: Lincooln
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-13 18:11:11

Tahun-tahun berlalu secepat aliran sungai di belakang gubuk. Wulan, bayi yang ditemukan di antara anyir darah dan keheningan hutan larangan, kini telah mekar menjadi seorang gadis.

Kecantikannya bukan lagi bisik-bisik di antara para tetangga, melainkan sebuah kenyataan yang menyilaukan mata setiap kali ia melintas di jalanan desa.

Kulitnya yang putih pucat seperti kelopak melati yang belum tersentuh embun pagi, berkilau di bawah terik matahari, kontras dengan kulit sawo matang para gadis desa lainnya.

Sepasang matanya yang besar dan berwarna kelam dihiasi bulu mata lentik yang melengkung sempurna, dinaungi alis lurus yang membuat tatapannya selalu tampak sendu, seolah menyimpan duka yang tak terucap.

Bibir tipisnya yang selalu basah berwarna merah delima, seakan baru saja menyantap buah ranum, membingkai deretan gigi yang putih dan rapi.

Ningsih tak pernah memberinya bedak dingin atau lulur rempah seperti yang dilakukan ibu-ibu lain pada anak gadis mereka. Makanan mereka hanyalah hasil kebun dan tangkapan sungai. Namun, tubuh Wulan tumbuh dengan subur.

Kain jarik kusam yang membalutnya tak mampu menyembunyikan dadanya yang padat membusung, pinggangnya yang ramping, dan bokongnya yang sintal berisi, bergoyang pelan mengikuti irama langkahnya.

Suatu sore, saat mereka berdua duduk di beranda gubuk, menyortir ubi hasil panen, Wulan menghentikan gerakannya. Ia menatap ketiaknya yang terangkat, lalu memandang Ningsih dengan tatapan bingung.

"Mbok."

"Ya, Nduk?" Ningsih menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan ubi di pangkuannya.

"Kenapa aku tidak seperti Rumi dan Sri?"

Ningsih menoleh, alisnya berkerut. "Tidak seperti bagaimana?"

"Mereka bilang, kalau sudah besar, bulu-bulu akan tumbuh di sini," Wulan menunjuk ketiaknya, "dan di bawah sana. Tapi aku tidak punya. Kulitku licin saja. Apa aku sakit, Mbok?"

Jantung Ningsih seakan berhenti berdetak sesaat. Ia menelan ludah, tenggorokannya terasa kering.

Pertanyaan yang selama ini ia pendam dalam-dalam, ketakutan yang ia kubur di bawah kasih sayangnya, kini diucapkan dengan polos oleh Wulan sendiri.

Ia menatap putrinya, meneliti setiap jengkal kulit mulus yang terpapar. Benar. Tak ada sehelai pun rambut halus yang mengganggu kemurnian kulit itu.

Ningsih meraih tangan Wulan, menggenggamnya erat. "Kamu tidak sakit, Nduk. Kamu... istimewa."

Suaranya bergetar, dan ia segera membuang muka, kembali sibuk dengan ubi-ubinya, menyembunyikan keraguan yang membayangi wajah tuanya.

Sejak hari itu, setiap kali memandang Wulan, Ningsih tak hanya melihat seorang anak, tetapi juga sebuah teka-teki yang menakutkan.

Di desa, keistimewaan Wulan menjadi tembok yang memisahkannya dari dunia. Saat kecil, anak-anak lain menjauhinya, mengejeknya 'anak kunti' karena kulitnya yang terlalu pucat. Namun, ejekan itu berubah bentuk saat dia dewasa.

Para gadis kini melemparkan tatapan iri yang tajam, berbisik-bisik di belakang punggungnya setiap kali ia lewat.

Sementara para lelaki, dari yang bujang hingga yang sudah beranak-cucu, menatapnya dengan pandangan lapar yang tak bisa disembunyikan.

Wulan menjadi penyendiri, dunianya hanya sebatas gubuk, kebun, dan aliran sungai.

Sungai adalah satu-satunya tempat ia merasa bebas. Setiap sore, saat matahari mulai condong ke barat, ia akan turun ke pancuran.

Para gadis lain yang sedang mandi atau mencuci akan bergeser menjauh begitu melihat kedatangannya, menciptakan ruang kosong di sekeliling Wulan, membuatnya mencolok sendirian di tengah riuh rendah tawa dan celoteh mereka.

Awalnya, ia merasa risih. Tatapan-tatapan sembunyi dari balik semak-semak dan rumpun bambu di seberang sungai membuatnya takut.

Ia bisa merasakan puluhan mata lelaki menusuk punggungnya, menelanjangi setiap lekuk tubuhnya yang hanya terbalut kemben basah. Jantungnya berdebar kencang, napasnya memburu.

Namun, di antara rasa takut itu, tumbuh sesuatu yang lain. Sesuatu yang hangat dan menggelitik, menjalar dari perut bagian bawahnya ke seluruh tubuh. Sebuah gairah aneh yang belum pernah ia kenal.

Ia menoleh perlahan ke arah semak yang bergoyang. Ia tahu ada beberapa pemuda di sana. Ia bisa mendengar napas mereka yang tertahan.

Alih-alih bergegas menutupi diri, Wulan justru membiarkan kembennya sedikit melorot, memperlihatkan puncak dadanya yang bulat.

Ia membungkuk, sengaja membiarkan air membasahi punggungnya, menjiplak bentuk bokongnya yang padat di balik kain jarik yang basah.

Desahan tertahan terdengar dari seberang sungai, dan sensasi geli itu kembali menjalari tubuhnya. Ia menikmatinya.

"Wulan, kau mandi cepat sekali hari ini?" Suara Rumi terdengar ketus dari kejauhan.

Wulan hanya tersenyum tipis tanpa menjawab. Ia tak peduli.

"Awas nanti kesambet penunggu sungai kalau mandi sendirian di sana," timpal Sri, disusul tawa cekikikan gadis-gadis lain.

Wulan mengabaikan mereka. Ia justru berjalan lebih jauh ke arah hulu, ke bagian sungai yang lebih sepi, di mana aliran air lebih deras dan bebatuan lebih besar, terlindung oleh rimbunnya pepohonan.

Tempat ini lebih dekat dengan tepi hutan larangan. Tak ada gadis lain yang berani mandi di sini. Tapi Wulan tahu, para pengintipnya akan mengikutinya.

Di sana, di kolam kecil yang terbentuk oleh cekungan batu, ia berhenti. Suasana sepi, hanya terdengar suara gemericik air dan desau angin.

Ia menoleh ke sekeliling, merasakan tatapan-tatapan itu semakin intens, semakin dekat. Bibirnya menyunggingkan senyum misterius.

Perlahan, ia melonggarkan ikatan kain jarik di dadanya. Kain basah itu meluncur turun dengan mulus, menyingkap sepenuhnya tubuh polosnya yang berkilauan ditimpa sisa cahaya matahari.

Kulitnya yang putih memantulkan warna keemasan, kontras dengan rambut hitamnya yang basah dan menempel di punggung.

Ia melangkah masuk ke dalam air yang dingin, membiarkan aliran sungai memeluk tubuhnya. Rasa dingin itu membuatnya sedikit menggigil, membuat puncak dadanya yang berwarna merah muda menegang.

Ia berenang perlahan, gerakannya anggun seperti ikan. Lalu, ia berhenti di tengah kolam, membelakangi semak-semak tempat para lelaki bersembunyi.

Ia mengangkat kedua tangannya ke atas, meregangkan tubuhnya dengan malas. Otot punggungnya menegang, menonjolkan lekukan pinggangnya yang ramping.

Ia memiringkan kepalanya, membiarkan rambutnya yang panjang tergerai di air. Gerakan itu membuat bokongnya yang bulat dan kencang terangkat sedikit dari permukaan air, memperlihatkan belahan di antara kedua daging padat itu.

Kemudian, ia membalikkan badan, menghadap langsung ke arah persembunyian mereka.

Ia tak lagi peduli. Rasa malu telah menguap, digantikan oleh kekuasaan aneh yang ia rasakan saat ini.

Ia sengaja mengapung telentang, membiarkan air menopang tubuhnya. Dadanya yang montok menyembul dari permukaan air, bergoyang lembut seirama riak sungai.

Pangkal pahanya yang bersih tanpa sehelai rambut pun, dengan kelopak merah yang merekah di tengahnya, terpapar jelas di bawah permukaan air yang jernih.

Dari balik rumpun bambu, beberapa pasang mata terpaku. Napas mereka berat dan terengah-engah. Tangan mereka tanpa sadar meremas apa pun yang bisa dipegang—akar, tanah, bahkan sarung mereka sendiri.

Mereka adalah para pemuda desa, para suami orang, bahkan beberapa lelaki tua. Di hadapan pemandangan ini, mereka semua menjadi budak nafsu yang sama.

Wulan tersenyum. Ia tahu mereka ada di sana, menelannya dengan mata mereka. Dan ia membiarkannya.

Ia memberikan mereka pertunjukan. Ia menjadi bunga terlarang yang mekar di tepi hutan, keindahan liar yang bisa dinikmati dari kejauhan, tetapi tak pernah bisa disentuh. Ia adalah kembang hutan mereka.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjebak Gairah Siluman   165. Kepuasan Durja

    Berhari-hari berlalu sejak malam di angkot itu. Wulan menjadi boneka Ano, setiap sentuhannya, setiap rintihannya, setiap kehancurannya direkam dan dijual sehingga memberikan keuntungan bagi peretas nakal itu.Wulan tak lagi menghitung waktu. Dia hanya merasakan denyut gairah hitam yang semakin pekat di setiap aliran darahnya.Kristal-kristal jiwa siluman itu kini menumpuk di dalam tas kecilnya, terasa dingin dan berat, seperti beban yang ia pikul sendiri. Malam ini, purnama menggantung penuh di langit, memanggilnya.Wulan meninggalkan kamar kos Ano yang pengap menuju apartemen mewah milik Broto. Tempat yang jauh dari jangkauan Ano ini menjadi tujuannya karena ingin melakukan ritual wajibnya, melayani Batara Durja saat purnama.Apartemen itu sunyi, dingin, hanya suara napas Wulan yang berdesir di antara dinding-dinding kaca yang menjulang. Tidak ada tanda-tanda Bro

  • Terjebak Gairah Siluman   164. Preman angkot

    Lampu neon restoran cepat saji 24 jam itu berkedip-kedip gelisah, memantulkan cahaya pucat ke kap mesin mobil van putih milik Ano yang masih berderu halus. Di kejauhan, terminal bayangan di salah satu sudut Bekasi tampak hening dan mencekam, dipenuhi remang cahaya kuning dan kepulan asap dari knalpot tua."Kau siap, Lan? Ingat, penonton di forum sudah membayar deposit besar untuk adegan ini."Ano menyesuaikan posisi tas selempangnya, memastikan lensa kamera ponselnya menyembul sedikit dari balik lubang kecil yang sudah ia modifikasi. Matanya yang cekung tampak berkilat, bukan karena lelah, melainkan karena gairah yang menggila.Wulan merapatkan jaket parka hitam selututnya, membiarkan kain sintetis itu bergesekan dengan kulit polosnya yang mulai merinding karena angin malam yang menusuk. Ia mengulas senyum sayu, menatap pantulan dirinya di kaca jendela mobil."Gairah mereka sudah terasa sampai sini, No. Bau alkoho

  • Terjebak Gairah Siluman   163. Semakin dalam

    Cahaya biru dari monitor kembar di sudut kamar kos itu berdenyut, membiaskan bayangan panjang yang menari di dinding yang lembap. Aroma kopi basi dan sisa-sisa keringat yang mengering menggantung di udara, menciptakan atmosfer yang pengap namun entah bagaimana terasa intim bagi Wulan.Sudah tujuh hari ia terperangkap di sini—atau mungkin, ia sengaja membiarkan dirinya terperangkap.Wulan merayap di atas kasur yang berderit, hanya mengenakan kaos oblong hitam milik Ano yang sangat kebesaran. Kain katun tipis itu menggantung longgar, menutupi tubuhnya hingga pertengahan paha, namun setiap kali ia bergerak, ujung kaos itu tersingkap dan menyingkapkan pinggulnya yang polos tanpa sehelai benang pun di baliknya.Rambut hitam bergelombangnya berantakan, membingkai wajahnya yang kini tampak lebih sayu namun memancarkan binar yang liar."Kau masih betah menatap angka-angka

  • Terjebak Gairah Siluman   162. Mencari manusia jahat

    Tidak butuh waktu lama, postingan Ano mendapatkan berbagai komentar. Suara kipas prosesor komputer menderu kencang, beradu dengan bunyi pings dari notifikasi yang masuk bertubi-tubi.Ano menyandarkan punggungnya ke kursi kerja yang berderit, jemarinya yang kurus mengetuk-ngetuk pinggiran meja kayu yang dipenuhi remahan abu rokok."Lihat ini, Wulan. Semua berebutan berkomentar, kekeke."Wulan yang tengah mengatur nafasnya menoleh ke arah Ano, lalu bergeser di atas kasur, membiarkan selimut yang melilit tubuhnya merosot hingga memperlihatkan punggungnya yang polos. Ia berjalan mendekat ke meja kerja Ano dengan tangan mendekap bagian depan tubuhnya, sementara lekuk belakang tubuhnya terlihat tanpa lilitan selimut.Ia membungkuk dan menyandarkan dagunya di bahu Ano, membiarkan rambut hitam gelombangnya jatuh menutupi sebagian punggung pria itu."Apa kata mereka, No? Apa mereka takut?"

  • Terjebak Gairah Siluman   161. Pemahaman Ano

    Dengung di kepala Wulan terasa seperti ribuan lebah yang terperangkap di dalam tengkoraknya. Saat kelopak matanya yang berat perlahan terbuka, cahaya lampu neon yang berkedip di langit-langit kosan Ano menusuk tajam, memaksa Wulan merintih dan membuang muka.Ia mencoba duduk, namun otot-otot di sekujur tubuhnya memprotes. Punggungnya kaku, dan area di antara kedua pahanya masih menyisakan denyut nyeri yang aneh—sisa-sisa dari invasi energi yang merobek kewarasannya di klinik tua itu.Sprei katun yang kasar menggesek kulitnya yang polos tanpa sehelai benang pun. Wulan menarik selimut tipis hingga menutupi dadanya yang padat, merasakan puncak payudaranya yang masih sensitif bergesekan dengan kain. Di sudut ruangan, suara klik mouse yang repetitif dan tawa kecil yang serak memecah keheningan."Kau harus lihat ini, Wulan. Rekor baru. Bahkan video di pabrik kemarin tidak ada apa-apanya dib

  • Terjebak Gairah Siluman   160. Di luar logika

    Bayangan di dinding itu tidak lagi statis. Siluet Wulan yang terikat di kursi kini terlihat jelas, namun ada lebih dari satu sosok hitam yang menindihnya.Ano terkesiap, napasnya tertahan di tenggorokan. Ia mencoba mengarahkan kameranya lebih dekat, ingin menangkap setiap detail, namun kakinya seolah terpaku di lantai.Di balik kabut pekat itu, Wulan menjerit. Bukan jeritan takut sepenuhnya, melainkan lolongan panjang yang bercampur dengan erangan kepuasan yang menyakitkan.Tubuhnya melengkung ke atas, punggungnya menegang seperti busur panah yang ditarik maksimal. Ia merasakan ribuan lidah dingin menjilat setiap inci kulitnya, menghisap sisa-sisa udara dari paru-parunya.Tangan-tangan tak kasat mata itu tidak lagi meraba; mereka mencengkeram, meremas, menusuk paksa setiap lubang di tubuhnya."Ahhh... tidak... terlalu banyak!" Wulan melolong, kepalanya terlempar ke belakang,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status